Galau Sekolah

Postingan emak2 dimulai.

Saya tahu anak saya baru berumur 4 tahun dan sekarang masih di kelas playgrup di sebuah RA di Jakarta. Dan sekarang yang sedang saya galaukan adalah nanti anak saya mau SD di mana, SD dengan kurikulum apa, dan berapa saya harus siapkan uang pangkalnya. Lalu kegiatan ekstrakurikuler atau tambahan apa yang saya mau anak saya nanti dapatkan. FYI, kegalauan ini adalah kegalauan khas emak2 banget yang:

a. anak masih/ baru satu jadi masih idealis dan mau meluangkan waktu buat mikir atau galauin hal begini

b. selain kategori a tadi maka biasanya ga galau. titik.

so saya walau tau pasti ada yang baca sambil mikir “yaelah gini aja galau” yaudah sis, saya galau beneran masalah ini jadi kalau gasuka gausah lanjut baca. *galak

saya lanjutin buat ngeluapin ganjelan ati aja,

Saya udah mikir masalah pendidikan bahkan saat DD belum sekolah dan mungkin baru usia 2 tahun. Boleh dibaca diΒ siniΒ dan juga cara kami memulainya diΒ sini. Di usia awal saya mikir mau masuk sekolah usia berapa, TK atau RA (bagi yang belum ngerti, TK pakai kurikulum Diknas sedang RA pakai kurikulum Depag). Sudah dapat sekolah yang pas dengan usia masuk dan kondisi yang pas, lalu mulai mikir lagi nanti SD nya gimana2.

Nanti kalo udah SD pasti mikir lagi SMP, SMA, dan kampusnya. Ya iyalah, tapi itu nanti2. Yang sekarang aja dipikir dulu, buat pondasi ke depannya biar lebih terarah.

Mau SD kurikulum apa?

Kebetulan saya masih nasionalis jadi saya kepengen yang Diknas aja. Melihat basic saya dan suami yang juga jebolan SD negeri, saya belum belajar juga untuk mengenali MI lebih jauh lagi. Jadi diputuskan sementara saya masih pengen SD kurikulum nasional. Meskipun saya sangat tertarik dengan MI istiqlal. Sementara saya masih ingin mengatasi keinginan saya untuk membekali DD dengan pelajaran agama lebih dalam melalui SDIT aja. Tapi ini masih berseliweran di kepala saya akhir2 ini, karena adanya SDIT yang bisa jadi bakal sekolah DD masih belum benar2 pas di hati.

Kenapa belum pas?

-Lokasi

ini yang paling penting. Maunya sekolah DD itu dekat dari rumah, jadi DD ga akan jadi cape di jalan. Cukup kami orangtuanya aja yang tepar. Tapi maunya juga sekolah DD ga jauh dr kantor kami jadi kami masih bisa antar pas pagi dan jemput pas pulang sekolah di jam makan siang kami. Jadi, sekolah DD maunya searah dengan kantor kami. Nah ini yang belum ada, tapi nantinya bisa diusahakan dengan cari rumah yang dekat dengan sekolah DD. Bisa. Kontraktor mah bebas.

-Ekskul

ini penting juga buat saya. Saya dan suami kerja dari pagi sampai sore, jadi maunya kegiatan DD dari pagi-sore juga diisi oleh hal-hal yang bermanfaat. Kalau sekarang sih masih santai, banget. Sekolah juga masuk cuma 3 kali seminggu, masing-masing 2,5 jam aja. DD masih bisa main bebas, tidur siang, dan eksplorasi suka-suka dia. Saya ga jadwalin, beneran saya bebasin. Tapi saya sudah merencanakan akan adanya progress di tiap tahun tumbuh kembangnya. Misal, nanti pas TK A sudah masuk 5 hari dalam seminggu, jam sekolah nambah sejam jadi 3,5 jam. Terus TK B selain 3,5 jam kali 5 hari dalam seminggu, dia juga kemungkinan akan saya ikutkan ekskul 2-4 hari dalam seminggu @1 jam jadi dia akan beraktivitas di sekolah selama 4,5 jam sehari.

TPA gimana sis?

Saya produk SD negeri dan TPA. Dulu, saya TPA mulai kelas 2 sampai kelas 4. Pulang sekolah saya sampai rumah sekitar jam 1 siang, dan mulai TPA jam 1/2 2 sampai jam 4 sore. Dalam 2 tahun itu, saya belajar mulai dari iqra 1-4, lalu ada pelajaran seperti fiqih, tarikh, dan lainnya yang saya ga hafal apa nama pelajarannya. Setelah lulus iqra, saya mulai masuk ke kelas gharib di mana saya belajar tajwid dan memperbaiki hafalan Al Qur’an. Saya merasa bahwa materi TPA saya saat itu cukup baik sebagai bekal saya setidaknya mengenal dan membaca Al Qur’an. Dan saya tidak tahu apakah TPA masih seperti itu pola pengajaran dan pembelajarannya. Di sisi lain, terkadang saya masih merasa bahwa apa yang saya pelajari dari TPA masih kurang banyak untuk bisa dijadikan bekal yang layak. Saya ingin lebih, dan saya ingin anak saya mendapatkan lebih. Dengan sistem SD negeri – TPA yang terpisah, saya merasa penerapan ilmu keagamaan dari TPA menjadi sangat kurang, apalagi di SD yang jam belajarnya justru lebih lama daripada TPA. Maka, saya ingin SDIT yang saya harap lebih bisa menerapkan pengajaran dan pembelajaran Islami lebih kuat dari sekedar gabungan SDN-TPA.

