Membaca dengan Let’s Read

Hola!

Memasuki usia 6 tahun, saya mulai lebih peduli dengan mengembangkan kemampuan Dd di bidang bahasa. Kenapa? Karena dia sudah bisa membaca sendiri dalam bahasa Indonesia. Udah punya pondasi yang kuat untuk memperkenalkan bahasa lain, menurut saya. Kenapa ga dua bahasa dari kecil? Padahal banyak anak lain juga udah bisa casciscus lancar dalam bahasa Inggris, bahkan teman sekolah dan kursus Dd pun. Hmm, kenapa ya? Mungkin karena saya cukup santai dan percaya bahwa Dd ga akan mengalami kesulitan berarti, karena bahasa adalah masalah pembiasaan. Jadi ya sudah, sayanya ga ngoyo banget juga.

Kalau selama ini saya cari buku2 cerita dalam bahasa Indonesia, saya mulai cari buku cerita dalam bahasa Inggris. Cuma, ya, kendalanya cuma cari di online shop, ga yakin kalo ga megang fisiknya. Sementara mau ke Gramed*** juga mikir2 karena kan sebisa mungkin #dirumahsaja. Akhirnya malah cuma beli buku latihan dan aktivitas aja, belum kesampean buku ceritanya.

Sampai akhirnya saya nemu postingan tentang Let’s Read ini di IG https://www.instagram.com/letsread.indonesia/

Let’s Read

Karena udah lama ga beli buku cerita, ya pikir saya cobalah buat download dan memperkaya bahan bacaan Dd aja. Gratis pula, kan. Paling kuota internet doang, bukan harga ide cerita, ilustrasi, dllnya. Mikirnya masih bahasa Indonesia aja. Tapi pas liat tutorialnya di youtube, eh, ada berbagai bahasa juga? Hmmm.. cinta banget ga sih…

Setelah instal, saya cobain ke Dd. Terakhir kali, bacaan Dd sebelum tidur variasinya masih di Lima Sekawan Enid Blyton sama cerita nabi, yang serial Cican dan hewan2 udah jarang dibaca sama Dd. Jadi, secara “bobot”, sebenernya emang agak terlalu berat ya buat anak 6 tahun. Nah, begitu baca cerita2 di Let’s Read ini, tiba2 kerasa banget refreshingnya cerita anak2 yang beneran anak2.

Ceritanya sederhana. Sederhana bangeeet, tapi kaya akan kosa kata. Emosinya juga kerasa banget nuansa anak2 yang polos dan ceria. Dd saya bacain jadi sering banget ketawa2 lepas, hanya karena hal kecil seperti gambar ibu naik tangga buat marahin helikopter karna berisik takut bayinya bangun. Dia juga teliti sekali pada hal kecil, seperti tadinya ada 3 anak tikus pergi ke karnaval, tau2 tinggal 2 yang kecil ilang. Ceritanya banyak yang membangun dan akhirnya menegaskan “we are happy“. Dan akhirnya memang sangat menghangatkan hati banget lho, baca cerita anak2 begini.

Saya yang bacain aja jadi kerasa lelah dan kencengnya ilang, apalagi dapat bonus Dd ketawa2 dan nempel sama saya karna pengen liat gambarnya. Beneran udah ga loncat2 lagi dia dibacain cerita. Secara kuantitas juga, bacain cerita sederhana gini cepet selesainya. 1 bab bacain Lima Sekawan bisa buat baca 5 cerita di sini. Dd juga ga mau berhenti2 dibacainnya. Akhirnya, syarat dari saya, dia harus baca sendiri. Jadi sambil dia latian mengeja bahasa Inggrisnya, saya sambil koreksi pelafalannya dan mendorong dia untuk menebak arti katanya terus menyesuaikan dalam kalimat. Kalau saya ga ngerti juga arti katanya, ya kita sama2 buka kamus untuk cari tau apa artinya.

Reading to you kid make the connection stronger, indeed.

Udah nemplok gini, berat tapi seneng, alhamdulillah

Selamat membaca!

milik kita

Berawal dari keimpulsifan saat melihat instastory seorang di IG, yang kayanya saya follow karena dia punya kucing…

…tapi tiba2 ngiklanin jual buku bekas. Dalam kondisi (saat itu masih) WFH dan tugas negara sudah mulai menurun intensitas dan frekuensinya, dan Dd sudah mulai bisa diajak koordinasi dan kooperatif dalam mengerjakan tugas2 dari sekolahnya. Maka melihat buku2 yang di jaman masa kecil/ remaja saya ini sering saya lahap di perpus/ penyewaan buku dijual murah, segera saya kontak penjualnya. Skip skip skip sampai beberapa hari kemudian paketnya sampai di rumah.

lima sekawan
Tada… ini yang diiklanin mas nya

Apa langsung saya baca? Enggak pemirsa, saya anggurin dulu, itung2 ngendapin potensi virus padahal mah emang males aja. Oiya, btw saya ga anti ya beli buku bekas. Buku cuci gudang pun saya beli kok. Pengalaman paling seru adalah beli buku Senopati Pamungkas 2 karya Arswendo Atmowiloto seharga 50ribu saja. Antara sedih dan happy sih dapat buku bagus (dan baru) harga segitu. Yang anti adalah beli buku nikah orang, karena buat apaa…zzz…

Oke lanjut. Jadi saya beli buku2 di atas itu, buat saya. Mengatasnamakan adanya potensi waktu luang (yang ternyata setelah mengenal mager dan main hp itu jauh lebih menggoda dibanding baca buku, asli) dan nostalgia semata. Buat Dd, saya masih pilih2in bukunya, masih yang boardbook 20 halaman macam Halo Balita, serial nabi, Cican Fun Series, dsj lah. Atau majalah Bobo, atau seri pengetahuan umum/ populer aja. Buku novel macam itu pikir saya ya nanti ajalah dikasih pas dianya udah bisa baca sendiri, lancar, dan emang tertarik sama buku bukan karena gambarnya.

Tapi emang anak2 itu, kayanya gabisa banget kan ya, liat emaknya fokus sama sesuatu yang bukan dirinya sebagai pusat dunia. Zzz, anak 5 tahun yang masih kemratu2 kalo istilah Jawanya. Jadi ini bukan pertama kalinya ya, Dd liat saya lagi baca serius (novel NH Dini, misal, atau bukunya Emha Ainun Najib, yang jelas bukan buat konsumsi piyik itu) terus minta dibacakan. Padahal mah saya juga udah beliin dia buku baru, yang buat anak2, hurufnya besar, gambar dan visualnya menarik dan saya udah nyanding di sebelah dia. Maunya sih, saya baca, dia juga latihan baca sendiri. Enggak mau dong, maunya dibacain buku saya. Yaudahlah, akhirnya entah mulai kapan, bedtime storiesnya berganti dari boardbook menjadi novel lima sekawan ini.

Dan sampe sekarang sudah selesai buku keempat dan mau lanjut buku kelima.

Agak ga nyangka sih saya, bahwa Dd ternyata bisa mengikuti dan menangkap cerita dari novel ini. Meskipun setelah saya jadi orangtua yang membacakan buku ini, saya jadi menyadari bahwa buku ini ga akan lolos 100% memenuhi buku untuk anak. Ya iya, di dalamnya ternyata sering saya dapati kata2 makian seperti: t*l*l, k*ny*l, s**l*n, dll. Juga sarat stereotyping dan hal2 yang dulu pas saya baca rasanya seru, kini kok seperti ga sopan, kurang kerjaan, kurang ajar, dan cari masalah. Yah, mungkin karena ditulis untuk mengikat hati ABG/ remaja yang egonya sedang bertumbuh dan mencari tempat, jadi hal2 seperti itu baik2 saja. Sedangkan untuk cakrawala saya yang umur 30++ ini, kadang bikin kening agak berkernyit, dikit.

Salah satu cara ngakalinnya adalah, kalau pas dapat kata2 kasar itu, maka bacanya akan saya ganti menjadi “piiiiiip” atau “tiiiiiiit” yang akan bikin Dd ketawa awalnya, lalu tanya, “itu apa?” dan saya jawab, “sensor”. Berikutnya lagi kalau saya bunyi gitu lagi dia tetep ketawa dan lalu bilang “sensoooor”. Iya, nak, bagus. Nanti aja kalo udah bisa dan mau baca sendiri, kamu akan tahu kata2 kotor apa itu. Wkkk..

Tapi, kembali lagi ke reaksi Dd. Meskipun dia belum bisa benar2 diam tenang dan anteng pas dengerin saya baca buku, dan sering sambil lompat2 di kasur pas saya baca, dia tetap terikat dengan cerita dari buku2 ini. Satu buku rata2 dibagi menjadi 17-22 bab, saya bacakan rata2 2 bab per malam, bisa fleksibel. Kalo kami lagi sama2 capek, bisa skip satu malam tanpa baca. Kalo lagi capek tapi masih ada tenaganya dikit, 1 bab okelah. Kalo ceritanya lagi seru dan besok libur/ weekend, bisa sampai 4 bab. Iya, suara saya sampai serak, tentu. Tapi, Dd senang, dan terikat.

Terikat tidak hanya secara rasa penasaran saja akan kelanjutan ceritanya. Tapi dia juga bisa berempati pada masalah yang dihadapi si tokoh. Pernah dia tiba2 murung, suram, dan memeluk babahnya saat saya sedang menceritakan si George yang sedih dan menangis tersedu2 karena ibunya masuk rumah sakit. Sampai ikut sesedih itu dia. Pernah juga dia merasa gemas dan sebal dan kesal saat tokoh antagonisnya mengganggu lima sekawan. Geli banget saya lihatnya kesal dan mengepal2kan tangan ๐Ÿ˜€ #maasyaAllah #masihtakutain

Dan, secara topik dan kualitas obrolan kami juga meningkat. Kami jadi seperti punya obrolan yang sama, membahas tokoh2 di buku itu. Kemarin tiba2 saja pas saya sedang ngomong sesuatu tentang tulang, Dd nyambung bahwa kalau tidak ada tulang maka meleleh badannya. Referensinya adalah tokoh Manusia Tak Bertulang yang ada di buku Sirkus Misterius. Well, sebelumnya, pembicaraan kami juga bisa menyangkut banyak hal yang sedang menjadi minatnya. Tetapi pembicaraan 1 tema selama beberapa hari sesuai bab di buku, itu hal yang lumayan baru. Karena biasanya kan satu buku kelar, sudah ganti buku yang lain, dalam 1 malam bisa baca 2-3 buku berbeda (buku anak2 boardbook 20an halaman).

