How’s your words today?

Saat mata pelajaran komunikasi bisnis, dosen meminta saya membuat contoh kalimat bela sungkawa dengan contoh situasi yang saya tentukan sendiri. Saya yang memang kurang luwes dalam berbasa-basi dan seringnya tidak tahu apa yang harus disampaikan untuk bela sungkawa, sempat bengong sesaat. Lalu secara spontan mengambil contoh dari apa yang saya dapat saat saya sedang mengalami musibah.

Saat itu, saya keguguran. Hamil pertama setelah 3 bulan menikah, seperti selesai fase bulan madu langsung diberi kejutan menyenangkan, tapi cepat pula diambil kembali. Satu kalimat yang saya dapat dari seseorang yang saya anggap dekat adalah, “Udah gapapa, nanti bikin lagi. Masih baru, masih disuruh pacaran lagi.” Saat-saat merasa kosong dan tanpa arah, persis seperti saat ditanya oleh dosen, maka saya ambil kalimat yang terpikir pertama di ingatan saat itu.

Lalu, apa komentar dosen? Bahwa secara etika, kalimat itu tidak layak diucapkan untuk menyatakan bela sungkawa. Kalimat itu tidak sensitif dan tidak berempati. Saya terhenyak sendiri. Lalu dosen meminta teman lain untuk memberi contoh kalimat yang lebih baik dengan situasi yang sama. Kalimatnya seperti ini kurang lebih:

“Turut berduka cita ya bu/pak. Semoga diberi kesabaran, pasti Tuhan punya rencana indah yang lain. Tetap semangat.. Dan si kecil semoga bisa menjadi penyelamat karena sekarang sudah menunggu orang tuanya di surga.”

Secara spontan pula, di kelas itu, saya merasa tenggorokan tercekat.

***

Sering saya bertanya-tanya sendiri. Tentang kalimat-kalimat yang dilontarkan dan diterima oleh seseorang di masa-masa terpuruknya. Di masa-masa ia paling membutuhkan dukungan dari orang terdekat. Dari orang yang ia anggap dekat.

Berkaca dari diri saya sendiri. Apa yang saya dapat maka itu pulalah yang saya beri. Saya jadi berpikir, jika saja tidak ada dosen ini yang menyatakan bahwa kalimat saya tidak pantas dan kemudian menunjukkan kalimat lain yang lebih menyejukkan hati, mungkin selamanya saya menganggap bahwa kalimat yang saya lontarkan itu wajar.

Bahwa wajar untuk menyampaikan kepada ibu muda yang baru keguguran untuk tidak terlalu bersedih karena toh baru pertama. Bisa bikin lagi. Masih disuruh pacaran lagi. Damn. Bahkan menuliskannya sekarang saya sadar betapa tidak sensitifnya kalimat itu, bisa-bisanya malah saya jadikan contoh di depan kelas 🙂

Berlanjut ke mengasihani diri sendiri yang mendapat kalimat itu, lalu pikiran saya berlanjut lagi menuju mengasihani si pemberi kalimat itu. Darimana ia belajar mengungkapkan bela sungkawa seperti itu? Dari lingkungan sekitarnya kah? Apakah sekarang ia tahu bahwa kalimat itu tidak pantas diucapkan, atau masih menganggap itu kalimat bela sungkawa yang baik? Apa ia sudah belajar? Setidaknya saya belajar. Lalu ia bagaimana? Karena beberapa masa setelah itu saya memang “memutus” kontak dengannya karena ketidakcocokan. Yah, dari kalimat yang ia lontarkan ke saya wajar dong kalau di suatu titik lain saya memutuskan untuk cukup dan sudah cukup, lalu sudah?

***

“kakakmu mungkin sudah meninggal, tapi ia kan tetap hidup di hatimu..” diucapkan beberapa jam setelah berita meninggalnya kakak lelaki.

“anakmu mirip ayahnya? hati-hati, anak pertama lelaki kalau mirip ayahnya nanti ayahnya ‘ngalah’, cuma salah satu yang panjang umur.” diucapkan beberapa hari setelah cuti bersalin selesai.

“hamil lagi? wah, kamu subur!” diucapkan setelah mendapat berita kehamilan setelah sebelumnya keguguran.

Saya tidak tahu ada masalah apa dengan orang-orang yang mengucapkan kalimat-kalimat yang setahu saya cukup tidak sensitif itu. Yang saya tahu, saat mendengarnya, saya tidak suka dan sempat cukup berpikir, “What’s wrong with you guys?” Tapi yasudahlah. Setelah saya ingat-ingat ternyata yang begini masih ada di dalam hati jadi yasudah saya keluarkan saja supaya lega. Supaya plong dan tidak ingat lagi.

Karena memaafkan itu butuh proses.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: