Because I’m Human

So this post came out when I was scrolling my timeline on FB and it made me stunned for a while.

hukuman ujian
source: https://m.facebook.com/hasaneljaizy

That highlightened sentence made me contemplate myself recently. How much rage I felt, how much disappointment I had, how many time I was being upset for little things that if I just being patient at the moment, I won’t be that mad.

If I was able to control my emotions, I can just let those things go.

If I had just enough bunch of patience, I can be chill and cool and not being disturbed for some insignificant things happened.

One thing I had forgotten, that the ability to control emotions and patience themselves, was also signs of Allah’s mercy.

Because I also had times when bad things happened but I could still be calm and still to cope with.

I’m not mad for little things, even bigger things to handle.

When I had my miscarriage. When I was dropped out from my campus. I didn’t cry that much (well, I cried for losing my baby, I’m still a mother who lost her child, though). I didn’t wreak in sadness. I hid myself from crowded and I strongly believe that everything happened, happened for a reason. I believed Allah strongly and I had faith to myself, and I could have my days in a firm step. And so it came true and now I am where I am.

But I also count times when I made WA statuses for shedding my rage and anger over things that now I regret I did. At times, I said to myself that it was okay. It’s okay not to be okay (such a korean series that happening now). It’s okay to have bad times and feels bad because I’m human, too. Human can be angry, human are allowed to feel bad and it’s normal things. Bad things happened all the time to make us value happy things more.

Meanwhile, it’s okay to release my emotions as long as I don’t hurt anybody. But the question is, didn’t I?

Did I not hurt anybody who read my words of anger?

Did I not add bad feelings to them?

Did I not become the toxic people I hate so much myself?

Though I also thought about it, at that moment, I ignored them and became selfish and did it anyway.

After reading the post, now I realize that it must be my own mistake that I missed many possibility to do good things, to be patient, to be cool and chill facing problems. It must be my sins that covering Allah’s mercy to enter my heart.

Doesn’t it break your heart more, as a creature, that your Creator’s mercy can’t reach you, blocked by your own sins?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepada Pagi,

yang membisikkan sinar pada fajar

malu-malu menawarkan rona merah

sehingga langit dari hitam, perlahan mengungu, lalu membiru.

yang memanggil doa-doa pagi dilantunkan ke langit,

menggeser perlahan bintang dari peraduannya

dan kokok ayam jantan mengawali cicit burung gereja.

yang menadah embun di rerumputan,

mengganti dingin yang membekukan menjadi basah yang menyejukkan.

yang menyambut lembut jiwa yang usai,

menawarkan asa yang baru untuk hari yang misteri.

pagi

Jakarta, 27/07/2020

Ast ❤

Tentang Memilih Homeschooling (1)

Akhirnya saya beranikan juga nulis ini.

Niatnya sih, nanti2, sebulan dua bulan, gitu setelah udah beneran menjalani. Tapi pikir saya, yaudahlah, udah beneran nyemplung juga. Masalah realitasnya seperti apa setelah benar-benar menjalani, ya nanti pasti masih bisa kok ditulis. Yang sekarang juga hasil kegalauan sekian lama, soalnya. Yok, mulai.

Berawal dari … pandemi.

Oh, enggak. Pandemi mungkin trigger utama, tapi sebetulnya keinginan untuk bisa homeschooling sendiri mungkin muncul di usia Dd baru 6-7 bulan, mungkin. Waktu itu saya masih aktif di FB dan memfollow salah seorang praktisi homeschooling yang lumayan populer, yaitu Kiki Barkiah dan Abah Ihsan (?). Melihat kisah2 mereka dan nilai2 yang ditanamkan pada anak2nya, sedikit tercetus keinginan di dalam hati untuk bisa begitu juga ke Dd. Meskipun ya masih sadar diri sih, melihat kenyataan bahwa saya adalah ibu bekerja yang berada di luar rumah sejak jam 7.30-17.30, kalau normal. Kalau tidak normal ya lebih dari itu. How come bisa2nya pengen homeschooling anak. Sama siapa? Resign juga berat, yah gitu deh, pikirannya macam2. Jadi keinginan homeschooling (selanjutnya saya singkat jadi HS) masih cuma sebatas keinginan.

Terus, di usia 3 th 8 bulan, Dd mulai saya masukkan kelas playgrup di dekat rumah. Masuk 3 kali seminggu, 2,5 jam per pertemuan. Cerita lengkapnya di Tentang Sekolah ya. Berlanjut sampai anaknya naik ke kelas kinder A alias TK A. Lalu di tengah semester 2, bulan Maret, terjadilah pandemi ini di seluruh dunia. Kebijakan pendidikan saat itu (dan sampai sekarang masih), yaitu anak belajar di rumah. Didampingi orangtua. Guru bertugas menyusun materi dan memantau serta memberikan penilaian atas kecukupan hasil belajar anak.

Bulan pertama, masih masa adaptasi untuk saya, DD, dan ayahnya. Kantor kami masih menerapkan kebijakan WFH (work from home) dan WFO (work from office) secara bergiliran. Sebisa mungkin saya mengatur jadwal agar wfh saya tidak berbarengan dengan suami, hanya supaya setiap harinya ada yang bisa mendampingi Dd mengerjakan tugas sekolahnya. Karena, wfh kan bukan libur, tetap ada tanggung jawab (dan deadline) pekerjaan yang harus dipenuhi. Tugas sekolah juga sama. Terus terang, di bulan2 awal, saya justru merasa wfh + sfh + cfh (course from home) ini sangat melelahkan. Jam kerja menjadi tidak beraturan, karena sekian pekerjaan harus diselesaikan dengan deadline berkejaran. Tapi yasudahlah, the job must be done.

Tugas sekolah, apa kabar? Ya sami mawon… Tapi intinya, setelah pembelajaran lebih lagi, akhirnya, ya bisa juga beradaptasi. Dan saya juga jadi lebih mengenali Dd, dari mengajarkan dia materi2 tugas itu. Misal, saya jadi tahu bahwa mengajarkan menghafal ayat, 1-2 ayat per hari itu sudah bagus, bukannya menghafal setengah surat. Saya jadi tahu bahwa Dd tidak terlalu suka menggambar, karena memegang alat tulis/ warna itu melelahkan (ini saya banget, sampai kelas 1 SD masih tidak suka menulis sendiri karna capek). Saya jadi tahu bahwa Dd lebih memilih melihat saya bersedih dibanding marah padanya. Kenapa?

“Kalau Bubu marah, Dd takut. Tapi kalau Bubu sedih, Dd bisa hibur Bubu.”

Oke, hero. Sekarang lanjut hafalan suratnya.

Wkwkwk, candaa… ya saya jadi nyesel marah dan tambah pe-er untuk mengatur emosi dan meningkatkan kesabaran terhadap Dd.

Hasil dari wfh + sfh + cfh 3 bulan ini, ya saya jadi lebih dekat dengan Dd. Sampai pada masanya memasuki new normal, ehem, dan kantor kami memberlakukan full wfo 100% lagi. Saya dan ayahnya mulai ngantor lagi, setiap hari, pagi-sore lagi. Ayahnya mulai dinas luar lagi dan menginap lagi. Mudah2an saya ga dapet nginep2 lagi deh. Dan Dd dari yang awalnya mengulang2 kalimat,

“Bubu Babah di rumah aja, ga boleh kerja di kantor. Kerjanya dari rumah aja, pake zoom.” –> wow pinter berargumen kamu ya, good job, kid. #masyaAllah

menjadi

“Bubu di rumah aja, Babah aja yang kerja.” –> oshiaap, dadah Babah, baik2 kerja yaaa, sehat2 yaaa, Bubu di rumah yaaa…

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, pensiun aja.” –> iya Nak, pengen banget, huhuhu

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, cuti aja cutiiiiii…” –> belum boleh cuti, sayang, belum keluar aturannya yang ngebolehin cuti

menjadi

“Bubu Babah ga boleh keluar, ada virus corona!” –> seketika keinget video parodi CLOY yang marak beredar di awal pandemi.

cloy
udah new normal sekarang, hey

hmmm yasudahlah begitulah terus.

