Tentang Memilih Homeschooling (1)

Akhirnya saya beranikan juga nulis ini.

Niatnya sih, nanti2, sebulan dua bulan, gitu setelah udah beneran menjalani. Tapi pikir saya, yaudahlah, udah beneran nyemplung juga. Masalah realitasnya seperti apa setelah benar-benar menjalani, ya nanti pasti masih bisa kok ditulis. Yang sekarang juga hasil kegalauan sekian lama, soalnya. Yok, mulai.

Berawal dari … pandemi.

Oh, enggak. Pandemi mungkin trigger utama, tapi sebetulnya keinginan untuk bisa homeschooling sendiri mungkin muncul di usia Dd baru 6-7 bulan, mungkin. Waktu itu saya masih aktif di FB dan memfollow salah seorang praktisi homeschooling yang lumayan populer, yaitu Kiki Barkiah dan Abah Ihsan (?). Melihat kisah2 mereka dan nilai2 yang ditanamkan pada anak2nya, sedikit tercetus keinginan di dalam hati untuk bisa begitu juga ke Dd. Meskipun ya masih sadar diri sih, melihat kenyataan bahwa saya adalah ibu bekerja yang berada di luar rumah sejak jam 7.30-17.30, kalau normal. Kalau tidak normal ya lebih dari itu. How come bisa2nya pengen homeschooling anak. Sama siapa? Resign juga berat, yah gitu deh, pikirannya macam2. Jadi keinginan homeschooling (selanjutnya saya singkat jadi HS) masih cuma sebatas keinginan.

Terus, di usia 3 th 8 bulan, Dd mulai saya masukkan kelas playgrup di dekat rumah. Masuk 3 kali seminggu, 2,5 jam per pertemuan. Cerita lengkapnya di Tentang Sekolah ya. Berlanjut sampai anaknya naik ke kelas kinder A alias TK A. Lalu di tengah semester 2, bulan Maret, terjadilah pandemi ini di seluruh dunia. Kebijakan pendidikan saat itu (dan sampai sekarang masih), yaitu anak belajar di rumah. Didampingi orangtua. Guru bertugas menyusun materi dan memantau serta memberikan penilaian atas kecukupan hasil belajar anak.

Bulan pertama, masih masa adaptasi untuk saya, DD, dan ayahnya. Kantor kami masih menerapkan kebijakan WFH (work from home) dan WFO (work from office) secara bergiliran. Sebisa mungkin saya mengatur jadwal agar wfh saya tidak berbarengan dengan suami, hanya supaya setiap harinya ada yang bisa mendampingi Dd mengerjakan tugas sekolahnya. Karena, wfh kan bukan libur, tetap ada tanggung jawab (dan deadline) pekerjaan yang harus dipenuhi. Tugas sekolah juga sama. Terus terang, di bulan2 awal, saya justru merasa wfh + sfh + cfh (course from home) ini sangat melelahkan. Jam kerja menjadi tidak beraturan, karena sekian pekerjaan harus diselesaikan dengan deadline berkejaran. Tapi yasudahlah, the job must be done.

Tugas sekolah, apa kabar? Ya sami mawon… Tapi intinya, setelah pembelajaran lebih lagi, akhirnya, ya bisa juga beradaptasi. Dan saya juga jadi lebih mengenali Dd, dari mengajarkan dia materi2 tugas itu. Misal, saya jadi tahu bahwa mengajarkan menghafal ayat, 1-2 ayat per hari itu sudah bagus, bukannya menghafal setengah surat. Saya jadi tahu bahwa Dd tidak terlalu suka menggambar, karena memegang alat tulis/ warna itu melelahkan (ini saya banget, sampai kelas 1 SD masih tidak suka menulis sendiri karna capek). Saya jadi tahu bahwa Dd lebih memilih melihat saya bersedih dibanding marah padanya. Kenapa?

“Kalau Bubu marah, Dd takut. Tapi kalau Bubu sedih, Dd bisa hibur Bubu.”

Oke, hero. Sekarang lanjut hafalan suratnya.

Wkwkwk, candaa… ya saya jadi nyesel marah dan tambah pe-er untuk mengatur emosi dan meningkatkan kesabaran terhadap Dd.

Hasil dari wfh + sfh + cfh 3 bulan ini, ya saya jadi lebih dekat dengan Dd. Sampai pada masanya memasuki new normal, ehem, dan kantor kami memberlakukan full wfo 100% lagi. Saya dan ayahnya mulai ngantor lagi, setiap hari, pagi-sore lagi. Ayahnya mulai dinas luar lagi dan menginap lagi. Mudah2an saya ga dapet nginep2 lagi deh. Dan Dd dari yang awalnya mengulang2 kalimat,

“Bubu Babah di rumah aja, ga boleh kerja di kantor. Kerjanya dari rumah aja, pake zoom.” –> wow pinter berargumen kamu ya, good job, kid. #masyaAllah

menjadi

“Bubu di rumah aja, Babah aja yang kerja.” –> oshiaap, dadah Babah, baik2 kerja yaaa, sehat2 yaaa, Bubu di rumah yaaa…

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, pensiun aja.” –> iya Nak, pengen banget, huhuhu

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, cuti aja cutiiiiii…” –> belum boleh cuti, sayang, belum keluar aturannya yang ngebolehin cuti

menjadi

“Bubu Babah ga boleh keluar, ada virus corona!” –> seketika keinget video parodi CLOY yang marak beredar di awal pandemi.

cloy
udah new normal sekarang, hey

hmmm yasudahlah begitulah terus.

Oke, balik lagi. Sementara saya dan suami berusaha merelakan diri wfo, kami masih belum rela dong kalau Dd yang masih 5 th itu balik ke sekolah. Mulailah kegalauan tentang bersekolahnya ini datang, dan pas baca2 twitter, ada cuitan seorang yang intinya sih, kalau anak2nya disuruh sekolah lagi, mending dia pilih homeschooling anak2nya aja.

I was like, what? Iya uga, kenapa ga kepikiran…

Tapi tapi tapi … hmmm… sebentar, diingat2 lagi, Dd sudah sangat bisa diajak bekerja sama lho, mengerjakan tugas. Jadi, karna kami wfo, baru bisa pulang sore sebelum maghrib kan, setelah pulang juga bersih2 dsb lalu mulai mengerjakan tugas Dd setelah maghrib. Sekitar 2-2,5 jam mengerjakan 4-5 jenis tugas (membaca/ menulis, membaca hijaiyah, hafalan surat, hadits, atau doa pendek, lalu aktivitas seni/science), masih diselingi masak untuk makan malam dan makan malamnya, lalu latihan untuk kursus musiknya, dan rutinitas sebelum tidur (sikat gigi, pipis, baca buku). Bisa. Dd bisa diajak kerja sama. Dd kooperatif dan mengerti, alhamdulillah.

Jadi, pemikiran tentang HS menguat.

Tapi masih menunggu kebijakan pemerintah, sih. Aturan SFH ini bagaimana? Sampai kapan? Sepanjang tahun ajarankah, atau bagaimana? Virusnya aja katanya masih sampai 2022 loh. Terus, akhirnya ada edaran sementara bahwa sfh ini kemungkinan sampai Desember. Terus, misal setelah Desember sudah disuruh masuk, apa iya saya betulan berani melepas Dd?

Jawabannya, ternyata tidak. Meskipun saya sempat goyah untuk Dd tetap meneruskan sekolahnya di tempat yang sekarang, karena dia nangis pas dibilang mau pindah. Iya, saya goyah, karena saya juga anak pindahan jaman SD dan SMP. Tahu banget lah rasanya pindah dari sekolah yang disenangi ke antah berantah yang ga tau kaya apa keadaannya. Dd sudah sayang teman dan guru2nya, saya juga sebetulnya merasa baik2 saja dengan itu, bahkan sudah bayar pendaftaran untuk tahun ajaran berikutnya, di jenjang kinder B, tapi ….

saat saya melihat berita bahwa tingkat kenaikan kasus positif di Korea Selatan meningkat setelah sekolah dibuka, saya tidak bisa tenang lagi. Saya tidak goyah lagi, dan memang membulatkan tekad bahwa teman dan lainnya datang dan pergi, tapi nyawa itu ya cuma satu dan tidak terganti.

Maka saya persuasi lagi Dd, semakin sering dan intensif. Ditambah lagi, rencana kami pindah rumah akhirnya tereksekusi juga pas di tahun ajaran baru. Lokasi rumah jadi menjauh dari sekolah lama. Pas kebetulan juga, sekolah memberikan edaran tentang tatacara sekolah di era new normal ini, yang ada tambahan2 poin yang akan sulit kami penuhi sebagai orangtua bekerja yang tidak bisa selalu menemani Dd mengikuti kelas online di hari tertentu. Maka, ya akhirnya kami membulatkan tekad untuk mengakhiri pendidikan formal Dd di sekolah dan memilih homeschooling.

Pas terima raport, Dd berpamitan dengan miss2nya. Sedih, huhuhu, karena saya yakin Dd disayangi dan Dd juga sayang sama miss2nya.

miss2
dengan wali kelas Dd
miss2lain
dengan miss2 lain di sekolah
miss bunga
dengan kepala sekolah Dd

Miss2nya cantik2 yah, buat para ikhwan single yang mau serius mohon hubungi saya secara pribadi dulu. Yang kepseknya udah taken yaa..

Ya gitu deh, ini masih preambule yang kepanjangan untuk postingan ttg HSnya gimana2, next lah ya, kalau udah sempet. Sekarang saya masih belajar2 juga. Atau kalau mau tau banget, bisa japri saya lho. Udah ada 1 orang yang kecantol dan ngikut HS juga sih sama saya. Tenang, bukan MLM. Sama sekali bukan.

Intinya sih, saya masih berterima kasih sekali untuk sekolah yang sudah membantu saya mengajari Dd selama ini, dan juga mengajari saya sebagai orangtua, sampai saya bisa merasa PD untuk mewujudkan cita2 terpendam saya pas Dd masih kecil, yaitu mengajari Dd sendiri. Kalau ditanya alasan pindah, yang utama saya jawab, karena pandemi. Iya, pandemi ini mengubah banyak hal di sekeliling kita, membuat apa yang tampak tidak mungkin di awalnya, tiba2 terasa mungkin.

Tapi yang utama sih, mungkin memang HS untuk Dd sudah ditakdirkan, dan ia akhirnya mencari dan menemukan jalannya sendiri.

Quran Surat Al-An’am Ayat 59

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Arti: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Referensi: https://tafsirweb.com/2183-quran-surat-al-anam-ayat-59.html.

Demikian.

Tentang HS nya, insya Allah next post.

Update: sudah dipost ya, tentang HSnya di Tentang Memilih Homeschooling (2)

❤ Ast

JSR adalah …

Sejak puasa ramadhan kemaren, saya menemui banyak orang memposting foto minuman infused water mereka dengan hashtag #JSR. Wow, apaan nih. Selain itu juga mereka mengetag akun ig: @zaidulakbar dan juga @sulistyowati_05

Ternyata itu adalah konsep mengatur pola makan sehat yang diklaim digunakan oleh Rasulullah. Tetapi dengan semakin banyak pengikutnya alias semakin populer, banyak juga yang keberatan dengan penggunaan nama Rasulullah dalam nama pola makan (atau minum ya, lebih tepatnya?) tersebut. Sehingga akhirnya untuk mengakomodasi keinginan tersebut, padahal hashtagnya sudah rame JSR, diganti jadi JSR adalah Jurus Sehat Rame-rame (bisaaaa…) alih-alih Jurus Sehat Rasulullah.

CMIIW ya, saya juga masih belajar soalnya.

Yang saya tangkep dari JSR ini adalah menghindari makanan yang tinggi gula, gluten, penyedap sintetik dan pengawet. Gorengan udah pasti keluar dari pola makan. Tepung terigu dan turunannya, jadi bakwan itu udah kombo tepung dan gorengan. Mie instant, no. Brownies dan kue2 juga lah ya (huhuhuhu T_T), nasi pun diganti dari nasi putih jadi nasi merah (minimal, atau shirataki). Dalam pola makan ini juga sangat menyarankan konsumsi kacang2an sebagai sumber protein dibanding daging merah. Susu sapi lebih baik diganti dengan susu dari kacang2 tersebut, misal susu almond, atau boleh juga susu kambing murni. Dan yang utama adalah konsumsi air alkali/air nano/insfused water.

Nah, air infuse inilah yang seringnya mendapat porsi lebih di feed foto-foto instagram saya. Soalnya variasinya banyak. Ada jadwalnya pula. Aturannya adalah siklus 3 hari, rimpang, buah, dan sayur hijau.

Misal:

hari 1: rimpang (2 jenis, misal: jahe+kunyit, jahe+ketumbar, Jahe+ kayu manis, Kunyit+lada hitam, dsb).

hari 2: buah (2 jenis, misal: strawberry+anggur, kiwi+belimbing, nanas+belimbing), dsb

hari 3: sayur hijau (2 jenis, misal sawi+timun, kale+seledri, dsb).

Lalu hari ke-4 balik seperti hari ke-1, hari ke-5 seperti hari ke-2, hari ke-6 seperti hari ke-3, dst muter terus.

Disarankan juga untuk mengkonsumsi kurma, jadi kurma bisa masuk di campuran setiap infused water itu. Gabungin kurma ke semua, ga masyalah. Yang sering saya lihat campurannya malah macam2, misal nanas + kayu manis, jahe + lemon + timun +mint, dsb. Seingat saya, yang rumus 3 hari itu adalah untuk mendetoks tubuh dari gula, gluten, dan sebangsanya. Mungkin kalau sudah 7 hari bisa bebas campuran infusd waternya, asal mengandung rimpang, buah, dan sayur.

kalau mau lihat2 cari aja hashtagnya, #infusedwater #resepJSR dsb. Banyak dan bagus2 loh.

Kalau saya sempet bikin infused waternya pas ramadhan aja. Setelah ramadhan ilang lagi telatennya. Karena kunci dari pola hidup dan makan sehat apapun kan sebenarnya telaten ya. Yang saya masih bikin sampai sekarang sih ini:

jahe kunyit lemon madu
jahe, kunyit, lemon, madu

diseduh pakai air panas. Itu jahe dan kunyit dikupas, dicuci, diiris tipis2, lalu diseduh air panas. Setelah itu peresin lemon, airnya akan berubah warna! Dari oranye gelap menjadi kuning terang macam minuman energi extr*j*ss itu loh. Setelah agak anget baru kasih madu.

Awalnya saya bikin ini malam pulang kerja, maksudnya biar ga capek gitu. Eh 2 malam berturut-turut saya ga bisa tidur karena rasanya seger. Segernya sampe lanjut ke pagi harinya loh. Ga ngantuk. Ternyata ga saya aja, suami juga. Jadi pengen tidur tapi ga bisa pas malem, pas siang badan juga seger. Dicari2 penyebabnya, ternyata ya minuman ini.

Akhirnya saya ganti waktu minumnya, pas pagi. Biar malamnya bisa tidur pulas, paginya seger. Tapi jadi minuman energi yang kuat efeknya itu kayanya setelah saya campuri kunyit deh. Pas lemon madu jahe saja, ga segitunya (atau pas itu saya pas lagi mau flu aja, jadi badan masih fokus ke peningkatan imun dari flu ya?). Karena emang pas itu mau flu, minum jahe madu lemon, flunya ga jadi tuh, dibawa tidur, besoknya udah baikan.

Sekarang lagi agak radang, semoga cepet baikan juga deh minum ini. Biar bisa makan ini lagi:

ayam cabe hijau
ayam cabe hijau + kol goreng

duh ini makanan di belakang kantor, saya masih belum bisa tahan godaannya.

Selamat mencoba hidup sehat,

dan doakan saya juga yaa 😀

 

Flu Singapura pada Anak

Jadi, seminggu kemarin (sampai hari ini juga masih sih) DD sakit yang diawali dengan agak anget tapi masih bisa sekolah dan main di hari Senin. Dilanjut lebih anget dan mulai agak lemes di hari Selasa, dan seterusnya, yang kayanya lebih gampang kalau pakai jurnal harian aja nyeritainnya.

  1. Senin: agak anget, agak pilek, masih sekolah, nafsu makan masih baik, masih semangat main.

2. Selasa: lebih anget, lebih lesu, ga sekolah karena libur, sore masih main di luar. Malam demam 38 derajat, dipijitin pakai minyak kelapa + bawang merah, minum tempra (parasetamol). Nafsu makan masih lumayan, mau makan makaroni sup ceker.

3. Rabu: masih demam, mulai muncul sariawan (yang keliatan) ada dua di bibir bawah dan kayanya di dalam mulut. Mulai mikir ini flu singapura. Tidur malam ga tenang karena sariawan. Bubu ijin balik dari kantor karena kepikiran. Minum pakai sendok karena kalo dari gelas atau sedotan kesakitan.

makanan yang masuk:

pagi: energen, putih telur rebus, air jeruk manis.

siang: roti gandum selai kacang, putih telur rebus.

malam: nasi + tumis sosis teriyaki

treatment: kumur pakai air hangat + garam, aloclair kumur

4. Kamis: demam udah mulai turun, sariawan di bibir nambah jadi 5, di dalam mulut juga nambah. Tidur ga tenang, nangis-nangis karna sariawan. Bubu masih ga masuk kantor, sore eyang kakung datang jadi bisa ke kantor agak sorean demiiii…kerjaan. Minum maunya pakai pipet.

Makanan yang masuk: jus melon, putih telur rebus, oatmeal + susu + madu.

Treatment: kumur air hangat + garam, aloclair kumur, kandistatin, madu

5. Jum’at: sariawan di lidah ada 2. Tidur masih ga tenang. Bubu udah full ngantor karena DD dijagain eyang kakung, lebih tenang lah ya. Sore udah bisa nyanyi2. Udah segeran badannya.

Makanan yang masuk: putih telur rebus, lainnya lupa 😀 treatment masih sama

6. Sabtu: sariawan di bawah lidah ada 4. Jadi total sariawan ada berapa? 13 biji sodara-sodara… demam udah turun, badan menyusut dan kuyu. Udah bisa joget2.

Makanan yang masuk: energen + roti gandum, bubur nasi + sosis, kebab 1,5 buah. Udah mulai doyan makan itupun pas malem, udah agak lemesan sariawan sama mulutnya.

7. Minggu: bubur + telur dadar, roti + selai kacang, minum air putih hangat banyak. Udah bisa nyanyi, udah bisa joget, udah bisa lari2an kejar2an sama anak kucing. Nafsu makan udah balik.

8. Senin: bubu udah ngantor lagi, dan kayanya ketularan DD karena (sebenernya) dari Sabtu muncul lenting di jari tangan. Minggu lentingnya tambah banyak, juga muncul di mulut. Tenggorokan sakit dan mulai muncul sariawan. Okefix ini sih ketularan :’)

Yah kalo orang dewasa mah, mungkin saking daya tahan tubuhnya rendah dan kontak dengan DD juga banyak. Tapi mudah2an ga masalah asal daya tahan tubuh dibaikin dan tetep terhidrasi. Intinya, buat flu Singapura yang katanya ga ada obat ini, treatment yang dipakai ya yang mengurangi rasa sakit yang diderita. Kalau demam ya turunkan panasnya, pakai obat penurun panas, mandi air hangat biar badan nyaman. Kalau sariawan ya obatilah sariawannya, saya kemaren pakai 2, yang aloclair kumur + kandistatin.

Buat daya tahan tubuh, minum vitamin (saya kasih DD stimuno), dan minumin air jeruk, jus melon, madu, juga sempet saya tetesin essensial oil lemon di air minumnya.

Pijat. Pijat itu sangat membantu buat menyamankan tubuh anak, melemaskan dan melenturkan urat-urat yang kaku, membentuk bonding kasih sayang ibu dan anak. Apalagi kalo pijatnya pakai minyak yang juga ada khasiatnya. Kemaren sih awalnya saya pakai VCO + bawang merah aja. Di akhir-akhir saya pakein juga essensial oil: lemon, eucalyptus radiata, sama lavender dari YL. Adanya itu belum beli yang lain, hehe.. Alhamdulillah DD sudah baikan dalam 7 hari, mudah2an segera pulih dan bisa sekolah lagi. Bubunya juga ga parah2 amat ketularannya. Aamiiin…

Btw, kalau mau tau dramanya anak flu singapura, silakan liat di postingan punya annisast ini

karena saya udah berusaha nulis dengan drama seminimalis mungkin, tapi saya rasa perlu supaya orangtua yang belum pernah menghadapi anaknya kena flu singapura ga kaget2 amat. Flu Singapura pada anak itu, asal kenali gejalanya, cara penanganannya, bisa kok ditangani sendiri di rumah. Be brave ya, semoga semua segera berakhir! 😀

Oh iya, referensi treatment saya kemaren juga dari postingan itu jadi mari kita saling berbagi informasi demi kesiapan dan ketenangan hati yang hakiki, wkwk.

Semoga cepet baikan dan sehat semua ya ❤

 

 

Berenang di mana?

Oke, sebetulnya DD sudah beberapa minggu ini absen berenang karena batuk pilek yang belum sembuh-sembuh juga. Dan nular ke saya dan perjalanan dan tular-tularan lagi sama saya, jadi begitulah…Semoga kami lekas sembuh, amiin.

Eh balik lagi ke postingan, jadi karena tempat tinggal kami itu di Jakarta Timur yang agak-agak deket ke Jakarta Pusat, maka kami kalo berenang ya di daerah yang deket-deket dengan tempat tinggal. Biar ga terlalu capek di jalan. Kali ini, saya mau kasih rekomendasi tempat berenang di Jakarta Timur-Jakarta Pusat yang terjangkau, masih  layak, dan nyaman. Tolong lupakan dulu berenang di hotel karena mahal kecuali daftar member 😀

  1. Kolam renang Cikini

Alamat dari google: Hotel Formule 1, Jl. Cikini Raya No. 75, (samping komplek Taman Ismail Marzuki), Cikini, 10330, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Telpon 021-31900588, 081585039999, 021-92716076. Saya ga yakin itu betulan Hotel Formule, malah ingetnya hotel lain, Ib*s kayanya.

Sejak awal tinggal di Jakarta setelah menikah dan hamil, saya pertama kali nyoba berenang di Cikini ini dan langsung suka. Suka karena kolamnya besar dan bersih, harganya juga terjangkau, waktu itu sekitar 30-40 ribu saat weekend per orang. Kebetulan saya berenang sama suami, pas hamil karena olahraga yang disarankan untuk ibu hamil ya berenang. Kolam ini juga sering dipakai latihan untuk klub dan atlet (?). Sering lah kami liat anak kecil-kecil yang berenang di bagian dalam sementara kami mlipir di tepi2 yang ga terlalu dalam 😀 Sekarang tiket masuk 50rb per orang, jadi kalau kami berenang bertiga tiap minggu dalam sebulan ya lumayan pe-er ya buibu.. Apalagi kalau misal saya sedang berhalangan dan cuma pengen nonton DD berenang, kalo tetep bayar ini tangan susah melepas dompet hihihi..

DD sih di awal agak takut ya, secara liat air segitu banyak, dan memang ini ga ada wahana air atau permainan buat anak kecil. Ya keliatan kolam renang buat yang pro. So, kalo boleh dibilang untuk anak kecil memang wajib didampingi orangtua atau pengasuh yang dipercaya kalo mau ke sini.

IMG_20170923_164247
source: dokumen pribadi

Tempat makan di dalam kolam kayanya cuma nyediain pop m*, tempat ganti ya okelah ga terlalu mengganggu juga. Masih layak dan cukup nyaman.

2. Kolam renang Arcici

Alamat: Jl Cempaka Putih Barat XXVI, Rawasari, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, telepon 021-4213475. Ini kolam renang kedua yang kami kunjungi setelah Cikini, dalam rangka mencari alternatif kolam renang yang lebih dekat lokasinya dari rumah dan lebih ramah anak. Iya, ke sininya udah sama DD. Dengan harga tiket yang sama dengan Cikini, kelebihan lain yang ditawarkan adalah jarak yang lebih dekat dari rumah (ini subjektif khusus buat saya aja), dan adanya kolam khusus anak dan wahana buat anak (ember besar yang tumpah-tumpah itu loh, ga tau nyebutnya apa).

Jadi DD sebenernya lebih seneng di sini daripada Cikini. Jalan ke kolam pun sebelumnya melewati lapangan dan banyak burung2, jadi memang lebih nyaman ga kaya di Cikini yang di kota banget. Tapi saya pribadi sih akhirnya lebih milih Cikini, karena kalau dibandingin, Cikini itu jauh lebih bersih daripada Arcici. Arcici ga kotor, tapi ga sebersih Cikini. Di Arcici juga lebih banyak yang jualan di dalam kolam dibanding Cikini. Kalau habis berenang kan suka lapar ya, nah di Arcici ini tentu lebih variatif pilihan makanannya. Tempat bilas dan ganti pun oke kok.

arcici-sport-club-768x380
source: omkicau.com

3. Kolam renang Bojana Tirta

Alamat di Jl. Bujana Tirta Raya no 17 C, Komplek Bea Cukai, Rawa Mangun, Pisangan Timur, Jakarta Timur, DKI Jakarta, telepon 021-70421591. Dulu sekali pas hamil sebetulnya saya sama suami udah pernah mampir liat kolam renang ini, tapi pas itu udah tutup karna sore dan kami agak2 ga tertarik liat penampakannya pas sore. Sepi aja. Jadi yaudah lanjut di Cikini dan kadang Arcici. Tapi karena akhirnya merasa Cikini terlalu jauh, Arcici terlalu penuh, akhirnya saya berkeras mau cobain di Bojana Tirta sekali lagi. Toh lebih deket, kayanya lebih murah, nyaman enggaknya ya dicoba dulu lah.

Dan suatu Sabtu kami pergi ke sana. Tiket masuk pas weekend, 22ribu per orang. Ehm… biasa keluar duit 150rb trus menyusut jadi 66rb itu bikin bahagia loh, buibu.. 😀 Jadi masuklah kami ke dalam. Pas itu, agak rame dan saya jadi urung buat ikut nyebur. Kapan-kapan ajalah, pikir saya. Nonton DD aja. Kolam Bojana Tirta ini ga cuma panjang tapi ternyata juga lebar. Dalamnya pun bervariasi. Karena lama-lama udah nyaman, eh akhirnya saya ikut nyemplung juga. Dan ternyata bersih. Wah saya jadi tambah cinta deh.

