[Review] I, Tonya (2017)

Hola, postingan pertama di 2019. Baru bisa sempetin nulis karena emang baru sempet aja. Ngerant sedikit: akhir tahun liburan batal karena sakit, cuti dipake buat istirahat pemulihan dan awal tahun udah langsung berhadapan dengan tugas yang sampe2 sabtu-minggu pun ngantor hohoho.. ga lagi2 deh mudah2an. Review film ini sebenernya udah pengen segera ditulis begitu selesai nonton (pas lagi sakit gegoleran ya nonton film lah buat refreshing) tapi ya gitu, ada prioritas lain yang harus ditunaikan.

I, Tonya 2017 full movie watch online
source: http://www.pip2pips.com

Ada yang sudah nonton filmnya?

Saya ga ngerti apa yang awalnya menggerakkan suami buat ngajakin nonton film ini. Ini film lama, btw, sekitar tahun 2017 (ga lama2 banget sih) dan kami nonton streaming. Awalnya saya juga biasa aja ga yang excited gimana. Tapi begitu lihat sosok yang menurut saya nyentrik banget penampilannya dan kayanya karakternya kuat, ya lanjut lah.

i-tonya-36
ini yang menurut saya nyentrik

Dan semakin nonton, semakin terhanyut sama ceritanya. Sampe ikut kasian, kesel2, dan tambah lagi ngenes rasanya pas tahu bahwa film ini berdasarkan kisah nyata! Beneran ada seseorang bernama Tonya, yang atlet ice skating kelas dunia, mengalami hidup seperti itu dan dikelilingi orang-orang seperti itu… 😥

Kalau mau baca tentang Tonya Harding dari wikipedia: Tonya Harding

Oke, kalo mau sedikit sinopsis versi saya (semua PoV adalah dari Tonya Hardings).

Tonya Hardings kecil yang berbakat diasuh oleh ibu (tiri)nya yang memiliki karakter keras dan kasar. Ibunya bekerja sebagai seorang pelayan restoran dan sangat bertekad supaya Tonya bisa mengikuti latihan ice skating sebagai atlet. Dengan kekuatan ibunya dan bakat alami Tonya, akhirnya Tonya bisa dilirik oleh pelatih dan menjadi atlet termuda yang dilatih olehnya. Tonya berbakat, namun nasibnya malang karena memiliki ibu yang kasar. Tonya disumpahi, dicaci maki, dan hal itu membuat karakter Tonya menjadi sama kasarnya seperti ibunya. Ditambah, ayahnya juga tak peduli (saya ikut nangis pas Tonya mohon2 sama ayahnya supaya ga ditinggal pergi).

Tonya akhirnya beranjak remaja dan mulai mengenal lawan jenis. Pasangannya, sayangnya, akhirnya sering melakukan kekerasan padanya. Konflik dan pertengkaran yang tidak hanya verbal tapi juga fisik sering mereka alami. Pada akhirnya Tonya menikah tetapi akhirnya bercerai juga dengan lelaki pertamanya ini.

Karir Tonya sebagai atlet juga sering terhambat, bukan karena bakat atau tekniknya melainkan lebih karena perilakunya yang kasar, temperamen, dan juga image nya yang dianggap tidak sesuai untuk image olahraga iceskating. Tonya sering merasa “dibuat kalah” oleh juri dengan tidak adil, dan saat dia mengkonfrontasi juri, memang demikianlah kenyataannya. 😥 syedih..

Pada akhirnya, Tonya belajar untuk memperbaiki diri dan citranya. Dia berusaha keras untuk bisa lolos ke olimpiade. Dia sempat berhasil, lalu kesuksesan mengubah dirinya. Dan akhirnya dia terpuruk lagi. Selanjutnya Tonya juga sempat tersandung kasus kekerasan terhadap rivalnya (yang menurut saya, asal muasalnya ga banget dan bikin gemesssss) dan akhirnya kasus itu menghentikan karirnya seumur hidup. Tonya dilarang bermain ice skating sama sekali.

Sedih ga? Bangettt….

Tapi pelajaran moral yang didapat dari film ini banyak banget sih menurut saya. Dari yang cara kita mencintai dan mendidik anak, memilih pasangan, memilih teman, dan berusaha keras demi sesuatu yang berharga buat hidup kita.

Parents, love your child properly.

Awalnya dari orangtua dulu. Kalau dari orangtuanya udah bener, harga diri anak jadi terbangun dan terbentuk dengan benar. Jadi anak nantinya bisa memilih mana yang baik bagi dirinya, bersikap tegas untuk apa yang tidak baik untuknya, memilih pasangan dan teman yang baik, dan menyelesaikan konflik dengan baik juga.

maxresdefault
Tonya kecil

Sebagai orangtua, pasti ingin memberi yang terbaik untuk anak2nya kan ya?

