Maut itu Dekat

Awalnya tulisan ini hanya berupa draft yang belum selesai diketik, ditulis beberapa bulan lalu, saat saya merasa bahwa banyak orang di lingkungan dekat yang saya tahu, tiba-tiba dikabarkan sudah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…

Kabar yang sempat membuat saya patah hati waktu itu adalah meninggalnya seseorang yang bahkan saya tidak pernah kenal langsung. Dia adalah kakak dari seorang penulis yang kebetulan saya ikuti di platform tumblr sejak lebih dari 3 tahun terakhir. Saya tidak ingat betul kapan saya mulai tertarik mengikuti tulisan dan sekaligus cerita tentang hidup sehari-harinya, termasuk kakaknya yang ia sering ceritakan. Hubungan kakak adik perempuan yang dekat dan saya sangat bisa relate dengan mereka, karena kebetulan hubungan saya dengan kakak perempuan saya ya memang sedekat itu juga. Seperti merasakan luka lama yang terbuka kembali, mengingat saya juga telah kehilangan sosok kakak lelaki yang juga saya merasa dekat dan sangat saya sayangi 5 tahun lalu. Sudah lima tahun, tapi terasa seperti baru kemarin, luka yang saya kira sudah kering ternyata masih basah dan terasa perih menyayat hati.

Belum sembuh patah hati saya, kabar sedih juga berasal dari teman sekantor yang pernah bersama dengan saya di 2 tahun pertama saya memulai perkuliahan di kampus plat merah. Orang yang merupakan laki-laki pertama yang menyapa saya di kelas, dan saya langsung merasa nyaman ngobrol tanpa rasa canggung batasan lawan jenis. Orang yang selanjutnya saya anggap sebagai “kakak” karena memang selain usianya lebih tua, caranya berpikir juga sudah sangat dewasa dan visioner dibanding saya yang masih begitu-begitu saja. Kabar bahwa ia menderita sakit kanker hati stadium 3 sebenarnya belum terlalu lama, tetapi saya sudah pernah menengoknya saat lebaran di rumah sakit, dan saat itu pun saya meninggalkan RS dengan hati basah gerimis. Ditambah saat saya membesuknya untuk kedua kali, penurunan kondisinya sangat terasa. Meskipun saat itu saya sempat sangat bersemangat untuk mengharapkan adanya kuasa Tuhan atas kesembuhannya, namun Tuhan berkehendak lain. Belum seminggu sejak saya membesuknya ketiga kali, kabar bahwa dia telah pergi selamanya kemudian mengakhiri sakit yang dideritanya. Allah telah cukupkan, Allah telah panggil orang yang Dia sayang. Pakdhe Guroh, semoga lapang jalan menuju surga, aamiiin..

Belum lewat sepuluh hari dari kepergian teman saya itu, pagi kemarin kabar pahit kembali saya dapatkan. Pesawat Lion Air JT610 Jakarta-Pangkal Pinang dikabarkan jatuh, dengan 3 dari 189 penumpang adalah orang yang saya pernah berinteraksi dekat. Tri Haska Hafidzi. Hanya 6 bulan saya bersama dengan dia di perkuliahan tahun 2013. Pernah satu kelompok dan benar hanya satu semester. Tapi dalam satu semester itu, saya dan teman-teman sekelas lain yang juga saya yakini pasti mengamini, mengenal Haska sebagai orang yang spesial. Spesial karena kecerdasannya, cara berpikirnya yang tidak biasa, karakternya yang hangat dan mudah berteman dan menghilangkan canggung dengan siapa saja. Allah, Allah… semoga Allah melapangkan jalanmu ke surga, Haska.

Mas Haris Budianto. Senior saya, satu bidang di kantor di Borneo. Duduknya di samping saya persis kalau di kantor, sekitar tahun 2012-2013. Sosok kakak lain yang kalem dan mengayomi. Sampai saya ke Jakarta, mas Haris masih menjaga hubungan baik, karena saya ya tipenya ga bisa memaintain pertemanan terlalu baik. Tetapi mas Haris yang juga teman baik suami, tetap menjaga tali silaturrahim. Semoga Allah menjagamu dalam kedamaian.

Putri Yuniarsi, Puye. Orang yang sangat menyenangkan, ceria dan menghidupkan suasana. Saya mengenalnya belum lama, sekitar September 2017. Saya dan dia sama-sama baru menyelesaikan pendidikan dan dalam proses re-entry, masuk di bagian yang sama. Seleksi dan verifikasi CPNS, diklat auditor pertama di Ciawi, magang dan menunggu penempatan ulang. Hanya 4 bulan maksimal saya berinteraksi, tetapi saya masih menyimpan dan mengingat suara tawa dan canda Puye, yang menjadi bintang di diklat angkatan kami. Semoga Puye sudah tenang di surga sana, aamiiin..

Terlalu bertubi-tubi berita tentang maut mendatangi saya, membawa rasa kehilangan yang teramat besar atas orang-orang baik di sekitar saya. Mata ini sebentar basah, sebentar kering. Hati ini sebentar hujan, sebentar reda. Tapi semoga harap ini tak henti untuk mendoakan.

Dan merenungkan kembali, bahwasanya maut itu adalah janji yang pasti. Dan ternyata dekat. Hari kemarin mereka, hari ini boleh jadi tak sampai saya selesaikan. Saat mengingat ini, saya berkecil hati karena saya sudah melihat akhir dari mereka, tapi saya tak tahu akan bagaimana akhir dari diri saya sendiri. Melihat mereka, terkadang ada perasaan bahwa mereka yang orang baik telah Allah selamatkan untuk tidak terkena fitnah akhir zaman. Lalu terbersit keinginan untuk menjadi orang yang Allah selamatkan juga. Lalu teringat anak. Apakah bekal kecintaan pada Allah telah cukup saya tanamkan ke dirinya? Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi keturunan kita dari tipu daya dunia.

Saya sedih kehilangan orang-orang baik ini. Tetapi saya juga merasa, bahwa mereka telah berada di tempat yang jauh lebih baik dari saya di dunia. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan kesabaran. Karena luka itu tidak pernah benar-benar sembuh, ternyata.

Semoga Allah meridhoi.

 

Iklan

2 respons untuk β€˜Maut itu Dekat’

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: