Tentang LDR

Peringatan: postingan ini sifatnya personal, dan bakal jadi postingan yang panjang, jadi kalau yang ga berkenan silakan gausah lanjut baca.

You’ve been warned.

LDR (long distance relationship),

atau kalau sudah nikah, pasutri lebih seneng nyebutnya LDM (long distance marriage). Lebih halal, wkwk. Sebenernya saya pas masih lajang sempet mikir, mudah2an ga perlu menjalani LDR, karena, di mana esensinya memiliki relationship tapi jauh2an? Apalagi waktu itu awal2 twitter booming dan isinya twit galau tentang ldr ini. Sempet liat pula saudara yang pacaran ldr dan kok males ya liatnya. Saya baca twit galaunya aja udah trauma duluan, wkwk. Dan saat remaja, orangtua saya sempat menjalani ldm juga selama 2 tahun dan lumayan ngasih dampak ke saya, well jadi saya yang beginilah, wkwk..TAPI, lagi-lagi saya emang suka kualat sama omongan saya. Saya malah jadian sama temen deket yang lokasinya ada di seberang lautan dong. Saya di borneo dia di andalas. Dan cerita ldr saya dimulai saat itu.

Singkat cerita, ldr saya ga terlalu lama, sekitar 14 bulan, karena saya dan dia sama-sama akhirnya bisa pindah ke jawa lagi. Terus 2 bulan kemudian kami menikah. Saya kira, cerita ldr kami ya selesai cuma pas itu aja. Ternyata, setelah menikah, malah kami memilih untuk melakukan LDM. Iya, jadi melakukan LDMnya dengan pilihan, artinya sebenarnya ada opsi lain untuk ga LDM tapi ga kami ambil, dan dengan sadar lebih memilih LDM.

Kondisinya, 2 tahun setelah menikah. DD sudah berumur 9 bulan waktu itu. Suami baru saja menyelesaikan pendidikan dan kembali ke kantor, mendapatkan penempatan di salah satu perwakilan di provinsi (yang artinya bukan kantor pusat). Penugasannya ya di wilayah provinsi itu. Ada yang bisa ditempuh sehari, pulang pergi, ada yang harus sampai menginap di lokasi. Dalam penugasannya, dia sering memaksakan untuk pulang setiap hari, karena di rumah cuma ada saya, DD, dan pengasuh. Sebenarnya mungkin suami bisa memilih menginap, tapi dia berkeras untuk pulang, meskipun itu artinya dia sampai di rumah sudah malam dan harus berangkat lebih pagi keesokan harinya. Dan DD jaman bayi itu sangat mengidolakan ayahnya (kalo sekarang kebetulan lagi emaknya πŸ˜€ ), dan DD akan selalu menunggu ayahnya pulang, semalam apapun itu. Dan ekspresinya saat ayahnya pulang, bahagia tak terkira.

Anak bayi, rela begadang nungguin bapaknya pulang.

Saya melas. Saya trenyuh. Kasian sama DD, kasian sama bapaknya. Dan kekhawatiran saya menjadi kenyataan saat akhirnya suami ambruk, dia sakit terkena gejala tipes. Karna kecapean kan. Dan di saat bersamaan, pengasuh DD minta ijin pulang kampung karna suaminya kecelakaan. Oke, saya istri yang suaminya lagi sakit masa tega menahan istri lain yang suaminya kecelakaan? Jadi saya ijinkan pengasuh itu pulang kampung, dengan syarat cuma seminggu, karena tenaga bantuan yang saya pinjam cuma bisa untuk seminggu.

Deal.

Sampai saat seminggu kemudian, pengasuh itu ga respon saat saya kontak. Khas banget kan ya. Drama pengasuh akhirnya saya hadapi. Kelimpungan lah saya. Suami masih sakit, tenaga bantuan ga ada, ada DD dan suami yang butuh saya, dan kantor yang juga jadi tanggung jawab saya ga cukup banyak alokasi cuti atau ijin yang terus-terusan.

