[Review] Open House TK Tunas Wiratama

Halo, long time no posting.

Awal tahun adalah sama saja dengan akhir tahun dari sisi kesibukan kerjaan, jadi saya sempat-sempatin nulis ini demi berbagi informasi kepada emak-emak yang sedang mencari di jagat internet ini.

Oke, enough basa basinya.

Sabtu, 9 Februari 2019 lalu kami menyempatkan diri mengikuti program open house yang diadakan oleh TK Tunas Wiratama atau nantinya disebut tama saja. Informasinya didapat pas scrolling timeline ig, kebetulan memang saya follow dari tahun lalu. Setahun lalu pas saya sedang cari-cari daycare untuk DD, saya sebetulnya sangat tertarik dengan Tama ini, sudah pernah survey langsung juga, cuma reviewnya ga saya tulis di sini aja. Hal yang mengurungkan niat kami menitipkan DD di sini adalah lokasi Tama yang melenceng dari arah rumah-kantor, sehingga kami harus memutar dan menempuh jarak lebih jauh. Juga jam masuk dan pulangnya yang tidak akan bisa sesuai dengan jadwal kami. Jadi, Tama cuma jadi keinginan terpendam aja.

Tapi tetap penasaran, makanya kemaren kami bela2in ke sana deh. Dan DD pun senang sekali main2 selama open house itu. Seperti review tk tunas wiratama di mana2, ya memang begitulah dia. Bangunannya adem, luas, nyaman, keren.. visinya juga keren menurut saya, tidak menjanjikan anak cerdas cas cis cus in english tapi bisa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dengan baik dan benar. Tidak menjanjikan anak cerdas matematika, bahasa atau apa tapi menjadi anak yang bahagia. Cocok banget dengan apa yang para psikolog itu bilang bahwa di usia pra sekolah itu yang berkembang memang otak yang mengatur kecerdasan emosi kan?

Anyhow, kalau mau info lebih jelas di websitenya juga udah ada kok, jelas sampai biaya juga.

Oh, dan untuk tahun ini program daycare ditutup karna kurang peminat, jadi tama itu pure preschool aja.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Website tk tunas wiratama

Silakan ya diliat2.

Maafkan saya gabisa nulis banyak2, beneran lagi ga sempet-sempet. Sementara itu dulu, nanti kapan2 dilanjut lagi.

Ciao.

 

Galau Sekolah

Postingan emak2 dimulai.

Saya tahu anak saya baru berumur 4 tahun dan sekarang masih di kelas playgrup di sebuah RA di Jakarta. Dan sekarang yang sedang saya galaukan adalah nanti anak saya mau SD di mana, SD dengan kurikulum apa, dan berapa saya harus siapkan uang pangkalnya. Lalu kegiatan ekstrakurikuler atau tambahan apa yang saya mau anak saya nanti dapatkan. FYI, kegalauan ini adalah kegalauan khas emak2 banget yang:

a. anak masih/ baru satu jadi masih idealis dan mau meluangkan waktu buat mikir atau galauin hal begini

b. selain kategori a tadi maka biasanya ga galau. titik.

so saya walau tau pasti ada yang baca sambil mikir “yaelah gini aja galau” yaudah sis, saya galau beneran masalah ini jadi kalau gasuka gausah lanjut baca. *galak

saya lanjutin buat ngeluapin ganjelan ati aja,

Saya udah mikir masalah pendidikan bahkan saat DD belum sekolah dan mungkin baru usia 2 tahun. Boleh dibaca di sini dan juga cara kami memulainya di sini. Di usia awal saya mikir mau masuk sekolah usia berapa, TK atau RA (bagi yang belum ngerti, TK pakai kurikulum Diknas sedang RA pakai kurikulum Depag). Sudah dapat sekolah yang pas dengan usia masuk dan kondisi yang pas, lalu mulai mikir lagi nanti SD nya gimana2.

Nanti kalo udah SD pasti mikir lagi SMP, SMA, dan kampusnya. Ya iyalah, tapi itu nanti2. Yang sekarang aja dipikir dulu, buat pondasi ke depannya biar lebih terarah.

Mau SD kurikulum apa?

Kebetulan saya masih nasionalis jadi saya kepengen yang Diknas aja. Melihat basic saya dan suami yang juga jebolan SD negeri, saya belum belajar juga untuk mengenali MI lebih jauh lagi. Jadi diputuskan sementara saya masih pengen SD kurikulum nasional. Meskipun saya sangat tertarik dengan MI istiqlal. Sementara saya masih ingin mengatasi keinginan saya untuk membekali DD dengan pelajaran agama lebih dalam melalui SDIT aja. Tapi ini masih berseliweran di kepala saya akhir2 ini, karena adanya SDIT yang bisa jadi bakal sekolah DD masih belum benar2 pas di hati.

Kenapa belum pas?

-Lokasi

ini yang paling penting. Maunya sekolah DD itu dekat dari rumah, jadi DD ga akan jadi cape di jalan. Cukup kami orangtuanya aja yang tepar. Tapi maunya juga sekolah DD ga jauh dr kantor kami jadi kami masih bisa antar pas pagi dan jemput pas pulang sekolah di jam makan siang kami. Jadi, sekolah DD maunya searah dengan kantor kami. Nah ini yang belum ada, tapi nantinya bisa diusahakan dengan cari rumah yang dekat dengan sekolah DD. Bisa. Kontraktor mah bebas.

-Ekskul

ini penting juga buat saya. Saya dan suami kerja dari pagi sampai sore, jadi maunya kegiatan DD dari pagi-sore juga diisi oleh hal-hal yang bermanfaat. Kalau sekarang sih masih santai, banget. Sekolah juga masuk cuma 3 kali seminggu, masing-masing 2,5 jam aja. DD masih bisa main bebas, tidur siang, dan eksplorasi suka-suka dia. Saya ga jadwalin, beneran saya bebasin. Tapi saya sudah merencanakan akan adanya progress di tiap tahun tumbuh kembangnya. Misal, nanti pas TK A sudah masuk 5 hari dalam seminggu, jam sekolah nambah sejam jadi 3,5 jam. Terus TK B selain 3,5 jam kali 5 hari dalam seminggu, dia juga kemungkinan akan saya ikutkan ekskul 2-4 hari dalam seminggu @1 jam jadi dia akan beraktivitas di sekolah selama 4,5 jam sehari.

TPA gimana sis?

Saya produk SD negeri dan TPA. Dulu, saya TPA mulai kelas 2 sampai kelas 4. Pulang sekolah saya sampai rumah sekitar jam 1 siang, dan mulai TPA jam 1/2 2 sampai jam 4 sore. Dalam 2 tahun itu, saya belajar mulai dari iqra 1-4, lalu ada pelajaran seperti fiqih, tarikh, dan lainnya yang saya ga hafal apa nama pelajarannya. Setelah lulus iqra, saya mulai masuk ke kelas gharib di mana saya belajar tajwid dan memperbaiki hafalan Al Qur’an. Saya merasa bahwa materi TPA saya saat itu cukup baik sebagai bekal saya setidaknya mengenal dan membaca Al Qur’an. Dan saya tidak tahu apakah TPA masih seperti itu pola pengajaran dan pembelajarannya. Di sisi lain, terkadang saya masih merasa bahwa apa yang saya pelajari dari TPA masih kurang banyak untuk bisa dijadikan bekal yang layak. Saya ingin lebih, dan saya ingin anak saya mendapatkan lebih. Dengan sistem SD negeri – TPA yang terpisah, saya merasa penerapan ilmu keagamaan dari TPA menjadi sangat kurang, apalagi di SD yang jam belajarnya justru lebih lama daripada TPA. Maka, saya ingin SDIT yang saya harap lebih bisa menerapkan pengajaran dan pembelajaran Islami lebih kuat dari sekedar gabungan SDN-TPA.