Berlanjut juga untuk kemampuan membacanya. Sebelum saya bacakan, biasanya Dd saya minta membaca sendiri judul babnya yang dia minta akan dibacakan. Biasanya dia baca 2 judul bab. Kadang dirapel 5 judul bab. Kadang juga lewat aja. Yah, intinya sih, buat saya dan Dd, ini adalah kegiatan baru yang menyenangkan.

Apalagi saat melihat ini:

9802dea5e2d8cd4d6281252c34b95e78

Saya menyadari bahwa kami sedang membuat kenangan indah itu bersama2. Meskipun saya tumbuh menjadi pecinta buku bukan karena dibacain buku (saya didongengin lisan tanpa baca buku oleh ibu- lalu jadi sering membaca buku di perpustakaan sekolah karna menunggu ibu selesai mengajar). Tapi, ya siapa tahu, nantinya yang akan Dd ingat saat melihat 5 sekawan bukanlah cerita dari masing2 bukunya, melainkan suasana dan momen saat saya bersama dia, malam2 membaca buku sebelum tidur.

Well, kenangan itu bukan hanya milik dia saat tumbuh dan mendewasa nantinya toh, tapi juga milik saya saat nantinya saya menua.

5-quote-beloved-books
Saya dan Dd tentu tidak seromantis ini. Saya baca, dia lompat2, itulah yang lebih sering terjadi…

Jadi melow kaaaaaaan…

Yaudah, gitu aja.

Let’s make lovable memories with our loveliest!

Ast โค

Lebaran Tahun Ini

Sore tadi, saya sudah mulai masak untuk lebaran besok. Menunya simpel saja, sambal goreng kentang dan opor ayam. Untuk lontong, saya tidak bikin. Ribet, hehe.. jadi saya minta suami mencarikan di penjual, dapat rekomendasi dari ART saya.

Ini lebaran pertama saya tidak mudik, karena pandemi. Tiket kereta PP yang sudah dibeli harus dibatalkan. Tidak apa, karena memang keadaannya begitu.

Sejak jauh hari, ART saya sudah memastikan saya tidak jadi mudik. Beliau bertanya, “Mama Dd batal mudik berarti?” yang saya jawab dengan “Iya, Bu. Gimana lagi..”

Jadi begitulah, untuk pertama kalinya saya masak opor buat lebaran. Karena biasanya kalau mudik, saya terima jadi, baik itu di rumah orangtua maupun di rumah mertua. Rejeki punya orangtua dan mertua yang baik, alhamdulillah..

Menjelang sore, saya masih berkutat dengan bumbu dan bahan2. Karena bumbu instan yang saya beli secara online ternyata salah, huhu.. Mau saya opor bumbu kuning biasa, ternyata yang datang opor bumbu pedas. Tidak jadi saya pakai, karena Dd masih belum bisa makan yang pedas.

Tiba2, ART saya datang. Beliau memang tinggal hanya terpaut beberapa rumah dari saya. Dan beliau adalah pengasuh pulang pergi, yang datang pagi dan pulang sore hari saat saya dan suami selesai dari kantor. Jadwalnya adalah Senin-Jum’at, sesuai jadwal kantor saya. Sabtu-Minggu dan tanggal merah libur, jadi hari ini seharusnya bukan jadwalnya untuk datang.

Ternyata, beliau membawakan ini:

Menu lengkap untuk lebaran. Ketupat, opor, sambal goreng kentang ati, dan rendang. Saya dan suami hanya bisa mengucapkan terima kasih dan beliau pun segera pulang lagi.

Saya bertanya2, apakah adat di sini ada hantaran menjelang lebaran? Terus terang deg2an sendiri karena tidak menyiapkan masakan untuk dikirim2, hanya untuk konsumsi sendiri, hehe.. dan saya meskipun biasa masak tetapi tidak pernah PD untuk kasih orang lain masakan saya, sih.

Tapi sampai sekarang, baik tetangga sebelah, tetangga depan rumah, tidak ada yang mengirimkan hantaran. Jadi saya simpulkan, ini karena ART saya saja yang terlalu peduli dan benar2 menganggap kami sebagai keluarganya. Saya ingat, hari pertama puasa, beliau menanyakan apakah saya sahur atau tidak. Karena beliau dan suaminya (suaminya juga sering berinteraksi dengan keluarga kami dan memang baik hati), kepikiran, takut kami ketiduran sehingga melewatkan sahur :’)

Saya sangat tersentuh dengan perhatian mereka kepada keluarga kami. Sebagai pendatang di lingkungan ini, saya banyak dibantu oleh beliau sebagai warga asli di sini untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan warga sekitar. Karena saya jarang di rumah, beliau yang menjaga anak saya sepulang sekolah dan menjadi penyambung lidah keluarga kami dengan warga sekitar.