Saya desperate. Marah dan tidak berdaya sekali waktu itu rasanya. Merasa sendirian. Pikiran pendek, takut suami kenapa-napa, lalu saya dan DD bagaimana, dsb. Lalu saya berpikir bahwa saya tetap harus bisa survive, meskipun pahit rasanya. Alhamdulillah tenaga bantuan baru bisa dipinjam untuk seminggu. Tapi keputusan baru sudah saya buat, bahwa saya harus bisa mandiri dan tidak tergantung kepada siapapun. Dan saya harus mendidik DD untuk bisa bertahan juga.

Di kantor, ada penawaran beasiswa melanjutkan pendidikan. Atasan langsung saya sudah mendorong-dorong saya untuk ikut sejak setahun sebelumnya, melanjutkan pendidikan saya yang sempat terhenti. Tapi saya masih belum berminat, karena saya masih menikmati kehamilan dan melahirkan (periode beasiswa batch 1), dan menyusui serta menjadi ibu baru (periode batch 2). Lalu ada bukaan batch 3, dan saat itulah saya secara impulsif mendaftar. Karena saya mau survive. Karena saya ingin mendidik DD untuk bisa survive juga.

Ada beberapa kampus yang menjadi tempat penerima beasiswa. Ada yang berada di kota yang sama dengan kota domisili saat itu. Ada yang berada di kota lain. Di kota yang berada di kota domisili, permasalahan saya bukan cuma masih adanya kebutuhan terhadap pengasuh, tapi juga suami masih bisa melanjutkan pola kerja lamanya yang berisiko dia ambruk lagi. DD masih punya risiko jadwal harian yang kacau. Dan ada satu kampus yang berada di kota tempat kakak saya tinggal. Saya memilih itu, menjalani ldm dibanding sekota dengan suami. Kenapa?

  1. DD mendapat support system baru, yaitu keluarga kakak saya. Adanya pakdhe akan menjadi figur laki-laki dewasa dalam hidup DD. Adanya budhe juga buat ketenangan hati saya kalau harus ninggalin DD buat kuliah. Ada yang mengawasi dan menyayangi DD selain pengasuh yang menjaga.
  2. Ada opsi lebih banyak untuk supply pengasuh. Di daerah, pengasuh bisa dipilih yang pulang pergi atau menginap. Kalaupun pulang pergi, jumlahnya lebih banyak dibanding di Jakarta. Dan kembali ke poin 1, ada budhenya yang ikut mengawasi DD.
  3. Jadwal ayahnya untuk menengok DD lebih jelas. Pengorbanan memang lebih besar di pihak suami, yaitu dia sendirian di Jakarta, tanpa support system terbesarnya. Masih harus melakukan perjalanan setiap weekend. Menjadi bagian dari PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Tapi urusan ini saya serahkan betul-betul kepada Allah Yang Maha Menjaga.
  4. Saat libur kuliah, saya bisa full liburan di Jakarta dengan DD, menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Di akhir masa kuliah, saya hitung-hitung ternyata selama masa tugas belajar 2 tahun itu, saya mendapat waktu libur sampai 11 bulan. Hampir setahun. Itu adalah waktu yang sangat besar untuk pegawai macam saya.
  5. LDM ini saya tahu jelas kapan berakhirnya. 2 tahun. Tidak berkepanjangan. Tidak selamanya.
  6. Kota itu lebih mudah dijangkau untuk eyang kakungnya DD dan mbah kakung-mbah putrinya. Ini alasan ya lumayan ngaruhnya sekian persen aja sih, tapi ini dukungan moril yang bagus buat DD loh, kalo sering ditengok orang-orang yang sayang sama dia. It needs a village to raise a child, no?
  7. Ikut beasiswa memberi dampak yang lumayan baik untuk karir saya. Saya ga ambisius dengan karir, tapi juga ga mau tertinggal. Yang wajar-wajar ajalah. Karna satu dan lain hal, karir saya ada ancaman terhambat di masa depan kalau saya bertahan di posisi saya waktu itu. Dan sebagai hasil pikiran pendek saat suami sakit, saya ga mau kalau saya istilahnya sampe terlunta-lunta gitu loh, maka saya harus punya karir yang cukup untuk bisa survive. Ikut beasiswa adalah langkah saya mengejar ketertinggalan waktu itu.
  8. Saat dicoba, alhamdulillah ternyata saya lulus. Karena semua pertimbangan di atas jadi tidak ada artinya kan kalau ternyata saya tidak lulus beasiswanya.

