Membaca dengan Let’s Read

Hola!

Memasuki usia 6 tahun, saya mulai lebih peduli dengan mengembangkan kemampuan Dd di bidang bahasa. Kenapa? Karena dia sudah bisa membaca sendiri dalam bahasa Indonesia. Udah punya pondasi yang kuat untuk memperkenalkan bahasa lain, menurut saya. Kenapa ga dua bahasa dari kecil? Padahal banyak anak lain juga udah bisa casciscus lancar dalam bahasa Inggris, bahkan teman sekolah dan kursus Dd pun. Hmm, kenapa ya? Mungkin karena saya cukup santai dan percaya bahwa Dd ga akan mengalami kesulitan berarti, karena bahasa adalah masalah pembiasaan. Jadi ya sudah, sayanya ga ngoyo banget juga.

Kalau selama ini saya cari buku2 cerita dalam bahasa Indonesia, saya mulai cari buku cerita dalam bahasa Inggris. Cuma, ya, kendalanya cuma cari di online shop, ga yakin kalo ga megang fisiknya. Sementara mau ke Gramed*** juga mikir2 karena kan sebisa mungkin #dirumahsaja. Akhirnya malah cuma beli buku latihan dan aktivitas aja, belum kesampean buku ceritanya.

Sampai akhirnya saya nemu postingan tentang Let’s Read ini di IG https://www.instagram.com/letsread.indonesia/

Let’s Read

Karena udah lama ga beli buku cerita, ya pikir saya cobalah buat download dan memperkaya bahan bacaan Dd aja. Gratis pula, kan. Paling kuota internet doang, bukan harga ide cerita, ilustrasi, dllnya. Mikirnya masih bahasa Indonesia aja. Tapi pas liat tutorialnya di youtube, eh, ada berbagai bahasa juga? Hmmm.. cinta banget ga sih…

Setelah instal, saya cobain ke Dd. Terakhir kali, bacaan Dd sebelum tidur variasinya masih di Lima Sekawan Enid Blyton sama cerita nabi, yang serial Cican dan hewan2 udah jarang dibaca sama Dd. Jadi, secara “bobot”, sebenernya emang agak terlalu berat ya buat anak 6 tahun. Nah, begitu baca cerita2 di Let’s Read ini, tiba2 kerasa banget refreshingnya cerita anak2 yang beneran anak2.

Ceritanya sederhana. Sederhana bangeeet, tapi kaya akan kosa kata. Emosinya juga kerasa banget nuansa anak2 yang polos dan ceria. Dd saya bacain jadi sering banget ketawa2 lepas, hanya karena hal kecil seperti gambar ibu naik tangga buat marahin helikopter karna berisik takut bayinya bangun. Dia juga teliti sekali pada hal kecil, seperti tadinya ada 3 anak tikus pergi ke karnaval, tau2 tinggal 2 yang kecil ilang. Ceritanya banyak yang membangun dan akhirnya menegaskan “we are happy“. Dan akhirnya memang sangat menghangatkan hati banget lho, baca cerita anak2 begini.

Saya yang bacain aja jadi kerasa lelah dan kencengnya ilang, apalagi dapat bonus Dd ketawa2 dan nempel sama saya karna pengen liat gambarnya. Beneran udah ga loncat2 lagi dia dibacain cerita. Secara kuantitas juga, bacain cerita sederhana gini cepet selesainya. 1 bab bacain Lima Sekawan bisa buat baca 5 cerita di sini. Dd juga ga mau berhenti2 dibacainnya. Akhirnya, syarat dari saya, dia harus baca sendiri. Jadi sambil dia latian mengeja bahasa Inggrisnya, saya sambil koreksi pelafalannya dan mendorong dia untuk menebak arti katanya terus menyesuaikan dalam kalimat. Kalau saya ga ngerti juga arti katanya, ya kita sama2 buka kamus untuk cari tau apa artinya.

Reading to you kid make the connection stronger, indeed.

Udah nemplok gini, berat tapi seneng, alhamdulillah

Selamat membaca!

Survey SD di Jaktim-Jakpus (Bag. 1)

Tolong maafkan judulnya yang clickbait banget.

Pagi ini, sebuah pesan masuk di WA saya.

“Astika.. kamu sudah menuangkan hasil survey SD ke blogmu kah? Temenku ada yang nanya, aku taunya XXX doang..”

Saya bilang enggak, pas survey SD ga sempet foto2 soalnya ga ada niat untuk bikin postingan di blog, wkwkwk. Tapi lalu senior saya ini bilang ga perlu foto2 gapapa, tapi opini saya ttg plus minus sekolah tersebut apa aja. Hmm… baiklah, siapa tau bisa bermanfaat buat buibu yang mau cari referensi sekolah buat anaknya, cuss lah.

Eh.. preambule lagi. Jadi, sejak awal november saya mendapati info tentang pendaftaran SD dan MI seliweran di media sosial saya. Kok bisa? Iya, saya udah cari dan follow akun2 sosmed SD inceran, walau ternyata ada juga yang salah akun. Gimana caranya cari SD inceran? Yang pertama buat saya sih lokasinya. Ini yang saya kunci duluan. Jadi saya cari dengan kata kunci SD Islam terdekat. Ada ketemu nama2nya di peta? Barulah dibuka ulasannya di mesin pencari. Bagi beberapa orang mungkin cara saya sangat ribet dan ah entahlah, saya tidak peduli. You do you. Saya punya prioritas dan pertimbangan sendiri, demikian pula orang lain.

Cara kedua, cari tahu akreditasinya. Karena saya mau memasukkan anak saya sekolah di SD Swasta, akreditasi menjadi penting buat saya. Lagi, ini bisa jadi tidak penting buat orang lain, silakan saja. Jadi saya berselancar di dunia maya, mencari akreditasi dari masing-masing sekolah yang sudah terkunci lokasinya.

Ke mana mencari akreditasi? ke http://bansm.kemdikbud.go.id/akreditasi ya. Masukkan lokasi, jenjang pendidikan, nilai akreditasi apa yang dimau. Bisa keluar daftarnya, mempersempit pilihan.

tampilan situs banpt

Sudah dapat akreditasinya? Sambil menyelam minum air, saya juga mencari review sekolah2 tersebut, di forum2, di blog orang, dari cerita senior, dst, dst. Perjalanan mencari SD ini sudah saya mulai sejak saya mencari TK untuk DD, jadi sejak 2018an lah. Beberapa sudah saya kontak tentang biaya2nya sejak Dd masuk TK A, sekedar untuk mencari bayangan kira2 pas tahun Dd masuk sekolah, saya harus persiapkan berapa. Beberapa sudah saya kunjungi juga secara langsung sejak tahun lalu, supaya PR saya mencari sekolah tidak bertumpuk di tahun pendaftaran persis.

So, here we go.

  1. SD Islam Al Mubarok (Rawasari, Jakarta Pusat)

SD Al Mubarok menjadi SD pertama yang kami kunjungi, sekitar tahun lalu. Karena lokasinya di peta terbilang dekat rumah, dan secara harga, dia termasuk lebih terjangkau. Situsnya bisa dilihat di https://sditalmubarak.sch.id/

Pas saya kunjungi, mereka sedang mempersiapkan penilaian akreditasi (masih B) tetapi di tahun ini sudah A.

oh, biar gampang pakai format aja kali ya hasil surveynya.

