Membaca dengan Let’s Read

Hola!

Memasuki usia 6 tahun, saya mulai lebih peduli dengan mengembangkan kemampuan Dd di bidang bahasa. Kenapa? Karena dia sudah bisa membaca sendiri dalam bahasa Indonesia. Udah punya pondasi yang kuat untuk memperkenalkan bahasa lain, menurut saya. Kenapa ga dua bahasa dari kecil? Padahal banyak anak lain juga udah bisa casciscus lancar dalam bahasa Inggris, bahkan teman sekolah dan kursus Dd pun. Hmm, kenapa ya? Mungkin karena saya cukup santai dan percaya bahwa Dd ga akan mengalami kesulitan berarti, karena bahasa adalah masalah pembiasaan. Jadi ya sudah, sayanya ga ngoyo banget juga.

Kalau selama ini saya cari buku2 cerita dalam bahasa Indonesia, saya mulai cari buku cerita dalam bahasa Inggris. Cuma, ya, kendalanya cuma cari di online shop, ga yakin kalo ga megang fisiknya. Sementara mau ke Gramed*** juga mikir2 karena kan sebisa mungkin #dirumahsaja. Akhirnya malah cuma beli buku latihan dan aktivitas aja, belum kesampean buku ceritanya.

Sampai akhirnya saya nemu postingan tentang Let’s Read ini di IG https://www.instagram.com/letsread.indonesia/

Let’s Read

Karena udah lama ga beli buku cerita, ya pikir saya cobalah buat download dan memperkaya bahan bacaan Dd aja. Gratis pula, kan. Paling kuota internet doang, bukan harga ide cerita, ilustrasi, dllnya. Mikirnya masih bahasa Indonesia aja. Tapi pas liat tutorialnya di youtube, eh, ada berbagai bahasa juga? Hmmm.. cinta banget ga sih…

Setelah instal, saya cobain ke Dd. Terakhir kali, bacaan Dd sebelum tidur variasinya masih di Lima Sekawan Enid Blyton sama cerita nabi, yang serial Cican dan hewan2 udah jarang dibaca sama Dd. Jadi, secara “bobot”, sebenernya emang agak terlalu berat ya buat anak 6 tahun. Nah, begitu baca cerita2 di Let’s Read ini, tiba2 kerasa banget refreshingnya cerita anak2 yang beneran anak2.

Ceritanya sederhana. Sederhana bangeeet, tapi kaya akan kosa kata. Emosinya juga kerasa banget nuansa anak2 yang polos dan ceria. Dd saya bacain jadi sering banget ketawa2 lepas, hanya karena hal kecil seperti gambar ibu naik tangga buat marahin helikopter karna berisik takut bayinya bangun. Dia juga teliti sekali pada hal kecil, seperti tadinya ada 3 anak tikus pergi ke karnaval, tau2 tinggal 2 yang kecil ilang. Ceritanya banyak yang membangun dan akhirnya menegaskan “we are happy“. Dan akhirnya memang sangat menghangatkan hati banget lho, baca cerita anak2 begini.

Saya yang bacain aja jadi kerasa lelah dan kencengnya ilang, apalagi dapat bonus Dd ketawa2 dan nempel sama saya karna pengen liat gambarnya. Beneran udah ga loncat2 lagi dia dibacain cerita. Secara kuantitas juga, bacain cerita sederhana gini cepet selesainya. 1 bab bacain Lima Sekawan bisa buat baca 5 cerita di sini. Dd juga ga mau berhenti2 dibacainnya. Akhirnya, syarat dari saya, dia harus baca sendiri. Jadi sambil dia latian mengeja bahasa Inggrisnya, saya sambil koreksi pelafalannya dan mendorong dia untuk menebak arti katanya terus menyesuaikan dalam kalimat. Kalau saya ga ngerti juga arti katanya, ya kita sama2 buka kamus untuk cari tau apa artinya.

Reading to you kid make the connection stronger, indeed.

Udah nemplok gini, berat tapi seneng, alhamdulillah

Selamat membaca!

Tentang Memilih Homeschooling (1)

Akhirnya saya beranikan juga nulis ini.

Niatnya sih, nanti2, sebulan dua bulan, gitu setelah udah beneran menjalani. Tapi pikir saya, yaudahlah, udah beneran nyemplung juga. Masalah realitasnya seperti apa setelah benar-benar menjalani, ya nanti pasti masih bisa kok ditulis. Yang sekarang juga hasil kegalauan sekian lama, soalnya. Yok, mulai.

Berawal dari … pandemi.

Oh, enggak. Pandemi mungkin trigger utama, tapi sebetulnya keinginan untuk bisa homeschooling sendiri mungkin muncul di usia Dd baru 6-7 bulan, mungkin. Waktu itu saya masih aktif di FB dan memfollow salah seorang praktisi homeschooling yang lumayan populer, yaitu Kiki Barkiah dan Abah Ihsan (?). Melihat kisah2 mereka dan nilai2 yang ditanamkan pada anak2nya, sedikit tercetus keinginan di dalam hati untuk bisa begitu juga ke Dd. Meskipun ya masih sadar diri sih, melihat kenyataan bahwa saya adalah ibu bekerja yang berada di luar rumah sejak jam 7.30-17.30, kalau normal. Kalau tidak normal ya lebih dari itu. How come bisa2nya pengen homeschooling anak. Sama siapa? Resign juga berat, yah gitu deh, pikirannya macam2. Jadi keinginan homeschooling (selanjutnya saya singkat jadi HS) masih cuma sebatas keinginan.

Terus, di usia 3 th 8 bulan, Dd mulai saya masukkan kelas playgrup di dekat rumah. Masuk 3 kali seminggu, 2,5 jam per pertemuan. Cerita lengkapnya di Tentang Sekolah ya. Berlanjut sampai anaknya naik ke kelas kinder A alias TK A. Lalu di tengah semester 2, bulan Maret, terjadilah pandemi ini di seluruh dunia. Kebijakan pendidikan saat itu (dan sampai sekarang masih), yaitu anak belajar di rumah. Didampingi orangtua. Guru bertugas menyusun materi dan memantau serta memberikan penilaian atas kecukupan hasil belajar anak.

Bulan pertama, masih masa adaptasi untuk saya, DD, dan ayahnya. Kantor kami masih menerapkan kebijakan WFH (work from home) dan WFO (work from office) secara bergiliran. Sebisa mungkin saya mengatur jadwal agar wfh saya tidak berbarengan dengan suami, hanya supaya setiap harinya ada yang bisa mendampingi Dd mengerjakan tugas sekolahnya. Karena, wfh kan bukan libur, tetap ada tanggung jawab (dan deadline) pekerjaan yang harus dipenuhi. Tugas sekolah juga sama. Terus terang, di bulan2 awal, saya justru merasa wfh + sfh + cfh (course from home) ini sangat melelahkan. Jam kerja menjadi tidak beraturan, karena sekian pekerjaan harus diselesaikan dengan deadline berkejaran. Tapi yasudahlah, the job must be done.

Tugas sekolah, apa kabar? Ya sami mawon… Tapi intinya, setelah pembelajaran lebih lagi, akhirnya, ya bisa juga beradaptasi. Dan saya juga jadi lebih mengenali Dd, dari mengajarkan dia materi2 tugas itu. Misal, saya jadi tahu bahwa mengajarkan menghafal ayat, 1-2 ayat per hari itu sudah bagus, bukannya menghafal setengah surat. Saya jadi tahu bahwa Dd tidak terlalu suka menggambar, karena memegang alat tulis/ warna itu melelahkan (ini saya banget, sampai kelas 1 SD masih tidak suka menulis sendiri karna capek). Saya jadi tahu bahwa Dd lebih memilih melihat saya bersedih dibanding marah padanya. Kenapa?

“Kalau Bubu marah, Dd takut. Tapi kalau Bubu sedih, Dd bisa hibur Bubu.”

Oke, hero. Sekarang lanjut hafalan suratnya.

Wkwkwk, candaa… ya saya jadi nyesel marah dan tambah pe-er untuk mengatur emosi dan meningkatkan kesabaran terhadap Dd.

Hasil dari wfh + sfh + cfh 3 bulan ini, ya saya jadi lebih dekat dengan Dd. Sampai pada masanya memasuki new normal, ehem, dan kantor kami memberlakukan full wfo 100% lagi. Saya dan ayahnya mulai ngantor lagi, setiap hari, pagi-sore lagi. Ayahnya mulai dinas luar lagi dan menginap lagi. Mudah2an saya ga dapet nginep2 lagi deh. Dan Dd dari yang awalnya mengulang2 kalimat,

“Bubu Babah di rumah aja, ga boleh kerja di kantor. Kerjanya dari rumah aja, pake zoom.” –> wow pinter berargumen kamu ya, good job, kid. #masyaAllah

menjadi

“Bubu di rumah aja, Babah aja yang kerja.” –> oshiaap, dadah Babah, baik2 kerja yaaa, sehat2 yaaa, Bubu di rumah yaaa…

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, pensiun aja.” –> iya Nak, pengen banget, huhuhu

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, cuti aja cutiiiiii…” –> belum boleh cuti, sayang, belum keluar aturannya yang ngebolehin cuti

menjadi

“Bubu Babah ga boleh keluar, ada virus corona!” –> seketika keinget video parodi CLOY yang marak beredar di awal pandemi.

cloy
udah new normal sekarang, hey

hmmm yasudahlah begitulah terus.

Oke, balik lagi. Sementara saya dan suami berusaha merelakan diri wfo, kami masih belum rela dong kalau Dd yang masih 5 th itu balik ke sekolah. Mulailah kegalauan tentang bersekolahnya ini datang, dan pas baca2 twitter, ada cuitan seorang yang intinya sih, kalau anak2nya disuruh sekolah lagi, mending dia pilih homeschooling anak2nya aja.

I was like, what? Iya uga, kenapa ga kepikiran…

Tapi tapi tapi … hmmm… sebentar, diingat2 lagi, Dd sudah sangat bisa diajak bekerja sama lho, mengerjakan tugas. Jadi, karna kami wfo, baru bisa pulang sore sebelum maghrib kan, setelah pulang juga bersih2 dsb lalu mulai mengerjakan tugas Dd setelah maghrib. Sekitar 2-2,5 jam mengerjakan 4-5 jenis tugas (membaca/ menulis, membaca hijaiyah, hafalan surat, hadits, atau doa pendek, lalu aktivitas seni/science), masih diselingi masak untuk makan malam dan makan malamnya, lalu latihan untuk kursus musiknya, dan rutinitas sebelum tidur (sikat gigi, pipis, baca buku). Bisa. Dd bisa diajak kerja sama. Dd kooperatif dan mengerti, alhamdulillah.

Jadi, pemikiran tentang HS menguat.

Tapi masih menunggu kebijakan pemerintah, sih. Aturan SFH ini bagaimana? Sampai kapan? Sepanjang tahun ajarankah, atau bagaimana? Virusnya aja katanya masih sampai 2022 loh. Terus, akhirnya ada edaran sementara bahwa sfh ini kemungkinan sampai Desember. Terus, misal setelah Desember sudah disuruh masuk, apa iya saya betulan berani melepas Dd?

Jawabannya, ternyata tidak. Meskipun saya sempat goyah untuk Dd tetap meneruskan sekolahnya di tempat yang sekarang, karena dia nangis pas dibilang mau pindah. Iya, saya goyah, karena saya juga anak pindahan jaman SD dan SMP. Tahu banget lah rasanya pindah dari sekolah yang disenangi ke antah berantah yang ga tau kaya apa keadaannya. Dd sudah sayang teman dan guru2nya, saya juga sebetulnya merasa baik2 saja dengan itu, bahkan sudah bayar pendaftaran untuk tahun ajaran berikutnya, di jenjang kinder B, tapi ….

saat saya melihat berita bahwa tingkat kenaikan kasus positif di Korea Selatan meningkat setelah sekolah dibuka, saya tidak bisa tenang lagi. Saya tidak goyah lagi, dan memang membulatkan tekad bahwa teman dan lainnya datang dan pergi, tapi nyawa itu ya cuma satu dan tidak terganti.

Maka saya persuasi lagi Dd, semakin sering dan intensif. Ditambah lagi, rencana kami pindah rumah akhirnya tereksekusi juga pas di tahun ajaran baru. Lokasi rumah jadi menjauh dari sekolah lama. Pas kebetulan juga, sekolah memberikan edaran tentang tatacara sekolah di era new normal ini, yang ada tambahan2 poin yang akan sulit kami penuhi sebagai orangtua bekerja yang tidak bisa selalu menemani Dd mengikuti kelas online di hari tertentu. Maka, ya akhirnya kami membulatkan tekad untuk mengakhiri pendidikan formal Dd di sekolah dan memilih homeschooling.

Pas terima raport, Dd berpamitan dengan miss2nya. Sedih, huhuhu, karena saya yakin Dd disayangi dan Dd juga sayang sama miss2nya.

miss2
dengan wali kelas Dd

miss2lain
dengan miss2 lain di sekolah

miss bunga
dengan kepala sekolah Dd

Miss2nya cantik2 yah, buat para ikhwan single yang mau serius mohon hubungi saya secara pribadi dulu. Yang kepseknya udah taken yaa..

Ya gitu deh, ini masih preambule yang kepanjangan untuk postingan ttg HSnya gimana2, next lah ya, kalau udah sempet. Sekarang saya masih belajar2 juga. Atau kalau mau tau banget, bisa japri saya lho. Udah ada 1 orang yang kecantol dan ngikut HS juga sih sama saya. Tenang, bukan MLM. Sama sekali bukan.