Lebaran kali ini, saya tidak mudik untuk menjaga orang tua dan mertua saya. Tapi di sini, saya dijaga oleh orang lain yang menganggap kami keluarganya. :’)

Terima kasih, Tuhan. Untuk orang-orang baik yang Kau kirimkan di sekitar kami.


P.S.

Saya masak, ala kadarnya.

Selamat hari raya Idul Fitri!

The Spells

This is for you to shoo the dementors in your life away:

Expecto patronum.

IMG_20200520_072239

In the other words, it means expecting the guard(ian).

The relieving things about this meaning, for me, is when I realize that I have the same spells, taught by my parents since I was a kid.

The ta’awudz.

ุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌููŠู…ู

I seek refuge in Allah from Syaithon, the accursed one.

Then I become peaceful again.

๐Ÿงก๐Ÿงก๐Ÿงก

P.S.: find out your patronus in https://www.magiquiz.com/quiz/whats-your-patronus/ and tell me yours!

Plot Twist

A few days ago I read a story, the genre is horror, btw. So unusual for me to enjoy a horror story, isn’t it? Well, I read it just because it passed on my timeline, so just why don’t I give it a try. From the beginning it developed the tense, everything was good. Until in the end it gave the sentence that is meant to be a plot twist. Unfortunately, that last sentence turned out to be a failure. It ruined all of what it had built before.

The plot twist failed.

In my ideal standard for a plot twist, it should make the reader, in the end, questioning. For horror, at least, because in the beginning it claimed that it based on true story.ย  A smooth plot twist will leave us in the state of doubting, feeling insecure, feeling unsure, and questioning. Instead of making sure that what was built in the beginning is fake. The claim is also fake. Meh.

Reading that story makes me annoyed for some moment. Luckily I discuss it with my man. I tell him the story from A to Z and the conclusion is the same: the plot twist failed. My mood becomes better, not that satisfied but enough to make me move forward, though.

***

For some time in my life, I rarely thinking about marriage. Not that I don’t have the desire to have one, but because it feels … bizarre. For me, not for anybody. I can only imagine a marriage between the masked tuxedo and princess serenity, and the world beyond my own world. Being with somebody in the same place, same activity, same world continuously, constantly, for the rest of my life, looks like a burden for me.

Don’t I feel love?

Well, I define love from having a crush, missing someone, being jealous, and feeling the pain for losing someone. Those are love to me. All about feelings. The things you do for the one you love, not a chance it stays in my mind. I appreciate things people do for me, for the kindness, not the love behind that possibly make the ulterior motives. When it was acknowledge as love, I was scared then I run away.

So how come I marry you?

A friend, that is no one before.

A man that comes often in my chat app saying hello and gives a cheerful ambience for the second you just come.

A colleague that had been separated with ocean and time in years.

A stranger who turns into someone close, took years though, actually.

At first, I thought you are my plot twist.

You made me questioning my life, my decisions, my rule, my view on everything. You made me insecure, unsure, doubt. You had me crush on you, being jealous, being happy, feeling the butterfly in my stomach. You do things for me and you made me do things I’ve never done to anyone else before.

But knowing you, for this 10 years.

Being with you, for this 8 years.

And becoming your spouse for this 7 years.

The understanding that it wasn’t a plot twist, come slowly, convinced me in the right level. Why did we meet each other. Why did we become friend. Why did we take the chance.

From the beginning, it had to be you. It had to be me. It had to be us.

You are not my plot twist. It was meant to be.

Being together forever, shall we?

31870948_10216568821558195_7345784150915284992_n (1)

Happy Birthday.

I love you, I do.

Solitude is a bliss

Birds of the same feather flock together.

Udah familiar lah ya dengan proverb di atas? Gampangnya, orang berkumpul ya dengan sesamanya. Misal, dulu jaman saya SMP, saya akrab banget dengan seorang teman yang sama2 suka sama lagu2 dan personel Westlife, khususnya Mark huhuhu.. Saya belum nemu yang seneng Sailormoon dan lagu2nya kaya saya sih, tapi ga masalah buat saya di jaman sekarang. Komunitas berdasarkan kesukaan terhadap sesuatu itu banyak sekali. Cari di medsos apa aja sekarang serba ada. You choose, your choice.

Kalau kata Rasulullah, kalo mau lihat seseorang, lihatlah teman baiknya. Karena teman itu “sewarna”. Kalaupun tidak sewarna, lambat laun, mereka akan “saling” mewarnai.

Itu kenapa, saya termasuk yang ga setuju dengan perkataan “jangan pilih-pilih dalam berteman”. Kata siapa? Justru saya, mengikuti pesan Rasulullah, sangat menyarankan untuk memilih teman terbaik.