Kemaren2 akhirnya kami jadi berenangnya migrasi ke Bojana Tirta ini. Money talks, babe, hehe.. Tapi ga hanya itu sih, bersihnya juga, ada kolam buat anak juga, dan buat remaja juga. Ada 3 kolam di sini dengan kedalaman beda-beda. Ga ada wahana air, tapi DD sudah cukup senang bisa main-main di kolam anak bareng sebayanya. Kemaren2 pun tempat ganti dan toilet perempuannya sedang direnovasi, dan kayanya bakal jadi nyaman banget. Duh, jadi ga sabar buat berenang lagi, semoga cepet sembuh ya ini batuk pileknya.

Nah, itu dia cerita berenang kami. Terima kasih sudah membaca ❤

Tentang Merokok

Sekitar tahun 2010, seorang teman baik bertanya, bagaimana pandangan saya terhadap seseorang yang merokok. Saya jawab, silakan, asal jangan dekat-dekat sama saya. Saya ga tahan sama asap dan baunya, dan kebetulan saya dibesarkan di keluarga tanpa rokok. Dalam artian, bapak dan mas (kakak lelaki) saya ga merokok. Terus temen baik saya (yang perokok itu) bertanya, gimana kalau nanti “mas” (suami) saya adalah seorang perokok. Saya jawab, saya ga pengen nikah dengan perokok.

Tiga tahun kemudian, di 2013, saya menikah dengan teman baik saya itu, yang seorang perokok. *tepokjidat

Di 2012, awal masa saya berkomitmen dengannya, saya sempet curhat ke temen baik saya yang lain. Dan teman baik saya itu di salah satu sarannya, menanyakan apakah saya bisa membawa pengaruh baik ke temen pasangan, misal membuatnya berhenti merokok. Jujur waktu itu saya mengernyitkan dahi, merasa, siapa gue kok baru jadian udah mau ngubah2 orang segala, dan waktu itu, ya saya mau berkomitmen dengan dia karena sudah lewat dari masa “saya suka kamu karena … ” tapi “saya suka kamu walaupun ….” .

Jadi begitulah, di masa pra pernikahan, merokoknya pasangan bukan suatu issue besar, karena dia adalah seorang perokok yang lumayan bertanggung jawab, dalam artian dia masih lihat-lihat saya terganggu atau tidak, jadi saya masih bisa tolerir dan berkompromi.

Setelah menikahpun, saya masih belum terganggu dengan kebiasaan merokok suami. Apalagi mengetahui kebiasaan merokoknya lebih karena kultur lingkungannya. Orangtua dan keluarga dekatnya perokok semua. Mau bagaimana lagi, pikir saya waktu itu.

Saya tidak ingat kapan tepatnya saya mulai sering terganggu dengan kebiasaan merokoknya. Suami sudah tidak pernah merokok baik itu di depan saya, di dalam rumah, maupun selama menemani saya mudik ke rumah orang tua. Dia bisa menahan diri dari merokok. Lalu saya mulai terusik, kalau bisa tahan, kenapa ga dilanjutin menahan diri lebih lama? Dari 2 hari menjadi seminggu, menjadi sebulan, dan seterusnya? Apalagi, terus terang dengan bertambahnya kedewasaan dan usia hubungan kami, kepedulian untuk kelangsungan hidup dan masa depan menjadi jauh lebih penting. Saya mulai melihat dengan visi yang lebih jelas. Saya ingin suami yang lebih minim risiko kesehatannya. Saya ingin suami yang selalu harum ga perlu ribet cuci tangan sampai keramas sebelum mendekati saya karena saya terganggu dengan bau asap rokok yang menempel di tubuhnya.

Apalagi kemudian saya hamil dan mempunyai anak. Tingkat kepedulian saya meningkat drastis. Untuk anak terutama. Saya benar-benar menjadi emak macan yang galak kalau itu adalah hal yang berhubungan dengan anak. Saya yang sempat menjadi dominan plegmatis yang cinta damai dan yaudahlah ngalah aja, jadi lebih asertif dan jika diperlukan, agresif. Saya ga segan “menyerang” orang dengan meminta mereka mematikan rokoknya jika kebetulan saya dan anak lebih dulu berada di tempat umum dan mereka perokok itu datang belakangan ngebulin asap. Hohoho, ga bisa, jauh-jauh dari anak saya. Saya meminta suami mengingatkan adik lelaki dan ayahnya jika kebetulan mereka habis merokok dan ingin menyentuh anak saya. Dan saya lebih intensif meminta suami berhenti merokok.

Tapi sejatinya perokok adalah orang yang kecanduan, dan orang yang kecanduan adalah selemah-lemahnya orang yang ga berdaya baik mental maupun fisik untuk mengalahkan kecanduannya. Maka butuh upaya besar baik dari si pecandu sendiri maupun lingkungan terdekatnya untuk lepas dari biang candunya, dalam hal ini rokok.

Jadi begitulah…

Suami mulai merokok di sekitar 2003, dan dia menikah dengan saya di tahun 2013. 10 tahun itu bukan masa yang singkat untuk menghilangkan sebuah kebiasaan dalam sekejap. Tapi, alhamdulillah, sejak tahun 2017 (empat tahun setelah menikah), sampai sekarang, suami sudah tidak merokok lagi. Sudah setahun lebih, dan saya sangat bersyukur karenanya. Dan berdoa semoga dia tidak sampai menyentuh rokok lagi dengan alasan apapun.