Intinya sih, saya masih berterima kasih sekali untuk sekolah yang sudah membantu saya mengajari Dd selama ini, dan juga mengajari saya sebagai orangtua, sampai saya bisa merasa PD untuk mewujudkan cita2 terpendam saya pas Dd masih kecil, yaitu mengajari Dd sendiri. Kalau ditanya alasan pindah, yang utama saya jawab, karena pandemi. Iya, pandemi ini mengubah banyak hal di sekeliling kita, membuat apa yang tampak tidak mungkin di awalnya, tiba2 terasa mungkin.

Tapi yang utama sih, mungkin memang HS untuk Dd sudah ditakdirkan, dan ia akhirnya mencari dan menemukan jalannya sendiri.

Quran Surat Al-An’am Ayat 59

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Arti: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Referensi: https://tafsirweb.com/2183-quran-surat-al-anam-ayat-59.html.

Demikian.

Tentang HS nya, insya Allah next post.

Update: sudah dipost ya, tentang HSnya di Tentang Memilih Homeschooling (2)

❤ Ast

Ide Bermain Anak 1-3 tahun

Semalam, saya melihat WA status teman kantor yang duduknya di sebelah meja. Video anaknya yang usianya 1+ sedang bermain puzzle kenop hewan. Saya lihat, anaknya anteng duduk dan mencocokkan puzzle, dan bisa! Yeaay, saya ikut senang menontonnya. Lebih senang lagi, soalnya saya yang merekomendasikan puzzle itu ke ibunya, hohoho..

Jadi, beberapa waktu sebelumnya, si ibu bertanya pada saya, mainan apa ya yang bagus buat anaknya. Saya memutar otak, mengingat2 jaman DD usia segitu saya belikan apa ya. Karena jujur, sejak DD masuk sekolah, utamanya sejak di jenjang TK A yang masuk Senin-Jum’at ini, saya udah jarang banget mikirin mainan dan aktivitas edukatif buat dia. Rasanya saya hanya meneruskan aktivitas yang rutin aja, kaya bacain buku sebelum tidur, hafalan surat2 pendek juga boleh dibilang saya ga mengajarkan surat baru, hanya membantu DD menghafalkan yang dia dapat dari sekolah. Saya benar2 terbantu dengan aktivitas dari sekolahnya yang saya yakin sudah membantu memaksimalkan potensi tumbuh kembangnya, alhamdulillah.

Balik lagi ke ide bermain buat anak, ya. Yang saya ingat, saya dulu membelikan puzzle kenop dengan berbagai tema. Kenapa puzzle kenop? Karena dia bentuknya 1 puzzle satu objek, jadi bukannya menyusun kepingan2 puzzle membentuk satu objek. Buat saya, ya menyesuaikan usia anaknya saja. Semakin besar tentu tingkat kerumitannya bertambah jadi bisa diarahkan untuk puzzle yang beneran. Tapi, puzzle kenop memang saya sarankan untuk memperkenalkan anak dengan konsep puzzling ini.

Jadi kepikiran deh, kalau saya bisa merasa senang kalau saran saya bisa bermanfaat buat teman saya itu, kenapa ga saya bagikan saja di blog biar manfaatnya bisa ditemukan orang2 yang memang lagi nyari, wkwkk… jadi..yuk here we go!

  1. puzzle kenop

Itu contohnya ya. Satu objek, satu puzzle. Bisa buat memperkenalkan nama benda (bentuknya apa aja loh, ada bentuk geometri, alfabet, angka, hewan hutan, hewan laut, alat transportasi, sayuran, buah, dsb) juga melatih koordinasi mata, tangan dan melatih penalaran. Harganya juga terjangkau, mungkin sekitar 20-30rb an, di online shop banyak.

2. pasir sintetis

Mainan pasir sintetis ini anak juga suka, tapi biasanya ibu atau pengasuhnya yang ribet beresin setelahnya, wkwk.. Ini juga bagus untuk melatih motorik halus anak, juga sensorinya, jadi anaknya ga gelian. Bisa bikin cetakan2 bentuk pasir sambil coba bercerita, melatih imajinasi dan kemampuan verbalnya.

mainan_pasir__playsand__cetskan_1457136312_d8d04784maxresdefault

3. menuang

Apa yang dituang? Biji2an (beras, kacang hijau, makaroni, dsb), dan cairan (air, susu, sirup warna, minyak, dsb). Alatnya ya cuma teko, cangkir, corong. Atau dibikin main pas mandi sambil tuang2 air juga bisa. Kalau sehari2 kerja jadi hectic, ya pas weekend. Melatih apa? Koordinasi mata dan tangan, kepekaan anak terhadap ukuran, juga sensorinya. Sarannya sih, untuk anak yang usianya lebih kecil, pakai material yang ukurannya lebih besar. Misal, makaroni, kacang merah, terus beranjak ke yang lebih kecil kaya kacang kedelai, jagung, kacang hijau, dan beras.

manfaat-kegiatan-menuang-biji-bijian-dalam-montessori-1-1-1024x557-1
sumber: https://parentalk.id/manfaat-kegiatan-menuang-biji-bijian/

4. menjepit dan memindahkan benda

Alatnya cukup pakai penjepit plastik yang bisa beli online atau di toko barang2 plastik. Semakin kecil anak, semakin besar benda dan penjepitnya ya. Soalnya kan melatihnya bertahap. Benda yang dipindahkan apa aja? Kalau DD waktu itu saya kasih legonya sih. Soalnya biar enteng dan ga gampang pecah atau berantakan. Bentuknya juga ga kecil2 banget.

scalloptongs_w

nah anak dikasih jepitan itu, disuruh memindahkan benda2 kecil ditaroh ke mangkok. Lebih bagus lagi kalau benda dan mangkoknya warnanya disamakan, Nanti setelah anaknya lebih besar, bisa jepitannya diganti ke pinset plastik dan legonya diganti pompom.

2108934_0320dbd0-bfa2-47c9-b6f6-99a346611815_1560_1560

Menjepit, menuang, menggunting, dan aneka kegiatan lain yang melatih motorik halus anak ini bagus buat persiapan dia menulis nanti loh. Jadi, otot2 tangan anak sudah terlatih lewat kegiatan yang kelihatannya main2 ini. Ga langsung nanti disuruh megang pensil dan tracing pola huruf. Lebih rentan pegel dan bikin stres anak kalau tidak dipersiapkan sedini mungkin.

