Perpustakaan Nasional, checked!

Holaa.. Long time no posting ya..

Langsung aja deh ga usah kepanjangan basa-basinya. Weekend ini saya merencanakan main ke Perpusnas sama DD. Impulsif sih. Soalnya pas Jumat pagi kena macet pengalihan jalan karena ada sidang MK, kami lewat perpusnas yang di deket monas. Bukan yang di Salemba ya, ada juga soalnya perpus (kayanya nasional juga) tapi kami selama ini cuma lewat aja, belum tertarik masuk. Sementara perpusnas yang di monas ini dulu suami pernah masuk, pas sekolahnya DD ngadain acara terkait hari buku nasional. Yang pas ada lomba story telling dan kebetulan DD jadi juara itu hohoho #shameless #proudmom #masyaAllah #tabarakallah #takut’ain #bodoamat

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.10
halaman depan perpusnas

Udah sok braggingnya ala momambisius yang ngeselin tapi jadi idola emak2 kece semua?

Yaudah, pas Sabtunya, setelah mengalahkan kemageran yang luar biasa efek habis libur panjang lebaran (oiya, met lebaran semuaa…, salim satu2 sini!), berangkatlah kami ke perpusnas. Jam berapa sodara2? Jam 1 an dari rumah, alias habis dhuhur. Pas nyampe parkiran dari satpam sampe penjaga parkir udah ngingetin aja kalo hari Sabtu perpus tutup jam 4. Sampe sensi sayanya, nanya ke suami, emang ini udah jam berapa sih? masih jam setengah 2 juga, kenapa deh pada ribet.

Trus kami mulai deh keliling2. Buat DD dan bapaknya, itu kali kedua mereka. Buat saya, ini kali pertama. Iya, iya, udah berapa tahun di Jakarta baru pertama kali ke perpusnas, dan ngakunya hobi baca? Huh apaan, yaudah bodo amatlah… Udah bertahun2 saya toh ga beli buku buat saya sendiri, belinya buku buat DD aja wkwkwk. Jadi hobi baca sekarang sudah berganti menjadi kewajiban membacakan buku sebelum tidur, no?

Setelah keliling2 (dan foto2) di halaman perpus, masuk semacam museum gitu di gedung yang keliatan masih bangunan Belanda asli, baru deh kami mulai menuju lantai 7 buat khusus anak. Nah di sini ternyata peringatan bapak Satpam dan penjaga parkir mulai menunjukkan fungsinya. Maap2 ya Bapak2 udah ngata2in (dalam hati) ribet dsb. Soalnya ternyata ngantri liftnya lama pemirsaaa…. Lama bgt ampe kzl. Karena cuma ada 5 lift untuk 24 lantai dan pemakaiannya ga diorganisir. Mikir juga sih ya, gimana ngorganizenya. Tapi setidaknya di kantor pusat saya, dibedain gitu lantai ganjil genap, dan cuma ada 4 lift untuk 12 lantai, yang operasional pegawai 2 sedang yang 2 lagi buat pejabat. Ini ada 5 untuk 24 lantai, jadi walau agak susah kayanya bisa sih ya, saran aja sih, hehe..

Dan karena saya paling sebel nunggu ga jelas, suami juga ngerti mood istrinya gampang anjlok kalo gini, akhirnya kami naik eskalator dulu sampe lantai 4. Iya, mentok soalnya udah ga ada lagi dan musti lanjut naik pake lift.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08 (1)
maket perpusnas
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08 (2)
semacam galeri
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08
ruang entah

Di sini saya merasa saya dodol. Manis banget. Enggak ding, manisnya iya, bodoamat tapi bukan itu maksudnya. Hmm, karena mau ke lt 7 males banget lanjut pake tangga darurat, akhirnya kami malah ngikut lift yang turun dulu sampe lantai dasar baru naik lagi ke lt 7. Eh tapi liftnya cepet banget ya ternyata, pantes kelewat mulu lantainya kalo ga beneran naik dari ujung pangkalnya.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.11
loker penitipan barang
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.04 (1)
ini buku asli semua loh
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.03
petunjuk tiap lantai

Trus sampailah kami ke lantai 7. Langsung disambut dooong sama mbak petugas, ternyata disuruh lepas sepatu dan simpen di rak. Raknya keren macam yang di Ikea gitu, bisa dibuka tutup waaaaooow (norak ih, bodoamat lagi). Yaudah akhirnya DD bisa membaca dengan aktif ditemani bapaknya dan sayanya poto2, baca buku, liat2 koleksinya, sambil mikir kira2 mana yang akan saya belikan buat DD ke depannya nanti.

Jadi begitulah, DD betah baca paling cuma setengah jam. Habis itu dia mlipir ke bagian yang ada mainan dan main lego di sana. Sekitar 30-40 menitan deh, habis itu kami sholat ashar dan siap2 pulang. Antri lift lagi? Iya. Kali ini kami memutuskan untuk turun tangga darurat sampai lantai 4 trus baru lanjut lagi pakai eskalator.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (1)
Bapaknya bacain buku DD
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (2)
multimedia
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05
dinding pun bercerita
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.06 (1)
suasana di lt 7
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (3)
ada ruang ibu laktasi juga loh, nyaman!

Yang mau lihat2 situsnya perpusnas bisa klik di sini

Alamat: Jl. Medan Merdeka Selatan No.11
Jakarta 10110

Jadwal buka:

Senin – Kamis 08.30 – 18.00 WIB
Jumat 09.00 – 18.00 WIB
Sabtu – Minggu 09.00 – 16.00 WIB

Ada biaya ga? Masuk gratis, keluar bayar parkir, atau gratis kalau naik angkutan umum. Tentang keanggotaan sih saya ga tanya2 ya, silakan tanya ke petugasnya aja. Atau coba lihat2 dulu situsnya biar ga zonk nantinya.

Oke, sudah ya.. Terima kasih sudah membaca sampai sini.

Sampai jumpa di postingan berikutnya, semoga semakin berfaedah.

Ast ❤

baca juga lainnya:

When we’re not going to the mall

Berenang di mana?

Taman Situ Lembang

Yoga Gembira @ Taman Suropati

[Review] I, Tonya (2017)

Hola, postingan pertama di 2019. Baru bisa sempetin nulis karena emang baru sempet aja. Ngerant sedikit: akhir tahun liburan batal karena sakit, cuti dipake buat istirahat pemulihan dan awal tahun udah langsung berhadapan dengan tugas yang sampe2 sabtu-minggu pun ngantor hohoho.. ga lagi2 deh mudah2an. Review film ini sebenernya udah pengen segera ditulis begitu selesai nonton (pas lagi sakit gegoleran ya nonton film lah buat refreshing) tapi ya gitu, ada prioritas lain yang harus ditunaikan.

I, Tonya 2017 full movie watch online
source: http://www.pip2pips.com

Ada yang sudah nonton filmnya?

Saya ga ngerti apa yang awalnya menggerakkan suami buat ngajakin nonton film ini. Ini film lama, btw, sekitar tahun 2017 (ga lama2 banget sih) dan kami nonton streaming. Awalnya saya juga biasa aja ga yang excited gimana. Tapi begitu lihat sosok yang menurut saya nyentrik banget penampilannya dan kayanya karakternya kuat, ya lanjut lah.

i-tonya-36
ini yang menurut saya nyentrik

Dan semakin nonton, semakin terhanyut sama ceritanya. Sampe ikut kasian, kesel2, dan tambah lagi ngenes rasanya pas tahu bahwa film ini berdasarkan kisah nyata! Beneran ada seseorang bernama Tonya, yang atlet ice skating kelas dunia, mengalami hidup seperti itu dan dikelilingi orang-orang seperti itu… 😥

Kalau mau baca tentang Tonya Harding dari wikipedia: Tonya Harding

Oke, kalo mau sedikit sinopsis versi saya (semua PoV adalah dari Tonya Hardings).

Tonya Hardings kecil yang berbakat diasuh oleh ibu (tiri)nya yang memiliki karakter keras dan kasar. Ibunya bekerja sebagai seorang pelayan restoran dan sangat bertekad supaya Tonya bisa mengikuti latihan ice skating sebagai atlet. Dengan kekuatan ibunya dan bakat alami Tonya, akhirnya Tonya bisa dilirik oleh pelatih dan menjadi atlet termuda yang dilatih olehnya. Tonya berbakat, namun nasibnya malang karena memiliki ibu yang kasar. Tonya disumpahi, dicaci maki, dan hal itu membuat karakter Tonya menjadi sama kasarnya seperti ibunya. Ditambah, ayahnya juga tak peduli (saya ikut nangis pas Tonya mohon2 sama ayahnya supaya ga ditinggal pergi).

Tonya akhirnya beranjak remaja dan mulai mengenal lawan jenis. Pasangannya, sayangnya, akhirnya sering melakukan kekerasan padanya. Konflik dan pertengkaran yang tidak hanya verbal tapi juga fisik sering mereka alami. Pada akhirnya Tonya menikah tetapi akhirnya bercerai juga dengan lelaki pertamanya ini.

Karir Tonya sebagai atlet juga sering terhambat, bukan karena bakat atau tekniknya melainkan lebih karena perilakunya yang kasar, temperamen, dan juga image nya yang dianggap tidak sesuai untuk image olahraga iceskating. Tonya sering merasa “dibuat kalah” oleh juri dengan tidak adil, dan saat dia mengkonfrontasi juri, memang demikianlah kenyataannya. 😥 syedih..