Setahun berhenti merokok itu masih cetek lah, saya tahu orang yang sudah 3 tahun berhenti merokok pun bisa balik merokok lagi, jadi perokok berat lagi. Makanya saya ga ingin terlena dan jadi jumawa. Banyak orang (perempuan) yang merasa bisa membuat pasangannya berhenti merokok adalah suatu pencapaian, semata kehebatan dia sebagai pasangan. Apa iya? Saya mengalami sendiri bahwa berhentinya seseorang dari kebiasaannya merokok adalah sepenuhnya berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan yang menggerakkan suami untuk berkeinginan dan berkekuatan untuk berhenti merokok. Suami sayalah yang berusaha dengan kuat menahan semua “sakau”nya saat berhenti merokok, dan saya membanggakan diri di atas dia? Hahah minta ditampol itu namanya.

b457a37bc55afb612a33aae88a4e6c2c (1)
source: pinterest

Satu fakta yang harusnya sudah dimengerti oleh perempuan manapun yang sudah menikah: tidak ada yang bisa mengubah lelaki kecuali dia ingin mengubah dirinya sendiri 🙂

Jadi, ya begitulah. Tulisan ini saya tulis sebagai pengingat saya dan semoga penyemangat juga buat suami, somehow kalau2 dia lagi khilaf pengen nyobain merokok lagi. Jangan ya, Babah. We love you so much that we don’t want you to have a risk we can’t cope with.

Ah, tulisan ini juga terinspirasi dari hastag #rokokharusmahal yang sempat berseliweran di twitter dan ig beberapa saat lalu. Saya setuju banget lah, kebijakan sesederhana apapun, asal itu bisa mengurangi misalkan hanya nol koma sekian persen dari potensi perokok, atau menjadi hambatan bagi kemudahan akses merokok, saya dukung.

“…bahkan menyingkirkan batu dari jalan adalah tanda dari keimanan…”

Sekecil apapun, ia berharga.

Jadi, dukung #rokokharusmahal.

Semangat wahai semua yang ingin hidup lebih sehat dan bersih dari asap rokok!

 

Kain vs Kertas

Beberapa hari lalu, seorang teman kantor bertanya kepada saya apakah saya tahu tentang menstrual cup. Saya jawab, saya tahu. Tampon, begitu saya bilang. Lalu saya dan dia ngobrol membahas mengenai tampon itu. Tapi, postingan ini ga sedang membahas tampon, karena saya ya taunya dari baca2 blog orang, nangkep dialog di film barat bahwa mereka cenderung pakai tampon daripada pembalut kertas, dsb, tapi lihat dan pegang bentuk aslinya belum pernah sama sekali, jadi buat apa, 😀 . Di sini, saya akan berbagi tentang mengapa saya memilih memakai pembalut kain (menstrual pad) dibanding pembalut kertas, dan popok kain (cloth diaper/ clodi) dibanding popok kertas.

Sudah siap? 😀

Jadi, di tengah masa kehamilan, saya kan sering cerita2 sama temen tuh. Kebetulan temen saya ini sudah punya anak satu dan saat cerita2 sama saya itu adalah kehamilan keduanya. Dia cerita bahwa nanti setelah punya anak (bayi lebih khususnya), biaya yang akan sangat membengkak adalah untuk membeli popok dan susu. Kalau pakai asi, ya setidaknya akan ada biaya untuk “modal” peralatan memerah asi dan menyimpannya. Tapi setidaknya biaya modal asi perah itu cukup sekali di awal, bisa disesuaikan dengan anggaran masing-masing, dan ga akan berkelanjutan jika dibandingkan dengan memakai susu formula. Jadi, asi: sufor, asi menang.

Selanjutnya adalah popok. Popok ini juga tentu bisa disesuaikan dengan anggaran dan kemauan ibu/pengasuh. Waktu itu sih temen saya menyimpulkan langsung bahwa clodi itu hemat, jauh lebih hemat dari popok sekali pakai (pospak). Tapi di sini saya mau kasih 3 alternatif tentang hemat, karena hemat orang itu beda2.

  1. Popok kain sekali pakai

Mau hemat uang tapi rela berkorban tenaga lebih? Pakai popok kain sekali pakai. Ajari anak toilet training sedini mungkin. Popok ini yang sering dipakai sama bayi2 baru lahir itu loh, yang cuma selembar kain tipis, ada talinya, gambarnya lucu2. Seperti ini penampakannya:

31282_6-mitos-popok-kain
source: intisari.grid.id

Nah, kalau pakai ini jelas secara biaya jauh lebih hemat, tapi ada “biaya” lain yaitu tenaga dan kedisiplinan untuk toilet training lebih dini.

Kalau saya waktu itu sih merasa ga sanggup ya sis, masih lebih memilih untuk bisa tidur tenang saat malam karena punya bayi pertama sungguh butuh penyesuaian yang ruarr biasa. Popok kain ini sempat saya pakaikan ke DD sekitar 1 bulan pertama, itupun kalau siang-sore doang. Malam sejak seminggu pertama saya sudah nyerah ke pospak.

2. Clodi

Ini versi upgrade dari popok kain sekali pakai. Kenapa? Karena kalau popok kain sekali pakai, ya kena pipis langsung ganti. Kalau clodi, kena pipis sekali masih tahan, dua kali masih tahan, 3 kali masih tahan, keempat silakan ganti. Bisa tahan 2-4 jam pemakaian, tergantung volume pipis si bayi. Lumayan kan, 4 jam ibu bisa tidur tenang, bayi juga nyaman karena bahannya dari kain yang lembut, ga bikin iritasi atau ruam. Tapi kalau pup ya langsung diganti ya buibu, wajib ini, jangan males kasian bayinya.