Pros:

Cons:

  • jalan masuknya sempit, ga masuk mobil tp cuma gang. Kebayang kalo antar jemput anak bakal desek2an dengan arus pelajar yang banyak, meskipun cuma pakai motor.
  • ada info kalau ga dari TKnya, bakal susah masuk.

Tentang SDIT Al Mubarak ini ga saya lanjutin cari tahu lagi di tahun ini, karena agak ga sreg dengan akses ke sekolahnya. Tapi ya ini sekedar info aja sih, buat tambahan referensi.

2. SD KIS (Kaffah Islamic School, Senen, Jakpus)

Saya juga cek lokasi SD ini tahun 2019an mungkin. Ini sekolah baru, padahal. Tapi saya minat aja lihatnya. Too bad, kayanya penerimaan untuk tahun ini sudah berakhir tgl 27 November kemarin. Tapi coba dikontak aja sih, siapa tahu ada kuota tambahan.

Pros:

  • bangunan dan fasilitas terlihat OK
  • kurikulum dan visi misi OK
  • biaya terjangkau (di tahun 2019 SPP sekitar 500k, uang pangkal <10jt an)
  • ekskul OK (ada panahan juga)

Cons:

  • belum akreditasi karena belum ada lulusan. Hiks, ini sedih sekali. Tapi kalau anda percaya pada kualitas pengajar dan sarprasnya ya silakan, karena memang untuk sekolah baru, kendala mendapat akreditasi adalah dibutuhkannya lulusan. Tahun kemarin sudah sampai angkatan ke-4 kalau tidak salah, jadi misal diurus, tahun depan sudah bisa dapat akreditasi.
  • akses ke sekolah agak susah. Meskipun diklaim dekat dari jalan Pramuka, jujur saya dan suami sampai berkali2 nyasar, pas nyari sendiri. Setelah kontak via wa dengan admin sekolahnya, dikasih ancer2 masuk dari gang murtadho, baru deh ketemu. Itupun nanya sama warga sekitar, dan mereka ga tau kalau nyebut Kaffah Islamic School, taunya “KIS” udah.

Di tahun ini juga saya ga mencari tahu tentang sekolah ini, karena ya tentang akreditasi dan akses ini.

3. SD Perguruan Cikini/ SD Percik (Menteng, Jakarta Pusat)

SD legendaris ini ya, konon banyak musisi dan selebritis bersekolah di sini dulunya. Bukan SD Islam, tapi terus terang saya tergiur dengan ekskulnya, huhuhu.. Informasi saya dapat sebatas dari lewat sekolahnya saja pas pulang kantor, lihat gedungnya dari luar, dan lihat2 situsnya. Dulu sih ada info biayanya juga di situsnya.

Situsnya: http://percik-school.com/, https://www.facebook.com/sd.percik, https://www.instagram.com/sdpercikjakarta/

Pros:

  • ekskul OK banget
  • biaya relatif terjangkau (uang pangkal <15jt, uang kegiatan tahunan <5jt, spp <1,5jt)
  • fasilitas OK (ruangan, lab, kantin, antar jemput, lihat di situsnya aja sih ini, wkwk)

Cons:

  • kurikulum nasional, bukan religius. Ini preferensi saya, misal buibu ada yang milih kurikulum nasional maka ini jadi pro, bukan con.
  • ga searah kantor untuk antar jemput.

kalau dilihat, kontranya personal sekali sifatnya ya. Ini jadi semakin meyakinkan bahwa preferensi, prioritas, dan pertimbangan orang bisa sangat beda, dan itu tidak apa2.

4. SD Muhammadiyah 1/ SD Mutu Jakarta (Kemayoran, Jakarta Pusat)

Ini SD saya baru tahu November kemaren, huhu. Pas udah mulai desperate, eh nemu info SD ini.

situs: https://www.instagram.com/sdmutujakarta/,

https://www.facebook.com/SD-Muhammadiyah-1-Jakarta-1528429060796478/, https://www.youtube.com/c/sdmuhammadiyah1jakarta

Pros:

  • akreditasi A
  • biaya terjangkau (uang pangkal 8jt, spp 600an, uang tahunan 2jtan)
  • fasilitas lumayan (antar jemput, katering)

Cons:

  • lokasi dan akses. Dia di dekat rel dan stasiun kemayoran, lingkungan dan lalu lintas padat, musti puter balik agak jauh, dan memang jauh dari rumah (7++ km, kasian Dd capek di jalan)
  • sarpras. Kalau kelas dan kursi meja sih di instagramnya keliatan modern, tapi untuk bangunan dan halaman agak “berumur”. Yah ini masih bisa direnov sih, kapan2.
  • ekskul. Ekskul yang ditawarkan cenderung serius dan kurang unsur “fun” nya buat saya.

5. MI Istiqlal Jakarta

Situs: https://www.web.mij.sch.id/, https://www.youtube.com/channel/UCtqBe-ZogLpr7LobVwTCwMA

Setiap hari berangkat kerja ngelewatin ini, ya gimana ga kepengen Dd sekolah di sini? Meskipun keinginan terpendam itu ya dipendem aja sih, ga berani soalnya denger2 uang sekolahnya mihil sikili, huhuhu menangis. Tapi, karna lihat postingan di instagram the urban mama https://www.instagram.com/the_urbanmama/ (cek di highlite Jakpus) di situ ada info biaya uang pangkal yang rasa2nya masih bisa diusahakan, kami jadi coba deh daftar.

Jadi udah daftar PPDBnya (bisa dicek di situsnya), ikut grup WAnya, sempat ikut openhousenya walau ga sampe selesai, tinggal tunggu seleksinya nanti tanggal 21 Desember.

Pros:

  • MI Istiqlal. Masjid terbesar se-Asia Tenggara. hhh udahlah apalagi yang kau ragukan
  • searah dengan kantor, mudah antar jemput

Cons:

  • klasik. Biaya. Bisa sih, diusahakan, tapi sejauh info yg saya terima, masih ada komponen biaya yang saya belum tau besarannya (uang komite madrasah), dan itu agak bikin kuatir kira2 sebesar apa dan sebisa apa kami menambahkan komponen itu ke anggaran tahunan kami.
  • meskipun searah, sebenernya ya lumayan jauh buat Dd. 7,6 km, tapi ya bisa diusahakan lagi nanti.

Jadi meskipun ada kontranya, masih bisa kami kompromikan sih. Makanya berani coba daftar. Sebetulnya Dd juga udah daftar di SD Islam lain sih, udah tes masuk, udah dinyatakan diterima malah di minggu ini. Tinggal daftar ulang, hehe. Tapi masih ada penasaran ke MI istiqlal ini, tapi ya entahlah. Maafkan kalau tidak membantu dan malah nambahin galau, wkwkwk.

Setelah dilihat lagi, meskipun judulnya Jaktim-Jakpus tapi sepertinya bagian 1 ini saya khususkan untuk yang Jakpus dulu ya. Untuk Jaktimnya (sekitaran matraman-rawamangun-pulomas) menyusul di postingan berikutnya.

Semoga bermanfaat!

KUBARO (Kursus Bahasa Arab Online)

Berawal dari chit chat saya dengan senior yang resign dari kantor lalu saya tanya kegiatan setelah resignnya apa. Kuliah lagi ternyata, jurusan Bahasa Arab dan Ilmu Syar’i. Sayanya langsung wawawawa takjub dan ikut seneng buat mbaknya. Ya seneng aja, gatau kenapa wkwkwk. Mungkin ikut seneng denger orang lain seneng, ya daripada seneng liat orang lain susah ye kan..

Lalu, saya yang waktu itu juga kebetulan lagi semangat2nya (lagi) main Duolingo, akhirnya secara impulsif menambahkan satu bahasa ke Duolingo saya. Bahasa Arab.

Baca juga: Belajar Bahasa dengan Duolingo

Awalnya, saya agak segan mau belajar bahasa Arab. Pas di kampus pernah padahal ikutan ekskul bahasa Arab (Al Lughoh kalo ga salah inget namanya). Tapi baru pertemuan pertama dikasih halaman kosakata yang harus diapalin, besok2nya udah ga masuk lagi, wkwkwk. Emang pemalas akut jaman dulu itu, ya sekarang juga sih aslinya.

Pas belajar di Duolingo, langsung bisa cepet naik level karena di Duolingo juga diawali sama pengenalan aksaranya. Sementara kalo orang Islam di Indonesia, produk TPA, ya kalo baca huruf hijaiyah kan udah khatamlah ya. Jadi ya paling yang jadi tantangan adalah belajar kosa kata baru dan pembentukan kalimat aja.

Lalu mungkin emang Tuhan ingin saya jadi orang yang lebih bener lagi, lewatlah iklan Kursus Bahasa Arab di wa status, dari temen. Dan saya gercep tanya2 ke temen saya itu. Situasinya, saat itu awal2 pandemi. Jadi di iklannya dibilang kursusnya bisa dilaksanakan secara online. Sebagai kaum rumahan, ya angin segar banget ya, bisa kursus bahasa dari rumah aja. Ngobrol2 sama suami, akhirnya saya memutuskan daftar kursusnya.

Jadi gimana, kursus onlinenya?

Hmmm, jadi gini…

Saya dapat jadwal kursus di hari Minggu, jam 16.30. Sebetulnya offline (datang ke masjid), tapi karena pandemi, ustadznya buka zoom juga. Tapi, walaupun udah online pun, saya masih males masuk. Zzzzzzz bangetlah saya ini. Yang masih saya usahakan adalah ngerjain PR (tulis dan hafalan).

Nah ini jadi masalah lagi, karena, gimana bisa ngerjain PR tulis, kalau kelasnya aja bolos? Hafalan kosakata yaudahlah tinggal hafalin sama setor aja via wa, tapi ngerjain PRnya? “grammar”nya bahasa Arab aja saya gatau aturannya, di Duolingo cuma nebak kata doang istilahnya, ga ada disuruh bikin kalimat. Maka saya kalo pas masanya ngerjain PR, udahlah stres dan frustasi sendiri. Nyalah2in diri sendiri, ngapain sok iye ikut kursus segala, kenapa males banget buat masuk kelas, kenapa masih mau ngerjain tugas, kenapa ga keluar aja sekalian? Saya sebelum ngerjain PR sering japri ustadznya nanya ini tugasnya disuruh ngapain, alhamdulillah ustadznya baik dan sabar banget ngadepin emak2 banyak tanya dan selalu bolos ini.

Herannya, saya bertahan sampai pelajaran ke-10. Sampai akhirnya saya keluar dari kelas itu, itupun karena disuruh pindah kelas. Soalnya masjidnya akhirnya membagi kelas, yang nantinya bakal dan musti offline dan yang tetep online sampe akhir. Jadi saya memulai dari awal lagi, di kelas khusus online.

Nah di kelas baru, saya ga mau mengulangi kesalahan yang sama. Apalagi pas cerita2 sama teman lama, dia ternyata beberapa kali ikut kursus bahasa Arab di tempat2 yang berbeda, dan selalu sama hasilnya: DO di semester I. Pas saya tanya kenapa kok bisa sampai ke-DO 3 kali di lembaga yang beda2, katanya rata2 karna dia ga pernah setor tugas. Oh, agak kebalikan ya, karna saya bolos mulu tapi masih setor tugas (walo sambil stres2 dan frustasi2). Yasudah, akhirnya setelah cerita2 itu malah tumbuh harapan pada diri saya sendiri, yok bisa yok, insya Allah.

Lalu, mulailah saya ikut Kubaro ini. Dapat jadwal kelas di hari Sabtu jam 4 sore. Pakai zoom tapi wajib matiin video (senangnya!). Saya usahakan sekali datang di pertemuan pertama. Dan karena saya sudah pernah setor tugas hafalan sampai pelajaran ke-10, ya materi di pertemuan pertama saya ga terlalu banyak blank lagi. Kosakata sudah ada bekal, tinggal tata bahasanya saja. Saya menyelesaikan kelas pertama dengan perasaan puas.

Ternyata gini ya, dapat ilmu baru. Nyenengin. Banget. Saya merasa kantong-kantong keilmuan saya yang tadinya kosong melompong, terisi lagi, dengan harapan, dengan semangat, dengan pengetahuan baru. I feel inspired. Rasanya berbunga-bunga dan utuh. Content. Happy. Terbang ngawang2. Senaaaaang.

Sampai waktunya ngerjain tugas tulis lagi.

Zzzzzzzz. Stres lagi, frustasi lagi, nyalahin diri sendiri lagi. Kapokmu kapan.

Astagaaaa.

Selesai kelas yang rasanya memabukkan itu, beda banget sama saatnya deadline ngerjain tugas. Yang dipelajari di kelas, biasalah, a-d, dan lalu PR itu e-z. This is the kind of love-hate relationship between me and arabic language.

Jadi, tiap Sabtu saya akan merasa content lagi, happy lagi, inspired lagi, semangat lagi dan ga mau menyerah, karena, rasanya saya bisa kok, bahasa Arab ini. Saya senang kok, senang bangeeeet nget nget nget. Tapi di hari Rabu, saya stres dan frustasi dan marah2in diri sendiri. Di sisi lain belajar di Sabtu itu rasanya sangat candu, di sisi lain, nugas di Rabu itu, rasanya seperti sakawnya. Nyiksa.

Anyhow, tanpa diitung2, karna pasti saya sadar, tau2 udah pelajaran terakhir dari semester 1 ini. Belum final, karena baru 2 minggu lagi saya ujian. Bisa masuk full tanpa bolos (walo pernah ijin betul2 karena darurat) aja udah prestasi lah buat saya yang mageran ini. Mudah2an bisa ujian dan hasilnya memuaskan. Memuaskan buat saya aja udah cukup, ga harus mumtaz buat ustadznya. Target saya minimalis, asal lulus dan bisa lanjut ke semester 2 tanpa mengulang. Perjalanan masih panjang, karena ada 8 semester buat belajar bahasa Arab ini. Gapapa, satu2 dulu diselesaikan. Pelan2, ambil napas. Liat pemandangan kiri kanan.

Semoga Allah meridhoi.

Doakan saya lulus ya!

PS: Kalau mau ikutan, Kubaro buka kelas lagi (batch 2) untuk semester baru mulai Januari 2021 nanti. Kalau berminat dan mau ikutan, hubungi Contact Personnya (nomor WA: 081380019750) aja. Mungkin kamu akan mengalami love-hate relationship seperti saya, tapi dicoba aja, seru kok kaya naik bebek2an, wkwkwk.

source: abttangerang

Salam!

Tentang Memilih Homeschooling (2)

Halo!

Pas liat kalender udah 31 aja dan ternyata saya ga ada nulis apapun di blog ini selama Agustus. Padahal mah udah pernah nulis sampe 900++ kata tapi pas mau dipost ilang trus ga mood lagi, yaudah deh.