5. membentuk dan membangun

Untuk membentuk, bisa dikasih plastisin. Diajarin menggiling, bikin hewan, bikin buah, bikin bentuk geometri (segitiga, kerucut, lingkaran, bola, persegi, kubus, tabung, balok). Bikin alat transportasi, alat dapur, dsb banyak deh idenya. Ini melatih motorik halus juga, menguatkan otot tangan juga.

lucunya-27-kreasi-lilin-mainan-ini-bikin-nggak-percaya-160308c

Terus untuk membangun, bisa pakai lego. Legonya untuk anak yang masih kecil ukurannya lebih besar, nanti semakin besar akan semakin mengecil. Lego ini bagus loh untuk melatih imajinasi, memperkenalkan bangun ruang dan tekstur juga. DD sudah ngeh main lego itu seru sejak umur 1,5-2 mungkin ya, sebelumnya ya dia ga ngerti itu lego musti diapain, wkwkwk..

mainan_anak_lego_isi_156_pcs_incl_box

Seringnya sih, untuk mainan anak, saya googling pake keyword “mainan edukasi anak usia … th”. Nah, nanti kan keluar tuh artikel2 tentang rekomendasi mainan apa aja untuk anak. Nah saya sesuaikan deh mainan yang kira2 cocok dengan usia anak, trus apa yang mau saya kuatkan di sisi tumbuh kembang anak.

Misal, mau menguatkan motorik kasar? Main lempar tangkap bola plastik. Sudah mahir dengan bola plastik yang besar? Beralih ke bola yang lebih kecil, misal bola basket kecil trus bola tenis. Mau menguatkan motorik halus? Latihan menjumput benda, menggunakan pinset atau tweezer. Menempel stiker. Bermain warna dengan cat air, dengan kuas atau tangan atau bonggol sayuran. Memindahkan air dengan spons (meremas spons trus dikucurin di atas wadah). Bahkan memasukkan sedotan ke botol plastik aja bisa jadi seru loh.

Semangat main sama anak! ❤

 

 

Menu Bekal Sekolah Anak : Spagetti Aglio Olio

DD sudah masuk sekolah dari tahun lalu, jadi kenapa baru bikin postingan resep bekalnya sekarang, buu….

Ya karena baru sempet 😀

Baik itu sempet masaknya yang macem2 maupun sempet potonya buat konten blog 😀

Awal masuk sekolah, ada ketentuan dari sekolahnya untuk bawa bekal, dan bekalnya ga boleh frozen food, ga boleh snack yang banyak msg nya (gampangnya: ciki2an), dan apalagi ya kok saya lupa.. Selama playgrup kemaren yang masuknya cuma 3 kali seminggu saya masih agak nyantai ya. Ya ga senyantai itu juga sih karna nyiapinnya tiap pagi, bukan dari malam sebelumnya.

Nah kemarin mumpung lagi merasa bekelnya lucu, saya foto deh. Yuk cuss aja resepnya, gampang banget ini soalnya.

Bahan:

  1. spagetti : 1 genggam kecil
  2. minyak : 2 sendok makan
  3. sosis/ daging cincang/ daging asap/ tuna: 2-3 sendok makan
  4. bawang putih: 2 siung ukuran sedang
  5. cabai merah: 1/2 buah
  6. garam: 1/2 sendok teh
  7. merica: 1/4 sendok teh
  8. air untuk merebus spageti, sekitar 300-400ml
  9. minyak untuk merebus spageti, 1-2 sendok makan

Cara membuat:

  1. rebus spageti sampai al dente , campurkan minyak dalam rebusan air agar spageti tidak lengket, tiriskan
  2. potong2 sosis atau siapkan daging cincang/daging asap/ tuna, sisihkan.
  3. iris2 bawang putih dan cabai merah
  4. nyalakan kompor, tuangkan minyak untuk menumis ke dalam wajan, masukkan irisan bawang putih dan cabai merah sampai harum, masukkan potongan sosis, aduk sampai matang.
  5. bumbui dengan garam dan merica
  6. masukkan spageti, aduk2 hingga tercampur
  7. matikan kompor, tata dalam tempat bekal.

spagetti aglio olio

Yang jadi masalah adalah DD susah makannya (kaya emaknya). Pulang2 itu spageti boleh dibilang masih utuh 😥

Pas ditanya kenapa ga dimakan, katanya buru-buru mau main ke playground, tangannya capek kalau makan T_T

Bubunya sedih, akhirnya sore disuapin, dan habis dong. Kan sedih ya 😐

Tapi bubunya ga patah semangat (lagi semangat aja sih) buat nyari makanan lain buat bekalnya DD.

[Review] Open House TK Tunas Wiratama

Halo, long time no posting.

Awal tahun adalah sama saja dengan akhir tahun dari sisi kesibukan kerjaan, jadi saya sempat-sempatin nulis ini demi berbagi informasi kepada emak-emak yang sedang mencari di jagat internet ini.

Oke, enough basa basinya.

Sabtu, 9 Februari 2019 lalu kami menyempatkan diri mengikuti program open house yang diadakan oleh TK Tunas Wiratama atau nantinya disebut tama saja. Informasinya didapat pas scrolling timeline ig, kebetulan memang saya follow dari tahun lalu. Setahun lalu pas saya sedang cari-cari daycare untuk DD, saya sebetulnya sangat tertarik dengan Tama ini, sudah pernah survey langsung juga, cuma reviewnya ga saya tulis di sini aja. Hal yang mengurungkan niat kami menitipkan DD di sini adalah lokasi Tama yang melenceng dari arah rumah-kantor, sehingga kami harus memutar dan menempuh jarak lebih jauh. Juga jam masuk dan pulangnya yang tidak akan bisa sesuai dengan jadwal kami. Jadi, Tama cuma jadi keinginan terpendam aja.

Tapi tetap penasaran, makanya kemaren kami bela2in ke sana deh. Dan DD pun senang sekali main2 selama open house itu. Seperti review tk tunas wiratama di mana2, ya memang begitulah dia. Bangunannya adem, luas, nyaman, keren.. visinya juga keren menurut saya, tidak menjanjikan anak cerdas cas cis cus in english tapi bisa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dengan baik dan benar. Tidak menjanjikan anak cerdas matematika, bahasa atau apa tapi menjadi anak yang bahagia. Cocok banget dengan apa yang para psikolog itu bilang bahwa di usia pra sekolah itu yang berkembang memang otak yang mengatur kecerdasan emosi kan?

Anyhow, kalau mau info lebih jelas di websitenya juga udah ada kok, jelas sampai biaya juga.

Oh, dan untuk tahun ini program daycare ditutup karna kurang peminat, jadi tama itu pure preschool aja.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Website tk tunas wiratama

Silakan ya diliat2.

Maafkan saya gabisa nulis banyak2, beneran lagi ga sempet-sempet. Sementara itu dulu, nanti kapan2 dilanjut lagi.

Ciao.

 

Making It Real

sailormoonanime

Ada yang ga tau Sailormoon? Kayanya pada tau lah ya, se gak kenal apa dulunya tapi kalo udah liat gambar di atas akhirnya jadi tau kan? *maksa

Saya itu anak yang masa kecil sampe menikah ini suka baca buku. Buku ya, bukan komik atau majalah. Setelah punya anak sih udah ga segitunya, ga kaya sebelum punya anak ya. Masih, tapi secara frekuensi baca dan beli buku udah jauh bangetlah, ada turun 90% kali dan tersisa 10%, budget dan waktu dialokasikan buat buku anak dan bacain buku ke anak, wkwkwk..