Oke, balik lagi. Sementara saya dan suami berusaha merelakan diri wfo, kami masih belum rela dong kalau Dd yang masih 5 th itu balik ke sekolah. Mulailah kegalauan tentang bersekolahnya ini datang, dan pas baca2 twitter, ada cuitan seorang yang intinya sih, kalau anak2nya disuruh sekolah lagi, mending dia pilih homeschooling anak2nya aja.

I was like, what? Iya uga, kenapa ga kepikiran…

Tapi tapi tapi … hmmm… sebentar, diingat2 lagi, Dd sudah sangat bisa diajak bekerja sama lho, mengerjakan tugas. Jadi, karna kami wfo, baru bisa pulang sore sebelum maghrib kan, setelah pulang juga bersih2 dsb lalu mulai mengerjakan tugas Dd setelah maghrib. Sekitar 2-2,5 jam mengerjakan 4-5 jenis tugas (membaca/ menulis, membaca hijaiyah, hafalan surat, hadits, atau doa pendek, lalu aktivitas seni/science), masih diselingi masak untuk makan malam dan makan malamnya, lalu latihan untuk kursus musiknya, dan rutinitas sebelum tidur (sikat gigi, pipis, baca buku). Bisa. Dd bisa diajak kerja sama. Dd kooperatif dan mengerti, alhamdulillah.

Jadi, pemikiran tentang HS menguat.

Tapi masih menunggu kebijakan pemerintah, sih. Aturan SFH ini bagaimana? Sampai kapan? Sepanjang tahun ajarankah, atau bagaimana? Virusnya aja katanya masih sampai 2022 loh. Terus, akhirnya ada edaran sementara bahwa sfh ini kemungkinan sampai Desember. Terus, misal setelah Desember sudah disuruh masuk, apa iya saya betulan berani melepas Dd?

Jawabannya, ternyata tidak. Meskipun saya sempat goyah untuk Dd tetap meneruskan sekolahnya di tempat yang sekarang, karena dia nangis pas dibilang mau pindah. Iya, saya goyah, karena saya juga anak pindahan jaman SD dan SMP. Tahu banget lah rasanya pindah dari sekolah yang disenangi ke antah berantah yang ga tau kaya apa keadaannya. Dd sudah sayang teman dan guru2nya, saya juga sebetulnya merasa baik2 saja dengan itu, bahkan sudah bayar pendaftaran untuk tahun ajaran berikutnya, di jenjang kinder B, tapi ….

saat saya melihat berita bahwa tingkat kenaikan kasus positif di Korea Selatan meningkat setelah sekolah dibuka, saya tidak bisa tenang lagi. Saya tidak goyah lagi, dan memang membulatkan tekad bahwa teman dan lainnya datang dan pergi, tapi nyawa itu ya cuma satu dan tidak terganti.

Maka saya persuasi lagi Dd, semakin sering dan intensif. Ditambah lagi, rencana kami pindah rumah akhirnya tereksekusi juga pas di tahun ajaran baru. Lokasi rumah jadi menjauh dari sekolah lama. Pas kebetulan juga, sekolah memberikan edaran tentang tatacara sekolah di era new normal ini, yang ada tambahan2 poin yang akan sulit kami penuhi sebagai orangtua bekerja yang tidak bisa selalu menemani Dd mengikuti kelas online di hari tertentu. Maka, ya akhirnya kami membulatkan tekad untuk mengakhiri pendidikan formal Dd di sekolah dan memilih homeschooling.

Pas terima raport, Dd berpamitan dengan miss2nya. Sedih, huhuhu, karena saya yakin Dd disayangi dan Dd juga sayang sama miss2nya.

miss2
dengan wali kelas Dd
miss2lain
dengan miss2 lain di sekolah
miss bunga
dengan kepala sekolah Dd

Miss2nya cantik2 yah, buat para ikhwan single yang mau serius mohon hubungi saya secara pribadi dulu. Yang kepseknya udah taken yaa..

