Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

Saya sebenernya agak ga pede mengangkat topik ini, karena merasa ga pernah benar-benar serius mempersiapkan DD masuk sekolah. Saya cuma merasa, proses sekolah DD dari awal sampai sekarang, sudah 4 bulan masa sekolahnya, cenderung mudah dan tanpa drama. Maka saya merunut mundur, mengingat-ingat, kira-kira di tahap mana DD mulai siap secara psikologis untuk sekolah sampai akhirnya saya berani melepas DD untuk bersekolah di tempat yang sekarang.

Awalnya, DD itu anak rumahan bangeet. Yang saya ga bolehin keluar main karena menurut saya belum waktunya DD bersosialisasi, yang masih ingin saya tanamkan dulu nilai-nilai personal yang saya ingin dia anut. Yang saya kuatir dia belum bisa kontrol tangan jadi masih kasar. Yang saya kuatir dia belum masanya berbagi karena belum mengenal konsep kepemilikan.

Baca juga: Tentang Berbagi

Maka ada masanya, di umur 1,5-2 tahun, pas saya masih LDM sama suami, DD itu sangat pemalu. Pemalu yang kalo kami ajak main di taman, dia papasan sama anak lain, DD akan memilih memutar dan menghindar dari bertemu teman sebaya. Pemalu yang kalau bertemu sama orang asing tanpa disounding bahwa akan bertemu orang asing terlebih dulu, maka DD akan diam seperti shock atau mencerna situasi, ini bisa berlangsung sampai belasan menit, lalu kalo sudah ga kuat bakal nangis kejer sampe saya bawa masuk ke dalam, ke zona aman dia. Karena kalo DD ketemu orang yang sudah agak familiar ya sebenernya dia baik-baik saja kok.

Nah, setelah saya cermati bahwa DD punya kecenderungan pemalu dan menghindar seperti itu, saya bilang ke suami (setelah selesai LDM) buat lebih sering berinteraksi sama DD. Karena kedekatan dengan ayah kan mempengaruhi kepercayaan diri seorang anak. Ada pendekatan-pendekatan dan karakter kelelakian yang hanya bisa DD dapat dari ayahnya dan bukan dari saya. Kalau dari figur laki-laki pengganti ayah misal kakek atau pakdhe/om sih saya ga tau ya, apa cukup sebagai pengganti atau ga. Kalo saya sih, toh LDM udah selesai, jadi secara frekuensi ketemu yang tadinya seminggu sekali bisa setiap hari yaudah dimanfaatkan sebaik-baiknya. 😀

Setiap pagi, suami berangkat kerja pukul 07.30. Saya minta suami mengajak DD main di pagi hari, seringnya waktu itu mulai jam 06.15-07.00, jadi ada 30-40 menit DD main bareng ayahnya saja. Mainnya di RPTRA dekat rumah. Kadang saya ikut, tapi ga sering, beneran itu quality time di pagi hari buat DD dan ayahnya saja. Di situ, DD dan ayahnya kadang main bola, kadang lari2an aja, kadang keliling lapangan aja, kadang naik turun tangga, kadang main lempar tangkap bola. Itu buat latihan motorik kasarnya.

Kadang juga mengamati lebah yang sedang menghisap madu di bunga di taman, belajar mengenali tanaman dan bunga cabe, main pasir, buat observasi dan pengenalan lingkungan. Kemudian akhirnya, ngikutin anak2 SD yang mau berangkat sekolah 😀

Dari yang tadinya DD menghindar dari teman sebaya menjadi tertarik dan berani ngikutin kakak yang mau sekolah. Ngikutin itu ya jalan di samping atau belakang kakak itu, terus dadah2 sama mereka sampai mereka ngilang di balik gerbang sekolah. Terus diajak ayahnya nonton kakak lagi upacara di lapangan sekolah. Terus di beberapa kesempatan, sekilas aja saya dan ayahnya mengenalkan itu TK, DD bisa sekolah di situ, DD mau sekolah di situ? saat kami melewati beberapa sekolah incaran saya buat DD.

Baca juga: Tentang Sekolah

Meskipun aktivitas persiapan mental ga disengaja ini udah kami mulai sejak usia DD 2 tahun 7 bulan, rencana idealis saya adalah menyekolahkan DD di usia 6 tahun (di jenjang TK B) sebelum lanjut ke SD. Siapa sangka akhirnya saya sekolahkan DD di usia 3 tahun 8 bulan di level playgroup, dan itu pun dia jadi murid tertua di kelasnya yang muridnya cuma 5 orang itu 😀

Jumlah murid di kelas juga menjadi pertimbangan saya sih. Seperti saat saya mencari daycare buat DD, saya cari yang jumlah anaknya ga terlalu banyak, supaya DD ga harus langsung beradaptasi dengan banyak orang.

Baca juga: Daycare

Di sekolah DD yang sekarang, jumlah murid playgroup ada 5 orang termasuk DD, TK A ada 9 orang, dan TK B ada 9 orang. Ketemu teman sesama playgroup 3 kali seminggu @2,5 jam, dengan kakak kelas dari TK A dan TK B dalam porsi yang lebih sebentar pada saat doa bersama atau assembly lainnya yang memungkinkan ketemu di ruang bersama yang lebih besar. Buat saya, saat ini, sekolah DD cukup dan memenuhi kebutuhan interaksi sosial DD yang masih butuh pendekatan intensif.

Cara sekolah ini membangkitkan minat anak pun menurut saya cukup smooth. Di hari pertama sekolah, ada pendongeng yang seru yang bikin minat anak2 langsung terpusat dan udah ga inget lagi sama orang tua yang pada nungguin mereka. Seingat saya, ga ada anak yang nangis minta pulang atau takut sekolah, ada yang takut dan ragu dan masih ditemani ibunya, tapi ga ada yang nangis. Dan sampai 4 bulan berjalan ini, DD selalu inisiatif mau sekolah, bahkan di saat hari seharusnya dia libur sekolah tapi ayah ibunya kerja, dia minta sekolah.

Alhamdulillah, saya bersyukur Allah mudahkan jalan hidup kami sampai sekarang. Kami yang diberi kesempatan membangun mental DD dari yang pemalu dan takut ketemu orang jadi cukup PD buat kenalan, tanya, “namanya siapa?” sambil ngajak salaman atau tos. Hampir setahun sih kalo diitung-itung dari mulai rutin main di RPTRA tiap pagi sampai DD betulan masuk sekolah. Terima kasih babah :*

dd school

Perjalanan masih panjang, semoga selanjutnya selalu Allah beri kemudahan dan kelancaran.

Yang mau lanjut persiapkan anak sekolah, semangat! Udah masanya SD2 pada open house ini, boleh disurvey mana yang cocok di visi misi dan di kantong 😀

Warm regard,

Ast ❤

Fans Service

Akhir-akhir ini saya dan suami sering nonton drama korea. Seringnya level kalo dulu nonton drakor setahun satu judul, sekarang begitu satu judul selesai segera cari judul berikutnya yang kira-kira menarik. Dalam 3 bulan terakhir mungkin sudah ada 4-6 judul, saya juga lupa.

Makin bertambahnya referensi drakor saya, yang edisi terbaru tentu, saya jadi sering menangkap bahwa, kok drakor-drakor baru ini lebih berani menampilkan adegan kissing hot ya. Ga cuma kissing sekilas yang bisa kita sebut “kecupan” yang manis aja, tapi sering sampe french kiss dan diulang ga cuma sekali. Saya kadang sampe kesel liatnya.

Kenapa kesel?

  1. karena terlalu gampang. kayanya tokoh utama male atau female nya sekarang gampang banget gitu nyosor lawan mainnya. Entah sayanya yang dulu terlalu lugu atau saya yang sekarang terlalu kaku, tapi saya liatnya jadi ga suka aja. Buat yang lain itu mungkin fans service yang mereka tunggu-tunggu, tapi buat saya jadi mirip sama film barat yang gampang kissing, jadi kurang greget budaya timurnya yang lebih tertutup aja.
  2. saya bayangin aktornya sebagai orang yang real sedang mencari nafkah. Kasian kalo bayangin mereka harus ciuman sama orang asing yang mereka ga ada rasa sama sekali, atau kasian bayangin mereka mati-matian jaga perasaan biar ga baper abis ciuman atau abis syuting. Kasian bayangin mereka mbatin dalam hati: cari duit gini amaat… Intinya saya jadi kasian sama aktornya yang jiwa raganya dieksploitasi untuk sesuatu bernama kerjaan yang tujuannya memuaskan penonton. Penonton yang mana, ya penonton yang doyan adegan semacam itu.

Atas dasar itu, saya jadi mikir bahwa profesi artis/ aktor itu butuh pengorbanan yang berat. Semoga Allah menjaga keturunan saya dari profesi yang harus segitunya demi sesuatu yang … ya… duniawi.

Tapi barusan saya baca berita dan nemu ini, termasuk wow sih menurut saya. Artinya ada juga aktor yang punya batasan sejauh mana raganya boleh dieksploitasi atas nama profesionalitas dan tetap direspeki sama yang lebih berwenang: sutradara atau produser. Dan tetep laku tuh. Tapi itu di Indonesia sih, maunya karna masih serumpun budaya, ya drakor gitu juga atuh..

Oh, dan ada satu lagi aksi fans service yang kadang bikin saya jengah. Itu kalo pemeran utama prianya sering pamer half naked body alias telanjang dada dan pamer “roti sobek” kalo kata anak jaman sekarang. Serius, saya jengah. Mungkin memang ada tipikal orang yang bangga dengan badannya dan merasa bangga saat itu dipamerkan dan dipuji-puji. Tapi sekali lagi, saya kadang mikir itu tuntutan profesionalitas, entah disuruh sutradaralah, produserlah, ya demi fans service, demi rating tinggi. Karena target pasar drama korea kan memang perempuan, ya dikasihlah fans servicenya yang begitu-begitu. Kalo liat aktor begitu rasanya pengen kukasih anduk nutupin badannya dan kupuk-pukin, hidupmu berat ya mas..

Dan yang masih anget tentu saja kasus pelecehan seksual kepada juara emas bulutangkis kita. Ekspresi dia yang katanya spontan ditanggapi dengan “sexual harassment” dari perempuan-perempuan, yang dibenarkan dengan sebutan apresiasi. Meh. Yasudahlah. Kalo itu mah dari atletnya juga suka, tanpa paksaan, silakan aja. Yang fansnya juga ya terserahlah. Saya ga mau pusing juga. Yang ribut ya kalo lagi senggang saya tonton, hehe..

jojo-optimistis-raih-emas-bagi-indonesia

Tapi saya ingin sekali ngomong ke anak saya nanti, bahwa segala bentuk skinship dan yang urusannya sama badan dia, nantinya, janganlah diumbar-umbar. Biar kerasa mahalnya, biar kerasa istimewanya. Karena sayang sekali rasanya, hal yang berharga itu kalo jadi terlalu gampang dan terlalu murah. Flirting itu menyenangkan, tapi cobalah kamu bisa menarik perhatian orang bukan karena badanmu tapi karena karaktermu. Cobalah kamu bikin deg2an orang bukan dengan terbukanya badanmu, tapi cukup dari senyummu. Cobalah kamu bikin hati berdesir bukan karena aktivitas menjurus seksualmu, tapi dari bersinarnya pemikiran dan cemerlangnya karaktermu.

Kamu itu berharga. Hargai dirimu sebaik-baiknya, karena kalau bukan kamu, siapa yang mau?

*di beberapa kasus spesial, memang ada yang bakal menghargai kamu lebih dari dirimu. Tapi itu adalah kasus istimewa, dan mungkin baru bakal ketemu kalo udah waktunya ketemu jodoh. Jadi itu adalah pembicaraan yang bakal lebih panjang dan nanti-nanti lagi aja dibahas.

Ciao.