Membaca dengan Let’s Read

Hola!

Memasuki usia 6 tahun, saya mulai lebih peduli dengan mengembangkan kemampuan Dd di bidang bahasa. Kenapa? Karena dia sudah bisa membaca sendiri dalam bahasa Indonesia. Udah punya pondasi yang kuat untuk memperkenalkan bahasa lain, menurut saya. Kenapa ga dua bahasa dari kecil? Padahal banyak anak lain juga udah bisa casciscus lancar dalam bahasa Inggris, bahkan teman sekolah dan kursus Dd pun. Hmm, kenapa ya? Mungkin karena saya cukup santai dan percaya bahwa Dd ga akan mengalami kesulitan berarti, karena bahasa adalah masalah pembiasaan. Jadi ya sudah, sayanya ga ngoyo banget juga.

Kalau selama ini saya cari buku2 cerita dalam bahasa Indonesia, saya mulai cari buku cerita dalam bahasa Inggris. Cuma, ya, kendalanya cuma cari di online shop, ga yakin kalo ga megang fisiknya. Sementara mau ke Gramed*** juga mikir2 karena kan sebisa mungkin #dirumahsaja. Akhirnya malah cuma beli buku latihan dan aktivitas aja, belum kesampean buku ceritanya.

Sampai akhirnya saya nemu postingan tentang Let’s Read ini di IG https://www.instagram.com/letsread.indonesia/

Let’s Read

Karena udah lama ga beli buku cerita, ya pikir saya cobalah buat download dan memperkaya bahan bacaan Dd aja. Gratis pula, kan. Paling kuota internet doang, bukan harga ide cerita, ilustrasi, dllnya. Mikirnya masih bahasa Indonesia aja. Tapi pas liat tutorialnya di youtube, eh, ada berbagai bahasa juga? Hmmm.. cinta banget ga sih…

Setelah instal, saya cobain ke Dd. Terakhir kali, bacaan Dd sebelum tidur variasinya masih di Lima Sekawan Enid Blyton sama cerita nabi, yang serial Cican dan hewan2 udah jarang dibaca sama Dd. Jadi, secara “bobot”, sebenernya emang agak terlalu berat ya buat anak 6 tahun. Nah, begitu baca cerita2 di Let’s Read ini, tiba2 kerasa banget refreshingnya cerita anak2 yang beneran anak2.

Ceritanya sederhana. Sederhana bangeeet, tapi kaya akan kosa kata. Emosinya juga kerasa banget nuansa anak2 yang polos dan ceria. Dd saya bacain jadi sering banget ketawa2 lepas, hanya karena hal kecil seperti gambar ibu naik tangga buat marahin helikopter karna berisik takut bayinya bangun. Dia juga teliti sekali pada hal kecil, seperti tadinya ada 3 anak tikus pergi ke karnaval, tau2 tinggal 2 yang kecil ilang. Ceritanya banyak yang membangun dan akhirnya menegaskan “we are happy“. Dan akhirnya memang sangat menghangatkan hati banget lho, baca cerita anak2 begini.

Saya yang bacain aja jadi kerasa lelah dan kencengnya ilang, apalagi dapat bonus Dd ketawa2 dan nempel sama saya karna pengen liat gambarnya. Beneran udah ga loncat2 lagi dia dibacain cerita. Secara kuantitas juga, bacain cerita sederhana gini cepet selesainya. 1 bab bacain Lima Sekawan bisa buat baca 5 cerita di sini. Dd juga ga mau berhenti2 dibacainnya. Akhirnya, syarat dari saya, dia harus baca sendiri. Jadi sambil dia latian mengeja bahasa Inggrisnya, saya sambil koreksi pelafalannya dan mendorong dia untuk menebak arti katanya terus menyesuaikan dalam kalimat. Kalau saya ga ngerti juga arti katanya, ya kita sama2 buka kamus untuk cari tau apa artinya.

Reading to you kid make the connection stronger, indeed.

Udah nemplok gini, berat tapi seneng, alhamdulillah

Selamat membaca!

Tentang Memilih Homeschooling (2)

Halo!

Pas liat kalender udah 31 aja dan ternyata saya ga ada nulis apapun di blog ini selama Agustus. Padahal mah udah pernah nulis sampe 900++ kata tapi pas mau dipost ilang trus ga mood lagi, yaudah deh.

Jadi, udah sebulan lebih nih ceritanya si Dd menjalani HS, gimana kesan2nya? Sesuai janji saya di postingan Tentang Memilih Homeschooling (1) saya mau nulis kan gimana2nya setelah menjalani.

Cerita aja deh ya.

Jadi, secara umum ya ga jauh beda sama SFH kemaren setelah pandemi. Sekolah memberi tugas, orangtua membimbing, anak yang menjalankan. Kegiatan belajar di rumah murni ga ada di sekolah sama sekali. Pertemuan online dengan aplikasi. Perbedaan yang menonjol ya karakteristik masing2 lembaga pendidikan itu beda. Udah, itu aja. Karena perbedaan karakteristik lembaganya, maka beda arah dan kurikulumnya, sesuai visi misi masing2. Teknis, sama aja. Detail, beda tergantung teknisnya.

Slide1

Slide2

Slide3

Slide4

Muahahaha, maapin kalo tabelnya acak adut ya. Saya coba semampu dan sesempet saya biar semua poin bisa masuk di satu postingan.

Jadi, tuntas ya janji saya buat bikin postingan tentang HS ini? Kalo mau tanya2 boleh japri saya, ada kontak lewat email.

Yah, sekarang tentang TK selama pandemi udah ada solusi, trus nanti gimana pas SD? mau lanjut di PKBM ini atau memberanikan diri daftar ke sekolah biasa?

Belum tau. Biar Allah yang tunjukkan.

Salam,

Ast ❤

Because I’m Human

So this post came out when I was scrolling my timeline on FB and it made me stunned for a while.

hukuman ujian
source: https://m.facebook.com/hasaneljaizy

That highlightened sentence made me contemplate myself recently. How much rage I felt, how much disappointment I had, how many time I was being upset for little things that if I just being patient at the moment, I won’t be that mad.

If I was able to control my emotions, I can just let those things go.

If I had just enough bunch of patience, I can be chill and cool and not being disturbed for some insignificant things happened.

One thing I had forgotten, that the ability to control emotions and patience themselves, was also signs of Allah’s mercy.

Because I also had times when bad things happened but I could still be calm and still to cope with.

I’m not mad for little things, even bigger things to handle.

When I had my miscarriage. When I was dropped out from my campus. I didn’t cry that much (well, I cried for losing my baby, I’m still a mother who lost her child, though). I didn’t wreak in sadness. I hid myself from crowded and I strongly believe that everything happened, happened for a reason. I believed Allah strongly and I had faith to myself, and I could have my days in a firm step. And so it came true and now I am where I am.

But I also count times when I made WA statuses for shedding my rage and anger over things that now I regret I did. At times, I said to myself that it was okay. It’s okay not to be okay (such a korean series that happening now). It’s okay to have bad times and feels bad because I’m human, too. Human can be angry, human are allowed to feel bad and it’s normal things. Bad things happened all the time to make us value happy things more.

Meanwhile, it’s okay to release my emotions as long as I don’t hurt anybody. But the question is, didn’t I?

Did I not hurt anybody who read my words of anger?

Did I not add bad feelings to them?

Did I not become the toxic people I hate so much myself?

Though I also thought about it, at that moment, I ignored them and became selfish and did it anyway.

After reading the post, now I realize that it must be my own mistake that I missed many possibility to do good things, to be patient, to be cool and chill facing problems. It must be my sins that covering Allah’s mercy to enter my heart.

Doesn’t it break your heart more, as a creature, that your Creator’s mercy can’t reach you, blocked by your own sins?

Tentang Memilih Homeschooling (1)

Akhirnya saya beranikan juga nulis ini.

Niatnya sih, nanti2, sebulan dua bulan, gitu setelah udah beneran menjalani. Tapi pikir saya, yaudahlah, udah beneran nyemplung juga. Masalah realitasnya seperti apa setelah benar-benar menjalani, ya nanti pasti masih bisa kok ditulis. Yang sekarang juga hasil kegalauan sekian lama, soalnya. Yok, mulai.

Berawal dari … pandemi.

Oh, enggak. Pandemi mungkin trigger utama, tapi sebetulnya keinginan untuk bisa homeschooling sendiri mungkin muncul di usia Dd baru 6-7 bulan, mungkin. Waktu itu saya masih aktif di FB dan memfollow salah seorang praktisi homeschooling yang lumayan populer, yaitu Kiki Barkiah dan Abah Ihsan (?). Melihat kisah2 mereka dan nilai2 yang ditanamkan pada anak2nya, sedikit tercetus keinginan di dalam hati untuk bisa begitu juga ke Dd. Meskipun ya masih sadar diri sih, melihat kenyataan bahwa saya adalah ibu bekerja yang berada di luar rumah sejak jam 7.30-17.30, kalau normal. Kalau tidak normal ya lebih dari itu. How come bisa2nya pengen homeschooling anak. Sama siapa? Resign juga berat, yah gitu deh, pikirannya macam2. Jadi keinginan homeschooling (selanjutnya saya singkat jadi HS) masih cuma sebatas keinginan.

Terus, di usia 3 th 8 bulan, Dd mulai saya masukkan kelas playgrup di dekat rumah. Masuk 3 kali seminggu, 2,5 jam per pertemuan. Cerita lengkapnya di Tentang Sekolah ya. Berlanjut sampai anaknya naik ke kelas kinder A alias TK A. Lalu di tengah semester 2, bulan Maret, terjadilah pandemi ini di seluruh dunia. Kebijakan pendidikan saat itu (dan sampai sekarang masih), yaitu anak belajar di rumah. Didampingi orangtua. Guru bertugas menyusun materi dan memantau serta memberikan penilaian atas kecukupan hasil belajar anak.

Bulan pertama, masih masa adaptasi untuk saya, DD, dan ayahnya. Kantor kami masih menerapkan kebijakan WFH (work from home) dan WFO (work from office) secara bergiliran. Sebisa mungkin saya mengatur jadwal agar wfh saya tidak berbarengan dengan suami, hanya supaya setiap harinya ada yang bisa mendampingi Dd mengerjakan tugas sekolahnya. Karena, wfh kan bukan libur, tetap ada tanggung jawab (dan deadline) pekerjaan yang harus dipenuhi. Tugas sekolah juga sama. Terus terang, di bulan2 awal, saya justru merasa wfh + sfh + cfh (course from home) ini sangat melelahkan. Jam kerja menjadi tidak beraturan, karena sekian pekerjaan harus diselesaikan dengan deadline berkejaran. Tapi yasudahlah, the job must be done.

Tugas sekolah, apa kabar? Ya sami mawon… Tapi intinya, setelah pembelajaran lebih lagi, akhirnya, ya bisa juga beradaptasi. Dan saya juga jadi lebih mengenali Dd, dari mengajarkan dia materi2 tugas itu. Misal, saya jadi tahu bahwa mengajarkan menghafal ayat, 1-2 ayat per hari itu sudah bagus, bukannya menghafal setengah surat. Saya jadi tahu bahwa Dd tidak terlalu suka menggambar, karena memegang alat tulis/ warna itu melelahkan (ini saya banget, sampai kelas 1 SD masih tidak suka menulis sendiri karna capek). Saya jadi tahu bahwa Dd lebih memilih melihat saya bersedih dibanding marah padanya. Kenapa?

“Kalau Bubu marah, Dd takut. Tapi kalau Bubu sedih, Dd bisa hibur Bubu.”

Oke, hero. Sekarang lanjut hafalan suratnya.

Wkwkwk, candaa… ya saya jadi nyesel marah dan tambah pe-er untuk mengatur emosi dan meningkatkan kesabaran terhadap Dd.

Hasil dari wfh + sfh + cfh 3 bulan ini, ya saya jadi lebih dekat dengan Dd. Sampai pada masanya memasuki new normal, ehem, dan kantor kami memberlakukan full wfo 100% lagi. Saya dan ayahnya mulai ngantor lagi, setiap hari, pagi-sore lagi. Ayahnya mulai dinas luar lagi dan menginap lagi. Mudah2an saya ga dapet nginep2 lagi deh. Dan Dd dari yang awalnya mengulang2 kalimat,

“Bubu Babah di rumah aja, ga boleh kerja di kantor. Kerjanya dari rumah aja, pake zoom.” –> wow pinter berargumen kamu ya, good job, kid. #masyaAllah

menjadi

“Bubu di rumah aja, Babah aja yang kerja.” –> oshiaap, dadah Babah, baik2 kerja yaaa, sehat2 yaaa, Bubu di rumah yaaa…

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, pensiun aja.” –> iya Nak, pengen banget, huhuhu

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, cuti aja cutiiiiii…” –> belum boleh cuti, sayang, belum keluar aturannya yang ngebolehin cuti

menjadi

“Bubu Babah ga boleh keluar, ada virus corona!” –> seketika keinget video parodi CLOY yang marak beredar di awal pandemi.

cloy
udah new normal sekarang, hey

hmmm yasudahlah begitulah terus.

Oke, balik lagi. Sementara saya dan suami berusaha merelakan diri wfo, kami masih belum rela dong kalau Dd yang masih 5 th itu balik ke sekolah. Mulailah kegalauan tentang bersekolahnya ini datang, dan pas baca2 twitter, ada cuitan seorang yang intinya sih, kalau anak2nya disuruh sekolah lagi, mending dia pilih homeschooling anak2nya aja.

I was like, what? Iya uga, kenapa ga kepikiran…

Tapi tapi tapi … hmmm… sebentar, diingat2 lagi, Dd sudah sangat bisa diajak bekerja sama lho, mengerjakan tugas. Jadi, karna kami wfo, baru bisa pulang sore sebelum maghrib kan, setelah pulang juga bersih2 dsb lalu mulai mengerjakan tugas Dd setelah maghrib. Sekitar 2-2,5 jam mengerjakan 4-5 jenis tugas (membaca/ menulis, membaca hijaiyah, hafalan surat, hadits, atau doa pendek, lalu aktivitas seni/science), masih diselingi masak untuk makan malam dan makan malamnya, lalu latihan untuk kursus musiknya, dan rutinitas sebelum tidur (sikat gigi, pipis, baca buku). Bisa. Dd bisa diajak kerja sama. Dd kooperatif dan mengerti, alhamdulillah.

Jadi, pemikiran tentang HS menguat.

Tapi masih menunggu kebijakan pemerintah, sih. Aturan SFH ini bagaimana? Sampai kapan? Sepanjang tahun ajarankah, atau bagaimana? Virusnya aja katanya masih sampai 2022 loh. Terus, akhirnya ada edaran sementara bahwa sfh ini kemungkinan sampai Desember. Terus, misal setelah Desember sudah disuruh masuk, apa iya saya betulan berani melepas Dd?

Jawabannya, ternyata tidak. Meskipun saya sempat goyah untuk Dd tetap meneruskan sekolahnya di tempat yang sekarang, karena dia nangis pas dibilang mau pindah. Iya, saya goyah, karena saya juga anak pindahan jaman SD dan SMP. Tahu banget lah rasanya pindah dari sekolah yang disenangi ke antah berantah yang ga tau kaya apa keadaannya. Dd sudah sayang teman dan guru2nya, saya juga sebetulnya merasa baik2 saja dengan itu, bahkan sudah bayar pendaftaran untuk tahun ajaran berikutnya, di jenjang kinder B, tapi ….

saat saya melihat berita bahwa tingkat kenaikan kasus positif di Korea Selatan meningkat setelah sekolah dibuka, saya tidak bisa tenang lagi. Saya tidak goyah lagi, dan memang membulatkan tekad bahwa teman dan lainnya datang dan pergi, tapi nyawa itu ya cuma satu dan tidak terganti.

Maka saya persuasi lagi Dd, semakin sering dan intensif. Ditambah lagi, rencana kami pindah rumah akhirnya tereksekusi juga pas di tahun ajaran baru. Lokasi rumah jadi menjauh dari sekolah lama. Pas kebetulan juga, sekolah memberikan edaran tentang tatacara sekolah di era new normal ini, yang ada tambahan2 poin yang akan sulit kami penuhi sebagai orangtua bekerja yang tidak bisa selalu menemani Dd mengikuti kelas online di hari tertentu. Maka, ya akhirnya kami membulatkan tekad untuk mengakhiri pendidikan formal Dd di sekolah dan memilih homeschooling.

Pas terima raport, Dd berpamitan dengan miss2nya. Sedih, huhuhu, karena saya yakin Dd disayangi dan Dd juga sayang sama miss2nya.

miss2
dengan wali kelas Dd

miss2lain
dengan miss2 lain di sekolah

miss bunga
dengan kepala sekolah Dd

Miss2nya cantik2 yah, buat para ikhwan single yang mau serius mohon hubungi saya secara pribadi dulu. Yang kepseknya udah taken yaa..

Ya gitu deh, ini masih preambule yang kepanjangan untuk postingan ttg HSnya gimana2, next lah ya, kalau udah sempet. Sekarang saya masih belajar2 juga. Atau kalau mau tau banget, bisa japri saya lho. Udah ada 1 orang yang kecantol dan ngikut HS juga sih sama saya. Tenang, bukan MLM. Sama sekali bukan.

Intinya sih, saya masih berterima kasih sekali untuk sekolah yang sudah membantu saya mengajari Dd selama ini, dan juga mengajari saya sebagai orangtua, sampai saya bisa merasa PD untuk mewujudkan cita2 terpendam saya pas Dd masih kecil, yaitu mengajari Dd sendiri. Kalau ditanya alasan pindah, yang utama saya jawab, karena pandemi. Iya, pandemi ini mengubah banyak hal di sekeliling kita, membuat apa yang tampak tidak mungkin di awalnya, tiba2 terasa mungkin.

Tapi yang utama sih, mungkin memang HS untuk Dd sudah ditakdirkan, dan ia akhirnya mencari dan menemukan jalannya sendiri.

Quran Surat Al-An’am Ayat 59

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Arti: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Referensi: https://tafsirweb.com/2183-quran-surat-al-anam-ayat-59.html.

Demikian.

Tentang HS nya, insya Allah next post.

Update: sudah dipost ya, tentang HSnya di Tentang Memilih Homeschooling (2)

❤ Ast

milik kita

Berawal dari keimpulsifan saat melihat instastory seorang di IG, yang kayanya saya follow karena dia punya kucing…

…tapi tiba2 ngiklanin jual buku bekas. Dalam kondisi (saat itu masih) WFH dan tugas negara sudah mulai menurun intensitas dan frekuensinya, dan Dd sudah mulai bisa diajak koordinasi dan kooperatif dalam mengerjakan tugas2 dari sekolahnya. Maka melihat buku2 yang di jaman masa kecil/ remaja saya ini sering saya lahap di perpus/ penyewaan buku dijual murah, segera saya kontak penjualnya. Skip skip skip sampai beberapa hari kemudian paketnya sampai di rumah.

lima sekawan
Tada… ini yang diiklanin mas nya

Apa langsung saya baca? Enggak pemirsa, saya anggurin dulu, itung2 ngendapin potensi virus padahal mah emang males aja. Oiya, btw saya ga anti ya beli buku bekas. Buku cuci gudang pun saya beli kok. Pengalaman paling seru adalah beli buku Senopati Pamungkas 2 karya Arswendo Atmowiloto seharga 50ribu saja. Antara sedih dan happy sih dapat buku bagus (dan baru) harga segitu. Yang anti adalah beli buku nikah orang, karena buat apaa…zzz…

Oke lanjut. Jadi saya beli buku2 di atas itu, buat saya. Mengatasnamakan adanya potensi waktu luang (yang ternyata setelah mengenal mager dan main hp itu jauh lebih menggoda dibanding baca buku, asli) dan nostalgia semata. Buat Dd, saya masih pilih2in bukunya, masih yang boardbook 20 halaman macam Halo Balita, serial nabi, Cican Fun Series, dsj lah. Atau majalah Bobo, atau seri pengetahuan umum/ populer aja. Buku novel macam itu pikir saya ya nanti ajalah dikasih pas dianya udah bisa baca sendiri, lancar, dan emang tertarik sama buku bukan karena gambarnya.

Tapi emang anak2 itu, kayanya gabisa banget kan ya, liat emaknya fokus sama sesuatu yang bukan dirinya sebagai pusat dunia. Zzz, anak 5 tahun yang masih kemratu2 kalo istilah Jawanya. Jadi ini bukan pertama kalinya ya, Dd liat saya lagi baca serius (novel NH Dini, misal, atau bukunya Emha Ainun Najib, yang jelas bukan buat konsumsi piyik itu) terus minta dibacakan. Padahal mah saya juga udah beliin dia buku baru, yang buat anak2, hurufnya besar, gambar dan visualnya menarik dan saya udah nyanding di sebelah dia. Maunya sih, saya baca, dia juga latihan baca sendiri. Enggak mau dong, maunya dibacain buku saya. Yaudahlah, akhirnya entah mulai kapan, bedtime storiesnya berganti dari boardbook menjadi novel lima sekawan ini.

Dan sampe sekarang sudah selesai buku keempat dan mau lanjut buku kelima.

Agak ga nyangka sih saya, bahwa Dd ternyata bisa mengikuti dan menangkap cerita dari novel ini. Meskipun setelah saya jadi orangtua yang membacakan buku ini, saya jadi menyadari bahwa buku ini ga akan lolos 100% memenuhi buku untuk anak. Ya iya, di dalamnya ternyata sering saya dapati kata2 makian seperti: t*l*l, k*ny*l, s**l*n, dll. Juga sarat stereotyping dan hal2 yang dulu pas saya baca rasanya seru, kini kok seperti ga sopan, kurang kerjaan, kurang ajar, dan cari masalah. Yah, mungkin karena ditulis untuk mengikat hati ABG/ remaja yang egonya sedang bertumbuh dan mencari tempat, jadi hal2 seperti itu baik2 saja. Sedangkan untuk cakrawala saya yang umur 30++ ini, kadang bikin kening agak berkernyit, dikit.

Salah satu cara ngakalinnya adalah, kalau pas dapat kata2 kasar itu, maka bacanya akan saya ganti menjadi “piiiiiip” atau “tiiiiiiit” yang akan bikin Dd ketawa awalnya, lalu tanya, “itu apa?” dan saya jawab, “sensor”. Berikutnya lagi kalau saya bunyi gitu lagi dia tetep ketawa dan lalu bilang “sensoooor”. Iya, nak, bagus. Nanti aja kalo udah bisa dan mau baca sendiri, kamu akan tahu kata2 kotor apa itu. Wkkk..

Tapi, kembali lagi ke reaksi Dd. Meskipun dia belum bisa benar2 diam tenang dan anteng pas dengerin saya baca buku, dan sering sambil lompat2 di kasur pas saya baca, dia tetap terikat dengan cerita dari buku2 ini. Satu buku rata2 dibagi menjadi 17-22 bab, saya bacakan rata2 2 bab per malam, bisa fleksibel. Kalo kami lagi sama2 capek, bisa skip satu malam tanpa baca. Kalo lagi capek tapi masih ada tenaganya dikit, 1 bab okelah. Kalo ceritanya lagi seru dan besok libur/ weekend, bisa sampai 4 bab. Iya, suara saya sampai serak, tentu. Tapi, Dd senang, dan terikat.

Terikat tidak hanya secara rasa penasaran saja akan kelanjutan ceritanya. Tapi dia juga bisa berempati pada masalah yang dihadapi si tokoh. Pernah dia tiba2 murung, suram, dan memeluk babahnya saat saya sedang menceritakan si George yang sedih dan menangis tersedu2 karena ibunya masuk rumah sakit. Sampai ikut sesedih itu dia. Pernah juga dia merasa gemas dan sebal dan kesal saat tokoh antagonisnya mengganggu lima sekawan. Geli banget saya lihatnya kesal dan mengepal2kan tangan 😀 #maasyaAllah #masihtakutain

Dan, secara topik dan kualitas obrolan kami juga meningkat. Kami jadi seperti punya obrolan yang sama, membahas tokoh2 di buku itu. Kemarin tiba2 saja pas saya sedang ngomong sesuatu tentang tulang, Dd nyambung bahwa kalau tidak ada tulang maka meleleh badannya. Referensinya adalah tokoh Manusia Tak Bertulang yang ada di buku Sirkus Misterius. Well, sebelumnya, pembicaraan kami juga bisa menyangkut banyak hal yang sedang menjadi minatnya. Tetapi pembicaraan 1 tema selama beberapa hari sesuai bab di buku, itu hal yang lumayan baru. Karena biasanya kan satu buku kelar, sudah ganti buku yang lain, dalam 1 malam bisa baca 2-3 buku berbeda (buku anak2 boardbook 20an halaman).

Berlanjut juga untuk kemampuan membacanya. Sebelum saya bacakan, biasanya Dd saya minta membaca sendiri judul babnya yang dia minta akan dibacakan. Biasanya dia baca 2 judul bab. Kadang dirapel 5 judul bab. Kadang juga lewat aja. Yah, intinya sih, buat saya dan Dd, ini adalah kegiatan baru yang menyenangkan.

Apalagi saat melihat ini:

9802dea5e2d8cd4d6281252c34b95e78

Saya menyadari bahwa kami sedang membuat kenangan indah itu bersama2. Meskipun saya tumbuh menjadi pecinta buku bukan karena dibacain buku (saya didongengin lisan tanpa baca buku oleh ibu- lalu jadi sering membaca buku di perpustakaan sekolah karna menunggu ibu selesai mengajar). Tapi, ya siapa tahu, nantinya yang akan Dd ingat saat melihat 5 sekawan bukanlah cerita dari masing2 bukunya, melainkan suasana dan momen saat saya bersama dia, malam2 membaca buku sebelum tidur.

Well, kenangan itu bukan hanya milik dia saat tumbuh dan mendewasa nantinya toh, tapi juga milik saya saat nantinya saya menua.

5-quote-beloved-books
Saya dan Dd tentu tidak seromantis ini. Saya baca, dia lompat2, itulah yang lebih sering terjadi…

Jadi melow kaaaaaaan…

Yaudah, gitu aja.

Let’s make lovable memories with our loveliest!

Ast ❤

Endurance

They say, life is not a racing.

It has it’s own time. It’s not like a sprint, more like a marathon. You don’t need speed, you need endurance to overcome it.

You start with consistency, continue with persistency.

Because life is not always in the same path. It’s not always smooth. It has ups and downs. You are given some amount of strength and build your own.

How strong is your will to overcome the challenge?

How hard is your effort to make it through?

May your spirit is bigger than your weariness.

May your toughness is bigger than problems thrown to your face.

And may Allah bless you with all of His Greatness.

 

The Spells

This is for you to shoo the dementors in your life away:

Expecto patronum.

IMG_20200520_072239

In the other words, it means expecting the guard(ian).

The relieving things about this meaning, for me, is when I realize that I have the same spells, taught by my parents since I was a kid.

The ta’awudz.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

I seek refuge in Allah from Syaithon, the accursed one.

Then I become peaceful again.

🧡🧡🧡

P.S.: find out your patronus in https://www.magiquiz.com/quiz/whats-your-patronus/ and tell me yours!

Seminggu

Berikut adalah hal2 yang kupelajari seminggu ini:

  1. Sekolah musik pun ada levelnya. Mau belajar keterampilan musik populer, masuklah Yamaha dan sejenisnya. Mau belajar musik klasik dan terstandarisasi internasional, masuklah ke Sekolah Musik YPM dan sejenisnya.
  2. Hidroponik trending pasti karena postingan akun financial planner itu.
  3. Drama pelakor itu overrated. Plotnya ketebak, musiknya ganggu, dan gesture aktor/aktrisnya tidak natural.
  4. Orang-orang dengan masa kecil bahagia dan penuh privilege, tidak selalu tumbuh menjadi orang yang toleran, terbuka, dan penuh cinta kasih. Yang snob, ignorant, dan judgemental juga ada (dan banyak).
  5. Bukan berarti orang dengan masa kecil yang sedih jadi toleran dan penuh cinta kasih. Yang bitter, drama, dan playing victim juga ada, dan banyak.
  6. Menemukan orang dengan kesamaan tertentu yang dirasa unik itu menyenangkan. Seperti menemukan teman untuk jiwa, bukan teman karena kesamaan lokasi dan kepentingan untuk sementara. Tapi ya sudah. Selera sama bukan berarti lainnya sama.
  7. Tidak ada individu yang benar2 sama, setiap orang itu spesial dan unik. Yang akhirnya jadi tidak spesial dan unik lagi, karena semua juga begitu. Jadinya biasa saja. Special snowflakes syndrome itu untuk orang dengan gangguan kepribadian narsistik.
  8. Bukan tugasmu untuk membuat setiap orang menyukaimu.
  9. Kemampuan yang di atas rata2 itu selalu memukau, terkadang menginspirasi. Tetapi kelemahan seseorang yang membuatmu mengasihi.
  10. Kemampuan memaafkan menunjukkan kekuatan mental seseorang.
  11. Kemampuan “bodo amat” juga.
  12. Setiap orang memiliki daya tarik. Ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang nilai daya tariknya nol, ada yang minus.
  13. Persahabatan lelaki dan perempuan tanpa rasa cinta itu tidak mungkin. Salah satu atau keduanya pasti pernah baper. Hanya waktu bapernya yang tidak sama.
  14. Berdebat itu tidak ada gunanya. Iyain aja biar cepet adalah cara orang pandai.
  15. Kecuali kamu peduli terhadap orang yang beradu argumen denganmu. Ciyee peduli ciyee..
  16. Isyarat adalah untuk yang cerdas, sedang untuk yang dungu harus diperjelas.