Pada akhirnya, Tonya belajar untuk memperbaiki diri dan citranya. Dia berusaha keras untuk bisa lolos ke olimpiade. Dia sempat berhasil, lalu kesuksesan mengubah dirinya. Dan akhirnya dia terpuruk lagi. Selanjutnya Tonya juga sempat tersandung kasus kekerasan terhadap rivalnya (yang menurut saya, asal muasalnya ga banget dan bikin gemesssss) dan akhirnya kasus itu menghentikan karirnya seumur hidup. Tonya dilarang bermain ice skating sama sekali.

Sedih ga? Bangettt….

Tapi pelajaran moral yang didapat dari film ini banyak banget sih menurut saya. Dari yang cara kita mencintai dan mendidik anak, memilih pasangan, memilih teman, dan berusaha keras demi sesuatu yang berharga buat hidup kita.

Parents, love your child properly.

Awalnya dari orangtua dulu. Kalau dari orangtuanya udah bener, harga diri anak jadi terbangun dan terbentuk dengan benar. Jadi anak nantinya bisa memilih mana yang baik bagi dirinya, bersikap tegas untuk apa yang tidak baik untuknya, memilih pasangan dan teman yang baik, dan menyelesaikan konflik dengan baik juga.

maxresdefault
Tonya kecil

Sebagai orangtua, pasti ingin memberi yang terbaik untuk anak2nya kan ya?

Jadi, boleh loh ditonton film ini. Berdasar kisah nyata yang tokoh-tokohnya pun dimunculin pas kredit di akhir film. Recommended!

 

Maut itu Dekat

Awalnya tulisan ini hanya berupa draft yang belum selesai diketik, ditulis beberapa bulan lalu, saat saya merasa bahwa banyak orang di lingkungan dekat yang saya tahu, tiba-tiba dikabarkan sudah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…

Kabar yang sempat membuat saya patah hati waktu itu adalah meninggalnya seseorang yang bahkan saya tidak pernah kenal langsung. Dia adalah kakak dari seorang penulis yang kebetulan saya ikuti di platform tumblr sejak lebih dari 3 tahun terakhir. Saya tidak ingat betul kapan saya mulai tertarik mengikuti tulisan dan sekaligus cerita tentang hidup sehari-harinya, termasuk kakaknya yang ia sering ceritakan. Hubungan kakak adik perempuan yang dekat dan saya sangat bisa relate dengan mereka, karena kebetulan hubungan saya dengan kakak perempuan saya ya memang sedekat itu juga. Seperti merasakan luka lama yang terbuka kembali, mengingat saya juga telah kehilangan sosok kakak lelaki yang juga saya merasa dekat dan sangat saya sayangi 5 tahun lalu. Sudah lima tahun, tapi terasa seperti baru kemarin, luka yang saya kira sudah kering ternyata masih basah dan terasa perih menyayat hati.

Belum sembuh patah hati saya, kabar sedih juga berasal dari teman sekantor yang pernah bersama dengan saya di 2 tahun pertama saya memulai perkuliahan di kampus plat merah. Orang yang merupakan laki-laki pertama yang menyapa saya di kelas, dan saya langsung merasa nyaman ngobrol tanpa rasa canggung batasan lawan jenis. Orang yang selanjutnya saya anggap sebagai “kakak” karena memang selain usianya lebih tua, caranya berpikir juga sudah sangat dewasa dan visioner dibanding saya yang masih begitu-begitu saja. Kabar bahwa ia menderita sakit kanker hati stadium 3 sebenarnya belum terlalu lama, tetapi saya sudah pernah menengoknya saat lebaran di rumah sakit, dan saat itu pun saya meninggalkan RS dengan hati basah gerimis. Ditambah saat saya membesuknya untuk kedua kali, penurunan kondisinya sangat terasa. Meskipun saat itu saya sempat sangat bersemangat untuk mengharapkan adanya kuasa Tuhan atas kesembuhannya, namun Tuhan berkehendak lain. Belum seminggu sejak saya membesuknya ketiga kali, kabar bahwa dia telah pergi selamanya kemudian mengakhiri sakit yang dideritanya. Allah telah cukupkan, Allah telah panggil orang yang Dia sayang. Pakdhe Guroh, semoga lapang jalan menuju surga, aamiiin..

Belum lewat sepuluh hari dari kepergian teman saya itu, pagi kemarin kabar pahit kembali saya dapatkan. Pesawat Lion Air JT610 Jakarta-Pangkal Pinang dikabarkan jatuh, dengan 3 dari 189 penumpang adalah orang yang saya pernah berinteraksi dekat. Tri Haska Hafidzi. Hanya 6 bulan saya bersama dengan dia di perkuliahan tahun 2013. Pernah satu kelompok dan benar hanya satu semester. Tapi dalam satu semester itu, saya dan teman-teman sekelas lain yang juga saya yakini pasti mengamini, mengenal Haska sebagai orang yang spesial. Spesial karena kecerdasannya, cara berpikirnya yang tidak biasa, karakternya yang hangat dan mudah berteman dan menghilangkan canggung dengan siapa saja. Allah, Allah… semoga Allah melapangkan jalanmu ke surga, Haska.

