Membaca dengan Let’s Read

Hola!

Memasuki usia 6 tahun, saya mulai lebih peduli dengan mengembangkan kemampuan Dd di bidang bahasa. Kenapa? Karena dia sudah bisa membaca sendiri dalam bahasa Indonesia. Udah punya pondasi yang kuat untuk memperkenalkan bahasa lain, menurut saya. Kenapa ga dua bahasa dari kecil? Padahal banyak anak lain juga udah bisa casciscus lancar dalam bahasa Inggris, bahkan teman sekolah dan kursus Dd pun. Hmm, kenapa ya? Mungkin karena saya cukup santai dan percaya bahwa Dd ga akan mengalami kesulitan berarti, karena bahasa adalah masalah pembiasaan. Jadi ya sudah, sayanya ga ngoyo banget juga.

Kalau selama ini saya cari buku2 cerita dalam bahasa Indonesia, saya mulai cari buku cerita dalam bahasa Inggris. Cuma, ya, kendalanya cuma cari di online shop, ga yakin kalo ga megang fisiknya. Sementara mau ke Gramed*** juga mikir2 karena kan sebisa mungkin #dirumahsaja. Akhirnya malah cuma beli buku latihan dan aktivitas aja, belum kesampean buku ceritanya.

Sampai akhirnya saya nemu postingan tentang Let’s Read ini di IG https://www.instagram.com/letsread.indonesia/

Let’s Read

Karena udah lama ga beli buku cerita, ya pikir saya cobalah buat download dan memperkaya bahan bacaan Dd aja. Gratis pula, kan. Paling kuota internet doang, bukan harga ide cerita, ilustrasi, dllnya. Mikirnya masih bahasa Indonesia aja. Tapi pas liat tutorialnya di youtube, eh, ada berbagai bahasa juga? Hmmm.. cinta banget ga sih…

Setelah instal, saya cobain ke Dd. Terakhir kali, bacaan Dd sebelum tidur variasinya masih di Lima Sekawan Enid Blyton sama cerita nabi, yang serial Cican dan hewan2 udah jarang dibaca sama Dd. Jadi, secara “bobot”, sebenernya emang agak terlalu berat ya buat anak 6 tahun. Nah, begitu baca cerita2 di Let’s Read ini, tiba2 kerasa banget refreshingnya cerita anak2 yang beneran anak2.

Ceritanya sederhana. Sederhana bangeeet, tapi kaya akan kosa kata. Emosinya juga kerasa banget nuansa anak2 yang polos dan ceria. Dd saya bacain jadi sering banget ketawa2 lepas, hanya karena hal kecil seperti gambar ibu naik tangga buat marahin helikopter karna berisik takut bayinya bangun. Dia juga teliti sekali pada hal kecil, seperti tadinya ada 3 anak tikus pergi ke karnaval, tau2 tinggal 2 yang kecil ilang. Ceritanya banyak yang membangun dan akhirnya menegaskan “we are happy“. Dan akhirnya memang sangat menghangatkan hati banget lho, baca cerita anak2 begini.

Saya yang bacain aja jadi kerasa lelah dan kencengnya ilang, apalagi dapat bonus Dd ketawa2 dan nempel sama saya karna pengen liat gambarnya. Beneran udah ga loncat2 lagi dia dibacain cerita. Secara kuantitas juga, bacain cerita sederhana gini cepet selesainya. 1 bab bacain Lima Sekawan bisa buat baca 5 cerita di sini. Dd juga ga mau berhenti2 dibacainnya. Akhirnya, syarat dari saya, dia harus baca sendiri. Jadi sambil dia latian mengeja bahasa Inggrisnya, saya sambil koreksi pelafalannya dan mendorong dia untuk menebak arti katanya terus menyesuaikan dalam kalimat. Kalau saya ga ngerti juga arti katanya, ya kita sama2 buka kamus untuk cari tau apa artinya.

Reading to you kid make the connection stronger, indeed.

Udah nemplok gini, berat tapi seneng, alhamdulillah

Selamat membaca!

Tentang Memilih Homeschooling (2)

Halo!

Pas liat kalender udah 31 aja dan ternyata saya ga ada nulis apapun di blog ini selama Agustus. Padahal mah udah pernah nulis sampe 900++ kata tapi pas mau dipost ilang trus ga mood lagi, yaudah deh.

Jadi, udah sebulan lebih nih ceritanya si Dd menjalani HS, gimana kesan2nya? Sesuai janji saya di postingan Tentang Memilih Homeschooling (1) saya mau nulis kan gimana2nya setelah menjalani.

Cerita aja deh ya.

Jadi, secara umum ya ga jauh beda sama SFH kemaren setelah pandemi. Sekolah memberi tugas, orangtua membimbing, anak yang menjalankan. Kegiatan belajar di rumah murni ga ada di sekolah sama sekali. Pertemuan online dengan aplikasi. Perbedaan yang menonjol ya karakteristik masing2 lembaga pendidikan itu beda. Udah, itu aja. Karena perbedaan karakteristik lembaganya, maka beda arah dan kurikulumnya, sesuai visi misi masing2. Teknis, sama aja. Detail, beda tergantung teknisnya.

Slide1

Slide2

Slide3

Slide4

Muahahaha, maapin kalo tabelnya acak adut ya. Saya coba semampu dan sesempet saya biar semua poin bisa masuk di satu postingan.

Jadi, tuntas ya janji saya buat bikin postingan tentang HS ini? Kalo mau tanya2 boleh japri saya, ada kontak lewat email.

Yah, sekarang tentang TK selama pandemi udah ada solusi, trus nanti gimana pas SD? mau lanjut di PKBM ini atau memberanikan diri daftar ke sekolah biasa?

Belum tau. Biar Allah yang tunjukkan.

Salam,

Ast ❤

Tentang Memilih Homeschooling (1)

Akhirnya saya beranikan juga nulis ini.

Niatnya sih, nanti2, sebulan dua bulan, gitu setelah udah beneran menjalani. Tapi pikir saya, yaudahlah, udah beneran nyemplung juga. Masalah realitasnya seperti apa setelah benar-benar menjalani, ya nanti pasti masih bisa kok ditulis. Yang sekarang juga hasil kegalauan sekian lama, soalnya. Yok, mulai.

Berawal dari … pandemi.

