Tentang Kucing

Boleh percaya boleh tidak, tapi pageviews blog ini terbanyak adalah dari para pecinta kucing. Saya ga “ngiklanin” lah ya istilahnya, tapi sepertinya hasil dari mesin pecari dengan keyword tertentu mengarahkan ke blog ini. Terima kasih, cat lovers. Saya jadi agak semangat nulis kalau merasa tulisan saya bisa bermanfaat, wkwk..

Sedihnya, yang ini beneran sedih banget saya nulisnya, yaitu, kucing kesayangan sebagai sumber inspirasi saya nulis di sini, si ganteng dan preman jagoan Alfa, sudah 2 bulan ini hilang, hiks hiks… 😥

Kenapa baru saya tulis sekarang? Kenapa ga dari dua bulan lalu pas kejadiannya?

Karena saya masih denial selama ini.

Karena saya masih berharap dia sekedar main berkelana trus akhirnya pulang sendiri. Meskipun saya udah bikin poster kucing hilang dan saya post ke macam2 forum pecinta kucing ya, sempat ada info juga yang saya tindaklanjuti, tetapi sampai sekarang hasilnya masih nihil. Alfa beneran lenyap ga ngerti juntrungannya.

Kenapa bisa ilang?

Jadi, sebelumnya, kami tinggal di daerah Jakarta Timur. Di sana, Alfa beneran dilepas ga dipakein kalung, pagi dia main, maghrib pulang dan malam dia di dalam rumah, tidur di kamar bareng kami. Secara kehidupan sosial kucing, dia sangat bebas, jadi jagoan kampung, suka ngejar2 dan ngusir kucing kampung yang merambah wilayahnya. Lalu kami pindah rumah ke Jakarta Pusat. Di lingkungan baru, ada pagar cluster, tetapi Alfa tidak kami lepas, melainkan kami pasang harness di kaki depannya saat pagi-sore. Malam, kami masukkan dia ke kamar kecil tanpa harness. Kenapa tidak dilepas? Karena beda lingkungan, saya kuatir Alfa merusak tanaman orang, pup/ pip sembarangan nandain wilayah. Atau ya simply berantem dengan suara berisik khas kucing, ngaung2 gimana sih.

Pernah, suatu hari saat saya sedang sakit, Alfa lepas dari harnessnya, dan ya semangat ngejar kucing kampung keluar pagar cluster. Tapi subuh2 jam 4 pagi dia pulang sendiri ke rumah. Jadi ya, saya rasa dia sudah mengenali mana rumahnya, dan dia walaupun main akan tetap pulang. Tapi malam itu, saat kami sekeluarga sedang makan malam, tiba2 Luna mengeong kencang dari kandangnya. Tapi tidak langsung kami datangi karena kan masih makan. Selesai makan, baru ditengok. Eh ternyata Alfa lepas dan harnessnya udah rusak (Alfa kuat banget emang kalau niat lepas dari harness, bisa rusak itu kaitannya dipaksa sama dia). Langsung dicari keluar cluster bahkan sampai disusuri ke selokan2, ga ketemu juga.

Pencarian sampai jam setengah 10 malam, musti distop karna besoknya kerja. Masih sambil berharap dia besok akan pulang sendiri seperti sebelumnya. Besok pagi, nihil. Selama ngantor juga masih berusaha menyuntikkan harapan bahwa Alfa bakal balik. Pulang kantor sore, masih nihil. Besoknya pas wiken, Sabtu, disusuri lagi itu jalanan sesiangan, nanya2 ke satpam juga, tapi ga ada hasil sama sekali. Di sini juga ada kucing yang dilepas, jadi harusnya orang2 udah biasa liat kucing persia berkeliaran tuh.

Tapi ya gitu. Sampai saya inisiatif bikin poster kucing hilang. Post di grup2 di fb. Sempet ada info ada kucing mirip Alfa di perumahan dekat sekolah X, saya jabanin ke sana walau jaraknya sekitar 1 kiloan dari rumah. Ya siapa tau Alfa beneran lagi melebarkan wilayah, jalan2 sampe sejauh itu. Tapi ya nihil.

Rasanya tuh, gimana ya. Lagi2, kaya ada lubang di hati yang kosong setelah Alfa pergi. Beneran sampai ke mimpi segala, liat Alfa pulang. Pas bangun sadar itu mimpi, rasanya sedih, kosong, hampa, sesak, kuatir, dan kepikiran. Segala rasa nyesel, sayang, kasian, campur aduk. Sampai ke level berandai-andai juga. Andai malam itu kami langsung gercep begitu Luna ngeong2, mungkin masih keburu ngejar Alfa sebelum terlalu jauh keluar. Andai kami memperlakukan dia lebih baik, dia ga akan kabur, dia kan masih sakit dan belum terlalu sembuh.

Tapi lebih sedih karna membayangkan dia diculik sih. Kalau diculik orang yang sayang kucing dan pengen punya kucing persia, ya gimana ya, sedih tapi yaudahlah. Siapa tau Alfa disayang dan dirawat dengan baik. Tapi kalau diculik buat dijual, trus selama masa penjualan dia di kandang ga terurus, kepanasan, kehausan, duh, ga tega banget bayanginnya. Kalau dia main di luar, tidurnya gimana? Dia takut sama orang, sama motor, dulu aja sering ngumpet di selokan dan keluar pas kami pulang aja.

Sedih banget, huhuhuhu….

Dengan nulis ini, saya seperti menghadapi kenyataan bahwa Alfa beneran udah pergi. Ilang dan ga kembali. Minta tolong kucing kmapung buat nyari dan bawa dia balik? Udah. Posting poster dan foto kucing ilang? Udah. Dicari ke mana2 nyusurin jalan? Udah.

Semoga Allah menjaga dia selalu. Mungkin jodohnya bersama kami sudah selesai. Semoga kami bukan termasuk orang2 yang dzalim terhadap binatang. Semoga Alfa hidupnya baik, sehat, dan mudah. Kalau beneran main, mudah2an udah bisa kawin sendiri. Dan suatu saat, pulang lagi ke kami.

Alfa, sehat2 ya kamu nak..

Namanya Alfa

Sudah beberapa minggu ini, kami memiliki penghuni baru di rumah. Ia adalah seekor kitten, Persian, jantan, berwarna cream white, berusia 2 bulan yang kami beri nama: Alfa. Kalau tanya sama saya, nama lengkapnya Alfa Romeo (baru googling, ternyata merk mobil, wkwk). Padahal mah pas ngasih nama juga ga tau itu apaan.

Sebetulnya pilihan untuk memelihara hewan ini baru sih, agak impulsif termasuknya. Sebelumnya, saya beberapa kali memelihara hewan, dan itu di masa saya udah kerja. Jaman masih tinggal sama orang tua, ga ada hewan yang benar-benar serius. Seingat saya, saya pernah memelihara ikan mas yang berakhir mati entah gimana nasibnya. Terus kucing kampung yang datang dan pergi sesuka hati. Yang pernah agak lama itu ayam kate, itu pun karena ditinggali sama om yang waktu berkunjung bawa. Pernah dihinggapi burung dara, semalam trus pergi begitu saja. Keinginan masa kecil yang ga tercapai itu piara kelinci, yang baru bisa pas akhirnya saya udah kerja.

Pas udah kerja, saya pernah piara hamster. Ga lama, saya hibahkan ke junior karna saya harus penempatan di Borneo. Di Borneo, saya untuk pertama kalinya pelihara kelinci 2 ekor. Berakhir tragis dua-duanya, semoga Allah mengampuni dan menjauhkan saya dari golongan orang dzolim, aamiiin.

Setelah menikah, saya ga kapok, pelihara kelinci lagi. Ambil 2 ekor lagi, dan akhirnya saya hibahkan mereka ke saudara di kampung saat saya sedang hamil. Dan untuk pertama kalinya, kali ini saya pelihara kucing persia.

Sebetulnya kalo tentang hewan berbulu, saya suka yang warna-warna earth tone, kaya abu2 gitu. Warna2 cantik macam putih bersih atau cream ga terlalu menarik minat saya karena terlalu “cantik”. Hitam atau coklat solid juga biasanya saya skip karna, serem, hehe.. Udahlah yang abu2, campuran hitam atau corak loreng itu yang paling “pas” buat saya, buat karakter hewan peliharaan. Tapi, karena kemaren saya meminta persetujuan DD untuk memelihara kucing, DD saya kasih kewenangan untuk memilih teman mainnya. Dan DD cuma memilih satu, dan maunya beneran sama yang satu itu, ga mau yang lain. Yasudah, saya sih berharap cemas aja semoga kitten itu belum adopted aja dan kami berjodoh.

Ini dia si kitten:

alfa

dan alhamdulillah memang berjodoh dengan kami. 😀

Dengan datangnya Alfa, saya belajar banyak hal baru. Bahwa ternyata memelihara kucing ras itu beda dengan memelihara kucing kampung (domestik). Karakternya juga beda. Sepengalaman saya dengan kucing dome, dia aktif suka main, bisa manja kalo ada maunya, cukup mandiri, dan lumayan berisik. Pas Alfa dateng, dia memang langsung aktif main, enerjik juga, dan ciri khas kitten adalah curiousity nya yang tinggi alias kepo banget 😀 Tapi yang saya baru nemu adalah karakternya manja banget. Manja dan demanding banget. Wew..

Kebetulan kakak saya juga piara kucing ras di rumahnya, jadi saya belajar dari dia juga. Dikasih referensi makanan, peralatan apa aja yg harus dipunya, cara treatment, vaksin, dsb.. hmm kayanya bisa nanti buat postingan baru ya. Trus saya juga belajar dengan ikut gabung di forum pecinta kucing, buat belajar beneran cara pelihara hewan yang bener, biar ga salah-salah lagi.

Btw, sekedar balik ke alasan kenapa akhirnya pilih kucing dan bukan kelinci, adalah, kelinci itu sedikit2 pup dan pee. Kucing enggak, dan alhamdulillahnya, si Alfa ini pas dateng ke rumah udah pinter pipis dan pup nya di pasir. Saya salut sama orang yang telaten ngajarin hewan sampe bisa lulus toilet training. Keinget dulu saya pas DD mau toilet training lumayan juga prosesnya.

Semoga Alfa sehat2 dan senang jadi bagian keluarga kami ya ❤