Sekian.

Ciao 🧡

Plot Twist

A few days ago I read a story, the genre is horror, btw. So unusual for me to enjoy a horror story, isn’t it? Well, I read it just because it passed on my timeline, so just why don’t I give it a try. From the beginning it developed the tense, everything was good. Until in the end it gave the sentence that is meant to be a plot twist. Unfortunately, that last sentence turned out to be a failure. It ruined all of what it had built before.

The plot twist failed.

In my ideal standard for a plot twist, it should make the reader, in the end, questioning. For horror, at least, because in the beginning it claimed that it based on true story.  A smooth plot twist will leave us in the state of doubting, feeling insecure, feeling unsure, and questioning. Instead of making sure that what was built in the beginning is fake. The claim is also fake. Meh.

Reading that story makes me annoyed for some moment. Luckily I discuss it with my man. I tell him the story from A to Z and the conclusion is the same: the plot twist failed. My mood becomes better, not that satisfied but enough to make me move forward, though.

***

For some time in my life, I rarely thinking about marriage. Not that I don’t have the desire to have one, but because it feels … bizarre. For me, not for anybody. I can only imagine a marriage between the masked tuxedo and princess serenity, and the world beyond my own world. Being with somebody in the same place, same activity, same world continuously, constantly, for the rest of my life, looks like a burden for me.

Don’t I feel love?

Well, I define love from having a crush, missing someone, being jealous, and feeling the pain for losing someone. Those are love to me. All about feelings. The things you do for the one you love, not a chance it stays in my mind. I appreciate things people do for me, for the kindness, not the love behind that possibly make the ulterior motives. When it was acknowledge as love, I was scared then I run away.

So how come I marry you?

A friend, that is no one before.

A man that comes often in my chat app saying hello and gives a cheerful ambience for the second you just come.

A colleague that had been separated with ocean and time in years.

A stranger who turns into someone close, took years though, actually.

At first, I thought you are my plot twist.

You made me questioning my life, my decisions, my rule, my view on everything. You made me insecure, unsure, doubt. You had me crush on you, being jealous, being happy, feeling the butterfly in my stomach. You do things for me and you made me do things I’ve never done to anyone else before.

But knowing you, for this 10 years.

Being with you, for this 8 years.

And becoming your spouse for this 7 years.

The understanding that it wasn’t a plot twist, come slowly, convinced me in the right level. Why did we meet each other. Why did we become friend. Why did we take the chance.

From the beginning, it had to be you. It had to be me. It had to be us.

You are not my plot twist. It was meant to be.

Being together forever, shall we?

31870948_10216568821558195_7345784150915284992_n (1)

Happy Birthday.

I love you, I do.

Tentang Foster Kucing

Beware, this is a long post.

Saya ga tau deh. Apakah peningkatan jumlah pecinta kucing berkaitan dengan peningkatan pengguna sosmed juga. Di twitter, di facebook, di instagram, di youtube, banyak ditemukan video2 kucing lucu dan menggemaskan, dan orang2 yang tadinya hanya ada sedikit atau rasa suka yang besar ke kucing, jadi memantapkan diri buat memelihara kucing.

Ya, saya juga gitu sih. Pas masih kecil saya udah suka kucing dan hewan mamalia berbulu kecuali kelelawar, karena serem aja mukanya. Kucing itu favorit karena banyak di mana2 kan. Kelinci, agak jarang yang punya, dan kaya kemewahan deh bisa ngelus2 kelinci itu. Anjing? Hmm.. sayangnya liurnya najis dan ribet bersihinnya, pernah digigit dan dikejar pula jadi ya suka liatnya ga suka deket2 atau ngelus2.

Sampai di masa saya umur kuliahan sampai kerja awal (18-22th), entah kenapa saya kesel sama kucing. Ya kesel aja dan males deket2. Rasa suka saya alihkan ke kelinci dan hamster, terus sempet juga melihara hamster dan kelinci di awal2 masa kerja saya sampe nikah. Sampai hamil trus stop pelihara2 hewan.

Dan karena memasuki masa2 pemilu dan panas di sosmed, saya memilih untuk membisukan sebagian besar teman2 demi ademnya timeline saya. Sebagai gantinya, saya follow video tentang masakan, makanan, tips menarik tentang apapun, dan video hewan lucu. Yang sering jadi konten buat video hewan lucu itu tentu anjing dan kucing. Dan witing tresna jalaran saka kulina, maka kesukaan saya terhadap kucing tumbuh lagi. Lalu saya memelihara kucing.

Baca juga: Namanya Alfa

Tidak hanya berhenti di memelihara seekor kucing dan mencari ilmu tentang perkucingan, saya juga mengikuti akun2 tentang foster kucing, seringnya dari luar negeri, karena terus terang kepedulian terhadap hewan terlantar di sini memang belum sebesar di sana. Ya, di sini orang yang di bawah garis kemiskinan juga masih banyak, yang tidak dipedulikan juga banyak, jadi ga sempat merhatiin hewan lah ya. Apalagi kalau hewannya dianggap bisa berebut rejeki makanan sama orang.