โ€œPermisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.โ€ (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Makanya, saya juga sangat mengamini bahwa bersendirian itu lebih baik daripada berada dalam kumpulan yang buruk. Kenapa? Karena kuantitas itu berarti. Sebesar apapun kualitas tetapi jumlahnya satu, bisakah mengalahkan kualitas receh tapi jumlahnya banyak?

Ya gitu lah. Inti tulisan ini sih, saya sedang menguatkan diri dan orang2 yang ada di sekitar saya, bahwa, ga apa2 banget loh kalau kamu belum menemukan orang yang sewarna denganmu dan membuatmu musti ke mana2 sendirian. Solitary life is not a sin. It’s a proof that you’re strong enough to stand on your own self. Bahkan, lebih jauh lagi, solitude is a bliss.

Dan, serius. Dipilih oleh orang yang buruk itu tidak lebih baik daripada memilih sendirian. Lain kali ada orang yang kamu tahu tidak cocok denganmu mengajakmu berada di kumpulannya, kamu bisa tegas tersenyum dan menggelengkan kepala, berkata, “nah, I’m good” dan berlalu.

7393a28b3f2599816f62825b24c34fc4

Adios!

Ast โค

Mengurangi Toksik

Jarang nulis, sekalinya nulis tentang toksik, hadeh..

toksik
gambar dari https://lektur.id/arti-toksik/

Tanpa bermaksud menyebar racun kegalauan, kekesalan, uneg2, dan semua sampah yang mungkin udah menggunung, saya bertekad menulis tentang ini. Kenapa? Ya karena I’m struggling with this matter right now.

Mungkin kalau anda-anda yang membaca ini termasuk dari orang-orang yang sedang apes karena kontaknya tersimpan di hp saya dan tidak saya umpetin status2 WA saya dari andaย  maka anda bisa membaca status2 saya yang secara frekuensi meningkat dan secara isi, bikin: meh, kenapa lagi ini orang.

I won’t blame you. I deserve that meh. I feel meh to myself too.

Sekedar cerita, dulu ada seorang teman kos yang cerita bahwa dia di jaman remaja suka menyakiti diri sendiri, nyoret2 lengan pake gunting gitu deh. Saat itu, salahkan otak saya yang suka ga ngerti harus bereaksi apa, ya I felt nothing. Saya ga ngejudge dia gimana-gimana, karena saya ga ngerti. Pikiran saya ga nyampe kenapa ada orang bisa nyakitin diri sendiri pake gunting dan saya gatau harus gimana saat dia cerita itu ke saya. Tolong banget deh ini Astika jaman dulu emang blank banget. Saking blanknya saya juga bersyukur saya ga kepikir untuk bersikap seperti netijen jaman sekarang yang menganggap itu adalah tindakan caper atau patut dibully. Yah, pada dasarnya mungkin tingkat kepedulian saya sama orang lain saat itu sekosong itu. Kosong banget, ga ngerti harus berempati atau setidaknya jadi berkeinginan untuk menghina atau nyinyir atau julid seandainya saya punya potensi untuk itu.

Balik ke masa sekarang. Ya ga sekarang banget, mungkin setahun 2 tahun ke belakang? Ga tau sejak kapan pastinya, tapi yang jelas saya semakin ke sini sudah bisa ngomong pedes dan pahit dengan tujuan sengaja menyakiti (dulu ceplas ceplos ga sadar lingkungan aja, no purpose of attacking). Yah, sedikit banyak lingkungan membentuk. Dalam rangka survival things, your defense mechanisme is built. In my case, I’m not only be able to stand still, but to strike, too.

Nah, tetapi kan ada masanya saya yg juga masih belajar survive ini, dalam posisi ga berdaya. Jangankan untuk menyerang balik, untuk bisa berdiri tegar aja rasanya susah beud. Ga berdaya karena apa? Banyak hal. Bisa orang yang toksik dan menyakiti itu adalah orang yang saya pedulikan, yang berkuasa atas saya dalam hal tertentu (pekerjaan misal), atau ya murni karena saya memang sejatinya sedang berada dalam titik lemah saja.

Lalu apa yang saya lakukan?

Kamu tau posisi kucing yang siap menyerang? Menggeram, punggung melengkung, ekor tegak, siap melompat, menyerang.

Tapi saya bukan kucing. Dan saya sedang tidak dalam keadaan bisa menyerang.

Saat disakiti, saat menahan diri untuk tidak menampakkan emosi, menahan diri untuk meredam amarah, menahan diri dari menyerang balik dan menggunakan cara-cara yang mungkin di masa depan akan saya sesali, maka saya akan: menggigit bibir sendiri. Menggigit bibir bawah dengan gigitan yang lantas saat terasa sakitnya akan menyadarkan saya kembali dari rasa marah atau sakit hati yang tadinya menguasai. Saya tidak jadi marah ke objek (orang atau keadaan) lain dan kembali berpusat pada diri saya sendiri. Merasakan rasa sakit dari bibir yang digigit.