Balik lagi ke masalah ekskul, SDIT yang saya incer ekskulnya masih minimalis. Sementara ada SD Negeri yang juga menggoda dengan kegiatan ekskul yang melimpah dan sudah terbukti berjalan lancar. Ekskul apa sih yang diinginkan?

Yang selain pelajaran.

Ekskul buat saya harusnya jadi sarana anak mempelajari skill lain selain keilmuan dan akademis. Ini wujud perbaikan dari saya yang jaman SMA disuruh ikut ekskulnya karya ilmiah sama orangtua, yang ga berjalan lancar karena saya bosan setengah mati. Saya dulu seneng banget pas SMP ada ekskul menari tradisional. Ekskul should be refreshing your mood from study. Belajar di sekolah itu capek, dan ekskul adalah penawarnya.

Sekolah itu waktunya olah pikir. Ekskul itu waktunya olah raga, olah jiwa, olah seni. Makanya, saya pengen masukin DD ke ekskul yang mengeksplor semua (kalau bisa) kemampuan inderanya. Menari, olahraga (renang, senam, bola, bela diri, whatever you name it), musik (piano, gitar, biola), olah vokal (paduan suara, dulu saya ikut padus di jaman kuliah dan saya suka banget padus ini), dan kalau memungkinkan, bahasa.

Saya tahu saya emak yang banyak mau tapi ini karena saya sendiri pun sebagai individu adalah individu yang banyak mau juga. Toh, selama masih masa belajar, semua bisa dipelajari nanti tinggal mana yang sesuai minat itulah yang digali lebih dalam lagi dan diseriusi.

Sekian tumpahan kegalauan saya untuk saat ini. Semoga nantinya Allah memudahkan untuk saya mendapatkan apa yang pas tanpa saya harus galau lama2. Karena rejeki itu ga ke mana, rejeki itu ga akan tertukar, dan Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi hambaNya.

Karena apa? Karena ini:

screenshot_2019-01-22-13-03-51-805_com.instagram.android
source: ig efs.store

Ada aamiiin?

Ast

 

Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

Saya sebenernya agak ga pede mengangkat topik ini, karena merasa ga pernah benar-benar serius mempersiapkan DD masuk sekolah. Saya cuma merasa, proses sekolah DD dari awal sampai sekarang, sudah 4 bulan masa sekolahnya, cenderung mudah dan tanpa drama. Maka saya merunut mundur, mengingat-ingat, kira-kira di tahap mana DD mulai siap secara psikologis untuk sekolah sampai akhirnya saya berani melepas DD untuk bersekolah di tempat yang sekarang.

Awalnya, DD itu anak rumahan bangeet. Yang saya ga bolehin keluar main karena menurut saya belum waktunya DD bersosialisasi, yang masih ingin saya tanamkan dulu nilai-nilai personal yang saya ingin dia anut. Yang saya kuatir dia belum bisa kontrol tangan jadi masih kasar. Yang saya kuatir dia belum masanya berbagi karena belum mengenal konsep kepemilikan.

Baca juga: Tentang Berbagi

Maka ada masanya, di umur 1,5-2 tahun, pas saya masih LDM sama suami, DD itu sangat pemalu. Pemalu yang kalo kami ajak main di taman, dia papasan sama anak lain, DD akan memilih memutar dan menghindar dari bertemu teman sebaya. Pemalu yang kalau bertemu sama orang asing tanpa disounding bahwa akan bertemu orang asing terlebih dulu, maka DD akan diam seperti shock atau mencerna situasi, ini bisa berlangsung sampai belasan menit, lalu kalo sudah ga kuat bakal nangis kejer sampe saya bawa masuk ke dalam, ke zona aman dia. Karena kalo DD ketemu orang yang sudah agak familiar ya sebenernya dia baik-baik saja kok.

Nah, setelah saya cermati bahwa DD punya kecenderungan pemalu dan menghindar seperti itu, saya bilang ke suami (setelah selesai LDM) buat lebih sering berinteraksi sama DD. Karena kedekatan dengan ayah kan mempengaruhi kepercayaan diri seorang anak. Ada pendekatan-pendekatan dan karakter kelelakian yang hanya bisa DD dapat dari ayahnya dan bukan dari saya. Kalau dari figur laki-laki pengganti ayah misal kakek atau pakdhe/om sih saya ga tau ya, apa cukup sebagai pengganti atau ga. Kalo saya sih, toh LDM udah selesai, jadi secara frekuensi ketemu yang tadinya seminggu sekali bisa setiap hari yaudah dimanfaatkan sebaik-baiknya. 😀

Setiap pagi, suami berangkat kerja pukul 07.30. Saya minta suami mengajak DD main di pagi hari, seringnya waktu itu mulai jam 06.15-07.00, jadi ada 30-40 menit DD main bareng ayahnya saja. Mainnya di RPTRA dekat rumah. Kadang saya ikut, tapi ga sering, beneran itu quality time di pagi hari buat DD dan ayahnya saja. Di situ, DD dan ayahnya kadang main bola, kadang lari2an aja, kadang keliling lapangan aja, kadang naik turun tangga, kadang main lempar tangkap bola. Itu buat latihan motorik kasarnya.

Kadang juga mengamati lebah yang sedang menghisap madu di bunga di taman, belajar mengenali tanaman dan bunga cabe, main pasir, buat observasi dan pengenalan lingkungan. Kemudian akhirnya, ngikutin anak2 SD yang mau berangkat sekolah 😀

Dari yang tadinya DD menghindar dari teman sebaya menjadi tertarik dan berani ngikutin kakak yang mau sekolah. Ngikutin itu ya jalan di samping atau belakang kakak itu, terus dadah2 sama mereka sampai mereka ngilang di balik gerbang sekolah. Terus diajak ayahnya nonton kakak lagi upacara di lapangan sekolah. Terus di beberapa kesempatan, sekilas aja saya dan ayahnya mengenalkan itu TK, DD bisa sekolah di situ, DD mau sekolah di situ? saat kami melewati beberapa sekolah incaran saya buat DD.

Baca juga: Tentang Sekolah

Meskipun aktivitas persiapan mental ga disengaja ini udah kami mulai sejak usia DD 2 tahun 7 bulan, rencana idealis saya adalah menyekolahkan DD di usia 6 tahun (di jenjang TK B) sebelum lanjut ke SD. Siapa sangka akhirnya saya sekolahkan DD di usia 3 tahun 8 bulan di level playgroup, dan itu pun dia jadi murid tertua di kelasnya yang muridnya cuma 5 orang itu 😀

Jumlah murid di kelas juga menjadi pertimbangan saya sih. Seperti saat saya mencari daycare buat DD, saya cari yang jumlah anaknya ga terlalu banyak, supaya DD ga harus langsung beradaptasi dengan banyak orang.

Baca juga: Daycare

Di sekolah DD yang sekarang, jumlah murid playgroup ada 5 orang termasuk DD, TK A ada 9 orang, dan TK B ada 9 orang. Ketemu teman sesama playgroup 3 kali seminggu @2,5 jam, dengan kakak kelas dari TK A dan TK B dalam porsi yang lebih sebentar pada saat doa bersama atau assembly lainnya yang memungkinkan ketemu di ruang bersama yang lebih besar. Buat saya, saat ini, sekolah DD cukup dan memenuhi kebutuhan interaksi sosial DD yang masih butuh pendekatan intensif.

Cara sekolah ini membangkitkan minat anak pun menurut saya cukup smooth. Di hari pertama sekolah, ada pendongeng yang seru yang bikin minat anak2 langsung terpusat dan udah ga inget lagi sama orang tua yang pada nungguin mereka. Seingat saya, ga ada anak yang nangis minta pulang atau takut sekolah, ada yang takut dan ragu dan masih ditemani ibunya, tapi ga ada yang nangis. Dan sampai 4 bulan berjalan ini, DD selalu inisiatif mau sekolah, bahkan di saat hari seharusnya dia libur sekolah tapi ayah ibunya kerja, dia minta sekolah.

