kesehatan, perempuan, relationship, thought

Tentang Merokok

Sekitar tahun 2010, seorang teman baik bertanya, bagaimana pandangan saya terhadap seseorang yang merokok. Saya jawab, silakan, asal jangan dekat-dekat sama saya. Saya ga tahan sama asap dan baunya, dan kebetulan saya dibesarkan di keluarga tanpa rokok. Dalam artian, bapak dan mas (kakak lelaki) saya ga merokok. Terus temen baik saya (yang perokok itu) bertanya, gimana kalau nanti “mas” (suami) saya adalah seorang perokok. Saya jawab, saya ga pengen nikah dengan perokok.

Tiga tahun kemudian, di 2013, saya menikah dengan teman baik saya itu, yang seorang perokok. *tepokjidat

Di 2012, awal masa saya berkomitmen dengannya, saya sempet curhat ke temen baik saya yang lain. Dan teman baik saya itu di salah satu sarannya, menanyakan apakah saya bisa membawa pengaruh baik ke temen pasangan, misal membuatnya berhenti merokok. Jujur waktu itu saya mengernyitkan dahi, merasa, siapa gue kok baru jadian udah mau ngubah2 orang segala, dan waktu itu, ya saya mau berkomitmen dengan dia karena sudah lewat dari masa “saya suka kamu karena … ” tapi “saya suka kamu walaupun ….” .

Jadi begitulah, di masa pra pernikahan, merokoknya pasangan bukan suatu issue besar, karena dia adalah seorang perokok yang lumayan bertanggung jawab, dalam artian dia masih lihat-lihat saya terganggu atau tidak, jadi saya masih bisa tolerir dan berkompromi.

Setelah menikahpun, saya masih belum terganggu dengan kebiasaan merokok suami. Apalagi mengetahui kebiasaan merokoknya lebih karena kultur lingkungannya. Orangtua dan keluarga dekatnya perokok semua. Mau bagaimana lagi, pikir saya waktu itu.

Saya tidak ingat kapan tepatnya saya mulai sering terganggu dengan kebiasaan merokoknya. Suami sudah tidak pernah merokok baik itu di depan saya, di dalam rumah, maupun selama menemani saya mudik ke rumah orang tua. Dia bisa menahan diri dari merokok. Lalu saya mulai terusik, kalau bisa tahan, kenapa ga dilanjutin menahan diri lebih lama? Dari 2 hari menjadi seminggu, menjadi sebulan, dan seterusnya? Apalagi, terus terang dengan bertambahnya kedewasaan dan usia hubungan kami, kepedulian untuk kelangsungan hidup dan masa depan menjadi jauh lebih penting. Saya mulai melihat dengan visi yang lebih jelas. Saya ingin suami yang lebih minim risiko kesehatannya. Saya ingin suami yang selalu harum ga perlu ribet cuci tangan sampai keramas sebelum mendekati saya karena saya terganggu dengan bau asap rokok yang menempel di tubuhnya.

Apalagi kemudian saya hamil dan mempunyai anak. Tingkat kepedulian saya meningkat drastis. Untuk anak terutama. Saya benar-benar menjadi emak macan yang galak kalau itu adalah hal yang berhubungan dengan anak. Saya yang sempat menjadi dominan plegmatis yang cinta damai dan yaudahlah ngalah aja, jadi lebih asertif dan jika diperlukan, agresif. Saya ga segan “menyerang” orang dengan meminta mereka mematikan rokoknya jika kebetulan saya dan anak lebih dulu berada di tempat umum dan mereka perokok itu datang belakangan ngebulin asap. Hohoho, ga bisa, jauh-jauh dari anak saya. Saya meminta suami mengingatkan adik lelaki dan ayahnya jika kebetulan mereka habis merokok dan ingin menyentuh anak saya. Dan saya lebih intensif meminta suami berhenti merokok.

Tapi sejatinya perokok adalah orang yang kecanduan, dan orang yang kecanduan adalah selemah-lemahnya orang yang ga berdaya baik mental maupun fisik untuk mengalahkan kecanduannya. Maka butuh upaya besar baik dari si pecandu sendiri maupun lingkungan terdekatnya untuk lepas dari biang candunya, dalam hal ini rokok.

Jadi begitulah…

Suami mulai merokok di sekitar 2003, dan dia menikah dengan saya di tahun 2013. 10 tahun itu bukan masa yang singkat untuk menghilangkan sebuah kebiasaan dalam sekejap. Tapi, alhamdulillah, sejak tahun 2017 (empat tahun setelah menikah), sampai sekarang, suami sudah tidak merokok lagi. Sudah setahun lebih, dan saya sangat bersyukur karenanya. Dan berdoa semoga dia tidak sampai menyentuh rokok lagi dengan alasan apapun.

Setahun berhenti merokok itu masih cetek lah, saya tahu orang yang sudah 3 tahun berhenti merokok pun bisa balik merokok lagi, jadi perokok berat lagi. Makanya saya ga ingin terlena dan jadi jumawa. Banyak orang (perempuan) yang merasa bisa membuat pasangannya berhenti merokok adalah suatu pencapaian, semata kehebatan dia sebagai pasangan. Apa iya? Saya mengalami sendiri bahwa berhentinya seseorang dari kebiasaannya merokok adalah sepenuhnya berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan yang menggerakkan suami untuk berkeinginan dan berkekuatan untuk berhenti merokok. Suami sayalah yang berusaha dengan kuat menahan semua “sakau”nya saat berhenti merokok, dan saya membanggakan diri di atas dia? Hahah minta ditampol itu namanya.

b457a37bc55afb612a33aae88a4e6c2c (1)
source: pinterest

Satu fakta yang harusnya sudah dimengerti oleh perempuan manapun yang sudah menikah: tidak ada yang bisa mengubah lelaki kecuali dia ingin mengubah dirinya sendiri 🙂

Jadi, ya begitulah. Tulisan ini saya tulis sebagai pengingat saya dan semoga penyemangat juga buat suami, somehow kalau2 dia lagi khilaf pengen nyobain merokok lagi. Jangan ya, Babah. We love you so much that we don’t want you to have a risk we can’t cope with.

Ah, tulisan ini juga terinspirasi dari hastag #rokokharusmahal yang sempat berseliweran di twitter dan ig beberapa saat lalu. Saya setuju banget lah, kebijakan sesederhana apapun, asal itu bisa mengurangi misalkan hanya nol koma sekian persen dari potensi perokok, atau menjadi hambatan bagi kemudahan akses merokok, saya dukung.

“…bahkan menyingkirkan batu dari jalan adalah tanda dari keimanan…”

Sekecil apapun, ia berharga.

Jadi, dukung #rokokharusmahal.

Semangat wahai semua yang ingin hidup lebih sehat dan bersih dari asap rokok!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s