Balik lagi ke masalah ekskul, SDIT yang saya incer ekskulnya masih minimalis. Sementara ada SD Negeri yang juga menggoda dengan kegiatan ekskul yang melimpah dan sudah terbukti berjalan lancar. Ekskul apa sih yang diinginkan?

Yang selain pelajaran.

Ekskul buat saya harusnya jadi sarana anak mempelajari skill lain selain keilmuan dan akademis. Ini wujud perbaikan dari saya yang jaman SMA disuruh ikut ekskulnya karya ilmiah sama orangtua, yang ga berjalan lancar karena saya bosan setengah mati. Saya dulu seneng banget pas SMP ada ekskul menari tradisional. Ekskul should be refreshing your mood from study. Belajar di sekolah itu capek, dan ekskul adalah penawarnya.

Sekolah itu waktunya olah pikir. Ekskul itu waktunya olah raga, olah jiwa, olah seni. Makanya, saya pengen masukin DD ke ekskul yang mengeksplor semua (kalau bisa) kemampuan inderanya. Menari, olahraga (renang, senam, bola, bela diri, whatever you name it), musik (piano, gitar, biola), olah vokal (paduan suara, dulu saya ikut padus di jaman kuliah dan saya suka banget padus ini), dan kalau memungkinkan, bahasa.

Saya tahu saya emak yang banyak mau tapi ini karena saya sendiri pun sebagai individu adalah individu yang banyak mau juga. Toh, selama masih masa belajar, semua bisa dipelajari nanti tinggal mana yang sesuai minat itulah yang digali lebih dalam lagi dan diseriusi.

Sekian tumpahan kegalauan saya untuk saat ini. Semoga nantinya Allah memudahkan untuk saya mendapatkan apa yang pas tanpa saya harus galau lama2. Karena rejeki itu ga ke mana, rejeki itu ga akan tertukar, dan Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi hambaNya.

Karena apa? Karena ini:

screenshot_2019-01-22-13-03-51-805_com.instagram.android
source: ig efs.store

Ada aamiiin?

❀

Ast

 

[Review] I, Tonya (2017)

Hola, postingan pertama di 2019. Baru bisa sempetin nulis karena emang baru sempet aja. Ngerant sedikit: akhir tahun liburan batal karena sakit, cuti dipake buat istirahat pemulihan dan awal tahun udah langsung berhadapan dengan tugas yang sampe2 sabtu-minggu pun ngantor hohoho.. ga lagi2 deh mudah2an. Review film ini sebenernya udah pengen segera ditulis begitu selesai nonton (pas lagi sakit gegoleran ya nonton film lah buat refreshing) tapi ya gitu, ada prioritas lain yang harus ditunaikan.

I, Tonya 2017 full movie watch online
source: http://www.pip2pips.com

Ada yang sudah nonton filmnya?

Saya ga ngerti apa yang awalnya menggerakkan suami buat ngajakin nonton film ini. Ini film lama, btw, sekitar tahun 2017 (ga lama2 banget sih) dan kami nonton streaming. Awalnya saya juga biasa aja ga yang excited gimana. Tapi begitu lihat sosok yang menurut saya nyentrik banget penampilannya dan kayanya karakternya kuat, ya lanjut lah.

i-tonya-36
ini yang menurut saya nyentrik

Dan semakin nonton, semakin terhanyut sama ceritanya. Sampe ikut kasian, kesel2, dan tambah lagi ngenes rasanya pas tahu bahwa film ini berdasarkan kisah nyata! Beneran ada seseorang bernama Tonya, yang atlet ice skating kelas dunia, mengalami hidup seperti itu dan dikelilingi orang-orang seperti itu… πŸ˜₯

Kalau mau baca tentang Tonya Harding dari wikipedia:Β Tonya Harding

Oke, kalo mau sedikit sinopsis versi saya (semua PoV adalah dari Tonya Hardings).