Jadi, udah sebulan lebih nih ceritanya si Dd menjalani HS, gimana kesan2nya? Sesuai janji saya di postingan Tentang Memilih Homeschooling (1) saya mau nulis kan gimana2nya setelah menjalani.

Cerita aja deh ya.

Jadi, secara umum ya ga jauh beda sama SFH kemaren setelah pandemi. Sekolah memberi tugas, orangtua membimbing, anak yang menjalankan. Kegiatan belajar di rumah murni ga ada di sekolah sama sekali. Pertemuan online dengan aplikasi. Perbedaan yang menonjol ya karakteristik masing2 lembaga pendidikan itu beda. Udah, itu aja. Karena perbedaan karakteristik lembaganya, maka beda arah dan kurikulumnya, sesuai visi misi masing2. Teknis, sama aja. Detail, beda tergantung teknisnya.

Slide1

Slide2

Slide3

Slide4

Muahahaha, maapin kalo tabelnya acak adut ya. Saya coba semampu dan sesempet saya biar semua poin bisa masuk di satu postingan.

Jadi, tuntas ya janji saya buat bikin postingan tentang HS ini? Kalo mau tanya2 boleh japri saya, ada kontak lewat email.

Yah, sekarang tentang TK selama pandemi udah ada solusi, trus nanti gimana pas SD? mau lanjut di PKBM ini atau memberanikan diri daftar ke sekolah biasa?

Belum tau. Biar Allah yang tunjukkan.

Salam,

Ast ❤

Tentang Memilih Homeschooling (1)

Akhirnya saya beranikan juga nulis ini.

Niatnya sih, nanti2, sebulan dua bulan, gitu setelah udah beneran menjalani. Tapi pikir saya, yaudahlah, udah beneran nyemplung juga. Masalah realitasnya seperti apa setelah benar-benar menjalani, ya nanti pasti masih bisa kok ditulis. Yang sekarang juga hasil kegalauan sekian lama, soalnya. Yok, mulai.

Berawal dari … pandemi.

Oh, enggak. Pandemi mungkin trigger utama, tapi sebetulnya keinginan untuk bisa homeschooling sendiri mungkin muncul di usia Dd baru 6-7 bulan, mungkin. Waktu itu saya masih aktif di FB dan memfollow salah seorang praktisi homeschooling yang lumayan populer, yaitu Kiki Barkiah dan Abah Ihsan (?). Melihat kisah2 mereka dan nilai2 yang ditanamkan pada anak2nya, sedikit tercetus keinginan di dalam hati untuk bisa begitu juga ke Dd. Meskipun ya masih sadar diri sih, melihat kenyataan bahwa saya adalah ibu bekerja yang berada di luar rumah sejak jam 7.30-17.30, kalau normal. Kalau tidak normal ya lebih dari itu. How come bisa2nya pengen homeschooling anak. Sama siapa? Resign juga berat, yah gitu deh, pikirannya macam2. Jadi keinginan homeschooling (selanjutnya saya singkat jadi HS) masih cuma sebatas keinginan.

Terus, di usia 3 th 8 bulan, Dd mulai saya masukkan kelas playgrup di dekat rumah. Masuk 3 kali seminggu, 2,5 jam per pertemuan. Cerita lengkapnya di Tentang Sekolah ya. Berlanjut sampai anaknya naik ke kelas kinder A alias TK A. Lalu di tengah semester 2, bulan Maret, terjadilah pandemi ini di seluruh dunia. Kebijakan pendidikan saat itu (dan sampai sekarang masih), yaitu anak belajar di rumah. Didampingi orangtua. Guru bertugas menyusun materi dan memantau serta memberikan penilaian atas kecukupan hasil belajar anak.

Bulan pertama, masih masa adaptasi untuk saya, DD, dan ayahnya. Kantor kami masih menerapkan kebijakan WFH (work from home) dan WFO (work from office) secara bergiliran. Sebisa mungkin saya mengatur jadwal agar wfh saya tidak berbarengan dengan suami, hanya supaya setiap harinya ada yang bisa mendampingi Dd mengerjakan tugas sekolahnya. Karena, wfh kan bukan libur, tetap ada tanggung jawab (dan deadline) pekerjaan yang harus dipenuhi. Tugas sekolah juga sama. Terus terang, di bulan2 awal, saya justru merasa wfh + sfh + cfh (course from home) ini sangat melelahkan. Jam kerja menjadi tidak beraturan, karena sekian pekerjaan harus diselesaikan dengan deadline berkejaran. Tapi yasudahlah, the job must be done.

Tugas sekolah, apa kabar? Ya sami mawon… Tapi intinya, setelah pembelajaran lebih lagi, akhirnya, ya bisa juga beradaptasi. Dan saya juga jadi lebih mengenali Dd, dari mengajarkan dia materi2 tugas itu. Misal, saya jadi tahu bahwa mengajarkan menghafal ayat, 1-2 ayat per hari itu sudah bagus, bukannya menghafal setengah surat. Saya jadi tahu bahwa Dd tidak terlalu suka menggambar, karena memegang alat tulis/ warna itu melelahkan (ini saya banget, sampai kelas 1 SD masih tidak suka menulis sendiri karna capek). Saya jadi tahu bahwa Dd lebih memilih melihat saya bersedih dibanding marah padanya. Kenapa?

“Kalau Bubu marah, Dd takut. Tapi kalau Bubu sedih, Dd bisa hibur Bubu.”

Oke, hero. Sekarang lanjut hafalan suratnya.

Wkwkwk, candaa… ya saya jadi nyesel marah dan tambah pe-er untuk mengatur emosi dan meningkatkan kesabaran terhadap Dd.

Hasil dari wfh + sfh + cfh 3 bulan ini, ya saya jadi lebih dekat dengan Dd. Sampai pada masanya memasuki new normal, ehem, dan kantor kami memberlakukan full wfo 100% lagi. Saya dan ayahnya mulai ngantor lagi, setiap hari, pagi-sore lagi. Ayahnya mulai dinas luar lagi dan menginap lagi. Mudah2an saya ga dapet nginep2 lagi deh. Dan Dd dari yang awalnya mengulang2 kalimat,

“Bubu Babah di rumah aja, ga boleh kerja di kantor. Kerjanya dari rumah aja, pake zoom.” –> wow pinter berargumen kamu ya, good job, kid. #masyaAllah

menjadi

“Bubu di rumah aja, Babah aja yang kerja.” –> oshiaap, dadah Babah, baik2 kerja yaaa, sehat2 yaaa, Bubu di rumah yaaa…

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, pensiun aja.” –> iya Nak, pengen banget, huhuhu

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, cuti aja cutiiiiii…” –> belum boleh cuti, sayang, belum keluar aturannya yang ngebolehin cuti

menjadi

“Bubu Babah ga boleh keluar, ada virus corona!” –> seketika keinget video parodi CLOY yang marak beredar di awal pandemi.

cloy
udah new normal sekarang, hey

hmmm yasudahlah begitulah terus.

Oke, balik lagi. Sementara saya dan suami berusaha merelakan diri wfo, kami masih belum rela dong kalau Dd yang masih 5 th itu balik ke sekolah. Mulailah kegalauan tentang bersekolahnya ini datang, dan pas baca2 twitter, ada cuitan seorang yang intinya sih, kalau anak2nya disuruh sekolah lagi, mending dia pilih homeschooling anak2nya aja.