Jadi, apa sih foster itu?

Belum nemu di kamus, jadi secara gampangnya aja, foster itu semacam tempat penampungan sementara. Kenapa sementara? Karena emang niat seseorang foster hewan itu ya ga buat selamanya, baik seumur hidup si orang yang ngefoster ataupun seumur hidup hewan yang difoster. Komitmennya beda sama adopt/ pelihara. Itu komitmen seumur hidup, baik orang yang mau melihara maupun hewan yang dipelihara.

Siapa aja yang bisa melakukan foster?

Siapa saja yang mau dan bisa. Punya rejeki untuk menyisihkan sumber daya (makanan, kasih sayang, ilmu, waktu, tenaga, tempat tinggal, uang untuk kebutuhan obat dan periksa ke dokter hewan, vaksin, sampai steril hewan) dan mau untuk mengalokasikan itu ke hewan2 yang ga beruntung di luar sana. Punya sumber daya dan mau. Di luar negeri, orang banyak mendedikasikan dirinya menjadi foster hewan terlantar. Beberapa foster yang udah punya banyak pengikut baik di ig maupun youtube dan saya sarankan buat nonton dan ikuti adalah: kittenlady, nikki martinez dan masih banyak lainnya. Cari di ig dengan hastag foster aja udah dapat banyak tuh.

Yang lokal ada? Ada… mereka juga suka buka kegiatan steril gratis dan vaksin gratis. Misalnya peduli kucing

Apa hewan yang difoster?

Ya hewan terlantar, misalnya anak kucing yang masih bayi, ga ada induk dan kalau dibiarkan di alam bebas udah pasti bakal ga selamat. Itu yang difoster, dirawat sementara sambil biasanya ditawarkan siapa tau ada yang mau mengadopsi/ memelihara seumur hidup. Kalau ga ada yang mau adopsi gimana? Biasanya kalau sudah cukup umur dan diperkirakan sudah bisa survive sendiri di alam bebas, ya dilepas. Bagaimana melepasnya? Dilepas di tempat yang sekiranya dia bisa mencari makanan sendiri.

Bagaimana cara foster yang baik?

Ini bicara ideal ya. Kalau anda lihat ada anak kucing yang terlantar, dalam gerombolan, jangan langsung ambil. Tunggu dulu minimal 2-3 jam, siapa tahu induknya sedang mencari makan dan akan kembali. Kalau sampai lebih dari 3 jam tidak ada tanda2 induk datang, barulah diselamatkan. Selamatkan satu kawanan itu, jangan dipilih2. Lalu dirawat sebagaimana mestinya. Nah, mestinya bagaimana itu kan yang jadi pertanyaan. Here are the details:

  1. Bersihkan. Ini situasional ya. Dilihat dulu kondisi anak kucingnya, basah atau tidak, bersih atau tidak. Kalau kering, biasanya ga terlalu kotor. Kalau basah, itu rawan. Rawan kotor, rawan penyakit, rawan kedinginan dan bisa bikin mati. Suhu tubuh kucing kecil itu seharusnya lebih tinggi dari kucing biasa. Tapi kalaupun kering pun rawan kutu dan telur kutu juga (tick and fleas). Jadi amannya, mandikan kucingnya dengan sampo kucing (kalau ga ada bisa pake sabun cuci piring cair), dengan air hangat, dan dikeringkan dengan handuk tebal (dipuk2) atau hair dryer juga ga masalah. Asal perlakukan kucingnya dengan lembut. Lihat videonya di sini , di sini, atau di sini.
  2. Kasih nutrisi. Nutrisi ini bisa berupa susu formula kucing atau makanan basah, dilihat dari umurnya. Kalau masih umur nyusu ya kasih susu formula kucing. Jangan kasih susu sapi karena pencernaan kucing beda tidak bisa mencerna susu sapi dengan baik. Bisa malnutrisi, diare, dan mati. Tapi entah kenapa, kucing bisa menerima susu kambing murni. Kalau darurat sekali, di forum pecinta kucing biasanya disarankan untuk memberi susu SGM non laktosa untuk anak kucing.20036134_1Seberapa banyak? Ga banyak sih biasanya, sampai umur 3 bulan, pemberian susu kucing bertahap mulai 5 ml, 10 ml, sampai 20 ml. Frekuensinya yang diperhatikan. Semakin kecil usianya, semakin sering pemberian tetapi dengan volume sedikit. Misal, umur 5 hari, beri 3-7ml per 1-2 jam sekali, umur 2 minggu mulai 5-10ml per 2-3 jam sekali.
  3. Terus, ada langkah lagi yang harus dilakukan sebelum dan sesudah memberi susu, yaitu merangsang pengeluaran urine (pipis) dan poop dari anak kucing. Anak kucing belum bisa pipis dan poop sendiri, di kehidupan nyata, induk kucing menjilat bagian anus dan alat kelaminnya supaya anak kucing bisa pipis dan poop. Nah, karna kucing piatu ini difoster ga ada induk, maka manusia yang merangsang pipis dan poopnya dengan cara menggosok2 anus dan kelaminnya dengan tisu atau kapas sampai kotorannya keluar. Beri susu, setelah kenyang, dirangsang lagi buat pembuangannya. Lembut ya, biar ga iritasi. Lengkapnya dilihat di sini
  4. Sesuaikan nutrisi dengan umurnya. Semakin besar, mulai perkenalkan anak kucing dengan makanan basah. Tapi sebisa mungkin tetap jaga kebersihannya ya. Fase mulai belajar makan basah ini sering dibilang masa paling kotor dalam hidup kucing, tetapi sebenarnya bisa disiasati. Misal, kasih mangkuk lebih tinggi dari yang mungkin dinaikin atau dipanjat dan dimasukin anak kucing. Jangan biarkan kucing masuk ke mangkuk makanannya kalau ga mau sering2 bersihin anak kucing dan takut dia iritasi kalau keseringan dimandikan.