Mas Haris Budianto. Senior saya, satu bidang di kantor di Borneo. Duduknya di samping saya persis kalau di kantor, sekitar tahun 2012-2013. Sosok kakak lain yang kalem dan mengayomi. Sampai saya ke Jakarta, mas Haris masih menjaga hubungan baik, karena saya ya tipenya ga bisa memaintain pertemanan terlalu baik. Tetapi mas Haris yang juga teman baik suami, tetap menjaga tali silaturrahim. Semoga Allah menjagamu dalam kedamaian.

Putri Yuniarsi, Puye. Orang yang sangat menyenangkan, ceria dan menghidupkan suasana. Saya mengenalnya belum lama, sekitar September 2017. Saya dan dia sama-sama baru menyelesaikan pendidikan dan dalam proses re-entry, masuk di bagian yang sama. Seleksi dan verifikasi CPNS, diklat auditor pertama di Ciawi, magang dan menunggu penempatan ulang. Hanya 4 bulan maksimal saya berinteraksi, tetapi saya masih menyimpan dan mengingat suara tawa dan canda Puye, yang menjadi bintang di diklat angkatan kami. Semoga Puye sudah tenang di surga sana, aamiiin..

Terlalu bertubi-tubi berita tentang maut mendatangi saya, membawa rasa kehilangan yang teramat besar atas orang-orang baik di sekitar saya. Mata ini sebentar basah, sebentar kering. Hati ini sebentar hujan, sebentar reda. Tapi semoga harap ini tak henti untuk mendoakan.

Dan merenungkan kembali, bahwasanya maut itu adalah janji yang pasti. Dan ternyata dekat. Hari kemarin mereka, hari ini boleh jadi tak sampai saya selesaikan. Saat mengingat ini, saya berkecil hati karena saya sudah melihat akhir dari mereka, tapi saya tak tahu akan bagaimana akhir dari diri saya sendiri. Melihat mereka, terkadang ada perasaan bahwa mereka yang orang baik telah Allah selamatkan untuk tidak terkena fitnah akhir zaman. Lalu terbersit keinginan untuk menjadi orang yang Allah selamatkan juga. Lalu teringat anak. Apakah bekal kecintaan pada Allah telah cukup saya tanamkan ke dirinya? Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi keturunan kita dari tipu daya dunia.

Saya sedih kehilangan orang-orang baik ini. Tetapi saya juga merasa, bahwa mereka telah berada di tempat yang jauh lebih baik dari saya di dunia. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan kesabaran. Karena luka itu tidak pernah benar-benar sembuh, ternyata.

Semoga Allah meridhoi.

 

Namanya Alfa

Sudah beberapa minggu ini, kami memiliki penghuni baru di rumah. Ia adalah seekor kitten, Persian, jantan, berwarna cream white, berusia 2 bulan yang kami beri nama: Alfa. Kalau tanya sama saya, nama lengkapnya Alfa Romeo (baru googling, ternyata merk mobil, wkwk). Padahal mah pas ngasih nama juga ga tau itu apaan.

Sebetulnya pilihan untuk memelihara hewan ini baru sih, agak impulsif termasuknya. Sebelumnya, saya beberapa kali memelihara hewan, dan itu di masa saya udah kerja. Jaman masih tinggal sama orang tua, ga ada hewan yang benar-benar serius. Seingat saya, saya pernah memelihara ikan mas yang berakhir mati entah gimana nasibnya. Terus kucing kampung yang datang dan pergi sesuka hati. Yang pernah agak lama itu ayam kate, itu pun karena ditinggali sama om yang waktu berkunjung bawa. Pernah dihinggapi burung dara, semalam trus pergi begitu saja. Keinginan masa kecil yang ga tercapai itu piara kelinci, yang baru bisa pas akhirnya saya udah kerja.

Pas udah kerja, saya pernah piara hamster. Ga lama, saya hibahkan ke junior karna saya harus penempatan di Borneo. Di Borneo, saya untuk pertama kalinya pelihara kelinci 2 ekor. Berakhir tragis dua-duanya, semoga Allah mengampuni dan menjauhkan saya dari golongan orang dzolim, aamiiin.

Setelah menikah, saya ga kapok, pelihara kelinci lagi. Ambil 2 ekor lagi, dan akhirnya saya hibahkan mereka ke saudara di kampung saat saya sedang hamil. Dan untuk pertama kalinya, kali ini saya pelihara kucing persia.