I was like, what? Iya uga, kenapa ga kepikiran…

Tapi tapi tapi … hmmm… sebentar, diingat2 lagi, Dd sudah sangat bisa diajak bekerja sama lho, mengerjakan tugas. Jadi, karna kami wfo, baru bisa pulang sore sebelum maghrib kan, setelah pulang juga bersih2 dsb lalu mulai mengerjakan tugas Dd setelah maghrib. Sekitar 2-2,5 jam mengerjakan 4-5 jenis tugas (membaca/ menulis, membaca hijaiyah, hafalan surat, hadits, atau doa pendek, lalu aktivitas seni/science), masih diselingi masak untuk makan malam dan makan malamnya, lalu latihan untuk kursus musiknya, dan rutinitas sebelum tidur (sikat gigi, pipis, baca buku). Bisa. Dd bisa diajak kerja sama. Dd kooperatif dan mengerti, alhamdulillah.

Jadi, pemikiran tentang HS menguat.

Tapi masih menunggu kebijakan pemerintah, sih. Aturan SFH ini bagaimana? Sampai kapan? Sepanjang tahun ajarankah, atau bagaimana? Virusnya aja katanya masih sampai 2022 loh. Terus, akhirnya ada edaran sementara bahwa sfh ini kemungkinan sampai Desember. Terus, misal setelah Desember sudah disuruh masuk, apa iya saya betulan berani melepas Dd?

Jawabannya, ternyata tidak. Meskipun saya sempat goyah untuk Dd tetap meneruskan sekolahnya di tempat yang sekarang, karena dia nangis pas dibilang mau pindah. Iya, saya goyah, karena saya juga anak pindahan jaman SD dan SMP. Tahu banget lah rasanya pindah dari sekolah yang disenangi ke antah berantah yang ga tau kaya apa keadaannya. Dd sudah sayang teman dan guru2nya, saya juga sebetulnya merasa baik2 saja dengan itu, bahkan sudah bayar pendaftaran untuk tahun ajaran berikutnya, di jenjang kinder B, tapi ….

saat saya melihat berita bahwa tingkat kenaikan kasus positif di Korea Selatan meningkat setelah sekolah dibuka, saya tidak bisa tenang lagi. Saya tidak goyah lagi, dan memang membulatkan tekad bahwa teman dan lainnya datang dan pergi, tapi nyawa itu ya cuma satu dan tidak terganti.

Maka saya persuasi lagi Dd, semakin sering dan intensif. Ditambah lagi, rencana kami pindah rumah akhirnya tereksekusi juga pas di tahun ajaran baru. Lokasi rumah jadi menjauh dari sekolah lama. Pas kebetulan juga, sekolah memberikan edaran tentang tatacara sekolah di era new normal ini, yang ada tambahan2 poin yang akan sulit kami penuhi sebagai orangtua bekerja yang tidak bisa selalu menemani Dd mengikuti kelas online di hari tertentu. Maka, ya akhirnya kami membulatkan tekad untuk mengakhiri pendidikan formal Dd di sekolah dan memilih homeschooling.

Pas terima raport, Dd berpamitan dengan miss2nya. Sedih, huhuhu, karena saya yakin Dd disayangi dan Dd juga sayang sama miss2nya.

miss2
dengan wali kelas Dd

miss2lain
dengan miss2 lain di sekolah

miss bunga
dengan kepala sekolah Dd

Miss2nya cantik2 yah, buat para ikhwan single yang mau serius mohon hubungi saya secara pribadi dulu. Yang kepseknya udah taken yaa..

Ya gitu deh, ini masih preambule yang kepanjangan untuk postingan ttg HSnya gimana2, next lah ya, kalau udah sempet. Sekarang saya masih belajar2 juga. Atau kalau mau tau banget, bisa japri saya lho. Udah ada 1 orang yang kecantol dan ngikut HS juga sih sama saya. Tenang, bukan MLM. Sama sekali bukan.

Intinya sih, saya masih berterima kasih sekali untuk sekolah yang sudah membantu saya mengajari Dd selama ini, dan juga mengajari saya sebagai orangtua, sampai saya bisa merasa PD untuk mewujudkan cita2 terpendam saya pas Dd masih kecil, yaitu mengajari Dd sendiri. Kalau ditanya alasan pindah, yang utama saya jawab, karena pandemi. Iya, pandemi ini mengubah banyak hal di sekeliling kita, membuat apa yang tampak tidak mungkin di awalnya, tiba2 terasa mungkin.

Tapi yang utama sih, mungkin memang HS untuk Dd sudah ditakdirkan, dan ia akhirnya mencari dan menemukan jalannya sendiri.

Quran Surat Al-An’am Ayat 59

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Arti: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Referensi: https://tafsirweb.com/2183-quran-surat-al-anam-ayat-59.html.

Demikian.

Tentang HS nya, insya Allah next post.

Update: sudah dipost ya, tentang HSnya di Tentang Memilih Homeschooling (2)

❤ Ast

milik kita

Berawal dari keimpulsifan saat melihat instastory seorang di IG, yang kayanya saya follow karena dia punya kucing…

…tapi tiba2 ngiklanin jual buku bekas. Dalam kondisi (saat itu masih) WFH dan tugas negara sudah mulai menurun intensitas dan frekuensinya, dan Dd sudah mulai bisa diajak koordinasi dan kooperatif dalam mengerjakan tugas2 dari sekolahnya. Maka melihat buku2 yang di jaman masa kecil/ remaja saya ini sering saya lahap di perpus/ penyewaan buku dijual murah, segera saya kontak penjualnya. Skip skip skip sampai beberapa hari kemudian paketnya sampai di rumah.

lima sekawan
Tada… ini yang diiklanin mas nya

Apa langsung saya baca? Enggak pemirsa, saya anggurin dulu, itung2 ngendapin potensi virus padahal mah emang males aja. Oiya, btw saya ga anti ya beli buku bekas. Buku cuci gudang pun saya beli kok. Pengalaman paling seru adalah beli buku Senopati Pamungkas 2 karya Arswendo Atmowiloto seharga 50ribu saja. Antara sedih dan happy sih dapat buku bagus (dan baru) harga segitu. Yang anti adalah beli buku nikah orang, karena buat apaa…zzz…

Oke lanjut. Jadi saya beli buku2 di atas itu, buat saya. Mengatasnamakan adanya potensi waktu luang (yang ternyata setelah mengenal mager dan main hp itu jauh lebih menggoda dibanding baca buku, asli) dan nostalgia semata. Buat Dd, saya masih pilih2in bukunya, masih yang boardbook 20 halaman macam Halo Balita, serial nabi, Cican Fun Series, dsj lah. Atau majalah Bobo, atau seri pengetahuan umum/ populer aja. Buku novel macam itu pikir saya ya nanti ajalah dikasih pas dianya udah bisa baca sendiri, lancar, dan emang tertarik sama buku bukan karena gambarnya.

Tapi emang anak2 itu, kayanya gabisa banget kan ya, liat emaknya fokus sama sesuatu yang bukan dirinya sebagai pusat dunia. Zzz, anak 5 tahun yang masih kemratu2 kalo istilah Jawanya. Jadi ini bukan pertama kalinya ya, Dd liat saya lagi baca serius (novel NH Dini, misal, atau bukunya Emha Ainun Najib, yang jelas bukan buat konsumsi piyik itu) terus minta dibacakan. Padahal mah saya juga udah beliin dia buku baru, yang buat anak2, hurufnya besar, gambar dan visualnya menarik dan saya udah nyanding di sebelah dia. Maunya sih, saya baca, dia juga latihan baca sendiri. Enggak mau dong, maunya dibacain buku saya. Yaudahlah, akhirnya entah mulai kapan, bedtime storiesnya berganti dari boardbook menjadi novel lima sekawan ini.