Tonya Hardings kecil yang berbakat diasuh oleh ibu (tiri)nya yang memiliki karakter keras dan kasar. Ibunya bekerja sebagai seorang pelayan restoran dan sangat bertekad supaya Tonya bisa mengikuti latihan ice skating sebagai atlet. Dengan kekuatan ibunya dan bakat alami Tonya, akhirnya Tonya bisa dilirik oleh pelatih dan menjadi atlet termuda yang dilatih olehnya. Tonya berbakat, namun nasibnya malang karena memiliki ibu yang kasar. Tonya disumpahi, dicaci maki, dan hal itu membuat karakter Tonya menjadi sama kasarnya seperti ibunya. Ditambah, ayahnya juga tak peduli (saya ikut nangis pas Tonya mohon2 sama ayahnya supaya ga ditinggal pergi).

Tonya akhirnya beranjak remaja dan mulai mengenal lawan jenis. Pasangannya, sayangnya, akhirnya sering melakukan kekerasan padanya. Konflik dan pertengkaran yang tidak hanya verbal tapi juga fisik sering mereka alami. Pada akhirnya Tonya menikah tetapi akhirnya bercerai juga dengan lelaki pertamanya ini.

Karir Tonya sebagai atlet juga sering terhambat, bukan karena bakat atau tekniknya melainkan lebih karena perilakunya yang kasar, temperamen, dan juga image nya yang dianggap tidak sesuai untuk image olahraga iceskating. Tonya sering merasa “dibuat kalah” oleh juri dengan tidak adil, dan saat dia mengkonfrontasi juri, memang demikianlah kenyataannya. πŸ˜₯ syedih..

Pada akhirnya, Tonya belajar untuk memperbaiki diri dan citranya. Dia berusaha keras untuk bisa lolos ke olimpiade. Dia sempat berhasil, lalu kesuksesan mengubah dirinya. Dan akhirnya dia terpuruk lagi. Selanjutnya Tonya juga sempat tersandung kasus kekerasan terhadap rivalnya (yang menurut saya, asal muasalnya ga banget dan bikin gemesssss) dan akhirnya kasus itu menghentikan karirnya seumur hidup. Tonya dilarang bermain ice skating sama sekali.

Sedih ga? Bangettt….

Tapi pelajaran moral yang didapat dari film ini banyak banget sih menurut saya. Dari yang cara kita mencintai dan mendidik anak, memilih pasangan, memilih teman, dan berusaha keras demi sesuatu yang berharga buat hidup kita.

Parents, love your child properly.

Awalnya dari orangtua dulu. Kalau dari orangtuanya udah bener, harga diri anak jadi terbangun dan terbentuk dengan benar. Jadi anak nantinya bisa memilih mana yang baik bagi dirinya, bersikap tegas untuk apa yang tidak baik untuknya, memilih pasangan dan teman yang baik, dan menyelesaikan konflik dengan baik juga.

maxresdefault
Tonya kecil

Sebagai orangtua, pasti ingin memberi yang terbaik untuk anak2nya kan ya?

Jadi, boleh loh ditonton film ini. Berdasar kisah nyata yang tokoh-tokohnya pun dimunculin pas kredit di akhir film. Recommended!

 

Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

Saya sebenernya agak ga pede mengangkat topik ini, karena merasa ga pernah benar-benar serius mempersiapkan DD masuk sekolah. Saya cuma merasa, proses sekolah DD dari awal sampai sekarang, sudah 4 bulan masa sekolahnya, cenderung mudah dan tanpa drama. Maka saya merunut mundur, mengingat-ingat, kira-kira di tahap mana DD mulai siap secara psikologis untuk sekolah sampai akhirnya saya berani melepas DD untuk bersekolah di tempat yang sekarang.

Awalnya, DD itu anak rumahan bangeet. Yang saya ga bolehin keluar main karena menurut saya belum waktunya DD bersosialisasi, yang masih ingin saya tanamkan dulu nilai-nilai personal yang saya ingin dia anut. Yang saya kuatir dia belum bisa kontrol tangan jadi masih kasar. Yang saya kuatir dia belum masanya berbagi karena belum mengenal konsep kepemilikan.

Baca juga:Β Tentang Berbagi

Maka ada masanya, di umur 1,5-2 tahun, pas saya masih LDM sama suami, DD itu sangat pemalu. Pemalu yang kalo kami ajak main di taman, dia papasan sama anak lain, DD akan memilih memutar dan menghindar dari bertemu teman sebaya. Pemalu yang kalau bertemu sama orang asing tanpa disounding bahwa akan bertemu orang asing terlebih dulu, maka DD akan diam seperti shock atau mencerna situasi, ini bisa berlangsung sampai belasan menit, lalu kalo sudah ga kuat bakal nangis kejer sampe saya bawa masuk ke dalam, ke zona aman dia. Karena kalo DD ketemu orang yang sudah agak familiar ya sebenernya dia baik-baik saja kok.

Nah, setelah saya cermati bahwa DD punya kecenderungan pemalu dan menghindar seperti itu, saya bilang ke suami (setelah selesai LDM) buat lebih sering berinteraksi sama DD. Karena kedekatan dengan ayah kan mempengaruhi kepercayaan diri seorang anak. Ada pendekatan-pendekatan dan karakter kelelakian yang hanya bisa DD dapat dari ayahnya dan bukan dari saya. Kalau dari figur laki-laki pengganti ayah misal kakek atau pakdhe/om sih saya ga tau ya, apa cukup sebagai pengganti atau ga. Kalo saya sih, toh LDM udah selesai, jadi secara frekuensi ketemu yang tadinya seminggu sekali bisa setiap hari yaudah dimanfaatkan sebaik-baiknya. πŸ˜€

Setiap pagi, suami berangkat kerja pukul 07.30. Saya minta suami mengajak DD main di pagi hari, seringnya waktu itu mulai jam 06.15-07.00, jadi ada 30-40 menit DD main bareng ayahnya saja. Mainnya di RPTRA dekat rumah. Kadang saya ikut, tapi ga sering, beneran itu quality time di pagi hari buat DD dan ayahnya saja. Di situ, DD dan ayahnya kadang main bola, kadang lari2an aja, kadang keliling lapangan aja, kadang naik turun tangga, kadang main lempar tangkap bola. Itu buat latihan motorik kasarnya.

Kadang juga mengamati lebah yang sedang menghisap madu di bunga di taman, belajar mengenali tanaman dan bunga cabe, main pasir, buat observasi dan pengenalan lingkungan. Kemudian akhirnya, ngikutin anak2 SD yang mau berangkat sekolah πŸ˜€

Dari yang tadinya DD menghindar dari teman sebaya menjadi tertarik dan berani ngikutin kakak yang mau sekolah. Ngikutin itu ya jalan di samping atau belakang kakak itu, terus dadah2 sama mereka sampai mereka ngilang di balik gerbang sekolah. Terus diajak ayahnya nonton kakak lagi upacara di lapangan sekolah. Terus di beberapa kesempatan, sekilas aja saya dan ayahnya mengenalkan itu TK, DD bisa sekolah di situ, DD mau sekolah di situ? saat kami melewati beberapa sekolah incaran saya buat DD.

Baca juga:Β Tentang Sekolah

Meskipun aktivitas persiapan mental ga disengaja ini udah kami mulai sejak usia DD 2 tahun 7 bulan, rencana idealis saya adalah menyekolahkan DD di usia 6 tahun (di jenjang TK B) sebelum lanjut ke SD. Siapa sangka akhirnya saya sekolahkan DD di usia 3 tahun 8 bulan di level playgroup, dan itu pun dia jadi murid tertua di kelasnya yang muridnya cuma 5 orang itu πŸ˜€

Jumlah murid di kelas juga menjadi pertimbangan saya sih. Seperti saat saya mencari daycare buat DD, saya cari yang jumlah anaknya ga terlalu banyak, supaya DD ga harus langsung beradaptasi dengan banyak orang.

Baca juga:Β Daycare

Di sekolah DD yang sekarang, jumlah murid playgroup ada 5 orang termasuk DD, TK A ada 9 orang, dan TK B ada 9 orang. Ketemu teman sesama playgroup 3 kali seminggu @2,5 jam, dengan kakak kelas dari TK A dan TK B dalam porsi yang lebih sebentar pada saat doa bersama atau assembly lainnya yang memungkinkan ketemu di ruang bersama yang lebih besar. Buat saya, saat ini, sekolah DD cukup dan memenuhi kebutuhan interaksi sosial DD yang masih butuh pendekatan intensif.

Cara sekolah ini membangkitkan minat anak pun menurut saya cukup smooth. Di hari pertama sekolah, ada pendongeng yang seru yang bikin minat anak2 langsung terpusat dan udah ga inget lagi sama orang tua yang pada nungguin mereka. Seingat saya, ga ada anak yang nangis minta pulang atau takut sekolah, ada yang takut dan ragu dan masih ditemani ibunya, tapi ga ada yang nangis. Dan sampai 4 bulan berjalan ini, DD selalu inisiatif mau sekolah, bahkan di saat hari seharusnya dia libur sekolah tapi ayah ibunya kerja, dia minta sekolah.

Alhamdulillah, saya bersyukur Allah mudahkan jalan hidup kami sampai sekarang. Kami yang diberi kesempatan membangun mental DD dari yang pemalu dan takut ketemu orang jadi cukup PD buat kenalan, tanya, “namanya siapa?” sambil ngajak salaman atau tos. Hampir setahun sih kalo diitung-itung dari mulai rutin main di RPTRA tiap pagi sampai DD betulan masuk sekolah. Terima kasih babah :*

dd school

Perjalanan masih panjang, semoga selanjutnya selalu Allah beri kemudahan dan kelancaran.

Yang mau lanjut persiapkan anak sekolah, semangat! Udah masanya SD2 pada open house ini, boleh disurvey mana yang cocok di visi misi dan di kantong πŸ˜€

Warm regard,

Ast ❀

Flu Singapura pada Anak

Jadi, seminggu kemarin (sampai hari ini juga masih sih) DD sakit yang diawali dengan agak anget tapi masih bisa sekolah dan main di hari Senin. Dilanjut lebih anget dan mulai agak lemes di hari Selasa, dan seterusnya, yang kayanya lebih gampang kalau pakai jurnal harian aja nyeritainnya.

  1. Senin: agak anget, agak pilek, masih sekolah, nafsu makan masih baik, masih semangat main.

2. Selasa: lebih anget, lebih lesu, ga sekolah karena libur, sore masih main di luar. Malam demam 38 derajat, dipijitin pakai minyak kelapa + bawang merah, minum tempra (parasetamol). Nafsu makan masih lumayan, mau makan makaroni sup ceker.

3. Rabu: masih demam, mulai muncul sariawan (yang keliatan) ada dua di bibir bawah dan kayanya di dalam mulut. Mulai mikir ini flu singapura. Tidur malam ga tenang karena sariawan. Bubu ijin balik dari kantor karena kepikiran. Minum pakai sendok karena kalo dari gelas atau sedotan kesakitan.

makanan yang masuk:

pagi: energen, putih telur rebus, air jeruk manis.

siang: roti gandum selai kacang, putih telur rebus.

malam: nasi + tumis sosis teriyaki

treatment: kumur pakai air hangat + garam, aloclair kumur

4. Kamis: demam udah mulai turun, sariawan di bibir nambah jadi 5, di dalam mulut juga nambah. Tidur ga tenang, nangis-nangis karna sariawan. Bubu masih ga masuk kantor, sore eyang kakung datang jadi bisa ke kantor agak sorean demiiii…kerjaan. Minum maunya pakai pipet.

Makanan yang masuk: jus melon, putih telur rebus, oatmeal + susu + madu.

Treatment: kumur air hangat + garam, aloclair kumur, kandistatin, madu

5. Jum’at: sariawan di lidah ada 2. Tidur masih ga tenang. Bubu udah full ngantor karena DD dijagain eyang kakung, lebih tenang lah ya. Sore udah bisa nyanyi2. Udah segeran badannya.

Makanan yang masuk: putih telur rebus, lainnya lupa πŸ˜€ treatment masih sama

6. Sabtu: sariawan di bawah lidah ada 4. Jadi total sariawan ada berapa? 13 biji sodara-sodara… demam udah turun, badan menyusut dan kuyu. Udah bisa joget2.

Makanan yang masuk: energen + roti gandum, bubur nasi + sosis, kebab 1,5 buah. Udah mulai doyan makan itupun pas malem, udah agak lemesan sariawan sama mulutnya.

7. Minggu: bubur + telur dadar, roti + selai kacang, minum air putih hangat banyak. Udah bisa nyanyi, udah bisa joget, udah bisa lari2an kejar2an sama anak kucing. Nafsu makan udah balik.

8. Senin: bubu udah ngantor lagi, dan kayanya ketularan DD karena (sebenernya) dari Sabtu muncul lenting di jari tangan. Minggu lentingnya tambah banyak, juga muncul di mulut. Tenggorokan sakit dan mulai muncul sariawan. Okefix ini sih ketularan :’)

Yah kalo orang dewasa mah, mungkin saking daya tahan tubuhnya rendah dan kontak dengan DD juga banyak. Tapi mudah2an ga masalah asal daya tahan tubuh dibaikin dan tetep terhidrasi. Intinya, buat flu Singapura yang katanya ga ada obat ini, treatment yang dipakai ya yang mengurangi rasa sakit yang diderita. Kalau demam ya turunkan panasnya, pakai obat penurun panas, mandi air hangat biar badan nyaman. Kalau sariawan ya obatilah sariawannya, saya kemaren pakai 2, yang aloclair kumur + kandistatin.

Buat daya tahan tubuh, minum vitamin (saya kasih DD stimuno), dan minumin air jeruk, jus melon, madu, juga sempet saya tetesin essensial oil lemon di air minumnya.

Pijat. Pijat itu sangat membantu buat menyamankan tubuh anak, melemaskan dan melenturkan urat-urat yang kaku, membentuk bonding kasih sayang ibu dan anak. Apalagi kalo pijatnya pakai minyak yang juga ada khasiatnya. Kemaren sih awalnya saya pakai VCO + bawang merah aja. Di akhir-akhir saya pakein juga essensial oil: lemon, eucalyptus radiata, sama lavender dari YL. Adanya itu belum beli yang lain, hehe.. Alhamdulillah DD sudah baikan dalam 7 hari, mudah2an segera pulih dan bisa sekolah lagi. Bubunya juga ga parah2 amat ketularannya. Aamiiin…

Btw, kalau mau tau dramanya anak flu singapura, silakan liat diΒ postingan punya annisast ini

karena saya udah berusaha nulis dengan drama seminimalis mungkin, tapi saya rasa perlu supaya orangtua yang belum pernah menghadapi anaknya kena flu singapura ga kaget2 amat. Flu Singapura pada anak itu, asal kenali gejalanya, cara penanganannya, bisa kok ditangani sendiri di rumah. Be brave ya, semoga semua segera berakhir! πŸ˜€

Oh iya, referensi treatment saya kemaren juga dari postingan itu jadi mari kita saling berbagi informasi demi kesiapan dan ketenangan hati yang hakiki, wkwk.

