Perpustakaan Nasional, checked!

Holaa.. Long time no posting ya..

Langsung aja deh ga usah kepanjangan basa-basinya. Weekend ini saya merencanakan main ke Perpusnas sama DD. Impulsif sih. Soalnya pas Jumat pagi kena macet pengalihan jalan karena ada sidang MK, kami lewat perpusnas yang di deket monas. Bukan yang di Salemba ya, ada juga soalnya perpus (kayanya nasional juga) tapi kami selama ini cuma lewat aja, belum tertarik masuk. Sementara perpusnas yang di monas ini dulu suami pernah masuk, pas sekolahnya DD ngadain acara terkait hari buku nasional. Yang pas ada lomba story telling dan kebetulan DD jadi juara itu hohoho #shameless #proudmom #masyaAllah #tabarakallah #takut’ain #bodoamat

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.10
halaman depan perpusnas

Udah sok braggingnya ala momambisius yang ngeselin tapi jadi idola emak2 kece semua?

Yaudah, pas Sabtunya, setelah mengalahkan kemageran yang luar biasa efek habis libur panjang lebaran (oiya, met lebaran semuaa…, salim satu2 sini!), berangkatlah kami ke perpusnas. Jam berapa sodara2? Jam 1 an dari rumah, alias habis dhuhur. Pas nyampe parkiran dari satpam sampe penjaga parkir udah ngingetin aja kalo hari Sabtu perpus tutup jam 4. Sampe sensi sayanya, nanya ke suami, emang ini udah jam berapa sih? masih jam setengah 2 juga, kenapa deh pada ribet.

Trus kami mulai deh keliling2. Buat DD dan bapaknya, itu kali kedua mereka. Buat saya, ini kali pertama. Iya, iya, udah berapa tahun di Jakarta baru pertama kali ke perpusnas, dan ngakunya hobi baca? Huh apaan, yaudah bodo amatlah… Udah bertahun2 saya toh ga beli buku buat saya sendiri, belinya buku buat DD aja wkwkwk. Jadi hobi baca sekarang sudah berganti menjadi kewajiban membacakan buku sebelum tidur, no?

Setelah keliling2 (dan foto2) di halaman perpus, masuk semacam museum gitu di gedung yang keliatan masih bangunan Belanda asli, baru deh kami mulai menuju lantai 7 buat khusus anak. Nah di sini ternyata peringatan bapak Satpam dan penjaga parkir mulai menunjukkan fungsinya. Maap2 ya Bapak2 udah ngata2in (dalam hati) ribet dsb. Soalnya ternyata ngantri liftnya lama pemirsaaa…. Lama bgt ampe kzl. Karena cuma ada 5 lift untuk 24 lantai dan pemakaiannya ga diorganisir. Mikir juga sih ya, gimana ngorganizenya. Tapi setidaknya di kantor pusat saya, dibedain gitu lantai ganjil genap, dan cuma ada 4 lift untuk 12 lantai, yang operasional pegawai 2 sedang yang 2 lagi buat pejabat. Ini ada 5 untuk 24 lantai, jadi walau agak susah kayanya bisa sih ya, saran aja sih, hehe..

Dan karena saya paling sebel nunggu ga jelas, suami juga ngerti mood istrinya gampang anjlok kalo gini, akhirnya kami naik eskalator dulu sampe lantai 4. Iya, mentok soalnya udah ga ada lagi dan musti lanjut naik pake lift.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08 (1)
maket perpusnas
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08 (2)
semacam galeri
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08
ruang entah

Di sini saya merasa saya dodol. Manis banget. Enggak ding, manisnya iya, bodoamat tapi bukan itu maksudnya. Hmm, karena mau ke lt 7 males banget lanjut pake tangga darurat, akhirnya kami malah ngikut lift yang turun dulu sampe lantai dasar baru naik lagi ke lt 7. Eh tapi liftnya cepet banget ya ternyata, pantes kelewat mulu lantainya kalo ga beneran naik dari ujung pangkalnya.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.11
loker penitipan barang
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.04 (1)
ini buku asli semua loh
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.03
petunjuk tiap lantai

Trus sampailah kami ke lantai 7. Langsung disambut dooong sama mbak petugas, ternyata disuruh lepas sepatu dan simpen di rak. Raknya keren macam yang di Ikea gitu, bisa dibuka tutup waaaaooow (norak ih, bodoamat lagi). Yaudah akhirnya DD bisa membaca dengan aktif ditemani bapaknya dan sayanya poto2, baca buku, liat2 koleksinya, sambil mikir kira2 mana yang akan saya belikan buat DD ke depannya nanti.

Jadi begitulah, DD betah baca paling cuma setengah jam. Habis itu dia mlipir ke bagian yang ada mainan dan main lego di sana. Sekitar 30-40 menitan deh, habis itu kami sholat ashar dan siap2 pulang. Antri lift lagi? Iya. Kali ini kami memutuskan untuk turun tangga darurat sampai lantai 4 trus baru lanjut lagi pakai eskalator.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (1)
Bapaknya bacain buku DD
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (2)
multimedia
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05
dinding pun bercerita
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.06 (1)
suasana di lt 7
WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (3)
ada ruang ibu laktasi juga loh, nyaman!

Yang mau lihat2 situsnya perpusnas bisa klik diย sini

Alamat: Jl. Medan Merdeka Selatan No.11
Jakarta 10110

Jadwal buka:

Senin – Kamis 08.30 – 18.00 WIB
Jumat 09.00 – 18.00 WIB
Sabtu – Minggu 09.00 – 16.00 WIB

Ada biaya ga? Masuk gratis, keluar bayar parkir, atau gratis kalau naik angkutan umum. Tentang keanggotaan sih saya ga tanya2 ya, silakan tanya ke petugasnya aja. Atau coba lihat2 dulu situsnya biar ga zonk nantinya.

Oke, sudah ya.. Terima kasih sudah membaca sampai sini.

Sampai jumpa di postingan berikutnya, semoga semakin berfaedah.

Ast โค

baca juga lainnya:

When we’re not going to the mall

Berenang di mana?

Taman Situ Lembang

Yoga Gembira @ Taman Suropati

Tentang Merokok

Sekitar tahun 2010, seorang teman baik bertanya, bagaimana pandangan saya terhadap seseorang yang merokok. Saya jawab, silakan, asal jangan dekat-dekat sama saya. Saya ga tahan sama asap dan baunya, dan kebetulan saya dibesarkan di keluarga tanpa rokok. Dalam artian, bapak dan mas (kakak lelaki) saya ga merokok. Terus temen baik saya (yang perokok itu) bertanya, gimana kalau nanti “mas” (suami) saya adalah seorang perokok. Saya jawab, saya ga pengen nikah dengan perokok.

Tiga tahun kemudian, di 2013, saya menikah dengan teman baik saya itu, yang seorang perokok. *tepokjidat

Di 2012, awal masa saya berkomitmen dengannya, saya sempet curhat ke temen baik saya yang lain. Dan teman baik saya itu di salah satu sarannya, menanyakan apakah saya bisa membawa pengaruh baik ke temenย pasangan, misal membuatnya berhenti merokok. Jujur waktu itu saya mengernyitkan dahi, merasa, siapa gue kok baru jadian udah mau ngubah2 orang segala, dan waktu itu, ya saya mau berkomitmen dengan dia karena sudah lewat dari masa “saya suka kamu karena … ” tapi “saya suka kamu walaupun ….” .

Jadi begitulah, di masa pra pernikahan, merokoknya pasangan bukan suatu issue besar, karena dia adalah seorang perokok yang lumayan bertanggung jawab, dalam artian dia masih lihat-lihat saya terganggu atau tidak, jadi saya masih bisa tolerir dan berkompromi.

Setelah menikahpun, saya masih belum terganggu dengan kebiasaan merokok suami. Apalagi mengetahui kebiasaan merokoknya lebih karena kultur lingkungannya. Orangtua dan keluarga dekatnya perokok semua. Mau bagaimana lagi, pikir saya waktu itu.

Saya tidak ingat kapan tepatnya saya mulai sering terganggu dengan kebiasaan merokoknya. Suami sudah tidak pernah merokok baik itu di depan saya, di dalam rumah, maupun selama menemani saya mudik ke rumah orang tua. Dia bisa menahan diri dari merokok. Lalu saya mulai terusik, kalau bisa tahan, kenapa ga dilanjutin menahan diri lebih lama? Dari 2 hari menjadi seminggu, menjadi sebulan, dan seterusnya? Apalagi, terus terang dengan bertambahnya kedewasaan dan usia hubungan kami, kepedulian untuk kelangsungan hidup dan masa depan menjadi jauh lebih penting. Saya mulai melihat dengan visi yang lebih jelas. Saya ingin suami yang lebih minim risiko kesehatannya. Saya ingin suami yang selalu harum ga perlu ribet cuci tangan sampai keramas sebelum mendekati saya karena saya terganggu dengan bau asap rokok yang menempel di tubuhnya.

Apalagi kemudian saya hamil dan mempunyai anak. Tingkat kepedulian saya meningkat drastis. Untuk anak terutama. Saya benar-benar menjadi emak macan yang galak kalau itu adalah hal yang berhubungan dengan anak. Saya yang sempat menjadi dominan plegmatis yang cinta damai dan yaudahlah ngalah aja, jadi lebih asertif dan jika diperlukan, agresif. Saya ga segan “menyerang” orang dengan meminta mereka mematikan rokoknya jika kebetulan saya dan anak lebih dulu berada di tempat umum dan mereka perokok itu datang belakangan ngebulin asap. Hohoho, ga bisa, jauh-jauh dari anak saya. Saya meminta suami mengingatkan adik lelaki dan ayahnya jika kebetulan mereka habis merokok dan ingin menyentuh anak saya. Dan saya lebih intensif meminta suami berhenti merokok.

Tapi sejatinya perokok adalah orang yang kecanduan, dan orang yang kecanduan adalah selemah-lemahnya orang yang ga berdaya baik mental maupun fisik untuk mengalahkan kecanduannya. Maka butuh upaya besar baik dari si pecandu sendiri maupun lingkungan terdekatnya untuk lepas dari biang candunya, dalam hal ini rokok.

Jadi begitulah…

Suami mulai merokok di sekitar 2003, dan dia menikah dengan saya di tahun 2013. 10 tahun itu bukan masa yang singkat untuk menghilangkan sebuah kebiasaan dalam sekejap. Tapi, alhamdulillah, sejak tahun 2017 (empat tahun setelah menikah), sampai sekarang, suami sudah tidak merokok lagi. Sudah setahun lebih, dan saya sangat bersyukur karenanya. Dan berdoa semoga dia tidak sampai menyentuh rokok lagi dengan alasan apapun.

Setahun berhenti merokok itu masih cetek lah, saya tahu orang yang sudah 3 tahun berhenti merokok pun bisa balik merokok lagi, jadi perokok berat lagi. Makanya saya ga ingin terlena dan jadi jumawa. Banyak orang (perempuan) yang merasa bisa membuat pasangannya berhenti merokok adalah suatu pencapaian, semata kehebatan dia sebagai pasangan. Apa iya? Saya mengalami sendiri bahwa berhentinya seseorang dari kebiasaannya merokok adalah sepenuhnya berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan yang menggerakkan suami untuk berkeinginan dan berkekuatan untuk berhenti merokok. Suami sayalah yang berusaha dengan kuat menahan semua “sakau”nya saat berhenti merokok, dan saya membanggakan diri di atas dia? Hahah minta ditampol itu namanya.

b457a37bc55afb612a33aae88a4e6c2c (1)
source: pinterest

Satu fakta yang harusnya sudah dimengerti oleh perempuan manapun yang sudah menikah: tidak ada yang bisa mengubah lelaki kecuali dia ingin mengubah dirinya sendiri ๐Ÿ™‚

Jadi, ya begitulah. Tulisan ini saya tulis sebagai pengingat saya dan semoga penyemangat juga buat suami, somehow kalau2 dia lagi khilaf pengen nyobain merokok lagi. Jangan ya, Babah. We love you so much that we don’t want you to have a risk we can’t cope with.

Ah, tulisan ini juga terinspirasi dari hastag #rokokharusmahal yang sempat berseliweran di twitter dan ig beberapa saat lalu. Saya setuju banget lah, kebijakan sesederhana apapun, asal itu bisa mengurangi misalkan hanya nol koma sekian persen dari potensi perokok, atau menjadi hambatan bagi kemudahan akses merokok, saya dukung.

“…bahkan menyingkirkan batu dari jalan adalah tanda dari keimanan…”

Sekecil apapun, ia berharga.

Jadi, dukung #rokokharusmahal.

Semangat wahai semua yang ingin hidup lebih sehat dan bersih dari asap rokok!