Dan sampe sekarang sudah selesai buku keempat dan mau lanjut buku kelima.

Agak ga nyangka sih saya, bahwa Dd ternyata bisa mengikuti dan menangkap cerita dari novel ini. Meskipun setelah saya jadi orangtua yang membacakan buku ini, saya jadi menyadari bahwa buku ini ga akan lolos 100% memenuhi buku untuk anak. Ya iya, di dalamnya ternyata sering saya dapati kata2 makian seperti: t*l*l, k*ny*l, s**l*n, dll. Juga sarat stereotyping dan hal2 yang dulu pas saya baca rasanya seru, kini kok seperti ga sopan, kurang kerjaan, kurang ajar, dan cari masalah. Yah, mungkin karena ditulis untuk mengikat hati ABG/ remaja yang egonya sedang bertumbuh dan mencari tempat, jadi hal2 seperti itu baik2 saja. Sedangkan untuk cakrawala saya yang umur 30++ ini, kadang bikin kening agak berkernyit, dikit.

Salah satu cara ngakalinnya adalah, kalau pas dapat kata2 kasar itu, maka bacanya akan saya ganti menjadi “piiiiiip” atau “tiiiiiiit” yang akan bikin Dd ketawa awalnya, lalu tanya, “itu apa?” dan saya jawab, “sensor”. Berikutnya lagi kalau saya bunyi gitu lagi dia tetep ketawa dan lalu bilang “sensoooor”. Iya, nak, bagus. Nanti aja kalo udah bisa dan mau baca sendiri, kamu akan tahu kata2 kotor apa itu. Wkkk..

Tapi, kembali lagi ke reaksi Dd. Meskipun dia belum bisa benar2 diam tenang dan anteng pas dengerin saya baca buku, dan sering sambil lompat2 di kasur pas saya baca, dia tetap terikat dengan cerita dari buku2 ini. Satu buku rata2 dibagi menjadi 17-22 bab, saya bacakan rata2 2 bab per malam, bisa fleksibel. Kalo kami lagi sama2 capek, bisa skip satu malam tanpa baca. Kalo lagi capek tapi masih ada tenaganya dikit, 1 bab okelah. Kalo ceritanya lagi seru dan besok libur/ weekend, bisa sampai 4 bab. Iya, suara saya sampai serak, tentu. Tapi, Dd senang, dan terikat.

Terikat tidak hanya secara rasa penasaran saja akan kelanjutan ceritanya. Tapi dia juga bisa berempati pada masalah yang dihadapi si tokoh. Pernah dia tiba2 murung, suram, dan memeluk babahnya saat saya sedang menceritakan si George yang sedih dan menangis tersedu2 karena ibunya masuk rumah sakit. Sampai ikut sesedih itu dia. Pernah juga dia merasa gemas dan sebal dan kesal saat tokoh antagonisnya mengganggu lima sekawan. Geli banget saya lihatnya kesal dan mengepal2kan tangan 😀 #maasyaAllah #masihtakutain

Dan, secara topik dan kualitas obrolan kami juga meningkat. Kami jadi seperti punya obrolan yang sama, membahas tokoh2 di buku itu. Kemarin tiba2 saja pas saya sedang ngomong sesuatu tentang tulang, Dd nyambung bahwa kalau tidak ada tulang maka meleleh badannya. Referensinya adalah tokoh Manusia Tak Bertulang yang ada di buku Sirkus Misterius. Well, sebelumnya, pembicaraan kami juga bisa menyangkut banyak hal yang sedang menjadi minatnya. Tetapi pembicaraan 1 tema selama beberapa hari sesuai bab di buku, itu hal yang lumayan baru. Karena biasanya kan satu buku kelar, sudah ganti buku yang lain, dalam 1 malam bisa baca 2-3 buku berbeda (buku anak2 boardbook 20an halaman).

Berlanjut juga untuk kemampuan membacanya. Sebelum saya bacakan, biasanya Dd saya minta membaca sendiri judul babnya yang dia minta akan dibacakan. Biasanya dia baca 2 judul bab. Kadang dirapel 5 judul bab. Kadang juga lewat aja. Yah, intinya sih, buat saya dan Dd, ini adalah kegiatan baru yang menyenangkan.

Apalagi saat melihat ini:

9802dea5e2d8cd4d6281252c34b95e78

Saya menyadari bahwa kami sedang membuat kenangan indah itu bersama2. Meskipun saya tumbuh menjadi pecinta buku bukan karena dibacain buku (saya didongengin lisan tanpa baca buku oleh ibu- lalu jadi sering membaca buku di perpustakaan sekolah karna menunggu ibu selesai mengajar). Tapi, ya siapa tahu, nantinya yang akan Dd ingat saat melihat 5 sekawan bukanlah cerita dari masing2 bukunya, melainkan suasana dan momen saat saya bersama dia, malam2 membaca buku sebelum tidur.

Well, kenangan itu bukan hanya milik dia saat tumbuh dan mendewasa nantinya toh, tapi juga milik saya saat nantinya saya menua.

5-quote-beloved-books
Saya dan Dd tentu tidak seromantis ini. Saya baca, dia lompat2, itulah yang lebih sering terjadi…

Jadi melow kaaaaaaan…

Yaudah, gitu aja.

Let’s make lovable memories with our loveliest!

Ast ❤

Endurance

They say, life is not a racing.

It has it’s own time. It’s not like a sprint, more like a marathon. You don’t need speed, you need endurance to overcome it.

You start with consistency, continue with persistency.

Because life is not always in the same path. It’s not always smooth. It has ups and downs. You are given some amount of strength and build your own.

How strong is your will to overcome the challenge?

How hard is your effort to make it through?

May your spirit is bigger than your weariness.

May your toughness is bigger than problems thrown to your face.

And may Allah bless you with all of His Greatness.

 

Ide Bermain Anak 1-3 tahun

Semalam, saya melihat WA status teman kantor yang duduknya di sebelah meja. Video anaknya yang usianya 1+ sedang bermain puzzle kenop hewan. Saya lihat, anaknya anteng duduk dan mencocokkan puzzle, dan bisa! Yeaay, saya ikut senang menontonnya. Lebih senang lagi, soalnya saya yang merekomendasikan puzzle itu ke ibunya, hohoho..

Jadi, beberapa waktu sebelumnya, si ibu bertanya pada saya, mainan apa ya yang bagus buat anaknya. Saya memutar otak, mengingat2 jaman DD usia segitu saya belikan apa ya. Karena jujur, sejak DD masuk sekolah, utamanya sejak di jenjang TK A yang masuk Senin-Jum’at ini, saya udah jarang banget mikirin mainan dan aktivitas edukatif buat dia. Rasanya saya hanya meneruskan aktivitas yang rutin aja, kaya bacain buku sebelum tidur, hafalan surat2 pendek juga boleh dibilang saya ga mengajarkan surat baru, hanya membantu DD menghafalkan yang dia dapat dari sekolah. Saya benar2 terbantu dengan aktivitas dari sekolahnya yang saya yakin sudah membantu memaksimalkan potensi tumbuh kembangnya, alhamdulillah.