Semoga cepet baikan dan sehat semua ya ❀

 

 

Tentang Sekolah

Kapan baiknya anak mulai sekolah?

Deuh, pertanyaan basi yang jawabannya hanya orang tua anak masing-masing lah yang tau πŸ˜€

Hari ini, DD awal masuk sekolah. Ini jelas melenceng dari rencana awal saya bahwa ingin DD sekolah resmi hanya setahun sebelum SD, yaitu di tingkat TK B. Iya, saya mengamini pendapat psikolog terkenal itu bahwa jangan terlalu dini memasukkan anak ke sekolah, karena nantinya anak akan terkena sindrom BLAST (silakan googling) dan jenuh sekolah yang berakibat buruk di masa depannya.

Tapi idealisme selalu dibenturkan dengan realita, toh? Dan akhirnya memaksa kita berkompromi, atau mencari jalan tengah terbaik, asalkan bisa survive.

Jadi, meskipun saya merencanakan DD sekolah mulai TK B, yang itu adalah 2 tahun lagi, sebenarnya saya sudah sering sounding tentang sekolah sama DD. Saya sudah ngincer beberapa sekolah yang kira-kira bakal jadi calon sekolah DD. Dari yang basis islam di belakang kantor di deket masjid, yang di ujung jalan rumah yang pakai metode montessori tapi ga basis islam, ra deket masjid di (agak) deket dari rumah, sampai tk yang semi sekolah alam yang agak melipir dan melenceng dari jalur rumah-kantor. Sudah ada 4 calon ya, dan saya sudah survey kasaran nominal biaya masuknya beberapa dari sekolah itu.

Kasaran, karena saya masih mau persiapan. Kalau mau pendidikan yang bagus, ya biar saya nabung dulu, biar ga berat2 amat. Karena meskipun jenjang sekolah “baru” TK, tapi ini adalah pondasi untuk ke jenjang berikutnya. Ada TK yang satu yayasan dengan SD jadi lulusan TK itu jelas lebih diprioritaskan untuk masuk SD yang diincer. Misal, TK Attaqwa dengan SD Attaqwa, RA Istiqlal dengan MI Istiqlal, TK Al Azhar dengan SD Al Azhar. Apa saya mau masukin DD ke sekolah2 itu? Sebagai orang tua, ya pengen ya, anak masuk sekolah terbaik. Meskipun kalau lihat biaya sekolah dan biaya sosialnya, kayanya saya mundur teratur aja deh, hahaha… Sekolah yang menyediakan ga cuma pendidikan berkualitas atau sevisi dengan orang tua, tapi dari berbagai sumber tentu kita tahu bahwa sekolah jaman sekarang juga jadi sarana mengembangkan jaringan.

Makanya saya ingin sekali membantu DD dengan cara yang saya bisa, yaitu dimulai dengan memilihkan sekolah terbaik sejak dari jenjang termuda sekalipun. Goal saya sih SD ya, tapi liat nanti deh jadinya di mana karena sampai sekarang saya belum pasti juga mau sekolahin DD di mana.

Semua keputusan impulsif akhirnya menyekolahkan DD di usia 3 tahun 8 bulan ini dimulai tentu sejak pengasuh yang saya ceritakan diΒ sini

Setelah akhirnya memantapkan diri dengan pengasuh tetangga sendiri yang pulang pergi, saya memikirkan untuk memasukkan DD ke sekolah, dengan berbagai pertimbangan. Utamanya sih supaya DD bisa lebih luas pergaulan dan wawasannya ga di rumah aja, supaya pengasuhnya bisa fokus ke kerjaan RT saat DD sekolah, dan supaya saya sebagai ibu bekerja lebih tenang karena DD sudah saya bangunkan komunitas pendukung yang lebih solid. Win win solution lah buat kondisi yang tidak ideal yang kami alami ini.

Dan balik ke cerita di atas, saya sudah ngincer beberapa sekolah. Itu DD juga saya sounding sambil mampirkan ke lokasi sekolah-sekolah itu. Nanti DD sekolah di sini, mau? Dan untuk ke-empat sekolah itu, jawabannya selalu mau πŸ˜€ Jadi karena anaknya juga mau, beneran seminggu sebelum sekolah mulai saya baru masuk dan tanya ke satu sekolah terdekat dari rumah kami. Iya, cuma satu, dan prioritas saya cuma DD bisa sekolah dekat rumah. Dan prosesnya cepat sampai saya daftar, bayar, dapat seragam, beli keperluan, dan pagi ini mengantar anak saya yang pertama itu sekolah.