Maka, dengan ridho suami (walaupun sempat galau), akhirnya saya memboyong DD ke kota satria untuk melanjutkan pendidikan. 2 tahun dengan segala ups and downs nya alhamdulillah sudah terlalui. DD memiliki hubungan yang dekat dengan pakdhe dan budhenya, juga eyang kakung dan mbah2nya. Saya pun, di mana orang bilang, hubungan persaudaraan itu teruji setelah masing-masing berkeluarga dan berumah tangga. Saya bersyukur telah memilih jalan ini.

Every cloud has a silver lining. Ada hikmah di balik setiap musibah. Suami sakit, ditinggal pengasuh, merasa sendiri dan tidak berdaya, telah menuntun saya untuk mengambil pilihan LDM dengan suami, mengikuti pendidikan di kota lain. Saya bisa menikmati masa libur dengan menjadi IRT sejati di tengah masa pendidikan saya. DD di awal hidupnya didukung oleh support system yang stabil dan terjaga. Karir saya lebih stabil dan aman. Semua ini tidak lepas dari dukungan keluarga besar, ridho suami, dan tentu, ijin dari Allah yang Maha Kuasa.

Sekarang, saya penempatan satu kantor dengan suami. Pulang pergi ke kantor bersama. Hal yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali. Dulu saya kira, sekantor dengan pasangan akan sangat membosankan. Tidak ada variasi, bertemu dengan hal yang sama dan monoton, itu-itu saja. Ternyata setelah menjalani, tidak. Saya masih excited setiap suami menjemput makan siang ke ruangan. Saya siap dengan berbagai cerita di ujung hari saat berboncengan motor pulang ke rumah. Kami masih punya bahan obrolan menarik, di rumah, di kantor saat makan siang, saat di perjalanan pulang-pergi, selama di kantor lewat wassap. Bahkan lebih menyenangkan karna sekarang dunia kami sama, pemahaman datang lebih cepat karena ga butuh banyak usaha untuk menyamakan persepsi. Ini adalah hal-hal yang tidak pernah saya duga.

Jadi, itu cerita ldm saya. Pernah, dan tidak ingin mengulang. Tapi jika suatu saat dihadapkan pada kondisi di mana ldm adalah pilihan terbaik, ya apa boleh buat. Tapi tentu, kompensasinya harus sepadan. Dan ada syarat-sayart misalnya, harus tahu batas waktunya sampai kapan. LDM yang jelas lebih baik dibanding yang ga jelas (ga elit banget quotenya, mbak). Karena buat saya, berkumpul bersama keluarga selalu lebih baik dibanding terpisah (yaeyalah).

Terima kasih sudah membaca ❀

Tentang Merokok

Sekitar tahun 2010, seorang teman baik bertanya, bagaimana pandangan saya terhadap seseorang yang merokok. Saya jawab, silakan, asal jangan dekat-dekat sama saya. Saya ga tahan sama asap dan baunya, dan kebetulan saya dibesarkan di keluarga tanpa rokok. Dalam artian, bapak dan mas (kakak lelaki) saya ga merokok. Terus temen baik saya (yang perokok itu) bertanya, gimana kalau nanti “mas” (suami) saya adalah seorang perokok. Saya jawab, saya ga pengen nikah dengan perokok.

Tiga tahun kemudian, di 2013, saya menikah dengan teman baik saya itu, yang seorang perokok. *tepokjidat

Di 2012, awal masa saya berkomitmen dengannya, saya sempet curhat ke temen baik saya yang lain. Dan teman baik saya itu di salah satu sarannya, menanyakan apakah saya bisa membawa pengaruh baik ke temenΒ pasangan, misal membuatnya berhenti merokok. Jujur waktu itu saya mengernyitkan dahi, merasa, siapa gue kok baru jadian udah mau ngubah2 orang segala, dan waktu itu, ya saya mau berkomitmen dengan dia karena sudah lewat dari masa “saya suka kamu karena … ” tapi “saya suka kamu walaupun ….” .

Jadi begitulah, di masa pra pernikahan, merokoknya pasangan bukan suatu issue besar, karena dia adalah seorang perokok yang lumayan bertanggung jawab, dalam artian dia masih lihat-lihat saya terganggu atau tidak, jadi saya masih bisa tolerir dan berkompromi.