Alhamdulillah, saya bersyukur Allah mudahkan jalan hidup kami sampai sekarang. Kami yang diberi kesempatan membangun mental DD dari yang pemalu dan takut ketemu orang jadi cukup PD buat kenalan, tanya, “namanya siapa?” sambil ngajak salaman atau tos. Hampir setahun sih kalo diitung-itung dari mulai rutin main di RPTRA tiap pagi sampai DD betulan masuk sekolah. Terima kasih babah :*

dd school

Perjalanan masih panjang, semoga selanjutnya selalu Allah beri kemudahan dan kelancaran.

Yang mau lanjut persiapkan anak sekolah, semangat! Udah masanya SD2 pada open house ini, boleh disurvey mana yang cocok di visi misi dan di kantong 😀

Warm regard,

Ast ❤

Tentang Sekolah

Kapan baiknya anak mulai sekolah?

Deuh, pertanyaan basi yang jawabannya hanya orang tua anak masing-masing lah yang tau 😀

Hari ini, DD awal masuk sekolah. Ini jelas melenceng dari rencana awal saya bahwa ingin DD sekolah resmi hanya setahun sebelum SD, yaitu di tingkat TK B. Iya, saya mengamini pendapat psikolog terkenal itu bahwa jangan terlalu dini memasukkan anak ke sekolah, karena nantinya anak akan terkena sindrom BLAST (silakan googling) dan jenuh sekolah yang berakibat buruk di masa depannya.

Tapi idealisme selalu dibenturkan dengan realita, toh? Dan akhirnya memaksa kita berkompromi, atau mencari jalan tengah terbaik, asalkan bisa survive.

Jadi, meskipun saya merencanakan DD sekolah mulai TK B, yang itu adalah 2 tahun lagi, sebenarnya saya sudah sering sounding tentang sekolah sama DD. Saya sudah ngincer beberapa sekolah yang kira-kira bakal jadi calon sekolah DD. Dari yang basis islam di belakang kantor di deket masjid, yang di ujung jalan rumah yang pakai metode montessori tapi ga basis islam, ra deket masjid di (agak) deket dari rumah, sampai tk yang semi sekolah alam yang agak melipir dan melenceng dari jalur rumah-kantor. Sudah ada 4 calon ya, dan saya sudah survey kasaran nominal biaya masuknya beberapa dari sekolah itu.

Kasaran, karena saya masih mau persiapan. Kalau mau pendidikan yang bagus, ya biar saya nabung dulu, biar ga berat2 amat. Karena meskipun jenjang sekolah “baru” TK, tapi ini adalah pondasi untuk ke jenjang berikutnya. Ada TK yang satu yayasan dengan SD jadi lulusan TK itu jelas lebih diprioritaskan untuk masuk SD yang diincer. Misal, TK Attaqwa dengan SD Attaqwa, RA Istiqlal dengan MI Istiqlal, TK Al Azhar dengan SD Al Azhar. Apa saya mau masukin DD ke sekolah2 itu? Sebagai orang tua, ya pengen ya, anak masuk sekolah terbaik. Meskipun kalau lihat biaya sekolah dan biaya sosialnya, kayanya saya mundur teratur aja deh, hahaha… Sekolah yang menyediakan ga cuma pendidikan berkualitas atau sevisi dengan orang tua, tapi dari berbagai sumber tentu kita tahu bahwa sekolah jaman sekarang juga jadi sarana mengembangkan jaringan.

Makanya saya ingin sekali membantu DD dengan cara yang saya bisa, yaitu dimulai dengan memilihkan sekolah terbaik sejak dari jenjang termuda sekalipun. Goal saya sih SD ya, tapi liat nanti deh jadinya di mana karena sampai sekarang saya belum pasti juga mau sekolahin DD di mana.