Jadi, boleh loh ditonton film ini. Berdasar kisah nyata yang tokoh-tokohnya pun dimunculin pas kredit di akhir film. Recommended!

 

[Review] Taare Zamen Par (2007)

Oke, filmnya ternyata udah 11 tahun yang lalu….

Tapi gapapa deh, saya bahas di sini. Saking ga ada ide wkwk.

tzp_poster_deepak_

Jadi, saya udah lama ga nonton acara TV lokal, karena ga dapet sinyal. Sedih ya, padahal mah saya tinggal di ibukota tapi yagitu deh, mungkin saking crowdednya lokasi tempat tinggal jadi sinyalnya acakadut. Terus pake program tv berbayar, demi nonton kartun buat DD tetap terjaga. Karna hiburan kami biasanya ya ngulang2 series atau nonton drakor.

Dan kemaren rasanya capek dan jenuh nonton drakor jadi memutuskan untuk refreshing dengan nyari film bollywood. Iya, karena udah males juga sama hollywood. Kebetulan juga baru nemu thread di twitter tentang film india yang direkomendasikan. Intinya sih, kalo mau drama percintaan carilah filmnya Shahrukh Khan dan kalo mau cerita yang bagus dan ga biasa carilah filmnya Aamir Khan. Noted!

Langsung cari daftar filmnya Aamir Khan, dan nemulah ini, Taare Zamen Par. Katanya sih tentang anak berkebutuhan khusus, wow, cocok kan ya buat kami sebagai orangtua. Cuss nonton.

Kesan: bagus. Overall puas sih nontonnya. Yang kami cari refreshing, itulah yang kami dapat.

Pros: Gambar animasinya bagus. Kebayang kalo DD udah bisa kami ajak nonton di bioskop pasti efek magnificentnya lebih kerasa. Di rumah aja dia excited banget liat gambar biota laut dan nyebut2 gurita, cumi-cumi, terus pas tentang roket2 gitu juga seneng.

Kons: Ada bagian yang masih kami alihkan biar ga nonton, itu pas adegan kekerasan (berkelahi) si tokoh utama anak (lupa namanya wey) sama tetangganya. Belum waktunya DD nonton kekerasan begituan. Ada juga adegan KDRT ayah ke anak yang DD kami tutupin biar ga trauma. Trus juga yang agak ga sesuai selera pribadi sih, cara si Aamir Khan nunjukin ke orangtua ABK itu bahwa anak mereka memiliki kelainan dan butuh bimbingan khusus. Khas bollywood yang kalo nyampein pesan ke penonton ya kaya guru marah2in, mendoktrin secara hitam-putih dan benar-salah. Harus ada tokoh hero dan penjahat mulu lah. Tapi yaudah mungkin emang kultur sosialnya masih butuh dikerasin ya, belum bisa dilembutin.

Disleksia

Tapi film ini bagusnya adalah mengangkat tema yang ga biasa. Dulu saya pertama tau tentang disleksia itu juga dari FTV, Juli di bulan Juni (2005) yang pemeran utamanya Sissy Priscillia. Trus bahas juga di novelnya Dee lestari yang Supernova: Partikel tentang cerita Zarah membantu temennya yang orang Afrika (siapa namanya lupa) untuk mengejar kelulusan mata pelajaran dengan batas minimal.

Nah di sini dibahas tanda-tanda anak disleksia itu apa, dikasih tau warning sign-nya biar orang tua lebih peka dan waspada, ditunjukin juga cara ngajarin anak disleksia untuk mengatasi masalahnya. Ditunjukin banget effortnya seorang guru mengoptimalkan semua indera si anak untuk membuatnya mengenali huruf dan bisa belajar lebih mudah. Salut sih. Dan akting pemeran utamanya yang masih bocah itu bagus banget loh, saya jadi bertanya-tanya apakah dalam kehidupan nyata anak itu disleksia juga, sampe dia bukan sedang berakting tapi ya lagi jadi diri sendiri aja, saking naturalnya. Lukisannya cakep2. Mata penonton dipuaskan banget dengan visualnya. Emosi diaduk2 dengan mengena. Kalo mau dibikin nangis dengan alasan yang ga cheesy, nontonlah film ini.

07dec_tzp

Terakhir: pesan moral yang pengen diangkat film ini, setiap anak itu spesial. Yang dibutuhkan oleh anak, adalah membuat dia merasa dicintai. Apakah kamu sebagai orangtua sudah mencintainya dengan caramu, atau cara yang dia butuhkan?

Warm regard ❤