 

Kain vs Kertas

Beberapa hari lalu, seorang teman kantor bertanya kepada saya apakah saya tahu tentang menstrual cup. Saya jawab, saya tahu. Tampon, begitu saya bilang. Lalu saya dan dia ngobrol membahas mengenai tampon itu. Tapi, postingan ini ga sedang membahas tampon, karena saya ya taunya dari baca2 blog orang, nangkep dialog di film barat bahwa mereka cenderung pakai tampon daripada pembalut kertas, dsb, tapi lihat dan pegang bentuk aslinya belum pernah sama sekali, jadi buat apa, ๐Ÿ˜€ . Di sini, saya akan berbagi tentang mengapa saya memilih memakai pembalut kain (menstrual pad) dibanding pembalut kertas, dan popok kain (cloth diaper/ clodi) dibanding popok kertas.

Sudah siap? ๐Ÿ˜€

Jadi, di tengah masa kehamilan, saya kan sering cerita2 sama temen tuh. Kebetulan temen saya ini sudah punya anak satu dan saat cerita2 sama saya itu adalah kehamilan keduanya. Dia cerita bahwa nanti setelah punya anak (bayi lebih khususnya), biaya yang akan sangat membengkak adalah untuk membeli popok dan susu. Kalau pakai asi, ya setidaknya akan ada biaya untuk “modal” peralatan memerah asi dan menyimpannya. Tapi setidaknya biaya modal asi perah itu cukup sekali di awal, bisa disesuaikan dengan anggaran masing-masing, dan ga akan berkelanjutan jika dibandingkan dengan memakai susu formula. Jadi, asi: sufor, asi menang.

Selanjutnya adalah popok. Popok ini juga tentu bisa disesuaikan dengan anggaran dan kemauan ibu/pengasuh. Waktu itu sih temen saya menyimpulkan langsung bahwa clodi itu hemat, jauh lebih hemat dari popok sekali pakai (pospak). Tapi di sini saya mau kasih 3 alternatif tentang hemat, karena hemat orang itu beda2.

  1. Popok kain sekali pakai

Mau hemat uang tapi rela berkorban tenaga lebih? Pakai popok kain sekali pakai. Ajari anak toilet training sedini mungkin. Popok ini yang sering dipakai sama bayi2 baru lahir itu loh, yang cuma selembar kain tipis, ada talinya, gambarnya lucu2. Seperti ini penampakannya:

31282_6-mitos-popok-kain
source: intisari.grid.id

Nah, kalau pakai ini jelas secara biaya jauh lebih hemat, tapi ada “biaya” lain yaitu tenaga dan kedisiplinan untuk toilet training lebih dini.

Kalau saya waktu itu sih merasa ga sanggup ya sis, masih lebih memilih untuk bisa tidur tenang saat malam karena punya bayi pertama sungguh butuh penyesuaian yang ruarr biasa. Popok kain ini sempat saya pakaikan ke DD sekitar 1 bulan pertama, itupun kalau siang-sore doang. Malam sejak seminggu pertama saya sudah nyerah ke pospak.

2. Clodi

Ini versi upgrade dari popok kain sekali pakai. Kenapa? Karena kalau popok kain sekali pakai, ya kena pipis langsung ganti. Kalau clodi, kena pipis sekali masih tahan, dua kali masih tahan, 3 kali masih tahan, keempat silakan ganti. Bisa tahan 2-4 jam pemakaian, tergantung volume pipis si bayi. Lumayan kan, 4 jam ibu bisa tidur tenang, bayi juga nyaman karena bahannya dari kain yang lembut, ga bikin iritasi atau ruam. Tapi kalau pup ya langsung diganti ya buibu, wajib ini, jangan males kasian bayinya.

640xauto-cara-jitu-rawat-popok-kain-modern-120903m-2
source: family.fimela.com

Jadi, clodi > popok kain sekali pakai, dari sisi tenaga. Well, ga sehemat itu juga sih, karena kan namanya kain masih harus dicuci ya buibu. Dan karena bahannya tebel, juga agak PR kalau jemurnya, agak butuh waktu lebih lama untuk kering daripada popok kain sekali pakai. Inilah yang membuat buibu harus stok yang agak banyakan, setidaknya 10-15 buah untuk 3 hari dan itu revolving terus alias cuci-kering-pakai. Sedia stok agak banyak inilah yang akhirnya berimbas ke kurang hemat dari sisi biaya. Apalagi, dari sisi harga, clodi lokal yang lumayan bagus bisa 80ribu ++, yang mungkin bisa dapet popok kain lebih banyak.