Sebetulnya kalo tentang hewan berbulu, saya suka yang warna-warna earth tone, kaya abu2 gitu. Warna2 cantik macam putih bersih atau cream ga terlalu menarik minat saya karena terlalu “cantik”. Hitam atau coklat solid juga biasanya saya skip karna, serem, hehe.. Udahlah yang abu2, campuran hitam atau corak loreng itu yang paling “pas” buat saya, buat karakter hewan peliharaan. Tapi, karena kemaren saya meminta persetujuan DD untuk memelihara kucing, DD saya kasih kewenangan untuk memilih teman mainnya. Dan DD cuma memilih satu, dan maunya beneran sama yang satu itu, ga mau yang lain. Yasudah, saya sih berharap cemas aja semoga kitten itu belum adopted aja dan kami berjodoh.

Ini dia si kitten:

alfa

dan alhamdulillah memang berjodoh dengan kami. 😀

Dengan datangnya Alfa, saya belajar banyak hal baru. Bahwa ternyata memelihara kucing ras itu beda dengan memelihara kucing kampung (domestik). Karakternya juga beda. Sepengalaman saya dengan kucing dome, dia aktif suka main, bisa manja kalo ada maunya, cukup mandiri, dan lumayan berisik. Pas Alfa dateng, dia memang langsung aktif main, enerjik juga, dan ciri khas kitten adalah curiousity nya yang tinggi alias kepo banget 😀 Tapi yang saya baru nemu adalah karakternya manja banget. Manja dan demanding banget. Wew..

Kebetulan kakak saya juga piara kucing ras di rumahnya, jadi saya belajar dari dia juga. Dikasih referensi makanan, peralatan apa aja yg harus dipunya, cara treatment, vaksin, dsb.. hmm kayanya bisa nanti buat postingan baru ya. Trus saya juga belajar dengan ikut gabung di forum pecinta kucing, buat belajar beneran cara pelihara hewan yang bener, biar ga salah-salah lagi.

Btw, sekedar balik ke alasan kenapa akhirnya pilih kucing dan bukan kelinci, adalah, kelinci itu sedikit2 pup dan pee. Kucing enggak, dan alhamdulillahnya, si Alfa ini pas dateng ke rumah udah pinter pipis dan pup nya di pasir. Saya salut sama orang yang telaten ngajarin hewan sampe bisa lulus toilet training. Keinget dulu saya pas DD mau toilet training lumayan juga prosesnya.

Semoga Alfa sehat2 dan senang jadi bagian keluarga kami ya ❤

 

 

Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

Saya sebenernya agak ga pede mengangkat topik ini, karena merasa ga pernah benar-benar serius mempersiapkan DD masuk sekolah. Saya cuma merasa, proses sekolah DD dari awal sampai sekarang, sudah 4 bulan masa sekolahnya, cenderung mudah dan tanpa drama. Maka saya merunut mundur, mengingat-ingat, kira-kira di tahap mana DD mulai siap secara psikologis untuk sekolah sampai akhirnya saya berani melepas DD untuk bersekolah di tempat yang sekarang.

Awalnya, DD itu anak rumahan bangeet. Yang saya ga bolehin keluar main karena menurut saya belum waktunya DD bersosialisasi, yang masih ingin saya tanamkan dulu nilai-nilai personal yang saya ingin dia anut. Yang saya kuatir dia belum bisa kontrol tangan jadi masih kasar. Yang saya kuatir dia belum masanya berbagi karena belum mengenal konsep kepemilikan.

Baca juga: Tentang Berbagi

Maka ada masanya, di umur 1,5-2 tahun, pas saya masih LDM sama suami, DD itu sangat pemalu. Pemalu yang kalo kami ajak main di taman, dia papasan sama anak lain, DD akan memilih memutar dan menghindar dari bertemu teman sebaya. Pemalu yang kalau bertemu sama orang asing tanpa disounding bahwa akan bertemu orang asing terlebih dulu, maka DD akan diam seperti shock atau mencerna situasi, ini bisa berlangsung sampai belasan menit, lalu kalo sudah ga kuat bakal nangis kejer sampe saya bawa masuk ke dalam, ke zona aman dia. Karena kalo DD ketemu orang yang sudah agak familiar ya sebenernya dia baik-baik saja kok.