Semua keputusan impulsif akhirnya menyekolahkan DD di usia 3 tahun 8 bulan ini dimulai tentu sejak pengasuh yang saya ceritakan di sini

Setelah akhirnya memantapkan diri dengan pengasuh tetangga sendiri yang pulang pergi, saya memikirkan untuk memasukkan DD ke sekolah, dengan berbagai pertimbangan. Utamanya sih supaya DD bisa lebih luas pergaulan dan wawasannya ga di rumah aja, supaya pengasuhnya bisa fokus ke kerjaan RT saat DD sekolah, dan supaya saya sebagai ibu bekerja lebih tenang karena DD sudah saya bangunkan komunitas pendukung yang lebih solid. Win win solution lah buat kondisi yang tidak ideal yang kami alami ini.

Dan balik ke cerita di atas, saya sudah ngincer beberapa sekolah. Itu DD juga saya sounding sambil mampirkan ke lokasi sekolah-sekolah itu. Nanti DD sekolah di sini, mau? Dan untuk ke-empat sekolah itu, jawabannya selalu mau 😀 Jadi karena anaknya juga mau, beneran seminggu sebelum sekolah mulai saya baru masuk dan tanya ke satu sekolah terdekat dari rumah kami. Iya, cuma satu, dan prioritas saya cuma DD bisa sekolah dekat rumah. Dan prosesnya cepat sampai saya daftar, bayar, dapat seragam, beli keperluan, dan pagi ini mengantar anak saya yang pertama itu sekolah.

Rasanya: ngawang-awang.

FYI, DD sekolah preschool ini di usianya yang 3 tahun lewat 8 bulan dan di kelasnya dia sudah jadi yang tertua 😀 saya jadi sungguh takjub bahwa orangtua jaman sekarang memang betulan memasukkan anaknya sekolah di usia dini. Saya sambil berdoa dalam hati semoga DD betulan enjoy dan ga tertekan. Meskipun saya sendiri adalah produk sekolah usia muda juga, hehe.. Tapi kalau dilihat tadi, DD senang main, excited dengan pendongeng, pas kami pamitin cuma dadah2, ga mau saya cium tapi milih cium saya, dan memang ga nangis sampai pulang. Well, semoga memang sudah siap sekolah.

Semoga ga galau lagi ❤

Ast.

 

[Review] Chike Daycare Jakarta Pusat

Postingan yang relevan buat emak2 sehabis lebaran. Karena siapa yang bisa memastikan pengasuh anak mau balik atau ga setelah lebaran? Survey ini saya lakukan saat bulan puasa kemarin, pas jam kantor kebetulan selesai lebih awal, jadi saya dan suami bisa keliling survey daycare dan preschool buat DD. Kenapa? Karena pengasuh yang selama ini saya percaya memutuskan untuk rehat (ga tau sampai berapa lama) untuk pengobatan, jadi selain cari pengasuh baru saya juga jaga2 survey tempat penitipan anak, just in case. Yang saya cari adalah tempat penitipan anak di Jakarta Pusat biar searah sama kantor.

Chike Daycare dan Preschool ini adalah daycare yang pertama saya tanyakan ke temen kantor, karena kebetulan 2 anaknya dititipkan di Chike ini. Saya mulai dari tanya2 ke temen itu trus cari reviewnya di google, dapet kontaknya dan tanya2 lewat wassap sampe akhirnya cek lokasi.

So, ini review singkat Chike Daycare:

  1. Lokasi

Chike ini lokasinya di Jl. Komplek Cempaka Putih Indah No.71 Kelurahan, RT.4/RW.6, Cemp. Putih Bar., Cemp. Putih, Kota Jakarta Pusat. Ini komplek perumahan yang lumayan lengang dan sepi, jadi lingkungannya sebenernya bagus buat anak2. Dan memang Chike ini baru pindah ternyata, jadi sebelumnya lokasinya di matraman, terus ke tempat yang sekarang, dan kata kepala sekolahnya nantinya akan pindah lagi ke yang agak lebih dekat ke jalan raya supaya bisa pasang plang dan pasang mainan2nya. Oiya, karena tanpa plang dan mainan di depan memang ga keliatan kalo ini daycare, beneran kaya rumah biasa. Selain nomor rumah, yang waktu itu bikin saya dan suami yakin buat ngetok pintu adalah adanya beberapa pasang sepatu kecil dan suara anak2 kecil.