Dulu pas saya masih kecil, usia 10 tahunan mungkin, saya suka banget sama Sailormoon ini. Sukanya sebatas suka nonton di tv aja sih setiap sore pulang TPA, ga baca komiknya karna dulu pas masih kecil saya ga dibolehin baca komik dan karna saya anak penurut ya beneran ga pernah baca komik dong.. Bacaan saya dulu ya buku yang ada di perpustakaan sekolah. Sekolah ibu (karna Ibu guru) dan kalo saya pulang nunggu ibu di sekolahnya ya saya baca buku2 yang di perpus sekolah Ibu. Buku cerita anak, ensiklopedia macam2 (tanaman buah, tanaman bunga, hewan, dst), cara bercocok tanam, cara beternak, planet2, semua yang ada di perpus saya baca.

SMP pun ya aktif jadi anggota perpus, bacaannya ya buku2 perpus, mana ada komik sailormoon di perpus ya kan.. Tapi cerita mitologi yunani dan romawi udah ada kok. Buku populer sih masih jarang ya, tapi waktu itu ya saya kebetulan dapet aja pinjaman buku populer macam Animorphs, Enid Blyton dst dari teman atau kakak yang nyewa dan saya ngikut baca. Sampe SMA saya masih jadi anggota perpus yang aktif baca dan pinjam buku bawa ke rumah. Di SMA mulai baca ga cuma buku novel atau roman tapi juga majalah sastra, Horison sama Kakilangit. DUlu salah satu cita2 adalah jadi kontributor di Horison atau Kakilangit, isinya puisi2 gitu, makanya saya jaman SMA-kuliah itu puitis banget deh, temen sebangku selalu jadi korban dikasih puisi2 iseng saya, wkwkwk.. Dan di SMA sih yang mulai merambah ke penyewaan buku di luar sekolah, dan mulai baca komik, komiknya Detective Conan, Inuyasha, malah Sailormoon ini ga terlalu tertarik saya baca komiknya. Ga berwarna soalnya, kalo yang berwarna (tapi bukan komik, buku yang halamannya gede gitu kaya buat bocah) malah saya baca, wkwk. Karena pas nonton Sailormoon di TV, salah satu yang mempesona ya warna warninya yang cantik2 dan juga sebagai identitas kan. Sailor Mars itu merah, Sailor Venus itu oranye, Sailor Jupiter itu hijau, dan Sailor Merkurius itu biru.

Sampe kuliah, saya masih seneng banget sama Sailormoon ini. Kenapa? Entah ya, atas nama nostalgia masa kecil mungkin. Sailormoon ini yang lumayan mengikat saya sampe saya bela2in selalu pulang ontime setelah ngaji demi buat nongkrongin TV liat kelanjutan ceritanya, macam emak2 nonton drakor kali. Dan saya suka sekali sama OSTnya. OST opening sama closingnya yang cuma musik doang ga ada liriknya. Itu saya inget betul sampe pas setelah bisa coba2 main alat musik sendiri ya cari2 buat mainin nadanya pake feeling aja. OSTnya yang saya suka banget malah bukan tentang yang Sailormoon, tapi yang Chibiusa sama Pegassus. Yang ini:

Chibiusa: Goodbye Pegassus

Kayanya waktu itu saya menjiwai banget ya sedihnya si Chibiusa pas sempet kehilangan Pegassus. Tapi kalo lead male nya saya ga terlalu suka Pegassus kok. Saya suka (banget) nya sama Tuksedo Bertopeng. Dan harus pas dia jadi Tuksedo Bertopengnya, bukan pas di real life jadi Mamoru Chiba. Karena karakter tuksedo bertopeng sama Mamoru itu beda, Mamoru masih bisa bercanda, ngledekin Usagi (manggil kepala onde-onde), dan bikin Usagi nangis dan sakit hati karena cemburu (atau patah hati), dan pas itu saya beneran nangis dan kesel sebel gitu sama Mamosu, wkwkwk dasar bocah! Kalo Tuksedo Bertopeng kan enggak dong, dia selalu ada dan selalu siap menolong Sailormoon.

mamoru_chiba_tuxedo_mask_by_englandhalifax-da02wmh

Dan efek dari itu adalah, pas kemaren di sekolah DD dari jauh2 hari sudah diumumin bakal ada fashion show dari plastik daur ulang. Awalnya saya bingung si DD mau didandanin apaan, secara cowok ya, manalah bisa heboh buat kostum. Trus ibu sempet nyaranin, udah daripada bingung dan repot2 beli jadi aja. Sempet saya nyari beneran kostum daur ulang untuk anak lelaki gitu kan, eh yang model power ranger harganya 300ribuan.

Mundurlah, mending bikin kan paling seberapa sih bahannya. Dan karena pas liat di youtube dan search google, rata-rata yang cewek itu gaun-gaun heboh gitu, saya kan gamau DD kebanting ya pas fashion show sama anak cewek. Maka saya bertekad musti ada jubahnya juga. Power ranger ga punya jubah, Superman gitu doang, pake celana dalam di luar, Batman item semua, topengnya susah, akhirnya, aha! *cling! kepikiran aja bikin Tuksedo Bertopeng, wkwk. Ada jubahnya, ada topinya, ada topengnya, bawa mawar pula. Okelah cocok. Eksekusinya setengah hari, dari jam 12 siang sampe jam 12 malam, wkwkwk..

Dan karna si DD asing sama kostum yang bakal dia pake, berkali2 nanya, “DD jadi apa ini?” maka saya tontonin ke dia OST Sailormoon yang ada tuksedo bertopengnya, dan besoknya dia bisa bangga banget pake kostumnya. Sempet dikira pesulap kaya Pak Tarno dan diledekin ibu2 lain, “yak tolong dibantu jadi apa, prok prok prok!” itu dia beneran ga terima dan teriak, “bukaaan… ini doksedo bertopeeeng!” wkwkwk, secara dia nyebut tuksedo aja masih belepotan ya bocah 😀

46420138_10218185428252352_7484289690795769856_n

Anyhow saya seneng pas akhirnya bisa liat si DD pake kostum tuksedo bertopeng itu sih. Emaknya yang punya hajat ya, anaknya mau power ranger emaknya tuksedo bertopeng ya hasil akhirnya tuksedo bertopeng, wkwk.. Masih ada tahun berikutnya ya Nak, nanti kita pikirin lagi tahun depan mau bikin kostum apa.

Makasih udah baca ❤

Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

Saya sebenernya agak ga pede mengangkat topik ini, karena merasa ga pernah benar-benar serius mempersiapkan DD masuk sekolah. Saya cuma merasa, proses sekolah DD dari awal sampai sekarang, sudah 4 bulan masa sekolahnya, cenderung mudah dan tanpa drama. Maka saya merunut mundur, mengingat-ingat, kira-kira di tahap mana DD mulai siap secara psikologis untuk sekolah sampai akhirnya saya berani melepas DD untuk bersekolah di tempat yang sekarang.

Awalnya, DD itu anak rumahan bangeet. Yang saya ga bolehin keluar main karena menurut saya belum waktunya DD bersosialisasi, yang masih ingin saya tanamkan dulu nilai-nilai personal yang saya ingin dia anut. Yang saya kuatir dia belum bisa kontrol tangan jadi masih kasar. Yang saya kuatir dia belum masanya berbagi karena belum mengenal konsep kepemilikan.

Baca juga: Tentang Berbagi

Maka ada masanya, di umur 1,5-2 tahun, pas saya masih LDM sama suami, DD itu sangat pemalu. Pemalu yang kalo kami ajak main di taman, dia papasan sama anak lain, DD akan memilih memutar dan menghindar dari bertemu teman sebaya. Pemalu yang kalau bertemu sama orang asing tanpa disounding bahwa akan bertemu orang asing terlebih dulu, maka DD akan diam seperti shock atau mencerna situasi, ini bisa berlangsung sampai belasan menit, lalu kalo sudah ga kuat bakal nangis kejer sampe saya bawa masuk ke dalam, ke zona aman dia. Karena kalo DD ketemu orang yang sudah agak familiar ya sebenernya dia baik-baik saja kok.

Nah, setelah saya cermati bahwa DD punya kecenderungan pemalu dan menghindar seperti itu, saya bilang ke suami (setelah selesai LDM) buat lebih sering berinteraksi sama DD. Karena kedekatan dengan ayah kan mempengaruhi kepercayaan diri seorang anak. Ada pendekatan-pendekatan dan karakter kelelakian yang hanya bisa DD dapat dari ayahnya dan bukan dari saya. Kalau dari figur laki-laki pengganti ayah misal kakek atau pakdhe/om sih saya ga tau ya, apa cukup sebagai pengganti atau ga. Kalo saya sih, toh LDM udah selesai, jadi secara frekuensi ketemu yang tadinya seminggu sekali bisa setiap hari yaudah dimanfaatkan sebaik-baiknya. 😀

Setiap pagi, suami berangkat kerja pukul 07.30. Saya minta suami mengajak DD main di pagi hari, seringnya waktu itu mulai jam 06.15-07.00, jadi ada 30-40 menit DD main bareng ayahnya saja. Mainnya di RPTRA dekat rumah. Kadang saya ikut, tapi ga sering, beneran itu quality time di pagi hari buat DD dan ayahnya saja. Di situ, DD dan ayahnya kadang main bola, kadang lari2an aja, kadang keliling lapangan aja, kadang naik turun tangga, kadang main lempar tangkap bola. Itu buat latihan motorik kasarnya.

Kadang juga mengamati lebah yang sedang menghisap madu di bunga di taman, belajar mengenali tanaman dan bunga cabe, main pasir, buat observasi dan pengenalan lingkungan. Kemudian akhirnya, ngikutin anak2 SD yang mau berangkat sekolah 😀

Dari yang tadinya DD menghindar dari teman sebaya menjadi tertarik dan berani ngikutin kakak yang mau sekolah. Ngikutin itu ya jalan di samping atau belakang kakak itu, terus dadah2 sama mereka sampai mereka ngilang di balik gerbang sekolah. Terus diajak ayahnya nonton kakak lagi upacara di lapangan sekolah. Terus di beberapa kesempatan, sekilas aja saya dan ayahnya mengenalkan itu TK, DD bisa sekolah di situ, DD mau sekolah di situ? saat kami melewati beberapa sekolah incaran saya buat DD.

Baca juga: Tentang Sekolah

Meskipun aktivitas persiapan mental ga disengaja ini udah kami mulai sejak usia DD 2 tahun 7 bulan, rencana idealis saya adalah menyekolahkan DD di usia 6 tahun (di jenjang TK B) sebelum lanjut ke SD. Siapa sangka akhirnya saya sekolahkan DD di usia 3 tahun 8 bulan di level playgroup, dan itu pun dia jadi murid tertua di kelasnya yang muridnya cuma 5 orang itu 😀

Jumlah murid di kelas juga menjadi pertimbangan saya sih. Seperti saat saya mencari daycare buat DD, saya cari yang jumlah anaknya ga terlalu banyak, supaya DD ga harus langsung beradaptasi dengan banyak orang.

Baca juga: Daycare

Di sekolah DD yang sekarang, jumlah murid playgroup ada 5 orang termasuk DD, TK A ada 9 orang, dan TK B ada 9 orang. Ketemu teman sesama playgroup 3 kali seminggu @2,5 jam, dengan kakak kelas dari TK A dan TK B dalam porsi yang lebih sebentar pada saat doa bersama atau assembly lainnya yang memungkinkan ketemu di ruang bersama yang lebih besar. Buat saya, saat ini, sekolah DD cukup dan memenuhi kebutuhan interaksi sosial DD yang masih butuh pendekatan intensif.

Cara sekolah ini membangkitkan minat anak pun menurut saya cukup smooth. Di hari pertama sekolah, ada pendongeng yang seru yang bikin minat anak2 langsung terpusat dan udah ga inget lagi sama orang tua yang pada nungguin mereka. Seingat saya, ga ada anak yang nangis minta pulang atau takut sekolah, ada yang takut dan ragu dan masih ditemani ibunya, tapi ga ada yang nangis. Dan sampai 4 bulan berjalan ini, DD selalu inisiatif mau sekolah, bahkan di saat hari seharusnya dia libur sekolah tapi ayah ibunya kerja, dia minta sekolah.

Alhamdulillah, saya bersyukur Allah mudahkan jalan hidup kami sampai sekarang. Kami yang diberi kesempatan membangun mental DD dari yang pemalu dan takut ketemu orang jadi cukup PD buat kenalan, tanya, “namanya siapa?” sambil ngajak salaman atau tos. Hampir setahun sih kalo diitung-itung dari mulai rutin main di RPTRA tiap pagi sampai DD betulan masuk sekolah. Terima kasih babah :*

dd school

Perjalanan masih panjang, semoga selanjutnya selalu Allah beri kemudahan dan kelancaran.

Yang mau lanjut persiapkan anak sekolah, semangat! Udah masanya SD2 pada open house ini, boleh disurvey mana yang cocok di visi misi dan di kantong 😀

Warm regard,

Ast ❤

Tentang Sekolah

Kapan baiknya anak mulai sekolah?

