Lebaran Tahun Ini

Sore tadi, saya sudah mulai masak untuk lebaran besok. Menunya simpel saja, sambal goreng kentang dan opor ayam. Untuk lontong, saya tidak bikin. Ribet, hehe.. jadi saya minta suami mencarikan di penjual, dapat rekomendasi dari ART saya.

Ini lebaran pertama saya tidak mudik, karena pandemi. Tiket kereta PP yang sudah dibeli harus dibatalkan. Tidak apa, karena memang keadaannya begitu.

Sejak jauh hari, ART saya sudah memastikan saya tidak jadi mudik. Beliau bertanya, “Mama Dd batal mudik berarti?” yang saya jawab dengan “Iya, Bu. Gimana lagi..”

Jadi begitulah, untuk pertama kalinya saya masak opor buat lebaran. Karena biasanya kalau mudik, saya terima jadi, baik itu di rumah orangtua maupun di rumah mertua. Rejeki punya orangtua dan mertua yang baik, alhamdulillah..

Menjelang sore, saya masih berkutat dengan bumbu dan bahan2. Karena bumbu instan yang saya beli secara online ternyata salah, huhu.. Mau saya opor bumbu kuning biasa, ternyata yang datang opor bumbu pedas. Tidak jadi saya pakai, karena Dd masih belum bisa makan yang pedas.

Tiba2, ART saya datang. Beliau memang tinggal hanya terpaut beberapa rumah dari saya. Dan beliau adalah pengasuh pulang pergi, yang datang pagi dan pulang sore hari saat saya dan suami selesai dari kantor. Jadwalnya adalah Senin-Jum’at, sesuai jadwal kantor saya. Sabtu-Minggu dan tanggal merah libur, jadi hari ini seharusnya bukan jadwalnya untuk datang.

Ternyata, beliau membawakan ini:

Menu lengkap untuk lebaran. Ketupat, opor, sambal goreng kentang ati, dan rendang. Saya dan suami hanya bisa mengucapkan terima kasih dan beliau pun segera pulang lagi.

Saya bertanya2, apakah adat di sini ada hantaran menjelang lebaran? Terus terang deg2an sendiri karena tidak menyiapkan masakan untuk dikirim2, hanya untuk konsumsi sendiri, hehe.. dan saya meskipun biasa masak tetapi tidak pernah PD untuk kasih orang lain masakan saya, sih.

Tapi sampai sekarang, baik tetangga sebelah, tetangga depan rumah, tidak ada yang mengirimkan hantaran. Jadi saya simpulkan, ini karena ART saya saja yang terlalu peduli dan benar2 menganggap kami sebagai keluarganya. Saya ingat, hari pertama puasa, beliau menanyakan apakah saya sahur atau tidak. Karena beliau dan suaminya (suaminya juga sering berinteraksi dengan keluarga kami dan memang baik hati), kepikiran, takut kami ketiduran sehingga melewatkan sahur :’)

Saya sangat tersentuh dengan perhatian mereka kepada keluarga kami. Sebagai pendatang di lingkungan ini, saya banyak dibantu oleh beliau sebagai warga asli di sini untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan warga sekitar. Karena saya jarang di rumah, beliau yang menjaga anak saya sepulang sekolah dan menjadi penyambung lidah keluarga kami dengan warga sekitar.

Lebaran kali ini, saya tidak mudik untuk menjaga orang tua dan mertua saya. Tapi di sini, saya dijaga oleh orang lain yang menganggap kami keluarganya. :’)

Terima kasih, Tuhan. Untuk orang-orang baik yang Kau kirimkan di sekitar kami.


P.S.

Saya masak, ala kadarnya.

Selamat hari raya Idul Fitri!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s