Rasanya: ngawang-awang.

FYI, DD sekolah preschool ini di usianya yang 3 tahun lewat 8 bulan dan di kelasnya dia sudah jadi yang tertua πŸ˜€ saya jadi sungguh takjub bahwa orangtua jaman sekarang memang betulan memasukkan anaknya sekolah di usia dini. Saya sambil berdoa dalam hati semoga DD betulan enjoy dan ga tertekan. Meskipun saya sendiri adalah produk sekolah usia muda juga, hehe.. Tapi kalau dilihat tadi, DD senang main, excited dengan pendongeng, pas kami pamitin cuma dadah2, ga mau saya cium tapi milih cium saya, dan memang ga nangis sampai pulang. Well, semoga memang sudah siap sekolah.

Semoga ga galau lagi ❀

Ast.

 

Kain vs Kertas

Beberapa hari lalu, seorang teman kantor bertanya kepada saya apakah saya tahu tentang menstrual cup. Saya jawab, saya tahu. Tampon, begitu saya bilang. Lalu saya dan dia ngobrol membahas mengenai tampon itu. Tapi, postingan ini ga sedang membahas tampon, karena saya ya taunya dari baca2 blog orang, nangkep dialog di film barat bahwa mereka cenderung pakai tampon daripada pembalut kertas, dsb, tapi lihat dan pegang bentuk aslinya belum pernah sama sekali, jadi buat apa, πŸ˜€ . Di sini, saya akan berbagi tentang mengapa saya memilih memakai pembalut kain (menstrual pad) dibanding pembalut kertas, dan popok kain (cloth diaper/ clodi) dibanding popok kertas.

Sudah siap? πŸ˜€

Jadi, di tengah masa kehamilan, saya kan sering cerita2 sama temen tuh. Kebetulan temen saya ini sudah punya anak satu dan saat cerita2 sama saya itu adalah kehamilan keduanya. Dia cerita bahwa nanti setelah punya anak (bayi lebih khususnya), biaya yang akan sangat membengkak adalah untuk membeli popok dan susu. Kalau pakai asi, ya setidaknya akan ada biaya untuk “modal” peralatan memerah asi dan menyimpannya. Tapi setidaknya biaya modal asi perah itu cukup sekali di awal, bisa disesuaikan dengan anggaran masing-masing, dan ga akan berkelanjutan jika dibandingkan dengan memakai susu formula. Jadi, asi: sufor, asi menang.

Selanjutnya adalah popok. Popok ini juga tentu bisa disesuaikan dengan anggaran dan kemauan ibu/pengasuh. Waktu itu sih temen saya menyimpulkan langsung bahwa clodi itu hemat, jauh lebih hemat dari popok sekali pakai (pospak). Tapi di sini saya mau kasih 3 alternatif tentang hemat, karena hemat orang itu beda2.

  1. Popok kain sekali pakai

Mau hemat uang tapi rela berkorban tenaga lebih? Pakai popok kain sekali pakai. Ajari anak toilet training sedini mungkin. Popok ini yang sering dipakai sama bayi2 baru lahir itu loh, yang cuma selembar kain tipis, ada talinya, gambarnya lucu2. Seperti ini penampakannya:

31282_6-mitos-popok-kain
source: intisari.grid.id

Nah, kalau pakai ini jelas secara biaya jauh lebih hemat, tapi ada “biaya” lain yaitu tenaga dan kedisiplinan untuk toilet training lebih dini.

Kalau saya waktu itu sih merasa ga sanggup ya sis, masih lebih memilih untuk bisa tidur tenang saat malam karena punya bayi pertama sungguh butuh penyesuaian yang ruarr biasa. Popok kain ini sempat saya pakaikan ke DD sekitar 1 bulan pertama, itupun kalau siang-sore doang. Malam sejak seminggu pertama saya sudah nyerah ke pospak.

2. Clodi

Ini versi upgrade dari popok kain sekali pakai. Kenapa? Karena kalau popok kain sekali pakai, ya kena pipis langsung ganti. Kalau clodi, kena pipis sekali masih tahan, dua kali masih tahan, 3 kali masih tahan, keempat silakan ganti. Bisa tahan 2-4 jam pemakaian, tergantung volume pipis si bayi. Lumayan kan, 4 jam ibu bisa tidur tenang, bayi juga nyaman karena bahannya dari kain yang lembut, ga bikin iritasi atau ruam. Tapi kalau pup ya langsung diganti ya buibu, wajib ini, jangan males kasian bayinya.