Nah, setelah saya cermati bahwa DD punya kecenderungan pemalu dan menghindar seperti itu, saya bilang ke suami (setelah selesai LDM) buat lebih sering berinteraksi sama DD. Karena kedekatan dengan ayah kan mempengaruhi kepercayaan diri seorang anak. Ada pendekatan-pendekatan dan karakter kelelakian yang hanya bisa DD dapat dari ayahnya dan bukan dari saya. Kalau dari figur laki-laki pengganti ayah misal kakek atau pakdhe/om sih saya ga tau ya, apa cukup sebagai pengganti atau ga. Kalo saya sih, toh LDM udah selesai, jadi secara frekuensi ketemu yang tadinya seminggu sekali bisa setiap hari yaudah dimanfaatkan sebaik-baiknya. 😀

Setiap pagi, suami berangkat kerja pukul 07.30. Saya minta suami mengajak DD main di pagi hari, seringnya waktu itu mulai jam 06.15-07.00, jadi ada 30-40 menit DD main bareng ayahnya saja. Mainnya di RPTRA dekat rumah. Kadang saya ikut, tapi ga sering, beneran itu quality time di pagi hari buat DD dan ayahnya saja. Di situ, DD dan ayahnya kadang main bola, kadang lari2an aja, kadang keliling lapangan aja, kadang naik turun tangga, kadang main lempar tangkap bola. Itu buat latihan motorik kasarnya.

Kadang juga mengamati lebah yang sedang menghisap madu di bunga di taman, belajar mengenali tanaman dan bunga cabe, main pasir, buat observasi dan pengenalan lingkungan. Kemudian akhirnya, ngikutin anak2 SD yang mau berangkat sekolah 😀

Dari yang tadinya DD menghindar dari teman sebaya menjadi tertarik dan berani ngikutin kakak yang mau sekolah. Ngikutin itu ya jalan di samping atau belakang kakak itu, terus dadah2 sama mereka sampai mereka ngilang di balik gerbang sekolah. Terus diajak ayahnya nonton kakak lagi upacara di lapangan sekolah. Terus di beberapa kesempatan, sekilas aja saya dan ayahnya mengenalkan itu TK, DD bisa sekolah di situ, DD mau sekolah di situ? saat kami melewati beberapa sekolah incaran saya buat DD.

Baca juga: Tentang Sekolah

Meskipun aktivitas persiapan mental ga disengaja ini udah kami mulai sejak usia DD 2 tahun 7 bulan, rencana idealis saya adalah menyekolahkan DD di usia 6 tahun (di jenjang TK B) sebelum lanjut ke SD. Siapa sangka akhirnya saya sekolahkan DD di usia 3 tahun 8 bulan di level playgroup, dan itu pun dia jadi murid tertua di kelasnya yang muridnya cuma 5 orang itu 😀

Jumlah murid di kelas juga menjadi pertimbangan saya sih. Seperti saat saya mencari daycare buat DD, saya cari yang jumlah anaknya ga terlalu banyak, supaya DD ga harus langsung beradaptasi dengan banyak orang.

Baca juga: Daycare

Di sekolah DD yang sekarang, jumlah murid playgroup ada 5 orang termasuk DD, TK A ada 9 orang, dan TK B ada 9 orang. Ketemu teman sesama playgroup 3 kali seminggu @2,5 jam, dengan kakak kelas dari TK A dan TK B dalam porsi yang lebih sebentar pada saat doa bersama atau assembly lainnya yang memungkinkan ketemu di ruang bersama yang lebih besar. Buat saya, saat ini, sekolah DD cukup dan memenuhi kebutuhan interaksi sosial DD yang masih butuh pendekatan intensif.

Cara sekolah ini membangkitkan minat anak pun menurut saya cukup smooth. Di hari pertama sekolah, ada pendongeng yang seru yang bikin minat anak2 langsung terpusat dan udah ga inget lagi sama orang tua yang pada nungguin mereka. Seingat saya, ga ada anak yang nangis minta pulang atau takut sekolah, ada yang takut dan ragu dan masih ditemani ibunya, tapi ga ada yang nangis. Dan sampai 4 bulan berjalan ini, DD selalu inisiatif mau sekolah, bahkan di saat hari seharusnya dia libur sekolah tapi ayah ibunya kerja, dia minta sekolah.

Alhamdulillah, saya bersyukur Allah mudahkan jalan hidup kami sampai sekarang. Kami yang diberi kesempatan membangun mental DD dari yang pemalu dan takut ketemu orang jadi cukup PD buat kenalan, tanya, “namanya siapa?” sambil ngajak salaman atau tos. Hampir setahun sih kalo diitung-itung dari mulai rutin main di RPTRA tiap pagi sampai DD betulan masuk sekolah. Terima kasih babah :*

dd school

Perjalanan masih panjang, semoga selanjutnya selalu Allah beri kemudahan dan kelancaran.

Yang mau lanjut persiapkan anak sekolah, semangat! Udah masanya SD2 pada open house ini, boleh disurvey mana yang cocok di visi misi dan di kantong 😀

Warm regard,

Ast ❤

Flu Singapura pada Anak

Jadi, seminggu kemarin (sampai hari ini juga masih sih) DD sakit yang diawali dengan agak anget tapi masih bisa sekolah dan main di hari Senin. Dilanjut lebih anget dan mulai agak lemes di hari Selasa, dan seterusnya, yang kayanya lebih gampang kalau pakai jurnal harian aja nyeritainnya.