Oh, enggak. Pandemi mungkin trigger utama, tapi sebetulnya keinginan untuk bisa homeschooling sendiri mungkin muncul di usia Dd baru 6-7 bulan, mungkin. Waktu itu saya masih aktif di FB dan memfollow salah seorang praktisi homeschooling yang lumayan populer, yaitu Kiki Barkiah dan Abah Ihsan (?). Melihat kisah2 mereka dan nilai2 yang ditanamkan pada anak2nya, sedikit tercetus keinginan di dalam hati untuk bisa begitu juga ke Dd. Meskipun ya masih sadar diri sih, melihat kenyataan bahwa saya adalah ibu bekerja yang berada di luar rumah sejak jam 7.30-17.30, kalau normal. Kalau tidak normal ya lebih dari itu. How come bisa2nya pengen homeschooling anak. Sama siapa? Resign juga berat, yah gitu deh, pikirannya macam2. Jadi keinginan homeschooling (selanjutnya saya singkat jadi HS) masih cuma sebatas keinginan.

Terus, di usia 3 th 8 bulan, Dd mulai saya masukkan kelas playgrup di dekat rumah. Masuk 3 kali seminggu, 2,5 jam per pertemuan. Cerita lengkapnya di Tentang Sekolah ya. Berlanjut sampai anaknya naik ke kelas kinder A alias TK A. Lalu di tengah semester 2, bulan Maret, terjadilah pandemi ini di seluruh dunia. Kebijakan pendidikan saat itu (dan sampai sekarang masih), yaitu anak belajar di rumah. Didampingi orangtua. Guru bertugas menyusun materi dan memantau serta memberikan penilaian atas kecukupan hasil belajar anak.

Bulan pertama, masih masa adaptasi untuk saya, DD, dan ayahnya. Kantor kami masih menerapkan kebijakan WFH (work from home) dan WFO (work from office) secara bergiliran. Sebisa mungkin saya mengatur jadwal agar wfh saya tidak berbarengan dengan suami, hanya supaya setiap harinya ada yang bisa mendampingi Dd mengerjakan tugas sekolahnya. Karena, wfh kan bukan libur, tetap ada tanggung jawab (dan deadline) pekerjaan yang harus dipenuhi. Tugas sekolah juga sama. Terus terang, di bulan2 awal, saya justru merasa wfh + sfh + cfh (course from home) ini sangat melelahkan. Jam kerja menjadi tidak beraturan, karena sekian pekerjaan harus diselesaikan dengan deadline berkejaran. Tapi yasudahlah, the job must be done.

Tugas sekolah, apa kabar? Ya sami mawon… Tapi intinya, setelah pembelajaran lebih lagi, akhirnya, ya bisa juga beradaptasi. Dan saya juga jadi lebih mengenali Dd, dari mengajarkan dia materi2 tugas itu. Misal, saya jadi tahu bahwa mengajarkan menghafal ayat, 1-2 ayat per hari itu sudah bagus, bukannya menghafal setengah surat. Saya jadi tahu bahwa Dd tidak terlalu suka menggambar, karena memegang alat tulis/ warna itu melelahkan (ini saya banget, sampai kelas 1 SD masih tidak suka menulis sendiri karna capek). Saya jadi tahu bahwa Dd lebih memilih melihat saya bersedih dibanding marah padanya. Kenapa?

“Kalau Bubu marah, Dd takut. Tapi kalau Bubu sedih, Dd bisa hibur Bubu.”

Oke, hero. Sekarang lanjut hafalan suratnya.

Wkwkwk, candaa… ya saya jadi nyesel marah dan tambah pe-er untuk mengatur emosi dan meningkatkan kesabaran terhadap Dd.

Hasil dari wfh + sfh + cfh 3 bulan ini, ya saya jadi lebih dekat dengan Dd. Sampai pada masanya memasuki new normal, ehem, dan kantor kami memberlakukan full wfo 100% lagi. Saya dan ayahnya mulai ngantor lagi, setiap hari, pagi-sore lagi. Ayahnya mulai dinas luar lagi dan menginap lagi. Mudah2an saya ga dapet nginep2 lagi deh. Dan Dd dari yang awalnya mengulang2 kalimat,

“Bubu Babah di rumah aja, ga boleh kerja di kantor. Kerjanya dari rumah aja, pake zoom.” –> wow pinter berargumen kamu ya, good job, kid. #masyaAllah

menjadi

“Bubu di rumah aja, Babah aja yang kerja.” –> oshiaap, dadah Babah, baik2 kerja yaaa, sehat2 yaaa, Bubu di rumah yaaa…

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, pensiun aja.” –> iya Nak, pengen banget, huhuhu

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, cuti aja cutiiiiii…” –> belum boleh cuti, sayang, belum keluar aturannya yang ngebolehin cuti

menjadi

“Bubu Babah ga boleh keluar, ada virus corona!” –> seketika keinget video parodi CLOY yang marak beredar di awal pandemi.

cloy
udah new normal sekarang, hey

hmmm yasudahlah begitulah terus.

Oke, balik lagi. Sementara saya dan suami berusaha merelakan diri wfo, kami masih belum rela dong kalau Dd yang masih 5 th itu balik ke sekolah. Mulailah kegalauan tentang bersekolahnya ini datang, dan pas baca2 twitter, ada cuitan seorang yang intinya sih, kalau anak2nya disuruh sekolah lagi, mending dia pilih homeschooling anak2nya aja.

I was like, what? Iya uga, kenapa ga kepikiran…

Tapi tapi tapi … hmmm… sebentar, diingat2 lagi, Dd sudah sangat bisa diajak bekerja sama lho, mengerjakan tugas. Jadi, karna kami wfo, baru bisa pulang sore sebelum maghrib kan, setelah pulang juga bersih2 dsb lalu mulai mengerjakan tugas Dd setelah maghrib. Sekitar 2-2,5 jam mengerjakan 4-5 jenis tugas (membaca/ menulis, membaca hijaiyah, hafalan surat, hadits, atau doa pendek, lalu aktivitas seni/science), masih diselingi masak untuk makan malam dan makan malamnya, lalu latihan untuk kursus musiknya, dan rutinitas sebelum tidur (sikat gigi, pipis, baca buku). Bisa. Dd bisa diajak kerja sama. Dd kooperatif dan mengerti, alhamdulillah.

Jadi, pemikiran tentang HS menguat.

Tapi masih menunggu kebijakan pemerintah, sih. Aturan SFH ini bagaimana? Sampai kapan? Sepanjang tahun ajarankah, atau bagaimana? Virusnya aja katanya masih sampai 2022 loh. Terus, akhirnya ada edaran sementara bahwa sfh ini kemungkinan sampai Desember. Terus, misal setelah Desember sudah disuruh masuk, apa iya saya betulan berani melepas Dd?