Balik lagi ke ide bermain buat anak, ya. Yang saya ingat, saya dulu membelikan puzzle kenop dengan berbagai tema. Kenapa puzzle kenop? Karena dia bentuknya 1 puzzle satu objek, jadi bukannya menyusun kepingan2 puzzle membentuk satu objek. Buat saya, ya menyesuaikan usia anaknya saja. Semakin besar tentu tingkat kerumitannya bertambah jadi bisa diarahkan untuk puzzle yang beneran. Tapi, puzzle kenop memang saya sarankan untuk memperkenalkan anak dengan konsep puzzling ini.

Jadi kepikiran deh, kalau saya bisa merasa senang kalau saran saya bisa bermanfaat buat teman saya itu, kenapa ga saya bagikan saja di blog biar manfaatnya bisa ditemukan orang2 yang memang lagi nyari, wkwkk… jadi..yuk here we go!

  1. puzzle kenop

Itu contohnya ya. Satu objek, satu puzzle. Bisa buat memperkenalkan nama benda (bentuknya apa aja loh, ada bentuk geometri, alfabet, angka, hewan hutan, hewan laut, alat transportasi, sayuran, buah, dsb) juga melatih koordinasi mata, tangan dan melatih penalaran. Harganya juga terjangkau, mungkin sekitar 20-30rb an, di online shop banyak.

2. pasir sintetis

Mainan pasir sintetis ini anak juga suka, tapi biasanya ibu atau pengasuhnya yang ribet beresin setelahnya, wkwk.. Ini juga bagus untuk melatih motorik halus anak, juga sensorinya, jadi anaknya ga gelian. Bisa bikin cetakan2 bentuk pasir sambil coba bercerita, melatih imajinasi dan kemampuan verbalnya.

mainan_pasir__playsand__cetskan_1457136312_d8d04784maxresdefault

3. menuang

Apa yang dituang? Biji2an (beras, kacang hijau, makaroni, dsb), dan cairan (air, susu, sirup warna, minyak, dsb). Alatnya ya cuma teko, cangkir, corong. Atau dibikin main pas mandi sambil tuang2 air juga bisa. Kalau sehari2 kerja jadi hectic, ya pas weekend. Melatih apa? Koordinasi mata dan tangan, kepekaan anak terhadap ukuran, juga sensorinya. Sarannya sih, untuk anak yang usianya lebih kecil, pakai material yang ukurannya lebih besar. Misal, makaroni, kacang merah, terus beranjak ke yang lebih kecil kaya kacang kedelai, jagung, kacang hijau, dan beras.

manfaat-kegiatan-menuang-biji-bijian-dalam-montessori-1-1-1024x557-1
sumber: https://parentalk.id/manfaat-kegiatan-menuang-biji-bijian/

4. menjepit dan memindahkan benda

Alatnya cukup pakai penjepit plastik yang bisa beli online atau di toko barang2 plastik. Semakin kecil anak, semakin besar benda dan penjepitnya ya. Soalnya kan melatihnya bertahap. Benda yang dipindahkan apa aja? Kalau DD waktu itu saya kasih legonya sih. Soalnya biar enteng dan ga gampang pecah atau berantakan. Bentuknya juga ga kecil2 banget.

scalloptongs_w

nah anak dikasih jepitan itu, disuruh memindahkan benda2 kecil ditaroh ke mangkok. Lebih bagus lagi kalau benda dan mangkoknya warnanya disamakan, Nanti setelah anaknya lebih besar, bisa jepitannya diganti ke pinset plastik dan legonya diganti pompom.

2108934_0320dbd0-bfa2-47c9-b6f6-99a346611815_1560_1560

Menjepit, menuang, menggunting, dan aneka kegiatan lain yang melatih motorik halus anak ini bagus buat persiapan dia menulis nanti loh. Jadi, otot2 tangan anak sudah terlatih lewat kegiatan yang kelihatannya main2 ini. Ga langsung nanti disuruh megang pensil dan tracing pola huruf. Lebih rentan pegel dan bikin stres anak kalau tidak dipersiapkan sedini mungkin.

5. membentuk dan membangun

Untuk membentuk, bisa dikasih plastisin. Diajarin menggiling, bikin hewan, bikin buah, bikin bentuk geometri (segitiga, kerucut, lingkaran, bola, persegi, kubus, tabung, balok). Bikin alat transportasi, alat dapur, dsb banyak deh idenya. Ini melatih motorik halus juga, menguatkan otot tangan juga.

lucunya-27-kreasi-lilin-mainan-ini-bikin-nggak-percaya-160308c

Terus untuk membangun, bisa pakai lego. Legonya untuk anak yang masih kecil ukurannya lebih besar, nanti semakin besar akan semakin mengecil. Lego ini bagus loh untuk melatih imajinasi, memperkenalkan bangun ruang dan tekstur juga. DD sudah ngeh main lego itu seru sejak umur 1,5-2 mungkin ya, sebelumnya ya dia ga ngerti itu lego musti diapain, wkwkwk..

mainan_anak_lego_isi_156_pcs_incl_box

Seringnya sih, untuk mainan anak, saya googling pake keyword “mainan edukasi anak usia … th”. Nah, nanti kan keluar tuh artikel2 tentang rekomendasi mainan apa aja untuk anak. Nah saya sesuaikan deh mainan yang kira2 cocok dengan usia anak, trus apa yang mau saya kuatkan di sisi tumbuh kembang anak.

Misal, mau menguatkan motorik kasar? Main lempar tangkap bola plastik. Sudah mahir dengan bola plastik yang besar? Beralih ke bola yang lebih kecil, misal bola basket kecil trus bola tenis. Mau menguatkan motorik halus? Latihan menjumput benda, menggunakan pinset atau tweezer. Menempel stiker. Bermain warna dengan cat air, dengan kuas atau tangan atau bonggol sayuran. Memindahkan air dengan spons (meremas spons trus dikucurin di atas wadah). Bahkan memasukkan sedotan ke botol plastik aja bisa jadi seru loh.

Semangat main sama anak! ❤

 

 

My First Cooking Class

Apakah kamu mempunyai mimpi?

***bayangkan lagi prospek ala MLM***

Saya sih, hmmm, yaudahlah gausah dibahas. Intinya, saya sedang berusaha menetralkan segala energi yang sifatnya survival things menjadi energi yang memboosting semangat. Hey, terus2an bertahan itu capek, kan. Dan dalam rangka menjaga otak tetap waras dan terjaga, saya berusaha mengalihkan dari hal2 yang sifatnya kerjaan karena kewajiban dengan hal2 yang sifatnya hobi dan menyenangkan.

Sekitar 2 tahun lalu, saya sedang senang2nya belajar bahasa asing secara main-main lewat aplikasi yang namanya Duolingo. Lumayanlah, belajar bahasa Perancis, Spanyol, Belanda, Jerman, Korea, Italia, Turki, secara gratis, online, dan memang sifatnya main2. Kalo mau serius mungkin bisa kursus. Bisa dibaca di postingan Belajar Bahasa dengan Duolingo

Nah terus, tahun lalu karna load kerjaan yang ga bersahabat dan manajemen cuti yang belum mumpuni, saya yang tadinya pengen liburan dan jalan2 malah berakhir sakit dan tepar selama cuti. Ga asik, huh? Yah, makanya hak badan buat sehat diperhatiin ya.