  1. Senin: agak anget, agak pilek, masih sekolah, nafsu makan masih baik, masih semangat main.

2. Selasa: lebih anget, lebih lesu, ga sekolah karena libur, sore masih main di luar. Malam demam 38 derajat, dipijitin pakai minyak kelapa + bawang merah, minum tempra (parasetamol). Nafsu makan masih lumayan, mau makan makaroni sup ceker.

3. Rabu: masih demam, mulai muncul sariawan (yang keliatan) ada dua di bibir bawah dan kayanya di dalam mulut. Mulai mikir ini flu singapura. Tidur malam ga tenang karena sariawan. Bubu ijin balik dari kantor karena kepikiran. Minum pakai sendok karena kalo dari gelas atau sedotan kesakitan.

makanan yang masuk:

pagi: energen, putih telur rebus, air jeruk manis.

siang: roti gandum selai kacang, putih telur rebus.

malam: nasi + tumis sosis teriyaki

treatment: kumur pakai air hangat + garam, aloclair kumur

4. Kamis: demam udah mulai turun, sariawan di bibir nambah jadi 5, di dalam mulut juga nambah. Tidur ga tenang, nangis-nangis karna sariawan. Bubu masih ga masuk kantor, sore eyang kakung datang jadi bisa ke kantor agak sorean demiiii…kerjaan. Minum maunya pakai pipet.

Makanan yang masuk: jus melon, putih telur rebus, oatmeal + susu + madu.

Treatment: kumur air hangat + garam, aloclair kumur, kandistatin, madu

5. Jum’at: sariawan di lidah ada 2. Tidur masih ga tenang. Bubu udah full ngantor karena DD dijagain eyang kakung, lebih tenang lah ya. Sore udah bisa nyanyi2. Udah segeran badannya.

Makanan yang masuk: putih telur rebus, lainnya lupa 😀 treatment masih sama

6. Sabtu: sariawan di bawah lidah ada 4. Jadi total sariawan ada berapa? 13 biji sodara-sodara… demam udah turun, badan menyusut dan kuyu. Udah bisa joget2.

Makanan yang masuk: energen + roti gandum, bubur nasi + sosis, kebab 1,5 buah. Udah mulai doyan makan itupun pas malem, udah agak lemesan sariawan sama mulutnya.

7. Minggu: bubur + telur dadar, roti + selai kacang, minum air putih hangat banyak. Udah bisa nyanyi, udah bisa joget, udah bisa lari2an kejar2an sama anak kucing. Nafsu makan udah balik.

8. Senin: bubu udah ngantor lagi, dan kayanya ketularan DD karena (sebenernya) dari Sabtu muncul lenting di jari tangan. Minggu lentingnya tambah banyak, juga muncul di mulut. Tenggorokan sakit dan mulai muncul sariawan. Okefix ini sih ketularan :’)

Yah kalo orang dewasa mah, mungkin saking daya tahan tubuhnya rendah dan kontak dengan DD juga banyak. Tapi mudah2an ga masalah asal daya tahan tubuh dibaikin dan tetep terhidrasi. Intinya, buat flu Singapura yang katanya ga ada obat ini, treatment yang dipakai ya yang mengurangi rasa sakit yang diderita. Kalau demam ya turunkan panasnya, pakai obat penurun panas, mandi air hangat biar badan nyaman. Kalau sariawan ya obatilah sariawannya, saya kemaren pakai 2, yang aloclair kumur + kandistatin.

Buat daya tahan tubuh, minum vitamin (saya kasih DD stimuno), dan minumin air jeruk, jus melon, madu, juga sempet saya tetesin essensial oil lemon di air minumnya.

Pijat. Pijat itu sangat membantu buat menyamankan tubuh anak, melemaskan dan melenturkan urat-urat yang kaku, membentuk bonding kasih sayang ibu dan anak. Apalagi kalo pijatnya pakai minyak yang juga ada khasiatnya. Kemaren sih awalnya saya pakai VCO + bawang merah aja. Di akhir-akhir saya pakein juga essensial oil: lemon, eucalyptus radiata, sama lavender dari YL. Adanya itu belum beli yang lain, hehe.. Alhamdulillah DD sudah baikan dalam 7 hari, mudah2an segera pulih dan bisa sekolah lagi. Bubunya juga ga parah2 amat ketularannya. Aamiiin…

Btw, kalau mau tau dramanya anak flu singapura, silakan liat di postingan punya annisast ini

karena saya udah berusaha nulis dengan drama seminimalis mungkin, tapi saya rasa perlu supaya orangtua yang belum pernah menghadapi anaknya kena flu singapura ga kaget2 amat. Flu Singapura pada anak itu, asal kenali gejalanya, cara penanganannya, bisa kok ditangani sendiri di rumah. Be brave ya, semoga semua segera berakhir! 😀

Oh iya, referensi treatment saya kemaren juga dari postingan itu jadi mari kita saling berbagi informasi demi kesiapan dan ketenangan hati yang hakiki, wkwk.