Jawabannya, ternyata tidak. Meskipun saya sempat goyah untuk Dd tetap meneruskan sekolahnya di tempat yang sekarang, karena dia nangis pas dibilang mau pindah. Iya, saya goyah, karena saya juga anak pindahan jaman SD dan SMP. Tahu banget lah rasanya pindah dari sekolah yang disenangi ke antah berantah yang ga tau kaya apa keadaannya. Dd sudah sayang teman dan guru2nya, saya juga sebetulnya merasa baik2 saja dengan itu, bahkan sudah bayar pendaftaran untuk tahun ajaran berikutnya, di jenjang kinder B, tapi ….

saat saya melihat berita bahwa tingkat kenaikan kasus positif di Korea Selatan meningkat setelah sekolah dibuka, saya tidak bisa tenang lagi. Saya tidak goyah lagi, dan memang membulatkan tekad bahwa teman dan lainnya datang dan pergi, tapi nyawa itu ya cuma satu dan tidak terganti.

Maka saya persuasi lagi Dd, semakin sering dan intensif. Ditambah lagi, rencana kami pindah rumah akhirnya tereksekusi juga pas di tahun ajaran baru. Lokasi rumah jadi menjauh dari sekolah lama. Pas kebetulan juga, sekolah memberikan edaran tentang tatacara sekolah di era new normal ini, yang ada tambahan2 poin yang akan sulit kami penuhi sebagai orangtua bekerja yang tidak bisa selalu menemani Dd mengikuti kelas online di hari tertentu. Maka, ya akhirnya kami membulatkan tekad untuk mengakhiri pendidikan formal Dd di sekolah dan memilih homeschooling.

Pas terima raport, Dd berpamitan dengan miss2nya. Sedih, huhuhu, karena saya yakin Dd disayangi dan Dd juga sayang sama miss2nya.

miss2
dengan wali kelas Dd

miss2lain
dengan miss2 lain di sekolah

miss bunga
dengan kepala sekolah Dd

Miss2nya cantik2 yah, buat para ikhwan single yang mau serius mohon hubungi saya secara pribadi dulu. Yang kepseknya udah taken yaa..

Ya gitu deh, ini masih preambule yang kepanjangan untuk postingan ttg HSnya gimana2, next lah ya, kalau udah sempet. Sekarang saya masih belajar2 juga. Atau kalau mau tau banget, bisa japri saya lho. Udah ada 1 orang yang kecantol dan ngikut HS juga sih sama saya. Tenang, bukan MLM. Sama sekali bukan.

Intinya sih, saya masih berterima kasih sekali untuk sekolah yang sudah membantu saya mengajari Dd selama ini, dan juga mengajari saya sebagai orangtua, sampai saya bisa merasa PD untuk mewujudkan cita2 terpendam saya pas Dd masih kecil, yaitu mengajari Dd sendiri. Kalau ditanya alasan pindah, yang utama saya jawab, karena pandemi. Iya, pandemi ini mengubah banyak hal di sekeliling kita, membuat apa yang tampak tidak mungkin di awalnya, tiba2 terasa mungkin.

Tapi yang utama sih, mungkin memang HS untuk Dd sudah ditakdirkan, dan ia akhirnya mencari dan menemukan jalannya sendiri.

Quran Surat Al-An’am Ayat 59

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Arti: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Referensi: https://tafsirweb.com/2183-quran-surat-al-anam-ayat-59.html.

Demikian.

Tentang HS nya, insya Allah next post.

Update: sudah dipost ya, tentang HSnya di Tentang Memilih Homeschooling (2)

❤ Ast

milik kita

Berawal dari keimpulsifan saat melihat instastory seorang di IG, yang kayanya saya follow karena dia punya kucing…

…tapi tiba2 ngiklanin jual buku bekas. Dalam kondisi (saat itu masih) WFH dan tugas negara sudah mulai menurun intensitas dan frekuensinya, dan Dd sudah mulai bisa diajak koordinasi dan kooperatif dalam mengerjakan tugas2 dari sekolahnya. Maka melihat buku2 yang di jaman masa kecil/ remaja saya ini sering saya lahap di perpus/ penyewaan buku dijual murah, segera saya kontak penjualnya. Skip skip skip sampai beberapa hari kemudian paketnya sampai di rumah.

lima sekawan
Tada… ini yang diiklanin mas nya

Apa langsung saya baca? Enggak pemirsa, saya anggurin dulu, itung2 ngendapin potensi virus padahal mah emang males aja. Oiya, btw saya ga anti ya beli buku bekas. Buku cuci gudang pun saya beli kok. Pengalaman paling seru adalah beli buku Senopati Pamungkas 2 karya Arswendo Atmowiloto seharga 50ribu saja. Antara sedih dan happy sih dapat buku bagus (dan baru) harga segitu. Yang anti adalah beli buku nikah orang, karena buat apaa…zzz…

Oke lanjut. Jadi saya beli buku2 di atas itu, buat saya. Mengatasnamakan adanya potensi waktu luang (yang ternyata setelah mengenal mager dan main hp itu jauh lebih menggoda dibanding baca buku, asli) dan nostalgia semata. Buat Dd, saya masih pilih2in bukunya, masih yang boardbook 20 halaman macam Halo Balita, serial nabi, Cican Fun Series, dsj lah. Atau majalah Bobo, atau seri pengetahuan umum/ populer aja. Buku novel macam itu pikir saya ya nanti ajalah dikasih pas dianya udah bisa baca sendiri, lancar, dan emang tertarik sama buku bukan karena gambarnya.

Tapi emang anak2 itu, kayanya gabisa banget kan ya, liat emaknya fokus sama sesuatu yang bukan dirinya sebagai pusat dunia. Zzz, anak 5 tahun yang masih kemratu2 kalo istilah Jawanya. Jadi ini bukan pertama kalinya ya, Dd liat saya lagi baca serius (novel NH Dini, misal, atau bukunya Emha Ainun Najib, yang jelas bukan buat konsumsi piyik itu) terus minta dibacakan. Padahal mah saya juga udah beliin dia buku baru, yang buat anak2, hurufnya besar, gambar dan visualnya menarik dan saya udah nyanding di sebelah dia. Maunya sih, saya baca, dia juga latihan baca sendiri. Enggak mau dong, maunya dibacain buku saya. Yaudahlah, akhirnya entah mulai kapan, bedtime storiesnya berganti dari boardbook menjadi novel lima sekawan ini.