Deuh, pertanyaan basi yang jawabannya hanya orang tua anak masing-masing lah yang tau 😀

Hari ini, DD awal masuk sekolah. Ini jelas melenceng dari rencana awal saya bahwa ingin DD sekolah resmi hanya setahun sebelum SD, yaitu di tingkat TK B. Iya, saya mengamini pendapat psikolog terkenal itu bahwa jangan terlalu dini memasukkan anak ke sekolah, karena nantinya anak akan terkena sindrom BLAST (silakan googling) dan jenuh sekolah yang berakibat buruk di masa depannya.

Tapi idealisme selalu dibenturkan dengan realita, toh? Dan akhirnya memaksa kita berkompromi, atau mencari jalan tengah terbaik, asalkan bisa survive.

Jadi, meskipun saya merencanakan DD sekolah mulai TK B, yang itu adalah 2 tahun lagi, sebenarnya saya sudah sering sounding tentang sekolah sama DD. Saya sudah ngincer beberapa sekolah yang kira-kira bakal jadi calon sekolah DD. Dari yang basis islam di belakang kantor di deket masjid, yang di ujung jalan rumah yang pakai metode montessori tapi ga basis islam, ra deket masjid di (agak) deket dari rumah, sampai tk yang semi sekolah alam yang agak melipir dan melenceng dari jalur rumah-kantor. Sudah ada 4 calon ya, dan saya sudah survey kasaran nominal biaya masuknya beberapa dari sekolah itu.

Kasaran, karena saya masih mau persiapan. Kalau mau pendidikan yang bagus, ya biar saya nabung dulu, biar ga berat2 amat. Karena meskipun jenjang sekolah “baru” TK, tapi ini adalah pondasi untuk ke jenjang berikutnya. Ada TK yang satu yayasan dengan SD jadi lulusan TK itu jelas lebih diprioritaskan untuk masuk SD yang diincer. Misal, TK Attaqwa dengan SD Attaqwa, RA Istiqlal dengan MI Istiqlal, TK Al Azhar dengan SD Al Azhar. Apa saya mau masukin DD ke sekolah2 itu? Sebagai orang tua, ya pengen ya, anak masuk sekolah terbaik. Meskipun kalau lihat biaya sekolah dan biaya sosialnya, kayanya saya mundur teratur aja deh, hahaha… Sekolah yang menyediakan ga cuma pendidikan berkualitas atau sevisi dengan orang tua, tapi dari berbagai sumber tentu kita tahu bahwa sekolah jaman sekarang juga jadi sarana mengembangkan jaringan.

Makanya saya ingin sekali membantu DD dengan cara yang saya bisa, yaitu dimulai dengan memilihkan sekolah terbaik sejak dari jenjang termuda sekalipun. Goal saya sih SD ya, tapi liat nanti deh jadinya di mana karena sampai sekarang saya belum pasti juga mau sekolahin DD di mana.

Semua keputusan impulsif akhirnya menyekolahkan DD di usia 3 tahun 8 bulan ini dimulai tentu sejak pengasuh yang saya ceritakan di sini

Setelah akhirnya memantapkan diri dengan pengasuh tetangga sendiri yang pulang pergi, saya memikirkan untuk memasukkan DD ke sekolah, dengan berbagai pertimbangan. Utamanya sih supaya DD bisa lebih luas pergaulan dan wawasannya ga di rumah aja, supaya pengasuhnya bisa fokus ke kerjaan RT saat DD sekolah, dan supaya saya sebagai ibu bekerja lebih tenang karena DD sudah saya bangunkan komunitas pendukung yang lebih solid. Win win solution lah buat kondisi yang tidak ideal yang kami alami ini.

Dan balik ke cerita di atas, saya sudah ngincer beberapa sekolah. Itu DD juga saya sounding sambil mampirkan ke lokasi sekolah-sekolah itu. Nanti DD sekolah di sini, mau? Dan untuk ke-empat sekolah itu, jawabannya selalu mau 😀 Jadi karena anaknya juga mau, beneran seminggu sebelum sekolah mulai saya baru masuk dan tanya ke satu sekolah terdekat dari rumah kami. Iya, cuma satu, dan prioritas saya cuma DD bisa sekolah dekat rumah. Dan prosesnya cepat sampai saya daftar, bayar, dapat seragam, beli keperluan, dan pagi ini mengantar anak saya yang pertama itu sekolah.

Rasanya: ngawang-awang.

FYI, DD sekolah preschool ini di usianya yang 3 tahun lewat 8 bulan dan di kelasnya dia sudah jadi yang tertua 😀 saya jadi sungguh takjub bahwa orangtua jaman sekarang memang betulan memasukkan anaknya sekolah di usia dini. Saya sambil berdoa dalam hati semoga DD betulan enjoy dan ga tertekan. Meskipun saya sendiri adalah produk sekolah usia muda juga, hehe.. Tapi kalau dilihat tadi, DD senang main, excited dengan pendongeng, pas kami pamitin cuma dadah2, ga mau saya cium tapi milih cium saya, dan memang ga nangis sampai pulang. Well, semoga memang sudah siap sekolah.

Semoga ga galau lagi ❤

Ast.

 

[Review] Maffna Daycare

Halo,

Memenuhi janji saya untuk review daycare di sekitar Jakarta Pusat, kali ini saya akan memaparkan hasil survey saya ke Maffna Daycare.

21743451_128922274510981_3180297918880167457_o
source: facebook maffna daycare

Langsung aja ya,

  1. Lokasi

Maffna Daycare beralamat di Johar Baru Utara 1, RT.4/RW.3, Johar Baru, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10560. Di GPS ada jadi ga masalah nyarinya, paling yang agak bingung nyari nomor rumahnya, karena di depan jalan udah ada spanduk besar jadi kita tinggal masuk dan menyusuri rumah buat nyari daycarenya.

2. Kondisi

Maffna ini kaya rumah dan kaya tk. Jadi masuk halaman ada jungkat-jungkit, ga terlalu luas halamannya, dan ada rak sepatu di depan. Masuk ada ruang untuk belajar, lalu masuk ke dalam ada ruangan yang terasa panjang dan (buat saya pribadi, homy) banyak mainan, lalu ada 2 kamar tidur, ada dapur dan kamar mandi di belakang ruang panjang itu. So far, so good. Ruangnya semarak karena banyak tempelan dan wallpaper tembok yang bikin terasa sangat child friendly. Saya bayangin DD bakal seneng di sini. Someday, maybe.

3. Rasio caregiver: anak

Pas saya tanya2, ada sekitar 5 pengasuh dan 20an bayi dan anak, dan ga terlalu terpisah mana pengasuh bayi dan anak. Oke, ada pembagian tapi nantinya tetep fleksibel mana yang butuh dipegang dan mana yang bisa cukup diawasi.