Semoga cepet baikan dan sehat semua ya ❤

 

 

[Review] Taare Zamen Par (2007)

Oke, filmnya ternyata udah 11 tahun yang lalu….

Tapi gapapa deh, saya bahas di sini. Saking ga ada ide wkwk.

tzp_poster_deepak_

Jadi, saya udah lama ga nonton acara TV lokal, karena ga dapet sinyal. Sedih ya, padahal mah saya tinggal di ibukota tapi yagitu deh, mungkin saking crowdednya lokasi tempat tinggal jadi sinyalnya acakadut. Terus pake program tv berbayar, demi nonton kartun buat DD tetap terjaga. Karna hiburan kami biasanya ya ngulang2 series atau nonton drakor.

Dan kemaren rasanya capek dan jenuh nonton drakor jadi memutuskan untuk refreshing dengan nyari film bollywood. Iya, karena udah males juga sama hollywood. Kebetulan juga baru nemu thread di twitter tentang film india yang direkomendasikan. Intinya sih, kalo mau drama percintaan carilah filmnya Shahrukh Khan dan kalo mau cerita yang bagus dan ga biasa carilah filmnya Aamir Khan. Noted!

Langsung cari daftar filmnya Aamir Khan, dan nemulah ini, Taare Zamen Par. Katanya sih tentang anak berkebutuhan khusus, wow, cocok kan ya buat kami sebagai orangtua. Cuss nonton.

Kesan: bagus. Overall puas sih nontonnya. Yang kami cari refreshing, itulah yang kami dapat.

Pros: Gambar animasinya bagus. Kebayang kalo DD udah bisa kami ajak nonton di bioskop pasti efek magnificentnya lebih kerasa. Di rumah aja dia excited banget liat gambar biota laut dan nyebut2 gurita, cumi-cumi, terus pas tentang roket2 gitu juga seneng.

Kons: Ada bagian yang masih kami alihkan biar ga nonton, itu pas adegan kekerasan (berkelahi) si tokoh utama anak (lupa namanya wey) sama tetangganya. Belum waktunya DD nonton kekerasan begituan. Ada juga adegan KDRT ayah ke anak yang DD kami tutupin biar ga trauma. Trus juga yang agak ga sesuai selera pribadi sih, cara si Aamir Khan nunjukin ke orangtua ABK itu bahwa anak mereka memiliki kelainan dan butuh bimbingan khusus. Khas bollywood yang kalo nyampein pesan ke penonton ya kaya guru marah2in, mendoktrin secara hitam-putih dan benar-salah. Harus ada tokoh hero dan penjahat mulu lah. Tapi yaudah mungkin emang kultur sosialnya masih butuh dikerasin ya, belum bisa dilembutin.

Disleksia

Tapi film ini bagusnya adalah mengangkat tema yang ga biasa. Dulu saya pertama tau tentang disleksia itu juga dari FTV, Juli di bulan Juni (2005) yang pemeran utamanya Sissy Priscillia. Trus bahas juga di novelnya Dee lestari yang Supernova: Partikel tentang cerita Zarah membantu temennya yang orang Afrika (siapa namanya lupa) untuk mengejar kelulusan mata pelajaran dengan batas minimal.

Nah di sini dibahas tanda-tanda anak disleksia itu apa, dikasih tau warning sign-nya biar orang tua lebih peka dan waspada, ditunjukin juga cara ngajarin anak disleksia untuk mengatasi masalahnya. Ditunjukin banget effortnya seorang guru mengoptimalkan semua indera si anak untuk membuatnya mengenali huruf dan bisa belajar lebih mudah. Salut sih. Dan akting pemeran utamanya yang masih bocah itu bagus banget loh, saya jadi bertanya-tanya apakah dalam kehidupan nyata anak itu disleksia juga, sampe dia bukan sedang berakting tapi ya lagi jadi diri sendiri aja, saking naturalnya. Lukisannya cakep2. Mata penonton dipuaskan banget dengan visualnya. Emosi diaduk2 dengan mengena. Kalo mau dibikin nangis dengan alasan yang ga cheesy, nontonlah film ini.

07dec_tzp

Terakhir: pesan moral yang pengen diangkat film ini, setiap anak itu spesial. Yang dibutuhkan oleh anak, adalah membuat dia merasa dicintai. Apakah kamu sebagai orangtua sudah mencintainya dengan caramu, atau cara yang dia butuhkan?

Warm regard ❤