Ya gitu deh, ini masih preambule yang kepanjangan untuk postingan ttg HSnya gimana2, next lah ya, kalau udah sempet. Sekarang saya masih belajar2 juga. Atau kalau mau tau banget, bisa japri saya lho. Udah ada 1 orang yang kecantol dan ngikut HS juga sih sama saya. Tenang, bukan MLM. Sama sekali bukan.

Intinya sih, saya masih berterima kasih sekali untuk sekolah yang sudah membantu saya mengajari Dd selama ini, dan juga mengajari saya sebagai orangtua, sampai saya bisa merasa PD untuk mewujudkan cita2 terpendam saya pas Dd masih kecil, yaitu mengajari Dd sendiri. Kalau ditanya alasan pindah, yang utama saya jawab, karena pandemi. Iya, pandemi ini mengubah banyak hal di sekeliling kita, membuat apa yang tampak tidak mungkin di awalnya, tiba2 terasa mungkin.

Tapi yang utama sih, mungkin memang HS untuk Dd sudah ditakdirkan, dan ia akhirnya mencari dan menemukan jalannya sendiri.

Quran Surat Al-An’am Ayat 59

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Arti: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Referensi: https://tafsirweb.com/2183-quran-surat-al-anam-ayat-59.html.

Demikian.

Tentang HS nya, insya Allah next post.

❤ Ast

milik kita

Berawal dari keimpulsifan saat melihat instastory seorang di IG, yang kayanya saya follow karena dia punya kucing…

…tapi tiba2 ngiklanin jual buku bekas. Dalam kondisi (saat itu masih) WFH dan tugas negara sudah mulai menurun intensitas dan frekuensinya, dan Dd sudah mulai bisa diajak koordinasi dan kooperatif dalam mengerjakan tugas2 dari sekolahnya. Maka melihat buku2 yang di jaman masa kecil/ remaja saya ini sering saya lahap di perpus/ penyewaan buku dijual murah, segera saya kontak penjualnya. Skip skip skip sampai beberapa hari kemudian paketnya sampai di rumah.

lima sekawan
Tada… ini yang diiklanin mas nya

Apa langsung saya baca? Enggak pemirsa, saya anggurin dulu, itung2 ngendapin potensi virus padahal mah emang males aja. Oiya, btw saya ga anti ya beli buku bekas. Buku cuci gudang pun saya beli kok. Pengalaman paling seru adalah beli buku Senopati Pamungkas 2 karya Arswendo Atmowiloto seharga 50ribu saja. Antara sedih dan happy sih dapat buku bagus (dan baru) harga segitu. Yang anti adalah beli buku nikah orang, karena buat apaa…zzz…

Oke lanjut. Jadi saya beli buku2 di atas itu, buat saya. Mengatasnamakan adanya potensi waktu luang (yang ternyata setelah mengenal mager dan main hp itu jauh lebih menggoda dibanding baca buku, asli) dan nostalgia semata. Buat Dd, saya masih pilih2in bukunya, masih yang boardbook 20 halaman macam Halo Balita, serial nabi, Cican Fun Series, dsj lah. Atau majalah Bobo, atau seri pengetahuan umum/ populer aja. Buku novel macam itu pikir saya ya nanti ajalah dikasih pas dianya udah bisa baca sendiri, lancar, dan emang tertarik sama buku bukan karena gambarnya.

Tapi emang anak2 itu, kayanya gabisa banget kan ya, liat emaknya fokus sama sesuatu yang bukan dirinya sebagai pusat dunia. Zzz, anak 5 tahun yang masih kemratu2 kalo istilah Jawanya. Jadi ini bukan pertama kalinya ya, Dd liat saya lagi baca serius (novel NH Dini, misal, atau bukunya Emha Ainun Najib, yang jelas bukan buat konsumsi piyik itu) terus minta dibacakan. Padahal mah saya juga udah beliin dia buku baru, yang buat anak2, hurufnya besar, gambar dan visualnya menarik dan saya udah nyanding di sebelah dia. Maunya sih, saya baca, dia juga latihan baca sendiri. Enggak mau dong, maunya dibacain buku saya. Yaudahlah, akhirnya entah mulai kapan, bedtime storiesnya berganti dari boardbook menjadi novel lima sekawan ini.