Selama beberapa waktu, dan masih sampai sekarang jika saya lupa diri, kebiasaan ini terus berlanjut. Sampai saya teringat cerita teman saya yang dulu suka menyayat lengannya sendiri dengan gunting. Saya membandingkan luka sayatan gunting di lengan teman saya dengan bibir yang saya gigit sendiri. Oh, ternyata sama. Bibir saya tidak berdarah, tidak berbekas juga saya gigitnya, tetapi apa yang saya lakukan sama persis dengan apa yang teman saya lakukan.

Kami sama-sama menyakiti diri sendiri di saat kami merasa tidak berdaya. Kami mengalihkan rasa sakit hati kami kepada rasa sakit fisik dan bukannya mengarahkan rasa sakit itu kepada penyebab rasa sakitnya, kami malah melukai diri sendiri. Ha. Bukti bahwa self love itu sungguh bukan hal mudah untuk dilakukan.

Di saat yang sama, saya menumpahkan uneg2 dan ketidakmampuan saya lewat kata2. Kata2 yang saya anggap hanya luapan kekesalan dan sampah yang jika dipendam bikin penyakit, akhirnya saya keluarkan. Banyak waktu saya menceritakan kekesalan pada pasangan, tetapi di sisi lain saya merasa jika terlalu banyak sampah yang saya luapkan kepada dia, maka itu akan berimbas tidak baik juga padanya. Negativity itu menular. Saya yang tidak mampu menghandle masalah saya, di saat pasangan saya juga punya masalahnya sendiri, akan semakin membebaninya. Lalu saya mulai menarik diri dari pasangan, jika sudah lelah maka saya akan berada dalam dunia saya sendiri, meredakan emosi saya sendiri. Saya meluapkan kekesalan saya lewat status wa yang pendek dan sehari hilang. Pengecut. Saya merasa puas meluapkan emosi di dunia maya, tetapi saya menjadi semakin berjarak dengan keluarga saya di dunia nyata.

Ini sangat tidak sehat, bukan?

Maka saya ingin mengurangi hal yang tidak sehat ini. Dimulai dari mengurangi menggigit bibir dengan sadar. Menahan jempol membuat status yang ngegas melulu. Memberi jeda pada diri untuk memproses emosi secara sehat. Mengurangi interaksi dengan orang toksik sebanyak mungkin, sehingga mereka hadir di hidup saya sesedikit mungkin. Menghindari keadaan toksik sebisa mungkin, membuat perencanaan yang lebih baik dan antisipasi dan alternatif solusi sebanyak mungkin. Menahan diri dari membesar-besarkan hal kecil. Berhenti mengipas-ngipasi emosi negatif agar ia mereda. Hal yang saya sadari baru-baru ini adalah, jika kamu menolak untuk ngomongin kejelekan orang lain, maka hidupmu jauh lebih damai. Sungguh. Ngomongin kejelekan orang lain itu artinya memberi suntikan penguat kepada energi negatif (mereka yang toksik itu) untuk membesar.

Abaikan. Abaikan.

Mereka tidak penting. Mereka tidak layak untuk kamu ingat2 kejelekannya, apalagi kamu bicarakan dengan orang lain. Mereka bahkan tidak layak memasuki pikiranmu, kecemasanmu, dan hidupmu. Obrolkan kelucuan anakmu pada pasanganmu, pada teman2 sekantormu yang punya masalah pekerjaan yang sama. Hal itu lebih membantu. Hidupmu dipenuhi energi positif dan kasih sayang. Obrolkan kelucuan dan keanehan kucingmu. Obrolkan diskon dan harbolnas dan barang-barang lucu itu. Tonton drama korea atau film yang komedi romantis itu. Baca review skincare. Baca webtoon.

My (Daily) Webtoons

Astaga, saya mengerti sekarang kenapa mereka, ibu2 muda itu hobi sekali membicarakan anak mereka, Ya biar ga nyinyirin tetangga lah. Saya jadi tau kenapa mereka membicarakan keromantisan suami mereka. Ya biar ga ngomongin kejelekan atasan lah. Saya jadi tau kenapa saya suka nonton video kucing dan anjing, ya daripada baca berita artis selingkuh atau artikel cebong kampret?

Akhirnya, saya hanya bisa menuliskan ini untuk mengingatkan diri saya lagi. Kalau-kalau nanti-nanti saya lupa diri. Manusia tempatnya salah dan lupa, sis. Tolong ingatkan kalau saya lalai. Atau maklumi saja saat misal saya nanti ngegas lagi. Berarti remnya blong. Berarti saya sedang terlalu lelah, terlalu lemah, terlalu meh.

Akhir kata, maafkan saya untuk semua status marah-marah saya. Anda yang baca pasti bukan objek yang saya tuju. Mereka saya umpetin biar ga baca soalnya. Iyain aja udah. Saya memang menghindari konflik di dunia nyata. Kalau di dunia nyata, kamu adalah orang yang saya ga suka, percayalah, noleh dan liat kamu pun saya enggak mau.

Semoga selalu sehat dan kuat untuk menghadapi kerasnya hidup.

Semangat.

โค Ast

 

 

 

a birthday trip

These last months had been a very exhausting time in job, causing my soul and body reached its limits. I got my sick leave at August, which actually I planned for a vacation but cancelled because … yeah life’s like that. It doesn’t always go my way.

In September, I planned to go camping because I’ve been so tired with usual trip that makes me stay in a hotel room. Stay in a hotel room reminds me to my job, which I’m really trying to avoid during my holiday. I want to be free and relaxed, my poor soul was too tired to hold anymore.

So after a job to Semarang in the end of August that made me for the first time ever, leaving my son more than 2 x 24 hours after he’s reaching 4 y.o., I decided to make this vacation happened, no matter what. I reconciled my schedule with my man, ’cause in those time we didn’t even had lunch together for months. Ouch.

Actually we planned to go on September 23rd but then my man asked to have our leave on September 30th to October 1st. We went from September 28th so we could celebrate my birthday on September 29th in Bandung. Yeay. (Actually I had stopped counting my birthday since I’m 28 y.o., so I’m mentally always in age of 28, wkwk).

Considering my son’s course on Saturday morning, we left Jakarta in the evening so that we could reach Bandung at night, and stayed in a hotel before continuing our trip to camping ground. Nothing special about staying in hotel. We departed from hotel around 11 a.m. because my son wanted to swim first. We reached the camping ground around 3 p.m because we took our time to buy our groceries in alfamart nearest to the camping ground.

Where did we ride to? *drum roll*

Yep, Ranca Upas. Since this place has been very well-known and popular, I won’t tell how and why to reach there. Or about what cost to rent tent and everything there. You can do your own research, wkwkwk. Ooor, maybe, you could sent me a private message if you really want to know. Here’s my number: +62 85753xxxxxx and call me, maybe? ๐Ÿ˜€

Anyhow, it’s just that I want to keep some of our pics after staying there.ย  You can decide yourself whether you want to follow to try that place or maybe you’ve been there before. I don’t care, wkwkwk.

WhatsApp Image 2019-10-07 at 14.19.11
in front of our tent while our son was suffering from cold

WhatsApp Image 2019-10-07 at 14.19.10
he didn’t want to walk by himself

WhatsApp Image 2019-10-07 at 14.19.12

 

I always enjoy going camping since I was on elementary school. But the more I grow as a teenage and young girl, I hold those hobby for it’s not proper for my mom to let her girl leaving without her supervision. But, no worries. I had my own time now, even it’s more special because I did it with my own little family.

I’m so excited to start our other next vacation together!

Love,

Ast โค

 

[Review] I, Tonya (2017)

Hola, postingan pertama di 2019. Baru bisa sempetin nulis karena emang baru sempet aja. Ngerant sedikit: akhir tahun liburan batal karena sakit, cuti dipake buat istirahat pemulihan dan awal tahun udah langsung berhadapan dengan tugas yang sampe2 sabtu-minggu pun ngantor hohoho.. ga lagi2 deh mudah2an. Review film ini sebenernya udah pengen segera ditulis begitu selesai nonton (pas lagi sakit gegoleran ya nonton film lah buat refreshing) tapi ya gitu, ada prioritas lain yang harus ditunaikan.

I, Tonya 2017 full movie watch online
source: http://www.pip2pips.com

Ada yang sudah nonton filmnya?

Saya ga ngerti apa yang awalnya menggerakkan suami buat ngajakin nonton film ini. Ini film lama, btw, sekitar tahun 2017 (ga lama2 banget sih) dan kami nonton streaming. Awalnya saya juga biasa aja ga yang excited gimana. Tapi begitu lihat sosok yang menurut saya nyentrik banget penampilannya dan kayanya karakternya kuat, ya lanjut lah.

i-tonya-36
ini yang menurut saya nyentrik

Dan semakin nonton, semakin terhanyut sama ceritanya. Sampe ikut kasian, kesel2, dan tambah lagi ngenes rasanya pas tahu bahwa film ini berdasarkan kisah nyata! Beneran ada seseorang bernama Tonya, yang atlet ice skating kelas dunia, mengalami hidup seperti itu dan dikelilingi orang-orang seperti itu… ๐Ÿ˜ฅ

Kalau mau baca tentang Tonya Harding dari wikipedia:ย Tonya Harding

Oke, kalo mau sedikit sinopsis versi saya (semua PoV adalah dari Tonya Hardings).

Tonya Hardings kecil yang berbakat diasuh oleh ibu (tiri)nya yang memiliki karakter keras dan kasar. Ibunya bekerja sebagai seorang pelayan restoran dan sangat bertekad supaya Tonya bisa mengikuti latihan ice skating sebagai atlet. Dengan kekuatan ibunya dan bakat alami Tonya, akhirnya Tonya bisa dilirik oleh pelatih dan menjadi atlet termuda yang dilatih olehnya. Tonya berbakat, namun nasibnya malang karena memiliki ibu yang kasar. Tonya disumpahi, dicaci maki, dan hal itu membuat karakter Tonya menjadi sama kasarnya seperti ibunya. Ditambah, ayahnya juga tak peduli (saya ikut nangis pas Tonya mohon2 sama ayahnya supaya ga ditinggal pergi).