Dan sampe sekarang sudah selesai buku keempat dan mau lanjut buku kelima.

Agak ga nyangka sih saya, bahwa Dd ternyata bisa mengikuti dan menangkap cerita dari novel ini. Meskipun setelah saya jadi orangtua yang membacakan buku ini, saya jadi menyadari bahwa buku ini ga akan lolos 100% memenuhi buku untuk anak. Ya iya, di dalamnya ternyata sering saya dapati kata2 makian seperti: t*l*l, k*ny*l, s**l*n, dll. Juga sarat stereotyping dan hal2 yang dulu pas saya baca rasanya seru, kini kok seperti ga sopan, kurang kerjaan, kurang ajar, dan cari masalah. Yah, mungkin karena ditulis untuk mengikat hati ABG/ remaja yang egonya sedang bertumbuh dan mencari tempat, jadi hal2 seperti itu baik2 saja. Sedangkan untuk cakrawala saya yang umur 30++ ini, kadang bikin kening agak berkernyit, dikit.

Salah satu cara ngakalinnya adalah, kalau pas dapat kata2 kasar itu, maka bacanya akan saya ganti menjadi “piiiiiip” atau “tiiiiiiit” yang akan bikin Dd ketawa awalnya, lalu tanya, “itu apa?” dan saya jawab, “sensor”. Berikutnya lagi kalau saya bunyi gitu lagi dia tetep ketawa dan lalu bilang “sensoooor”. Iya, nak, bagus. Nanti aja kalo udah bisa dan mau baca sendiri, kamu akan tahu kata2 kotor apa itu. Wkkk..

Tapi, kembali lagi ke reaksi Dd. Meskipun dia belum bisa benar2 diam tenang dan anteng pas dengerin saya baca buku, dan sering sambil lompat2 di kasur pas saya baca, dia tetap terikat dengan cerita dari buku2 ini. Satu buku rata2 dibagi menjadi 17-22 bab, saya bacakan rata2 2 bab per malam, bisa fleksibel. Kalo kami lagi sama2 capek, bisa skip satu malam tanpa baca. Kalo lagi capek tapi masih ada tenaganya dikit, 1 bab okelah. Kalo ceritanya lagi seru dan besok libur/ weekend, bisa sampai 4 bab. Iya, suara saya sampai serak, tentu. Tapi, Dd senang, dan terikat.

Terikat tidak hanya secara rasa penasaran saja akan kelanjutan ceritanya. Tapi dia juga bisa berempati pada masalah yang dihadapi si tokoh. Pernah dia tiba2 murung, suram, dan memeluk babahnya saat saya sedang menceritakan si George yang sedih dan menangis tersedu2 karena ibunya masuk rumah sakit. Sampai ikut sesedih itu dia. Pernah juga dia merasa gemas dan sebal dan kesal saat tokoh antagonisnya mengganggu lima sekawan. Geli banget saya lihatnya kesal dan mengepal2kan tangan 😀 #maasyaAllah #masihtakutain

Dan, secara topik dan kualitas obrolan kami juga meningkat. Kami jadi seperti punya obrolan yang sama, membahas tokoh2 di buku itu. Kemarin tiba2 saja pas saya sedang ngomong sesuatu tentang tulang, Dd nyambung bahwa kalau tidak ada tulang maka meleleh badannya. Referensinya adalah tokoh Manusia Tak Bertulang yang ada di buku Sirkus Misterius. Well, sebelumnya, pembicaraan kami juga bisa menyangkut banyak hal yang sedang menjadi minatnya. Tetapi pembicaraan 1 tema selama beberapa hari sesuai bab di buku, itu hal yang lumayan baru. Karena biasanya kan satu buku kelar, sudah ganti buku yang lain, dalam 1 malam bisa baca 2-3 buku berbeda (buku anak2 boardbook 20an halaman).

Berlanjut juga untuk kemampuan membacanya. Sebelum saya bacakan, biasanya Dd saya minta membaca sendiri judul babnya yang dia minta akan dibacakan. Biasanya dia baca 2 judul bab. Kadang dirapel 5 judul bab. Kadang juga lewat aja. Yah, intinya sih, buat saya dan Dd, ini adalah kegiatan baru yang menyenangkan.

Apalagi saat melihat ini:

9802dea5e2d8cd4d6281252c34b95e78

Saya menyadari bahwa kami sedang membuat kenangan indah itu bersama2. Meskipun saya tumbuh menjadi pecinta buku bukan karena dibacain buku (saya didongengin lisan tanpa baca buku oleh ibu- lalu jadi sering membaca buku di perpustakaan sekolah karna menunggu ibu selesai mengajar). Tapi, ya siapa tahu, nantinya yang akan Dd ingat saat melihat 5 sekawan bukanlah cerita dari masing2 bukunya, melainkan suasana dan momen saat saya bersama dia, malam2 membaca buku sebelum tidur.

Well, kenangan itu bukan hanya milik dia saat tumbuh dan mendewasa nantinya toh, tapi juga milik saya saat nantinya saya menua.

5-quote-beloved-books
Saya dan Dd tentu tidak seromantis ini. Saya baca, dia lompat2, itulah yang lebih sering terjadi…

Jadi melow kaaaaaaan…

Yaudah, gitu aja.

Let’s make lovable memories with our loveliest!

Ast ❤

Lebaran Tahun Ini

Sore tadi, saya sudah mulai masak untuk lebaran besok. Menunya simpel saja, sambal goreng kentang dan opor ayam. Untuk lontong, saya tidak bikin. Ribet, hehe.. jadi saya minta suami mencarikan di penjual, dapat rekomendasi dari ART saya.

Ini lebaran pertama saya tidak mudik, karena pandemi. Tiket kereta PP yang sudah dibeli harus dibatalkan. Tidak apa, karena memang keadaannya begitu.

Sejak jauh hari, ART saya sudah memastikan saya tidak jadi mudik. Beliau bertanya, “Mama Dd batal mudik berarti?” yang saya jawab dengan “Iya, Bu. Gimana lagi..”

Jadi begitulah, untuk pertama kalinya saya masak opor buat lebaran. Karena biasanya kalau mudik, saya terima jadi, baik itu di rumah orangtua maupun di rumah mertua. Rejeki punya orangtua dan mertua yang baik, alhamdulillah..