Dan sampe sekarang sudah selesai buku keempat dan mau lanjut buku kelima.

Agak ga nyangka sih saya, bahwa Dd ternyata bisa mengikuti dan menangkap cerita dari novel ini. Meskipun setelah saya jadi orangtua yang membacakan buku ini, saya jadi menyadari bahwa buku ini ga akan lolos 100% memenuhi buku untuk anak. Ya iya, di dalamnya ternyata sering saya dapati kata2 makian seperti: t*l*l, k*ny*l, s**l*n, dll. Juga sarat stereotyping dan hal2 yang dulu pas saya baca rasanya seru, kini kok seperti ga sopan, kurang kerjaan, kurang ajar, dan cari masalah. Yah, mungkin karena ditulis untuk mengikat hati ABG/ remaja yang egonya sedang bertumbuh dan mencari tempat, jadi hal2 seperti itu baik2 saja. Sedangkan untuk cakrawala saya yang umur 30++ ini, kadang bikin kening agak berkernyit, dikit.

Salah satu cara ngakalinnya adalah, kalau pas dapat kata2 kasar itu, maka bacanya akan saya ganti menjadi “piiiiiip” atau “tiiiiiiit” yang akan bikin Dd ketawa awalnya, lalu tanya, “itu apa?” dan saya jawab, “sensor”. Berikutnya lagi kalau saya bunyi gitu lagi dia tetep ketawa dan lalu bilang “sensoooor”. Iya, nak, bagus. Nanti aja kalo udah bisa dan mau baca sendiri, kamu akan tahu kata2 kotor apa itu. Wkkk..

Tapi, kembali lagi ke reaksi Dd. Meskipun dia belum bisa benar2 diam tenang dan anteng pas dengerin saya baca buku, dan sering sambil lompat2 di kasur pas saya baca, dia tetap terikat dengan cerita dari buku2 ini. Satu buku rata2 dibagi menjadi 17-22 bab, saya bacakan rata2 2 bab per malam, bisa fleksibel. Kalo kami lagi sama2 capek, bisa skip satu malam tanpa baca. Kalo lagi capek tapi masih ada tenaganya dikit, 1 bab okelah. Kalo ceritanya lagi seru dan besok libur/ weekend, bisa sampai 4 bab. Iya, suara saya sampai serak, tentu. Tapi, Dd senang, dan terikat.

Terikat tidak hanya secara rasa penasaran saja akan kelanjutan ceritanya. Tapi dia juga bisa berempati pada masalah yang dihadapi si tokoh. Pernah dia tiba2 murung, suram, dan memeluk babahnya saat saya sedang menceritakan si George yang sedih dan menangis tersedu2 karena ibunya masuk rumah sakit. Sampai ikut sesedih itu dia. Pernah juga dia merasa gemas dan sebal dan kesal saat tokoh antagonisnya mengganggu lima sekawan. Geli banget saya lihatnya kesal dan mengepal2kan tangan 😀 #maasyaAllah #masihtakutain

Dan, secara topik dan kualitas obrolan kami juga meningkat. Kami jadi seperti punya obrolan yang sama, membahas tokoh2 di buku itu. Kemarin tiba2 saja pas saya sedang ngomong sesuatu tentang tulang, Dd nyambung bahwa kalau tidak ada tulang maka meleleh badannya. Referensinya adalah tokoh Manusia Tak Bertulang yang ada di buku Sirkus Misterius. Well, sebelumnya, pembicaraan kami juga bisa menyangkut banyak hal yang sedang menjadi minatnya. Tetapi pembicaraan 1 tema selama beberapa hari sesuai bab di buku, itu hal yang lumayan baru. Karena biasanya kan satu buku kelar, sudah ganti buku yang lain, dalam 1 malam bisa baca 2-3 buku berbeda (buku anak2 boardbook 20an halaman).

Berlanjut juga untuk kemampuan membacanya. Sebelum saya bacakan, biasanya Dd saya minta membaca sendiri judul babnya yang dia minta akan dibacakan. Biasanya dia baca 2 judul bab. Kadang dirapel 5 judul bab. Kadang juga lewat aja. Yah, intinya sih, buat saya dan Dd, ini adalah kegiatan baru yang menyenangkan.