4. Jadwal Harian

Aduh saya udah agak lupa detailnya, tapi tiap anak dengan umur tertentu udah ada jadwalnya sendiri dan terpisah dengan jadwal anak umur lain. Misal, bayi ada waktunya sendiri tidur jam berapa, trus gantian tidurnya sama toddlernya. Mainnya pun dipisah tempatnya untuk bergantian. Setiap Jumat olahraga, jalan2 di sekitar aja (jadi inget jaman TK), dan minimal sebulan sekali jalan-jalan keluar ke taman menteng atau lokasi lainnya. Jalan-jalan ini lumayan lengkap diposting di ignya, cek aja nanti ke sana. 😀

5. Mandi

Mandi pisah, kemaren saya sempet ngintip kamar mandinya. Cukup terang dan lapang. Ada loker pribadi untuk barang-barang pribadi anak, ada juga yang nitipin barang-barang anaknya (dalam artian ga dibawa pulang setiap hari).

6. Makan

Makan siang dan sore plus snack, jadi sepertinya anak sudah harus sarapan di rumah.

7. Tidur

Ada 2 kamar dengan kasur besar (kasurnya gabung jadi satu untuk sekian anak). Dan ada juga kasur di luar di tempat main yang panjang itu, kalau2 ada orang tua yang ga ngebolehin anaknya tidur di ruang ber-AC. Seingat saya kamarnya pisah untuk lelaki, perempuan, tapi untuk bayi cuma beda jadwal tidur aja.

8. Lain-lain

Saya ga tanya detail juga untuk imunisasi dan jadwal dokter. Tapi di brosurnya sepertinya ada jadal konsul psikolog segala. Kalau secara program sih kayanya lumayan mumpuni ya. Kelas montessori pula seinget saya.

9. Biaya

Uang pendaftaran: 200rb

Uang pangkal: 1,5jt pertahun

Uang kegiatan anak usia 1,5-6 th: 1,5jt per tahun

Biaya bulanan anak usia 1,5-6 th: 1,5jt per bulan

Overtime mulai 17.41 sebesar 20.000 per jam.

Info lebih jelas WA ke 08082189303262

IG: maffna daycare

Nah, sekian dulu untuk Maffna Daycarenya ❤

See you on next post!

Baca juga:

[Review] Indonesia Ceria Daycare

[Review] Chike Daycare Jakarta Pusat

The Other List

The Other List

Halo,

Kali ini saya mau memberikan daftar daycare yang sudah pernah saya tanya2 (doang) atau saya survey tapi karena pertimbangan tertentu ga memungkinkan untuk saya masuki. Yah, sekedar info bahwa daycare ini ada lho, eksis, jadi silakan aja kalau mau tanya2 lebih detail, karena info dari saya cuma sekedarnya. 😀

So, here they are!

  1. BNPB

Sebenernya, saya naksir berat dengan daycare ini. Lokasinya di gedung BNPB di Jalan Pramuka No.38, RT.10/RW.5, Utan Kayu Utara, Matraman, RT.11/RW.5, Utan Kayu Utara, Matraman, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13120. Tepatnya di lantai 2.

Pas saya survey ke sana sih, ya layaknya kantor tapi dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi jadi ya ada nglewatin metal detector segala. Daycarenya bagus, sayang cuma untuk pegawai BNPB aja. Ya, rata-rata daycare kantor pemerintahan begitu sih. Kemensesneg, Kemenkeu pun terbagi yang DJPB dan DJA juga buka daycare untuk pegawai internal aja. Yasudahlah. Semoga kantor saya segera bisa buka daycare sendiri ya… Ada amin? >,<

 

Dengan ruang seluas itu, pengasuh 4 orang, dan hanya menerima 10 orang anak saja. Bisa guling2 bebas banget ya. Dan biaya bulanan 750k saja buat pegawai. Ngiri banget sih hahaha….

2. Harvest Daycare

Ini saya liat di ig: harvest daycare

boleh lihat foto2nya di sana. Cakep2 dan saya naksir, tapi lokasinya agak menjauh dari kantor jadi mikir2 dulu. Chat lewat WA dengan admin, tanya2 biaya, tambah mundur hahaha…

Buka jam 7 pagi – 6 sore.

Makan 3 kali dan buah 1 kali.

Biaya: harian 350rb, mingguan (Senin-Jumat) 1,6jt, bulanan 3,5jt, registrasi untuk bulanan 3jt.

3. sekolah istiqlal

ini entah apa menyebutnya. Sebenernya sih saya naksir istiqlal ini, karena searah dengan kantor, lokasinya bagus, lapang, dan ini masjid terbesar se …. ya se jakarta lah ya minimal (ketauan cetek wawasannya ya).

Madrasah istiqlal ini juga udah jadi pusat studi banding pendidikan Islam, infonya bisa dilihat di madrasah istiqlal .

Ada kelompok bermain (setingkat PAUD atau preschool), RA (setingkat TK), MI (setingkat SD), MTS (setingkat SMP) dan MA (setingkat SMA). Saya coba kontak lewat email dan telpon, tapi yang telpon lebih fast respon. Sayangnya jam tutupnya lebih awal, sekitar jam 14.00 jadi setelah itu ya pe-er lagi buat orgtua nitipin anak di mana kan..

Tentang biaya, terus terang saya agak lupa karena telponnya sudah agak lama. Seingat saya, uang pangkal sekitar 12,5 juta dan bulanan 1,75 jt. Sepertinya masih ada biaya registrasi 250rb, tapi detailnya silakan tanya langsung aja ya.

Telp. +62 21 350 0711.

4. Bintang Waktu

info tentang Bintang Waktu ini sangat minimalis.

ig: bintang waktu

wa: 082260886810

Jadi saya cuma tanya2 lewat wa aja. Itupun tentang biaya aja:

pendaftaran 600rb

deteksi tumbuh kembang 350rb

uang pangkal 10jt

spp bulanan 3,175 jt

kalau mau trial bayar 300rb

5. TK Pelangi Anak (Green Pramuka Square)

Letaknya di Tower Pino (yang warna kuning) di atas DIY Loundry. Kapasitasnya ternyata kecil, hanya bisa menampung 6 anak dan sekarang udah ada 3 anak. Tapi yang tinggalnya di GPS dan lagi ga ada pengasuh ya ini bisa jadi salah satu alternatif sih..

ig: tk pelangi anak

IMG-20180529-WA0010

6. Little Owl

ig: little owl Indonesia

alamat: Jl. Kesehatan III No.29, RT.3/RW.6, Petojo Sel., Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10160.

WA: 0812-8178-7886

Kalau liat ig dan ulasan di urbanmama sih naksir ya.

Biaya2: pendaftaran 4jt, bulanan 3,8 jt. Ga cuma daycare tapi ada preschool juga, biaya ada lagi terpisah. Silakan kontak wa aja ya 😀

Nah, sementara segitu dulu. Next saya mau share lagi daycare yang udah saya kunjungi dan cek fisik ga cuma tanya2 doang.

Baca juga review daycare lainnya:

[Review] Maffna Daycare

[Review] Indonesia Ceria Daycare

[Review] Chike Daycare Jakarta Pusat

Ditunggu ya ❤