Buat saya, clodi ini adalah jalan tengah. Kalau diakumulasikan, biaya popok sekali pakai dalam 2 tahun itu buanyak. Dulu itungan kasar bisa 8 jutaan. Clodi stok di awal bisa agak banyak, tapi bisa nyicil juga belinya, kalau diakumulasikan bisa 1-2 juta. Tapi hemat sampai 2 tahun dan bahkan bisa diwariskan ke adiknya nanti. Jadi, dari segi biaya, pospak > clodi > popok kain sekali pakai. Dari sisi tenaga, popok kain sekali pakai > clodi > pospak.

Jadi, saya memilih memakaikan clodi untuk anak saya sejak anak saya usia 4 bulan sampai 2 tahunan.

3. Pospak

Saya juga pakai pospak, mulai DD usia seminggu sampai sekitar 4 bulan, lalu lanjut lagi di usia 1,5 tahun dikombinasi dengan clodi. Di usia 1,5 tahun ini saya pakaikan supaya tidur DD dan emaknya kalau malam bisa pulas sampai pagi ga harus ganti clodi setiap 4 jam sekali. Bagaimanapun akhirnya saya mengamini bahwa biaya pospak ini memang banyak yaa ternyata, itu saya masih gabung2 sama clodi, kalau pakai pospak sepanjang hari pasti lebih banyak ya. Dan pospak ini cocok-cocokan sama kulit bayi. Ada merk tertentu yang mahal dan ga bikin kulit ruam, ada yang agak murah dan kulit ruam, dan tentu sebagai emak sejati kita cari yang murah dan ga bikin kulit ruam, bukan? ๐Ÿ˜€ Jadi saya ga bahas merk2 apa aja lah, tergantung anak dan anggaran emaknya tentu. Tapi memang pospak ini hemat banget dari sisi tenaga. Dari sisi lingkungan hidup saya ga berani bahas, karena jelas pospak adalah penyumbang sampah terbesar yang sulit diurai, konon katanya begitu.

Nah, setelah bahas popok untuk anak, saya mau balik ke awal bahasan, yaitu menstrual pad. Awalnya karena melihat sendiri bahwa kain clodi itu haluuuus banget, dan tentu saja jauh lebih nyaman untuk kulit bayi dibanding pospak, saya merasa bahwa saya pun mengalami masalah yang sama saat sedang menstruasi dan harus menggunakan pembalut sekali pakai. Namanya kertas ya bu. Karena tempat saya beli clodi itu juga jualan menspad, saya tertarik nyobain, dan akhirnya malah memutuskan untuk membeli agak banyakan untuk stok dan bertahan sampai sekarang. Anaknya udah lulus toilet training dan ga pakai clodi lagi, ibunya masih bertahan sama menspad dibanding pembalut sekali pakai, bukankah ini suatu bukti bahwa kenyamanan kain ga akan tergantikan sama kertas?

mwise-pembalut-kain-menspad-day-isi-3-9837-69045971-bb9bac2ab96a365a0f0032cdd42472ae-catalog_340x340q80
source: lazada

Jadi ya gitu, alasan kenapa saya memilih pakai menspad (yang cuma seuprit dibanding alasan memilih clodi buat anak). Atas dasar kenyamanan saja. Cuci? Ga masalah. Harga? Ga masalah. Tahan sampai 4 tahun dan masih berlanjut entah sampai kapan. Semoga penyedia menspad ga bangkrut karena minim peminat, karena walaupun sedikit (saya kok entah kenapa yakin bahwa peminat menspad jauh lebih kecil daripada pembalut kertas), saya dan pemakai menspad lainnya pasti suatu saat butuh untuk re-stok lagi pembalut kain kami, ya kaaan…

Kalau menstrual cup alias tampon, yang katanya bahannya dari silikon dan cukup beli seharga 300-400 rebu dan tahan sampai 15 tahun….hmmm agak menggiurkan tapi karena cara pakainya masih agak ngeri buat saya, jadi nanti2 deh, kalau memang saya setertarik itu untuk nyobain. Buat saya sih, sementara ini, menspad sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya.

minimalist_fashion_photo_collage_11_600x2x
source: thetulipcup.com

Semoga bisa memberi pandangan baru.

Ast โค