Apalagi saat melihat ini:

9802dea5e2d8cd4d6281252c34b95e78

Saya menyadari bahwa kami sedang membuat kenangan indah itu bersama2. Meskipun saya tumbuh menjadi pecinta buku bukan karena dibacain buku (saya didongengin lisan tanpa baca buku oleh ibu- lalu jadi sering membaca buku di perpustakaan sekolah karna menunggu ibu selesai mengajar). Tapi, ya siapa tahu, nantinya yang akan Dd ingat saat melihat 5 sekawan bukanlah cerita dari masing2 bukunya, melainkan suasana dan momen saat saya bersama dia, malam2 membaca buku sebelum tidur.

Well, kenangan itu bukan hanya milik dia saat tumbuh dan mendewasa nantinya toh, tapi juga milik saya saat nantinya saya menua.

5-quote-beloved-books
Saya dan Dd tentu tidak seromantis ini. Saya baca, dia lompat2, itulah yang lebih sering terjadi…

Jadi melow kaaaaaaan…

Yaudah, gitu aja.

Let’s make lovable memories with our loveliest!

Ast ❤

Endurance

They say, life is not a racing.

It has it’s own time. It’s not like a sprint, more like a marathon. You don’t need speed, you need endurance to overcome it.

You start with consistency, continue with persistency.

Because life is not always in the same path. It’s not always smooth. It has ups and downs. You are given some amount of strength and build your own.

How strong is your will to overcome the challenge?

How hard is your effort to make it through?

May your spirit is bigger than your weariness.

May your toughness is bigger than problems thrown to your face.

And may Allah bless you with all of His Greatness.

 

Lebaran Tahun Ini

Sore tadi, saya sudah mulai masak untuk lebaran besok. Menunya simpel saja, sambal goreng kentang dan opor ayam. Untuk lontong, saya tidak bikin. Ribet, hehe.. jadi saya minta suami mencarikan di penjual, dapat rekomendasi dari ART saya.

Ini lebaran pertama saya tidak mudik, karena pandemi. Tiket kereta PP yang sudah dibeli harus dibatalkan. Tidak apa, karena memang keadaannya begitu.

Sejak jauh hari, ART saya sudah memastikan saya tidak jadi mudik. Beliau bertanya, “Mama Dd batal mudik berarti?” yang saya jawab dengan “Iya, Bu. Gimana lagi..”

Jadi begitulah, untuk pertama kalinya saya masak opor buat lebaran. Karena biasanya kalau mudik, saya terima jadi, baik itu di rumah orangtua maupun di rumah mertua. Rejeki punya orangtua dan mertua yang baik, alhamdulillah..

Menjelang sore, saya masih berkutat dengan bumbu dan bahan2. Karena bumbu instan yang saya beli secara online ternyata salah, huhu.. Mau saya opor bumbu kuning biasa, ternyata yang datang opor bumbu pedas. Tidak jadi saya pakai, karena Dd masih belum bisa makan yang pedas.

Tiba2, ART saya datang. Beliau memang tinggal hanya terpaut beberapa rumah dari saya. Dan beliau adalah pengasuh pulang pergi, yang datang pagi dan pulang sore hari saat saya dan suami selesai dari kantor. Jadwalnya adalah Senin-Jum’at, sesuai jadwal kantor saya. Sabtu-Minggu dan tanggal merah libur, jadi hari ini seharusnya bukan jadwalnya untuk datang.

Ternyata, beliau membawakan ini:

Menu lengkap untuk lebaran. Ketupat, opor, sambal goreng kentang ati, dan rendang. Saya dan suami hanya bisa mengucapkan terima kasih dan beliau pun segera pulang lagi.

Saya bertanya2, apakah adat di sini ada hantaran menjelang lebaran? Terus terang deg2an sendiri karena tidak menyiapkan masakan untuk dikirim2, hanya untuk konsumsi sendiri, hehe.. dan saya meskipun biasa masak tetapi tidak pernah PD untuk kasih orang lain masakan saya, sih.