4
coba dilihat kuku anak kucing ini, kotor ya? Apa jadinya kalau kaki kucing yang kotor ini dibiarkan masuk ke tempat makan?

1
masuk ke tempat makan kaya gini?

Jadi tolong ya, kalau mau foster kucing, jadilah foster yang bener2 bertanggung jawab. Bersihkan, mandikan, beri nutrisi dengan cara yang juga bertanggung jawab dan ga jorok. Kaya ngerawat anak manusia, gimana sih. Pas makan iya mungkin dibiarin berantakan, meskipun saya juga sering lihat anak bayi yang bisa tetap resik pas makan, tergantung yang ngasuh dan mendidik. Tapi ya tetep habis makan dibersihkan, kan? Ga dibiarin gitu aja berhari2, pasti mati lah itu kalau kaya gitu.

Foto di atas saya ambil dari ig yang mengaku foster kucing tapi menurut saya sangat jorok dan ga bertanggung jawab sama kesehatan anak kucingnya, karna ya itu, ga menjaga higienitas fosternya. Bertahan 5 hari lalu mati di bawah pengasuhan dia menurut dia udah biasa, asalkan mati dalam keadaan kenyang dan dicintai. Hhh I doubt that. Mencret iya, infeksi perut dan pencernaan juga mungkin. Denger2 udah banyak yang melaporkan dia juga ke perlindungan hewan dan ya play victim dan main drama lah hhh. Kapan2 kalau senggang saya ceritain deh gimana saya dibully pendukung dia karna kebersihan kucing ini. Kalau senggang yaaaa…

Oiya ada yang ketinggalan dalam merawat dan menyayangi anak kucing tanpa induk ini. Yatu, sediakan sikat gigi yang lembut. Buat apa? Buat grooming mereka, fungsinya kaya lidah induknya saat menjilati anak kucing. Dia bakal merasa nyaman dan feels like home deh disisiri pakai sikat gigi.

Terakhir, saat anak kucing udah siap diadopt atau dilepas, sudah bisa makan makanan kucing kering, dan sudah biasa bersosialisasi dengan sesama kucing, maka siapkan hati. Umur 3 bulan biasanya anak kucing bisa diadopsi. Sedangkan untuk dilepas, kalau bisa sih di atas itu ya. Dan kalau kucing jantan yang mau dilepas liar, selain diberi vaksin di usia 3 dan 4 bulan, usahakan juga steril di usia 6 bulan. Kenapa steril? Buat mengontrol populasi kucing biar ga semakin banyak anak kucing terlantar. Yang disteril memang biasanya jantan, karena kan dia yang menebar benih ke mana2. Dan jantan itu kalau birahi ga disalurkan rentan stres dan bikin penyakit prostat, ouch ga cuma manusia tapi kucing juga bisa kan… Beda cerita kalau kucingnya mau dipelihara, dan pemiliknya udah siap dengan kemungkinan punya anak kucing dan memeliharanya.

Saya sendiri gimana? So far baru sempet foster 2 anak kucing, keduanya betina. Yang pertama penyakitan, cacingan, kutuan, sendirian, di kantor saya bawa pulang. Bawa ke dokter hewan, suntik vitamin, dirawat sekitar 2-3 bulanan dan badannya menggendut, trus karna ga ada yang mau adopt yaudah saya lepas lagi di kantor. Kebetulan di kantor banyak yang suka bawa makanan kucing kering setiap hari, jadi untuk makanan dia kayanya ga masalah.

Yang kedua, masih umur 3 minggu. Sakit jamur parah, dan terus kami obati dengan obat jamur dan oles VCO. Oles VCO ini ampuh untuk jamur kucing ternyata. Mandi dengan sebazole juga, intinya akhirnya sembuh lah, walau sempat saya dan suami ketularan ringwormnya dan alhamdulillah sembuh dengan YLEO Lavender. Ini kami pelihara sampai lumayan gede juga, sekitar 5-6 bulan? Akhirnya kami lepas di pasar, di mana tukang sayur yang kumpul di pasar sering ngasih sisa ayam atau insang ikan ke kucing2 liar di sana.

Sementara stop foster dulu, karena udah komitmen nambah anabul tetap buat nemenin Alfa, namanya Luna. Dan bener beda kucing beda karakter, nanti kapan2 juga kalau sempat saya cerita tentang si Luna ini gimana deh, insya Allah.

Nah saya nulis ini buat nambah wawasan aja sih.. Selain memperkenalkan bahwa ada loh, foster ini, kalau emang anda2 ingin merawat kucing tapi ga bisa berkomitmen buat adopsi atau melihara seumur hidup, yaudah rawatlah anak2 kucing yang memerlukan bantuan. Dan yang terpenting, be responsible. Jangan sampai ngefoster kucing demi konten instagram atau medsos lain, demi view dan like (karena peminat bayi dan anak kucing sungguh banyak), demi media minta sumbangan (yesss, ini pahit tapi bener ada foster yang modus minta sumbangan gini), tapi akhirnya ga bertanggung jawab sama apa yang ada di tangan. Nyawa loh ini urusannya.

Seru kali ya nulis tentang foster2 modus yang pernah saya temuin, sampe2 ada yang panggil mediator buat nyari tau kondisi kucing yang (asumsi saya) dibuang demi ngejelasin ke followernya ke mana itu si kucing a kok udah ga pernah nongol lagi. Hhhh seriusan panggil mediator buat ngomong sama roh kucing zzzzzzz…. dan drama dan bully online dan playing victim dan report account, duh banyak kejadian deh. Entah deh perlu ditulis atau enggak.

Udahan dulu,

Ast ❤