Menjelang sore, saya masih berkutat dengan bumbu dan bahan2. Karena bumbu instan yang saya beli secara online ternyata salah, huhu.. Mau saya opor bumbu kuning biasa, ternyata yang datang opor bumbu pedas. Tidak jadi saya pakai, karena Dd masih belum bisa makan yang pedas.

Tiba2, ART saya datang. Beliau memang tinggal hanya terpaut beberapa rumah dari saya. Dan beliau adalah pengasuh pulang pergi, yang datang pagi dan pulang sore hari saat saya dan suami selesai dari kantor. Jadwalnya adalah Senin-Jum’at, sesuai jadwal kantor saya. Sabtu-Minggu dan tanggal merah libur, jadi hari ini seharusnya bukan jadwalnya untuk datang.

Ternyata, beliau membawakan ini:

Menu lengkap untuk lebaran. Ketupat, opor, sambal goreng kentang ati, dan rendang. Saya dan suami hanya bisa mengucapkan terima kasih dan beliau pun segera pulang lagi.

Saya bertanya2, apakah adat di sini ada hantaran menjelang lebaran? Terus terang deg2an sendiri karena tidak menyiapkan masakan untuk dikirim2, hanya untuk konsumsi sendiri, hehe.. dan saya meskipun biasa masak tetapi tidak pernah PD untuk kasih orang lain masakan saya, sih.

Tapi sampai sekarang, baik tetangga sebelah, tetangga depan rumah, tidak ada yang mengirimkan hantaran. Jadi saya simpulkan, ini karena ART saya saja yang terlalu peduli dan benar2 menganggap kami sebagai keluarganya. Saya ingat, hari pertama puasa, beliau menanyakan apakah saya sahur atau tidak. Karena beliau dan suaminya (suaminya juga sering berinteraksi dengan keluarga kami dan memang baik hati), kepikiran, takut kami ketiduran sehingga melewatkan sahur :’)

Saya sangat tersentuh dengan perhatian mereka kepada keluarga kami. Sebagai pendatang di lingkungan ini, saya banyak dibantu oleh beliau sebagai warga asli di sini untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan warga sekitar. Karena saya jarang di rumah, beliau yang menjaga anak saya sepulang sekolah dan menjadi penyambung lidah keluarga kami dengan warga sekitar.

Lebaran kali ini, saya tidak mudik untuk menjaga orang tua dan mertua saya. Tapi di sini, saya dijaga oleh orang lain yang menganggap kami keluarganya. :’)

Terima kasih, Tuhan. Untuk orang-orang baik yang Kau kirimkan di sekitar kami.


P.S.

Saya masak, ala kadarnya.

Selamat hari raya Idul Fitri!

Plot Twist

A few days ago I read a story, the genre is horror, btw. So unusual for me to enjoy a horror story, isn’t it? Well, I read it just because it passed on my timeline, so just why don’t I give it a try. From the beginning it developed the tense, everything was good. Until in the end it gave the sentence that is meant to be a plot twist. Unfortunately, that last sentence turned out to be a failure. It ruined all of what it had built before.

The plot twist failed.

In my ideal standard for a plot twist, it should make the reader, in the end, questioning. For horror, at least, because in the beginning it claimed that it based on true story.  A smooth plot twist will leave us in the state of doubting, feeling insecure, feeling unsure, and questioning. Instead of making sure that what was built in the beginning is fake. The claim is also fake. Meh.

Reading that story makes me annoyed for some moment. Luckily I discuss it with my man. I tell him the story from A to Z and the conclusion is the same: the plot twist failed. My mood becomes better, not that satisfied but enough to make me move forward, though.

***

For some time in my life, I rarely thinking about marriage. Not that I don’t have the desire to have one, but because it feels … bizarre. For me, not for anybody. I can only imagine a marriage between the masked tuxedo and princess serenity, and the world beyond my own world. Being with somebody in the same place, same activity, same world continuously, constantly, for the rest of my life, looks like a burden for me.

Don’t I feel love?

Well, I define love from having a crush, missing someone, being jealous, and feeling the pain for losing someone. Those are love to me. All about feelings. The things you do for the one you love, not a chance it stays in my mind. I appreciate things people do for me, for the kindness, not the love behind that possibly make the ulterior motives. When it was acknowledge as love, I was scared then I run away.

So how come I marry you?

A friend, that is no one before.

A man that comes often in my chat app saying hello and gives a cheerful ambience for the second you just come.

A colleague that had been separated with ocean and time in years.

A stranger who turns into someone close, took years though, actually.

At first, I thought you are my plot twist.

You made me questioning my life, my decisions, my rule, my view on everything. You made me insecure, unsure, doubt. You had me crush on you, being jealous, being happy, feeling the butterfly in my stomach. You do things for me and you made me do things I’ve never done to anyone else before.

But knowing you, for this 10 years.

Being with you, for this 8 years.

And becoming your spouse for this 7 years.

The understanding that it wasn’t a plot twist, come slowly, convinced me in the right level. Why did we meet each other. Why did we become friend. Why did we take the chance.

From the beginning, it had to be you. It had to be me. It had to be us.

You are not my plot twist. It was meant to be.

Being together forever, shall we?

31870948_10216568821558195_7345784150915284992_n (1)

Happy Birthday.

I love you, I do.

Ide Bermain Anak 1-3 tahun

Semalam, saya melihat WA status teman kantor yang duduknya di sebelah meja. Video anaknya yang usianya 1+ sedang bermain puzzle kenop hewan. Saya lihat, anaknya anteng duduk dan mencocokkan puzzle, dan bisa! Yeaay, saya ikut senang menontonnya. Lebih senang lagi, soalnya saya yang merekomendasikan puzzle itu ke ibunya, hohoho..

Jadi, beberapa waktu sebelumnya, si ibu bertanya pada saya, mainan apa ya yang bagus buat anaknya. Saya memutar otak, mengingat2 jaman DD usia segitu saya belikan apa ya. Karena jujur, sejak DD masuk sekolah, utamanya sejak di jenjang TK A yang masuk Senin-Jum’at ini, saya udah jarang banget mikirin mainan dan aktivitas edukatif buat dia. Rasanya saya hanya meneruskan aktivitas yang rutin aja, kaya bacain buku sebelum tidur, hafalan surat2 pendek juga boleh dibilang saya ga mengajarkan surat baru, hanya membantu DD menghafalkan yang dia dapat dari sekolah. Saya benar2 terbantu dengan aktivitas dari sekolahnya yang saya yakin sudah membantu memaksimalkan potensi tumbuh kembangnya, alhamdulillah.

Balik lagi ke ide bermain buat anak, ya. Yang saya ingat, saya dulu membelikan puzzle kenop dengan berbagai tema. Kenapa puzzle kenop? Karena dia bentuknya 1 puzzle satu objek, jadi bukannya menyusun kepingan2 puzzle membentuk satu objek. Buat saya, ya menyesuaikan usia anaknya saja. Semakin besar tentu tingkat kerumitannya bertambah jadi bisa diarahkan untuk puzzle yang beneran. Tapi, puzzle kenop memang saya sarankan untuk memperkenalkan anak dengan konsep puzzling ini.

Jadi kepikiran deh, kalau saya bisa merasa senang kalau saran saya bisa bermanfaat buat teman saya itu, kenapa ga saya bagikan saja di blog biar manfaatnya bisa ditemukan orang2 yang memang lagi nyari, wkwkk… jadi..yuk here we go!

  1. puzzle kenop

Itu contohnya ya. Satu objek, satu puzzle. Bisa buat memperkenalkan nama benda (bentuknya apa aja loh, ada bentuk geometri, alfabet, angka, hewan hutan, hewan laut, alat transportasi, sayuran, buah, dsb) juga melatih koordinasi mata, tangan dan melatih penalaran. Harganya juga terjangkau, mungkin sekitar 20-30rb an, di online shop banyak.

2. pasir sintetis

Mainan pasir sintetis ini anak juga suka, tapi biasanya ibu atau pengasuhnya yang ribet beresin setelahnya, wkwk.. Ini juga bagus untuk melatih motorik halus anak, juga sensorinya, jadi anaknya ga gelian. Bisa bikin cetakan2 bentuk pasir sambil coba bercerita, melatih imajinasi dan kemampuan verbalnya.

mainan_pasir__playsand__cetskan_1457136312_d8d04784maxresdefault

3. menuang

Apa yang dituang? Biji2an (beras, kacang hijau, makaroni, dsb), dan cairan (air, susu, sirup warna, minyak, dsb). Alatnya ya cuma teko, cangkir, corong. Atau dibikin main pas mandi sambil tuang2 air juga bisa. Kalau sehari2 kerja jadi hectic, ya pas weekend. Melatih apa? Koordinasi mata dan tangan, kepekaan anak terhadap ukuran, juga sensorinya. Sarannya sih, untuk anak yang usianya lebih kecil, pakai material yang ukurannya lebih besar. Misal, makaroni, kacang merah, terus beranjak ke yang lebih kecil kaya kacang kedelai, jagung, kacang hijau, dan beras.

manfaat-kegiatan-menuang-biji-bijian-dalam-montessori-1-1-1024x557-1
sumber: https://parentalk.id/manfaat-kegiatan-menuang-biji-bijian/

4. menjepit dan memindahkan benda

Alatnya cukup pakai penjepit plastik yang bisa beli online atau di toko barang2 plastik. Semakin kecil anak, semakin besar benda dan penjepitnya ya. Soalnya kan melatihnya bertahap. Benda yang dipindahkan apa aja? Kalau DD waktu itu saya kasih legonya sih. Soalnya biar enteng dan ga gampang pecah atau berantakan. Bentuknya juga ga kecil2 banget.

scalloptongs_w

nah anak dikasih jepitan itu, disuruh memindahkan benda2 kecil ditaroh ke mangkok. Lebih bagus lagi kalau benda dan mangkoknya warnanya disamakan, Nanti setelah anaknya lebih besar, bisa jepitannya diganti ke pinset plastik dan legonya diganti pompom.

2108934_0320dbd0-bfa2-47c9-b6f6-99a346611815_1560_1560

Menjepit, menuang, menggunting, dan aneka kegiatan lain yang melatih motorik halus anak ini bagus buat persiapan dia menulis nanti loh. Jadi, otot2 tangan anak sudah terlatih lewat kegiatan yang kelihatannya main2 ini. Ga langsung nanti disuruh megang pensil dan tracing pola huruf. Lebih rentan pegel dan bikin stres anak kalau tidak dipersiapkan sedini mungkin.

5. membentuk dan membangun

Untuk membentuk, bisa dikasih plastisin. Diajarin menggiling, bikin hewan, bikin buah, bikin bentuk geometri (segitiga, kerucut, lingkaran, bola, persegi, kubus, tabung, balok). Bikin alat transportasi, alat dapur, dsb banyak deh idenya. Ini melatih motorik halus juga, menguatkan otot tangan juga.

lucunya-27-kreasi-lilin-mainan-ini-bikin-nggak-percaya-160308c

Terus untuk membangun, bisa pakai lego. Legonya untuk anak yang masih kecil ukurannya lebih besar, nanti semakin besar akan semakin mengecil. Lego ini bagus loh untuk melatih imajinasi, memperkenalkan bangun ruang dan tekstur juga. DD sudah ngeh main lego itu seru sejak umur 1,5-2 mungkin ya, sebelumnya ya dia ga ngerti itu lego musti diapain, wkwkwk..

mainan_anak_lego_isi_156_pcs_incl_box

Seringnya sih, untuk mainan anak, saya googling pake keyword “mainan edukasi anak usia … th”. Nah, nanti kan keluar tuh artikel2 tentang rekomendasi mainan apa aja untuk anak. Nah saya sesuaikan deh mainan yang kira2 cocok dengan usia anak, trus apa yang mau saya kuatkan di sisi tumbuh kembang anak.

Misal, mau menguatkan motorik kasar? Main lempar tangkap bola plastik. Sudah mahir dengan bola plastik yang besar? Beralih ke bola yang lebih kecil, misal bola basket kecil trus bola tenis. Mau menguatkan motorik halus? Latihan menjumput benda, menggunakan pinset atau tweezer. Menempel stiker. Bermain warna dengan cat air, dengan kuas atau tangan atau bonggol sayuran. Memindahkan air dengan spons (meremas spons trus dikucurin di atas wadah). Bahkan memasukkan sedotan ke botol plastik aja bisa jadi seru loh.

Semangat main sama anak! ❤

 

 

a birthday trip

These last months had been a very exhausting time in job, causing my soul and body reached its limits. I got my sick leave at August, which actually I planned for a vacation but cancelled because … yeah life’s like that. It doesn’t always go my way.

In September, I planned to go camping because I’ve been so tired with usual trip that makes me stay in a hotel room. Stay in a hotel room reminds me to my job, which I’m really trying to avoid during my holiday. I want to be free and relaxed, my poor soul was too tired to hold anymore.