Setelah menikahpun, saya masih belum terganggu dengan kebiasaan merokok suami. Apalagi mengetahui kebiasaan merokoknya lebih karena kultur lingkungannya. Orangtua dan keluarga dekatnya perokok semua. Mau bagaimana lagi, pikir saya waktu itu.

Saya tidak ingat kapan tepatnya saya mulai sering terganggu dengan kebiasaan merokoknya. Suami sudah tidak pernah merokok baik itu di depan saya, di dalam rumah, maupun selama menemani saya mudik ke rumah orang tua. Dia bisa menahan diri dari merokok. Lalu saya mulai terusik, kalau bisa tahan, kenapa ga dilanjutin menahan diri lebih lama? Dari 2 hari menjadi seminggu, menjadi sebulan, dan seterusnya? Apalagi, terus terang dengan bertambahnya kedewasaan dan usia hubungan kami, kepedulian untuk kelangsungan hidup dan masa depan menjadi jauh lebih penting. Saya mulai melihat dengan visi yang lebih jelas. Saya ingin suami yang lebih minim risiko kesehatannya. Saya ingin suami yang selalu harum ga perlu ribet cuci tangan sampai keramas sebelum mendekati saya karena saya terganggu dengan bau asap rokok yang menempel di tubuhnya.

Apalagi kemudian saya hamil dan mempunyai anak. Tingkat kepedulian saya meningkat drastis. Untuk anak terutama. Saya benar-benar menjadi emak macan yang galak kalau itu adalah hal yang berhubungan dengan anak. Saya yang sempat menjadi dominan plegmatis yang cinta damai dan yaudahlah ngalah aja, jadi lebih asertif dan jika diperlukan, agresif. Saya ga segan “menyerang” orang dengan meminta mereka mematikan rokoknya jika kebetulan saya dan anak lebih dulu berada di tempat umum dan mereka perokok itu datang belakangan ngebulin asap. Hohoho, ga bisa, jauh-jauh dari anak saya. Saya meminta suami mengingatkan adik lelaki dan ayahnya jika kebetulan mereka habis merokok dan ingin menyentuh anak saya. Dan saya lebih intensif meminta suami berhenti merokok.

Tapi sejatinya perokok adalah orang yang kecanduan, dan orang yang kecanduan adalah selemah-lemahnya orang yang ga berdaya baik mental maupun fisik untuk mengalahkan kecanduannya. Maka butuh upaya besar baik dari si pecandu sendiri maupun lingkungan terdekatnya untuk lepas dari biang candunya, dalam hal ini rokok.

Jadi begitulah…

Suami mulai merokok di sekitar 2003, dan dia menikah dengan saya di tahun 2013. 10 tahun itu bukan masa yang singkat untuk menghilangkan sebuah kebiasaan dalam sekejap. Tapi, alhamdulillah, sejak tahun 2017 (empat tahun setelah menikah), sampai sekarang, suami sudah tidak merokok lagi. Sudah setahun lebih, dan saya sangat bersyukur karenanya. Dan berdoa semoga dia tidak sampai menyentuh rokok lagi dengan alasan apapun.

Setahun berhenti merokok itu masih cetek lah, saya tahu orang yang sudah 3 tahun berhenti merokok pun bisa balik merokok lagi, jadi perokok berat lagi. Makanya saya ga ingin terlena dan jadi jumawa. Banyak orang (perempuan) yang merasa bisa membuat pasangannya berhenti merokok adalah suatu pencapaian, semata kehebatan dia sebagai pasangan. Apa iya? Saya mengalami sendiri bahwa berhentinya seseorang dari kebiasaannya merokok adalah sepenuhnya berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan yang menggerakkan suami untuk berkeinginan dan berkekuatan untuk berhenti merokok. Suami sayalah yang berusaha dengan kuat menahan semua “sakau”nya saat berhenti merokok, dan saya membanggakan diri di atas dia? Hahah minta ditampol itu namanya.

b457a37bc55afb612a33aae88a4e6c2c (1)
source: pinterest

Satu fakta yang harusnya sudah dimengerti oleh perempuan manapun yang sudah menikah: tidak ada yang bisa mengubah lelaki kecuali dia ingin mengubah dirinya sendiri πŸ™‚

Jadi, ya begitulah. Tulisan ini saya tulis sebagai pengingat saya dan semoga penyemangat juga buat suami, somehow kalau2 dia lagi khilaf pengen nyobain merokok lagi. Jangan ya, Babah. We love you so much that we don’t want you to have a risk we can’t cope with.