Tapi sampai sekarang, baik tetangga sebelah, tetangga depan rumah, tidak ada yang mengirimkan hantaran. Jadi saya simpulkan, ini karena ART saya saja yang terlalu peduli dan benar2 menganggap kami sebagai keluarganya. Saya ingat, hari pertama puasa, beliau menanyakan apakah saya sahur atau tidak. Karena beliau dan suaminya (suaminya juga sering berinteraksi dengan keluarga kami dan memang baik hati), kepikiran, takut kami ketiduran sehingga melewatkan sahur :’)

Saya sangat tersentuh dengan perhatian mereka kepada keluarga kami. Sebagai pendatang di lingkungan ini, saya banyak dibantu oleh beliau sebagai warga asli di sini untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan warga sekitar. Karena saya jarang di rumah, beliau yang menjaga anak saya sepulang sekolah dan menjadi penyambung lidah keluarga kami dengan warga sekitar.

Lebaran kali ini, saya tidak mudik untuk menjaga orang tua dan mertua saya. Tapi di sini, saya dijaga oleh orang lain yang menganggap kami keluarganya. :’)

Terima kasih, Tuhan. Untuk orang-orang baik yang Kau kirimkan di sekitar kami.


P.S.

Saya masak, ala kadarnya.

Selamat hari raya Idul Fitri!

The Spells

This is for you to shoo the dementors in your life away:

Expecto patronum.

IMG_20200520_072239

In the other words, it means expecting the guard(ian).

The relieving things about this meaning, for me, is when I realize that I have the same spells, taught by my parents since I was a kid.

The ta’awudz.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

I seek refuge in Allah from Syaithon, the accursed one.

Then I become peaceful again.

🧡🧡🧡

P.S.: find out your patronus in https://www.magiquiz.com/quiz/whats-your-patronus/ and tell me yours!

Seminggu

Berikut adalah hal2 yang kupelajari seminggu ini:

  1. Sekolah musik pun ada levelnya. Mau belajar keterampilan musik populer, masuklah Yamaha dan sejenisnya. Mau belajar musik klasik dan terstandarisasi internasional, masuklah ke Sekolah Musik YPM dan sejenisnya.
  2. Hidroponik trending pasti karena postingan akun financial planner itu.
  3. Drama pelakor itu overrated. Plotnya ketebak, musiknya ganggu, dan gesture aktor/aktrisnya tidak natural.
  4. Orang-orang dengan masa kecil bahagia dan penuh privilege, tidak selalu tumbuh menjadi orang yang toleran, terbuka, dan penuh cinta kasih. Yang snob, ignorant, dan judgemental juga ada (dan banyak).
  5. Bukan berarti orang dengan masa kecil yang sedih jadi toleran dan penuh cinta kasih. Yang bitter, drama, dan playing victim juga ada, dan banyak.
  6. Menemukan orang dengan kesamaan tertentu yang dirasa unik itu menyenangkan. Seperti menemukan teman untuk jiwa, bukan teman karena kesamaan lokasi dan kepentingan untuk sementara. Tapi ya sudah. Selera sama bukan berarti lainnya sama.
  7. Tidak ada individu yang benar2 sama, setiap orang itu spesial dan unik. Yang akhirnya jadi tidak spesial dan unik lagi, karena semua juga begitu. Jadinya biasa saja. Special snowflakes syndrome itu untuk orang dengan gangguan kepribadian narsistik.
  8. Bukan tugasmu untuk membuat setiap orang menyukaimu.
  9. Kemampuan yang di atas rata2 itu selalu memukau, terkadang menginspirasi. Tetapi kelemahan seseorang yang membuatmu mengasihi.
  10. Kemampuan memaafkan menunjukkan kekuatan mental seseorang.
  11. Kemampuan “bodo amat” juga.
  12. Setiap orang memiliki daya tarik. Ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang nilai daya tariknya nol, ada yang minus.
  13. Persahabatan lelaki dan perempuan tanpa rasa cinta itu tidak mungkin. Salah satu atau keduanya pasti pernah baper. Hanya waktu bapernya yang tidak sama.
  14. Berdebat itu tidak ada gunanya. Iyain aja biar cepet adalah cara orang pandai.
  15. Kecuali kamu peduli terhadap orang yang beradu argumen denganmu. Ciyee peduli ciyee..
  16. Isyarat adalah untuk yang cerdas, sedang untuk yang dungu harus diperjelas.