So after a job to Semarang in the end of August that made me for the first time ever, leaving my son more than 2 x 24 hours after he’s reaching 4 y.o., I decided to make this vacation happened, no matter what. I reconciled my schedule with my man, ’cause in those time we didn’t even had lunch together for months. Ouch.

Actually we planned to go on September 23rd but then my man asked to have our leave on September 30th to October 1st. We went from September 28th so we could celebrate my birthday on September 29th in Bandung. Yeay. (Actually I had stopped counting my birthday since I’m 28 y.o., so I’m mentally always in age of 28, wkwk).

Considering my son’s course on Saturday morning, we left Jakarta in the evening so that we could reach Bandung at night, and stayed in a hotel before continuing our trip to camping ground. Nothing special about staying in hotel. We departed from hotel around 11 a.m. because my son wanted to swim first. We reached the camping ground around 3 p.m because we took our time to buy our groceries in alfamart nearest to the camping ground.

Where did we ride to? *drum roll*

Yep, Ranca Upas. Since this place has been very well-known and popular, I won’t tell how and why to reach there. Or about what cost to rent tent and everything there. You can do your own research, wkwkwk. Ooor, maybe, you could sent me a private message if you really want to know. Here’s my number: +62 85753xxxxxx and call me, maybe? 😀

Anyhow, it’s just that I want to keep some of our pics after staying there.  You can decide yourself whether you want to follow to try that place or maybe you’ve been there before. I don’t care, wkwkwk.

WhatsApp Image 2019-10-07 at 14.19.11
in front of our tent while our son was suffering from cold

WhatsApp Image 2019-10-07 at 14.19.10
he didn’t want to walk by himself

WhatsApp Image 2019-10-07 at 14.19.12

 

I always enjoy going camping since I was on elementary school. But the more I grow as a teenage and young girl, I hold those hobby for it’s not proper for my mom to let her girl leaving without her supervision. But, no worries. I had my own time now, even it’s more special because I did it with my own little family.

I’m so excited to start our other next vacation together!

Love,

Ast ❤

 

Mengenal Saham Syariah

Mengapa saya mengangkat tema ini?

Karena bukan cuma satu dua orang yang berpikir bahwa jual beli saham = riba, padahal sekarang kan gencar ya, gerakan #noRIBA atau #ngeRIBAnget yang intinya menghindari ribanya itu. Kok ini malah seperti bebas dari mulut harimau masuk mulut buaya, gitu loh..

Jadi saya kembalikan saja ke asalnya.

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” [Al-Baqarah: 275]

Juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” [An-Nisaa’: 29)]

Nah, jadi prinsip dasarnya jual beli kan, barang yang diperjual belikan adalah saham. Darimana ribanya? (1)

Terus tentang barang yang diperjual belikan, yaitu saham. Dari sini bisa dilihat bahwa jenis saham ada 3, yaitu saham biasa (common stock), saham istimewa (prefered stock), dan saham kosong. Dari ketiga jenis saham itu, yang saya perjual belikan adalah saham biasa, yang memang diperbolehkan ulama dan tidak ada keraguan di dalamnya tentang sifatnya yang bukan merupakan utang atau adanya kewajiban pembayaran berdasarkan persentase tertentu yang dijanjikan di awal.

Prinsip transaksi sudah clear, jual beli bukan utang piutang dengan bunga. Tidak mengandung riba √

Barang yang ditransaksikan sudah clear, yaitu surat berharga yang menyatakan kepemilikan modal, bukan utang dan tidak ada imbal hasil berupa bunga. Imbal hasilnya berupa dividen, fyi, dan itu ditentukan oleh RUPS (rapat umum pemegang saham) dan nilainya fixed per lembar saham. Tidak mengandung riba √

Nah, seperti kambing banyak macamnya, saham juga macamnya sudah dijelaskan, adalagi sifat yang saya tambahkan untuk filter dalam pembelian saham, yaitu:

  1. perusahaannya bukan perbankan, keuangan, asuransi, dan sejenisnya;
  2. tidak memproduksi barang-barang haram, misal minuman keras/ beralkohol, syubhat, misal rokok.

Itu dari sisi syariahnya. Kalau dari sisi teknis ya pilih yang menguntungkan ya. Ini mah bisa belajar tentang analisis fundamental dan analisis teknikal sahamnya. Bisa dilihat dari laporan keuangan dan membaca chart/ tren dari saham tersebut selama beberapa waktu.

Kalau tidak menilik dari laporan keuangan, chart, dan prinsip syar’i nya, kadang ada orang yang membeli saham karena nilai yang dianut dari perusahaan itu loh. Misal, mereka yang memboikot S*r* R*t* pas aksi 212 kemarin, harga sahamnya anjlok padahal secara fundamental baik-baik saja. Yang menolak penjajahan Palestina, mereka ga beli produk yang menyumbangkan dana ke Isra*l. Yang vegan tidak akan membeli produk yang menggunakan hewan di uji cobanya. Ya seperti membeli produk di pasaran saja. Apa yang sesuai value kamu, bisa dicari.

Dan yang paling membantu saya adalah, saya (alhamdulillah) memilih aplikasi yang menyediakan fitur syariah untuk pelayanan transaksinya. Kalau transaksi saya terindikasi riba, akan ditolak untuk diproses lebih lanjut, loh. Isn’t it cool?

saham syariah
hanya contoh

Dari sistem sudah membentengi customer dari riba. Awalnya gimana kok bisa dapat yang begitu? Ya dari awal pilih yang syariah, ada pilihannya kok.

Tuh. Nantinya kalau kita sudah menjadi member, maka kita akan masuk di bursa syari’ah, jadi saham yang terdaftar di situ ya yang sudah terdaftar di bursa syariah.

Bisa dilihat daftar efek syariah yang terdaftar di bursa, menurut OJK: daftar efek syariah

Kalau mau baca2 fatwa MUI tentang saham syariah dan sebangsanya juga ada di sana. Main2 lah ke website OJK, wkwkwk…

Jadi, kenalanlah dulu, pelajari ilmunya, pelajari fatwa ulamanya, lalu akhirnya putuskan betul tidaknya setelah belajar. Biar ga pake sebatas sangkaan atau praduga. Toh, ilmu juga terus berkembang. Ulama mempelajari hal-hal kontemporer juga. Dan kita negara muslim terbesar di dunia loh. Nilai2 Islam sedikit banyak juga jadi pertimbangan karena kita adalah potensi pasar yang besar. Begitu?