Ah, tulisan ini juga terinspirasi dari hastag #rokokharusmahal yang sempat berseliweran di twitter dan ig beberapa saat lalu. Saya setuju banget lah, kebijakan sesederhana apapun, asal itu bisa mengurangi misalkan hanya nol koma sekian persen dari potensi perokok, atau menjadi hambatan bagi kemudahan akses merokok, saya dukung.

“…bahkan menyingkirkan batu dari jalan adalah tanda dari keimanan…”

Sekecil apapun, ia berharga.

Jadi, dukung #rokokharusmahal.

Semangat wahai semua yang ingin hidup lebih sehat dan bersih dari asap rokok!

 

Bahasa Cinta

prince-harry-meghan-markle_759_ap2
source: indianexpress.com

Ehem, masih anget dengan ini? Iya, masih banyak bertebaran di timeline media sosial saya yang begini2, di ig dan di fb. Di twitter sih udah adem ya saya lihat. Yang di ig dan di fb rata-rata (masih) diisi dengan anjuran kepada perempuan untuk menghargai dirinya sendiri, karena siapa lagi yang akan menghargai kalau bukan diri sendiri? Dan kalau caranya benar, nantinya akan ada lelaki yang menghargai perempuan apapun statusnya, apapun masa lalunya, dan memperlakukannya dengan layak bagaikan putri. Atau, anjuran kepada lelaki-lelaki beristri untuk sering-sering memuji istrinya, karena perempuan manapun pasti akan meleleh dan bahagia kalau dipuji.

Hmmm…is that so?

Sebenernya sudah sejak jaman kapan kalau saya baca2 tulisan-tulisan semacam itu di medsos maka akan sekedar: baca, oh, gitu ya, *scrolling2* trus lanjut yang lain; atau: baca, *rolling eyes* *scrolling2*; atau: baca, *angkat bahu* *scrolling2*. Done.

I just let them go and I still continue my life as it is.

Terus, semalam pas lagi liat2 timeline twitter, ada semacam selebtwit yang mereferensikan link untuk menguji bahasa cinta apa yang orang-orang gunakan. Wow, apaan ini, saya yang lagi kumat isengnya tentu aja nyobain.

Sebelumnya dijelasin dulu sedikit deh ya,

Jadi, bahasa cinta itu ada 5:

  1. words of affirmation

singkatnya, ini adalah penghargaan, pengakuan, pujian. Orang yang bahasa cinta utamanya “butuh pengakuan” inilah yang menjadi target pasar tulisan2 perlunya pasangan memuji sering2 untuk membuatnya bahagia dan merasa dicintai. Kamu tukang gombal? Carilah yang meleleh kalo digombalin. Pasanganmu ngrasa seneng kalo digombalin? Gombal aja terus … pasangan hepi, rumah tangga hepi ❀ Gampangkah nyenengin tipe pasangan gini? Tergantung, kalo kamunya irit ngomong ya butuh usaha buat latihan gombal, kalo kamunya tipikal yang ga peduli atau ga butuh digombalin, ya sampe berbusa mulut pasanganmu memuji, sedikit doang yang nyantol dan efektif bikin bahagia.

2.Β acts of service

singkatnya, ini adalah memberikan pelayanan atau bantuan. Ga semua orang suka digombalin, ga semua orang bisa meleleh dengan pujian. Banyak cerita orang tersentuh setelah diberi pertolongan, padahal ga ada omong apa-apa. Tapi lagi ribet cuci piring trus pasangan bantuin bersih2, lagi hujan ga ada payung tiba2 disodorin payung (ini mah drama korea), naik motor turun motor pasangan bantu pakein helm dan pasangin kait (bukan karena ga bisa tapi karena memang romantisnya caranya gitu), itu juga salah satu bentuk bahasa cinta, loh. Ladies, yang peka, ya, karna 70% lelaki itu bertindak bukan bicara, bahasa cintanya ya memberi perlakuan istimewa bukan ngerayu ngegombal, kecuali yang sisanya atau sebagian kecilnya. Datanya dari mana, sis? Ngarang, tadi barusan πŸ˜€