640xauto-cara-jitu-rawat-popok-kain-modern-120903m-2
source: family.fimela.com

Jadi, clodi > popok kain sekali pakai, dari sisi tenaga. Well, ga sehemat itu juga sih, karena kan namanya kain masih harus dicuci ya buibu. Dan karena bahannya tebel, juga agak PR kalau jemurnya, agak butuh waktu lebih lama untuk kering daripada popok kain sekali pakai. Inilah yang membuat buibu harus stok yang agak banyakan, setidaknya 10-15 buah untuk 3 hari dan itu revolving terus alias cuci-kering-pakai. Sedia stok agak banyak inilah yang akhirnya berimbas ke kurang hemat dari sisi biaya. Apalagi, dari sisi harga, clodi lokal yang lumayan bagus bisa 80ribu ++, yang mungkin bisa dapet popok kain lebih banyak.

Buat saya, clodi ini adalah jalan tengah. Kalau diakumulasikan, biaya popok sekali pakai dalam 2 tahun itu buanyak. Dulu itungan kasar bisa 8 jutaan. Clodi stok di awal bisa agak banyak, tapi bisa nyicil juga belinya, kalau diakumulasikan bisa 1-2 juta. Tapi hemat sampai 2 tahun dan bahkan bisa diwariskan ke adiknya nanti. Jadi, dari segi biaya, pospak > clodi > popok kain sekali pakai. Dari sisi tenaga, popok kain sekali pakai > clodi > pospak.

Jadi, saya memilih memakaikan clodi untuk anak saya sejak anak saya usia 4 bulan sampai 2 tahunan.

3. Pospak

Saya juga pakai pospak, mulai DD usia seminggu sampai sekitar 4 bulan, lalu lanjut lagi di usia 1,5 tahun dikombinasi dengan clodi. Di usia 1,5 tahun ini saya pakaikan supaya tidur DD dan emaknya kalau malam bisa pulas sampai pagi ga harus ganti clodi setiap 4 jam sekali. Bagaimanapun akhirnya saya mengamini bahwa biaya pospak ini memang banyak yaa ternyata, itu saya masih gabung2 sama clodi, kalau pakai pospak sepanjang hari pasti lebih banyak ya. Dan pospak ini cocok-cocokan sama kulit bayi. Ada merk tertentu yang mahal dan ga bikin kulit ruam, ada yang agak murah dan kulit ruam, dan tentu sebagai emak sejati kita cari yang murah dan ga bikin kulit ruam, bukan? πŸ˜€ Jadi saya ga bahas merk2 apa aja lah, tergantung anak dan anggaran emaknya tentu. Tapi memang pospak ini hemat banget dari sisi tenaga. Dari sisi lingkungan hidup saya ga berani bahas, karena jelas pospak adalah penyumbang sampah terbesar yang sulit diurai, konon katanya begitu.

Nah, setelah bahas popok untuk anak, saya mau balik ke awal bahasan, yaitu menstrual pad. Awalnya karena melihat sendiri bahwa kain clodi itu haluuuus banget, dan tentu saja jauh lebih nyaman untuk kulit bayi dibanding pospak, saya merasa bahwa saya pun mengalami masalah yang sama saat sedang menstruasi dan harus menggunakan pembalut sekali pakai. Namanya kertas ya bu. Karena tempat saya beli clodi itu juga jualan menspad, saya tertarik nyobain, dan akhirnya malah memutuskan untuk membeli agak banyakan untuk stok dan bertahan sampai sekarang. Anaknya udah lulus toilet training dan ga pakai clodi lagi, ibunya masih bertahan sama menspad dibanding pembalut sekali pakai, bukankah ini suatu bukti bahwa kenyamanan kain ga akan tergantikan sama kertas?

mwise-pembalut-kain-menspad-day-isi-3-9837-69045971-bb9bac2ab96a365a0f0032cdd42472ae-catalog_340x340q80
source: lazada

Jadi ya gitu, alasan kenapa saya memilih pakai menspad (yang cuma seuprit dibanding alasan memilih clodi buat anak). Atas dasar kenyamanan saja. Cuci? Ga masalah. Harga? Ga masalah. Tahan sampai 4 tahun dan masih berlanjut entah sampai kapan. Semoga penyedia menspad ga bangkrut karena minim peminat, karena walaupun sedikit (saya kok entah kenapa yakin bahwa peminat menspad jauh lebih kecil daripada pembalut kertas), saya dan pemakai menspad lainnya pasti suatu saat butuh untuk re-stok lagi pembalut kain kami, ya kaaan…

Kalau menstrual cup alias tampon, yang katanya bahannya dari silikon dan cukup beli seharga 300-400 rebu dan tahan sampai 15 tahun….hmmm agak menggiurkan tapi karena cara pakainya masih agak ngeri buat saya, jadi nanti2 deh, kalau memang saya setertarik itu untuk nyobain. Buat saya sih, sementara ini, menspad sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya.

minimalist_fashion_photo_collage_11_600x2x
source: thetulipcup.com

Semoga bisa memberi pandangan baru.

Ast ❀