Oiya, karena IG masih menjadi media pembelajaran yang populer, silakan loh kalau mau main ke @sahamsyariah

@pasarmodalsyariah

(bukan endorse).

Terima kasih sudah membaca! Semoga berfaedah ❤

Catatan kaki:

  1. https://pengusahamuslim.com/1814-saham-dalam-timbangan-islam.html

 

 

 

 

 

Perpustakaan Nasional, checked!

Holaa.. Long time no posting ya..

Langsung aja deh ga usah kepanjangan basa-basinya. Weekend ini saya merencanakan main ke Perpusnas sama DD. Impulsif sih. Soalnya pas Jumat pagi kena macet pengalihan jalan karena ada sidang MK, kami lewat perpusnas yang di deket monas. Bukan yang di Salemba ya, ada juga soalnya perpus (kayanya nasional juga) tapi kami selama ini cuma lewat aja, belum tertarik masuk. Sementara perpusnas yang di monas ini dulu suami pernah masuk, pas sekolahnya DD ngadain acara terkait hari buku nasional. Yang pas ada lomba story telling dan kebetulan DD jadi juara itu hohoho #shameless #proudmom #masyaAllah #tabarakallah #takut’ain #bodoamat

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.10
halaman depan perpusnas

Udah sok braggingnya ala momambisius yang ngeselin tapi jadi idola emak2 kece semua?

Yaudah, pas Sabtunya, setelah mengalahkan kemageran yang luar biasa efek habis libur panjang lebaran (oiya, met lebaran semuaa…, salim satu2 sini!), berangkatlah kami ke perpusnas. Jam berapa sodara2? Jam 1 an dari rumah, alias habis dhuhur. Pas nyampe parkiran dari satpam sampe penjaga parkir udah ngingetin aja kalo hari Sabtu perpus tutup jam 4. Sampe sensi sayanya, nanya ke suami, emang ini udah jam berapa sih? masih jam setengah 2 juga, kenapa deh pada ribet.

Trus kami mulai deh keliling2. Buat DD dan bapaknya, itu kali kedua mereka. Buat saya, ini kali pertama. Iya, iya, udah berapa tahun di Jakarta baru pertama kali ke perpusnas, dan ngakunya hobi baca? Huh apaan, yaudah bodo amatlah… Udah bertahun2 saya toh ga beli buku buat saya sendiri, belinya buku buat DD aja wkwkwk. Jadi hobi baca sekarang sudah berganti menjadi kewajiban membacakan buku sebelum tidur, no?

Setelah keliling2 (dan foto2) di halaman perpus, masuk semacam museum gitu di gedung yang keliatan masih bangunan Belanda asli, baru deh kami mulai menuju lantai 7 buat khusus anak. Nah di sini ternyata peringatan bapak Satpam dan penjaga parkir mulai menunjukkan fungsinya. Maap2 ya Bapak2 udah ngata2in (dalam hati) ribet dsb. Soalnya ternyata ngantri liftnya lama pemirsaaa…. Lama bgt ampe kzl. Karena cuma ada 5 lift untuk 24 lantai dan pemakaiannya ga diorganisir. Mikir juga sih ya, gimana ngorganizenya. Tapi setidaknya di kantor pusat saya, dibedain gitu lantai ganjil genap, dan cuma ada 4 lift untuk 12 lantai, yang operasional pegawai 2 sedang yang 2 lagi buat pejabat. Ini ada 5 untuk 24 lantai, jadi walau agak susah kayanya bisa sih ya, saran aja sih, hehe..

Dan karena saya paling sebel nunggu ga jelas, suami juga ngerti mood istrinya gampang anjlok kalo gini, akhirnya kami naik eskalator dulu sampe lantai 4. Iya, mentok soalnya udah ga ada lagi dan musti lanjut naik pake lift.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08 (1)
maket perpusnas

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08 (2)
semacam galeri

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08
ruang entah

Di sini saya merasa saya dodol. Manis banget. Enggak ding, manisnya iya, bodoamat tapi bukan itu maksudnya. Hmm, karena mau ke lt 7 males banget lanjut pake tangga darurat, akhirnya kami malah ngikut lift yang turun dulu sampe lantai dasar baru naik lagi ke lt 7. Eh tapi liftnya cepet banget ya ternyata, pantes kelewat mulu lantainya kalo ga beneran naik dari ujung pangkalnya.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.11
loker penitipan barang

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.04 (1)
ini buku asli semua loh

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.03
petunjuk tiap lantai

Trus sampailah kami ke lantai 7. Langsung disambut dooong sama mbak petugas, ternyata disuruh lepas sepatu dan simpen di rak. Raknya keren macam yang di Ikea gitu, bisa dibuka tutup waaaaooow (norak ih, bodoamat lagi). Yaudah akhirnya DD bisa membaca dengan aktif ditemani bapaknya dan sayanya poto2, baca buku, liat2 koleksinya, sambil mikir kira2 mana yang akan saya belikan buat DD ke depannya nanti.

Jadi begitulah, DD betah baca paling cuma setengah jam. Habis itu dia mlipir ke bagian yang ada mainan dan main lego di sana. Sekitar 30-40 menitan deh, habis itu kami sholat ashar dan siap2 pulang. Antri lift lagi? Iya. Kali ini kami memutuskan untuk turun tangga darurat sampai lantai 4 trus baru lanjut lagi pakai eskalator.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (1)
Bapaknya bacain buku DD

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (2)
multimedia

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05
dinding pun bercerita

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.06 (1)
suasana di lt 7

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (3)
ada ruang ibu laktasi juga loh, nyaman!

Yang mau lihat2 situsnya perpusnas bisa klik di sini

Alamat: Jl. Medan Merdeka Selatan No.11
Jakarta 10110

Jadwal buka:

Senin – Kamis 08.30 – 18.00 WIB
Jumat 09.00 – 18.00 WIB
Sabtu – Minggu 09.00 – 16.00 WIB

Ada biaya ga? Masuk gratis, keluar bayar parkir, atau gratis kalau naik angkutan umum. Tentang keanggotaan sih saya ga tanya2 ya, silakan tanya ke petugasnya aja. Atau coba lihat2 dulu situsnya biar ga zonk nantinya.

Oke, sudah ya.. Terima kasih sudah membaca sampai sini.

Sampai jumpa di postingan berikutnya, semoga semakin berfaedah.

Ast ❤

baca juga lainnya:

When we’re not going to the mall

Berenang di mana?

Taman Situ Lembang

Yoga Gembira @ Taman Suropati