2. Kondisi

Bangunan rumah biasa, ada teras di depannya. Begitu masuk ada rak buku tapi isi bukunya ga terlalu banyak. Ada 2 lantai, lantai 1 untuk kelas, ada kelas bayi, preschool, TK, dapur, dan kamar mandi. Lantai 2 untuk ruang tidur anak (gabung laki2 dan perempuan), ruang suster dan kamar mandi pengasuh. Tangganya yang bikin saya agak jiper, karena tangga besi tanpa penutup di lantainya. Tapi kata temen saya yang 2 anaknya di Chike, anak2 beneran dijagain supaya ga naik turun sendiri. Intinya sih, temen saya itu beneran udah percaya sama mbak2 pengasuh karena udah 2 tahunan nitip anak, dan 2 pula ya kan.

Ga ada halaman belakang, ya beneran halamannya cuma di depan aja. Ga ada mainan2 ala daycare karena ternyata di perumahan itu ga boleh untuk tempat usaha jadi ga dipasang deh. hm, sedih kan di daycare ga ada mainan buat fisiknya.

3. Rasio caregiver : anak

saya agak lupa, tapi kayanya 1:3 untuk bayi dan 1:4 untuk toddler. Tapi yang saya tanyain waktu itu untuk anak usia DD sih, yang daycare ada 6 orang rentang usia dia, jadi saya ga masalah karena menurut saya itu cukup. Anak lelaki pun ada 3 jadi ya imbanglah anak lelaki dan anak perempuan seumur DD.

4. Jadwal Harian

Pagi sekolah (preschool dan TK) jam 8-11. setelah itu daycare sampai jam 18. Anak2 diantar jam 7 juga bisa.

8.00 masuk kelas

10.00 meal time

12.00 mandi+makan+tidur

15.00 bangun tidur, main

15.30 mandi+ makan

16.00 main dan nunggu dijemput

5. Mandi

mandi pisah lelaki dan perempuan

6. Makan

2 kali, makan siang dan sore, snack dan susu bawa sendiri, 2 kali juga. Jadi anak harus sarapan dr rumah, atau kalau laper nanti jam 9-10 dikasih snack (yang bawa dari rumah juga)

7. Tidur

tidur di kamar atas, gabung lelaki dan perempuan cuma hadapnya berkebalikan.

8. Lain-lain

selain kegiatan rutin ada fieldtrip (dengan atau tanpa ortu), pemeriksaan rutin ke RS Tambak, imunisasi yg gratis Chike yg koordinir ke rs anak rscm, acara tahunan kaya pentas seni dan wisuda. Tiap Jum’at ada latihan motorik (jadwal olahraga), rabu jadwal pelajaran agama, trus ada kelas insidental misal cooking class, anak juga diajarin melipat baju sendiri.

9. Biaya

Uang pangkal 3 juta (karna DD usia 3,5 th, masuk preschool. kalau dari usia yang lebih muda kayanya beda lagi).

Uang kegiatan 2 juta/tahun

Uang bulanan sekolah + daycare 1,550.

Trial free.

Kalau mau liat lebih jelas bisa lewat  IG Chike Daycare & FB Chike Daycare Preschool.

Kalau mau tanya2 bisa lewat WA: 085215779101

Baca juga:

review Indonesia Ceria Daycare

[Review] Maffna Daycare

The Other List

Ditunggu ya. ❤

Update per Agustus: jadi ternyata Chike ini sudah jadi pindah, cuma saya ga pernah survey langsung ke tempat yang baru. Boleh dibilang tulisan saya terkait kondisi bangunan jadi ga relevan lagi. Tapi untuk biaya dan jadwal kegiatan mungkin masih bisa jadi acuan. Untuk lebih detail dan terkini mungkin baiknya langsung kontak lewat WA di atas, atau cek di ig dan fb nya aja. Terima kasih! 😀

38726102_1095977713892046_8335022811194064896_o
source: FB Chike Daycare Preschool