Tahun ini, saya bertekad belajar keterampilan baru. Karena DD sudah umur 5 tahun, mulai tahun ini juga dia saya daftarin sekolah musik di Yamaha Music School. Udah sekitar 4 bulan masuk, lumayan udah bisa main tangan kanan doremifasol dan mulai belajar tangan kiri buat accordnya. Saya seneng karena sebagai pendamping sekaligus belajar juga. Mungkin saya bakal cerita tentang kursus musik ini di postingan entah kapan *gajanji

Nah, karena kemaren2 udah buang sampah tentang toksik2, maka saya juga mau menetralkan hidup kan. Makanya diniatin deh mau ikut kursus masak. Awalnya bingung mau masak apaan ya, karena sebenernya semua itu bisa dipelajari dari googling dan coba2 sendiri. Yang udah pernah saya coba2 misalnya: kue basah barat (blu, brownis) dan tradisional (apem, donat, dll, yang ga saya ingat), kue kering klasik kaya nastar, kaastangel, dsb sih udah dari kecil ya, dari kelas 6 SD udah bikin. Masakan rumahan juga kalo buat konsumsi sendiri udahlah ngapain kursus. Pempek udah pernah coba buat sendiri dan ya lumayanlah buat konsumsi sendiri.

Terus apa dong? Ini mau cerita kursus apa pamer? Ya bragging lah, wkwk, ala humble gitu ahahah.

Ssst, yuk serius lagi yuk.

Ehm, jadi yang saya agak penasaran adalah bikin bakso sebenernya. Saya sih ga pernah nyobain sendiri ya. Dulu pas masih kecil, pernah liat ibu coba bikin bakso dan gagal. Jadi saya juga males buat nyoba karna udah liat pengalaman ortu sendiri. Pengalaman adalah guru terbaik, sayangnya bukannya jadi motivasi buat cari tau malah jadi motivasi buat yaudahlah ngapain coba2. Ga ada waktu, sis.

Tapi, ya namanya kalo mau cari alasan apapun ada. Saya ada target sendiri, ikut kursus 3 jenis masakan (yang 2 masih disimpen dulu) salah satunya bakso/ bakwan malang. Pas liat jadwal kursus masak di NCC, ada slot di hari minggu. Yaudahlah, kontak duluan. Belum langsung bayar juga takut tiba2 mager atau ada halangan jadi ga bisa dateng.

Pada saatnya, akhirnya bisa dateng juga. Berbekal dianter abang gojek yang kebetulan dapat tetangga sendiri, biaya ojek 10rb dipotong diskon jadi cuma bayar 5 ribu, waktu tempuh 10 menitan sudah pake nyasar, sampai juga di tempat kursus NCC. Bayar cash udah gabisa transfer2an lagi, alhamdulillah pas bawa uang pas. Deket dan cepet ya, sis. Peserta lain ada yang jauh2 musti naik kereta.

ncc-housencc tampak depan

Intinya, saya beneran ikut kursus masak, setelah 31 tahun lebih hidup di dunia, wkwkwkk… Kesannya gimana, sis? Ya, ada banyak ilmu tambahan yang saya dapat sih, dari proses masak bu Fatmah yang keren dan cantik itu. Tapi yang lebih salut sama how she earns money sih, wkwkwk… Siang itu, saya kursus dengan biaya 400k, dan ada sekitar 20an peserta. Ehm, sehari loh itu. Dan sebulan itu jadwal kursus ada setiap hari. Bisa dibayangkan penghasilan bulanan kotornya? Takjub ga sih, untuk ukuran usaha rumahan, karena betulan dilakukan di rumah, dengan waktu kursus 3-4 jam dalam sehari. Perempuan, kerja di rumah, ga perlu keluar 8-10 jam sehari, tapi murid2 (dan uang) yang berdatangan sendiri. Salut sih.

ibu fatmah

Bener banget bahwa kalau kamu mengejar ilmu, maka dunia bakal mengikuti. Yah ga menafikan pasti ada banyak usaha beliau sampai di sini, dan pastinya juga berkah dan ukuran rejeki beliau yang sudah ditetapkan Tuhan. Rejeki ga bakal ketuker kan ya 😀

Yah, gitu deh. Jangan lanjut minta hasil kursusnya yak, saya nyari waktu buat latihan aja entahlah. Dan nyari alat buat giling dagingnya buat adonan baksonya juga. Yang penting udah punya ilmunya, udah pernah pengalaman njendol2in adonan bakso, nglipet2 kulit pangsit, dan masukin adonan siomay dan tabu2 wortel serut. Wkwkwk recehan aku mah kalo target tuh.

Foto2nya silakan diliat di bawah yaaa…

proses
lagi bikin, poto dulu dong bu

tahu bakso
tahu bakso

siomay pangsit
pangsit dan siomay

praktik buat bakso
bikin bakso

bakso jadi
bakwan malang udah jadi

ncc kursus
poto barang bu Fatmah

Selamat belajar hal baru setiap hari.

Love, Ast ❤

 

 

a birthday trip

These last months had been a very exhausting time in job, causing my soul and body reached its limits. I got my sick leave at August, which actually I planned for a vacation but cancelled because … yeah life’s like that. It doesn’t always go my way.

In September, I planned to go camping because I’ve been so tired with usual trip that makes me stay in a hotel room. Stay in a hotel room reminds me to my job, which I’m really trying to avoid during my holiday. I want to be free and relaxed, my poor soul was too tired to hold anymore.

So after a job to Semarang in the end of August that made me for the first time ever, leaving my son more than 2 x 24 hours after he’s reaching 4 y.o., I decided to make this vacation happened, no matter what. I reconciled my schedule with my man, ’cause in those time we didn’t even had lunch together for months. Ouch.

Actually we planned to go on September 23rd but then my man asked to have our leave on September 30th to October 1st. We went from September 28th so we could celebrate my birthday on September 29th in Bandung. Yeay. (Actually I had stopped counting my birthday since I’m 28 y.o., so I’m mentally always in age of 28, wkwk).

Considering my son’s course on Saturday morning, we left Jakarta in the evening so that we could reach Bandung at night, and stayed in a hotel before continuing our trip to camping ground. Nothing special about staying in hotel. We departed from hotel around 11 a.m. because my son wanted to swim first. We reached the camping ground around 3 p.m because we took our time to buy our groceries in alfamart nearest to the camping ground.

Where did we ride to? *drum roll*

Yep, Ranca Upas. Since this place has been very well-known and popular, I won’t tell how and why to reach there. Or about what cost to rent tent and everything there. You can do your own research, wkwkwk. Ooor, maybe, you could sent me a private message if you really want to know. Here’s my number: +62 85753xxxxxx and call me, maybe? 😀

Anyhow, it’s just that I want to keep some of our pics after staying there.  You can decide yourself whether you want to follow to try that place or maybe you’ve been there before. I don’t care, wkwkwk.

WhatsApp Image 2019-10-07 at 14.19.11
in front of our tent while our son was suffering from cold

WhatsApp Image 2019-10-07 at 14.19.10
he didn’t want to walk by himself

WhatsApp Image 2019-10-07 at 14.19.12

 

I always enjoy going camping since I was on elementary school. But the more I grow as a teenage and young girl, I hold those hobby for it’s not proper for my mom to let her girl leaving without her supervision. But, no worries. I had my own time now, even it’s more special because I did it with my own little family.

I’m so excited to start our other next vacation together!

Love,

Ast ❤