Sekian.

Ciao 🧡

Plot Twist

A few days ago I read a story, the genre is horror, btw. So unusual for me to enjoy a horror story, isn’t it? Well, I read it just because it passed on my timeline, so just why don’t I give it a try. From the beginning it developed the tense, everything was good. Until in the end it gave the sentence that is meant to be a plot twist. Unfortunately, that last sentence turned out to be a failure. It ruined all of what it had built before.

The plot twist failed.

In my ideal standard for a plot twist, it should make the reader, in the end, questioning. For horror, at least, because in the beginning it claimed that it based on true story.  A smooth plot twist will leave us in the state of doubting, feeling insecure, feeling unsure, and questioning. Instead of making sure that what was built in the beginning is fake. The claim is also fake. Meh.

Reading that story makes me annoyed for some moment. Luckily I discuss it with my man. I tell him the story from A to Z and the conclusion is the same: the plot twist failed. My mood becomes better, not that satisfied but enough to make me move forward, though.

***

For some time in my life, I rarely thinking about marriage. Not that I don’t have the desire to have one, but because it feels … bizarre. For me, not for anybody. I can only imagine a marriage between the masked tuxedo and princess serenity, and the world beyond my own world. Being with somebody in the same place, same activity, same world continuously, constantly, for the rest of my life, looks like a burden for me.

Don’t I feel love?

Well, I define love from having a crush, missing someone, being jealous, and feeling the pain for losing someone. Those are love to me. All about feelings. The things you do for the one you love, not a chance it stays in my mind. I appreciate things people do for me, for the kindness, not the love behind that possibly make the ulterior motives. When it was acknowledge as love, I was scared then I run away.

So how come I marry you?

A friend, that is no one before.

A man that comes often in my chat app saying hello and gives a cheerful ambience for the second you just come.

A colleague that had been separated with ocean and time in years.

A stranger who turns into someone close, took years though, actually.

At first, I thought you are my plot twist.

You made me questioning my life, my decisions, my rule, my view on everything. You made me insecure, unsure, doubt. You had me crush on you, being jealous, being happy, feeling the butterfly in my stomach. You do things for me and you made me do things I’ve never done to anyone else before.

But knowing you, for this 10 years.

Being with you, for this 8 years.

And becoming your spouse for this 7 years.

The understanding that it wasn’t a plot twist, come slowly, convinced me in the right level. Why did we meet each other. Why did we become friend. Why did we take the chance.

From the beginning, it had to be you. It had to be me. It had to be us.

You are not my plot twist. It was meant to be.

Being together forever, shall we?

31870948_10216568821558195_7345784150915284992_n (1)

Happy Birthday.

I love you, I do.

Kenapa Harus Pusing dengan Corona?

Dewi Nur Aisyah

“A bigger outbreak is certain. Conservatively, this outbreak could be 10 times bigger than the SARS epidemic because that virus was transmitted by only a few ‘super spreaders’ in a more defined part of the country. I’ve seen it all: bird flu, SARS, influenza A, swine fever and the rest. But the Wuhan pneumonia makes me feel extremely powerless. Most of the past epidemics were controllable, but this time, I’m petrified.” (Dr. Neil Ferguson)

Well… bisa dibilang saat ini Indonesia sedang menghadapi masa-masa genting. Ada musuh yang tidak terlihat dan belum terlalu kita kenali kemampuannya. Yang jelas, virus ini sudah menyebabkan 8,811 kematian dan menginfeksi 218,827 orang di 152 negara di seluruh dunia (per 19 Maret 2020 pukul 16.00 WIB). Dan pastinya, masih banyak orang yang sebenarnya sudah terinfeksi namun tidak tercatat/terdeteksi.

Saya sengaja membuka tulisan ini dengan kalimat yang ingin meningkatkan kesadaran, bahwa pandemi ini bukan hal yang ringan

Lihat pos aslinya 3.800 kata lagi