3.receiving gifts

kamu suka dapet kado? melayang-layang kalo dihujani boneka beruang besar, dikasih coklat, dikasih pena, dioleh2in pasir pantai, potongan ranting, dsb? Nah, mungkin bahasa cintamu ya yang ini. Kamu merasa dicintai kalo diberi barang, sesimpel apapun barang itu. Salah? Siapa guee nyalah2in … nyatanya ada tipe orang kaya gitu, dan mungkin dari kecil begitulah orangtuanya membiasakan bahasa cintanya dengan pemberian. Btw, ada hadis nabi juga kok yang menyarankan untuk saling memberi hadiah untuk menunjukkan kasih sayang. So, kalau memang bahasa cintanya itu, ya sesuaikanlah dengan pasangan, karena sesungguhnya inti dari berpasangan adalah kompromi!

4.quality time

Ada orang yang merasa awkward kalo bareng tapi diem2an ga ngobrol, ga ngapa2in, sibuk dengan masing2. Ada yang merasa nyaman cuma bareng, yang satu liat hp yang satu baca buku, tapi intinya, asal bisa bareng. Ga penting ga ngapa2in, asal bareng. Itu, artinya bahasa cinta utamanya adalah quality time ini. Berat? Yang LDR pada ngacung. Eh enggak juga, karena quality time ga melulu harus ketemu. Toh, sekarang ada fasilitas chat, telepon, video call. Kamu bisa ngerjain laporan sambil telponan ditemenin suara dengkurnya di seberang sana (ciyan amat, sis). Kamu bisa masak bareng di penghujung wiken yang besoknya atau malamnya, pasangan segera harus naik pesawat atau kereta ke kota lain buat kerjaannya. Yang LDR, semangat ya, semoga segera dipersatukan. Ingat, LDR itu bisa, asal ada kejelasan batas akhirnya kapan bakal bareng lagi, bukan untuk selamanya.

5.physical touch

errrmmm, ini konteksnya bukan melulu seksual ya. Misal, pas boncengan naik motor, pasangan sering tiba2 elus2 tangan, pas lagi makan suka acak2 rambut, ndusel2, aduh yang LDR dalam hal ini memang paling nelangsa ya πŸ˜€ Tapi sering kan memang nemu orang yang tipikal nduselan gini. Di drakor sih :p Kalo di dunia nyata ya gampar aja belum apa2 udah ndusel2.

Soo, sudah penasaran mau nyobain buat tahu bahasa cintamu apa?

ini linknya:

5lovelanguages

silakan dicoba, ga lama kok, paling 15 menit isi kuis-kuis. Trus pasanganmu disuruh coba juga, bandingin, obrolin, kompromiin kalo kebetulan berbeda, dan selamat kalo kebanyakan sama. It can help to raise up our understanding level on each other.

sekedar berbagi, ini bahasa cinta saya:

lovelang

Nah, ternyata saya paling peka sama bahasa cinta acts of service. Paling gampang dibuat bahagia dan meleleh kalo dibantuin. Words of affirmation ada di level terendah. Ga heran ya, saya malah geli kalo digombalin. Atau kalo misal dipuji, “kamu cantik”, maka bukannya meleleh maka saya akan menjawab mantap, “I am” atau “I know” atau “ga, aku ga cantik, aku manis” #sikap #tahudiri #pede wkwkwk. Dan biar imbang, saya mau bagi juga hasil dari pasangan saya:

lovelangd

Nah, yang ini malah kebalikan wkwk, suami seneng digombalin, mungkin bagi saya receh atau sederhana semisal, “makasih ya babah, tadi nganterinnya ga telat” atau apa, tapi mungkin itu juga yang membuat dia merasa dihargai dan endingnya, hepi πŸ˜€ dan untungnya juga, pasangan ga menjadikan receiving gifts sebagai bahasa cinta utamanya, karena I’m a mess on giving gifts. Cucok ya.

Kalau kamu, apa? Share ya … πŸ˜€