Tonya akhirnya beranjak remaja dan mulai mengenal lawan jenis. Pasangannya, sayangnya, akhirnya sering melakukan kekerasan padanya. Konflik dan pertengkaran yang tidak hanya verbal tapi juga fisik sering mereka alami. Pada akhirnya Tonya menikah tetapi akhirnya bercerai juga dengan lelaki pertamanya ini.

Karir Tonya sebagai atlet juga sering terhambat, bukan karena bakat atau tekniknya melainkan lebih karena perilakunya yang kasar, temperamen, dan juga image nya yang dianggap tidak sesuai untuk image olahraga iceskating. Tonya sering merasa “dibuat kalah” oleh juri dengan tidak adil, dan saat dia mengkonfrontasi juri, memang demikianlah kenyataannya. ๐Ÿ˜ฅ syedih..

Pada akhirnya, Tonya belajar untuk memperbaiki diri dan citranya. Dia berusaha keras untuk bisa lolos ke olimpiade. Dia sempat berhasil, lalu kesuksesan mengubah dirinya. Dan akhirnya dia terpuruk lagi. Selanjutnya Tonya juga sempat tersandung kasus kekerasan terhadap rivalnya (yang menurut saya, asal muasalnya ga banget dan bikin gemesssss) dan akhirnya kasus itu menghentikan karirnya seumur hidup. Tonya dilarang bermain ice skating sama sekali.

Sedih ga? Bangettt….

Tapi pelajaran moral yang didapat dari film ini banyak banget sih menurut saya. Dari yang cara kita mencintai dan mendidik anak, memilih pasangan, memilih teman, dan berusaha keras demi sesuatu yang berharga buat hidup kita.

Parents, love your child properly.

Awalnya dari orangtua dulu. Kalau dari orangtuanya udah bener, harga diri anak jadi terbangun dan terbentuk dengan benar. Jadi anak nantinya bisa memilih mana yang baik bagi dirinya, bersikap tegas untuk apa yang tidak baik untuknya, memilih pasangan dan teman yang baik, dan menyelesaikan konflik dengan baik juga.

maxresdefault
Tonya kecil

Sebagai orangtua, pasti ingin memberi yang terbaik untuk anak2nya kan ya?

Jadi, boleh loh ditonton film ini. Berdasar kisah nyata yang tokoh-tokohnya pun dimunculin pas kredit di akhir film. Recommended!

 

to rest our mind

Last month in a year means lots of works!

I feel exhausted that I want to go vacation just to rest my mind but my time just haven’t come. Although I went to my hometown last month but because it wasn’t a holiday I just can’t really enjoy it as a true holiday.

I long for a clear air, greeneries, vast blue sky, but on weekends all I can do is just take a long sleep. My body is exhausted and a deep long sleep is for the rescue. But sleeping is just for the body, and what my mind need is more than just a sleep.

bali 1

Bali, who doesn’t want to visit?

pinus 1
Pinus Forest in Lembang. Gosh I miss the fresh air there!

bali 2
Blue sky in Bali. I can take a long nap, I wish.

I go on a date with my husband, we had a movie after a year not going to the cinema! My parents come visiting their grand children and I ask a favor for them accompanying my son to sleep with while we were watching movie, which they agreed happily. Their loveliest boy for their own ๐Ÿ˜€ A long night and my man is only for me, not to share with that little boy who always be jealous everytime we start to cuddle ๐Ÿ˜ It refreshes our mind and our relationship, though. But still, a visit has to over, my parents back to home leaving my boy crying for missing them ๐Ÿ˜ฅ

The days after, life still continues with it’s daily problem. My mind is full. I want beach. I want trees, I want leaves, I want the wave and the sea.. But I don’t want to spend any extra money just to live a night in a hotel near home. So as a surprise this thought come at Saturday nite, when we go nowhere at the day.

“I want to do yoga tomorrow, would you accompany me?” I asked my husband.

“Sure.”

read also:ย Yoga Gembira @ Taman Suropati

***

So the next morning, I just can’t take more sleep in the morning after doing Subuh prayer as I always do in the weekends. I prepare, my self, my man, and my boy. We went together to Suropati Park, I follow the instruction, I pull out my body, I stretch, my hands are shaking, my body is sweating, but I am happy! In the rest of practising, we lay down in the park, trees and leaves above us, and I feel calm and relieved.

 

pinus 3
Sorry for the shoes ๐Ÿ˜›

pinus 2
Still in Lembang, though. This place is the best. I’m still missing to go back there someday.

No need a staycation, no need a long vacation. I can rest my mind just 20 minutes far away from home, in the Sunday morning with a gloomy skies. It is enough, I feel content and hope it can recharge my strength for 2 weeks more!

After that, welcome holiday!

Can’t wait!