640xauto-cara-jitu-rawat-popok-kain-modern-120903m-2
source: family.fimela.com

Jadi, clodi > popok kain sekali pakai, dari sisi tenaga. Well, ga sehemat itu juga sih, karena kan namanya kain masih harus dicuci ya buibu. Dan karena bahannya tebel, juga agak PR kalau jemurnya, agak butuh waktu lebih lama untuk kering daripada popok kain sekali pakai. Inilah yang membuat buibu harus stok yang agak banyakan, setidaknya 10-15 buah untuk 3 hari dan itu revolving terus alias cuci-kering-pakai. Sedia stok agak banyak inilah yang akhirnya berimbas ke kurang hemat dari sisi biaya. Apalagi, dari sisi harga, clodi lokal yang lumayan bagus bisa 80ribu ++, yang mungkin bisa dapet popok kain lebih banyak.

Buat saya, clodi ini adalah jalan tengah. Kalau diakumulasikan, biaya popok sekali pakai dalam 2 tahun itu buanyak. Dulu itungan kasar bisa 8 jutaan. Clodi stok di awal bisa agak banyak, tapi bisa nyicil juga belinya, kalau diakumulasikan bisa 1-2 juta. Tapi hemat sampai 2 tahun dan bahkan bisa diwariskan ke adiknya nanti. Jadi, dari segi biaya, pospak > clodi > popok kain sekali pakai. Dari sisi tenaga, popok kain sekali pakai > clodi > pospak.

Jadi, saya memilih memakaikan clodi untuk anak saya sejak anak saya usia 4 bulan sampai 2 tahunan.

3. Pospak

Saya juga pakai pospak, mulai DD usia seminggu sampai sekitar 4 bulan, lalu lanjut lagi di usia 1,5 tahun dikombinasi dengan clodi. Di usia 1,5 tahun ini saya pakaikan supaya tidur DD dan emaknya kalau malam bisa pulas sampai pagi ga harus ganti clodi setiap 4 jam sekali. Bagaimanapun akhirnya saya mengamini bahwa biaya pospak ini memang banyak yaa ternyata, itu saya masih gabung2 sama clodi, kalau pakai pospak sepanjang hari pasti lebih banyak ya. Dan pospak ini cocok-cocokan sama kulit bayi. Ada merk tertentu yang mahal dan ga bikin kulit ruam, ada yang agak murah dan kulit ruam, dan tentu sebagai emak sejati kita cari yang murah dan ga bikin kulit ruam, bukan? 😀 Jadi saya ga bahas merk2 apa aja lah, tergantung anak dan anggaran emaknya tentu. Tapi memang pospak ini hemat banget dari sisi tenaga. Dari sisi lingkungan hidup saya ga berani bahas, karena jelas pospak adalah penyumbang sampah terbesar yang sulit diurai, konon katanya begitu.

Nah, setelah bahas popok untuk anak, saya mau balik ke awal bahasan, yaitu menstrual pad. Awalnya karena melihat sendiri bahwa kain clodi itu haluuuus banget, dan tentu saja jauh lebih nyaman untuk kulit bayi dibanding pospak, saya merasa bahwa saya pun mengalami masalah yang sama saat sedang menstruasi dan harus menggunakan pembalut sekali pakai. Namanya kertas ya bu. Karena tempat saya beli clodi itu juga jualan menspad, saya tertarik nyobain, dan akhirnya malah memutuskan untuk membeli agak banyakan untuk stok dan bertahan sampai sekarang. Anaknya udah lulus toilet training dan ga pakai clodi lagi, ibunya masih bertahan sama menspad dibanding pembalut sekali pakai, bukankah ini suatu bukti bahwa kenyamanan kain ga akan tergantikan sama kertas?

mwise-pembalut-kain-menspad-day-isi-3-9837-69045971-bb9bac2ab96a365a0f0032cdd42472ae-catalog_340x340q80
source: lazada

Jadi ya gitu, alasan kenapa saya memilih pakai menspad (yang cuma seuprit dibanding alasan memilih clodi buat anak). Atas dasar kenyamanan saja. Cuci? Ga masalah. Harga? Ga masalah. Tahan sampai 4 tahun dan masih berlanjut entah sampai kapan. Semoga penyedia menspad ga bangkrut karena minim peminat, karena walaupun sedikit (saya kok entah kenapa yakin bahwa peminat menspad jauh lebih kecil daripada pembalut kertas), saya dan pemakai menspad lainnya pasti suatu saat butuh untuk re-stok lagi pembalut kain kami, ya kaaan…

Kalau menstrual cup alias tampon, yang katanya bahannya dari silikon dan cukup beli seharga 300-400 rebu dan tahan sampai 15 tahun….hmmm agak menggiurkan tapi karena cara pakainya masih agak ngeri buat saya, jadi nanti2 deh, kalau memang saya setertarik itu untuk nyobain. Buat saya sih, sementara ini, menspad sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya.

minimalist_fashion_photo_collage_11_600x2x
source: thetulipcup.com

Semoga bisa memberi pandangan baru.

Ast ❤

Yoga Gembira @ Taman Suropati

It’s started somewhen in middle of Ramadhan, when I woke up with some serious back pain that made me unable to move freely. Well, it’s not exactly the first time l feel that backpain though, but it started a long time before. At about 2010 I went to my office clinic with a backpain complaint. After some check up, the doctor concluded that I had scoliosis and had to take more serious steps to take care of it. Long story short, I had to take some therapy and do exercises, swimming and yoga are recommended to prevent my curve going worse.

Then I moved to Borneo. My therapy was stopped, I didn’t do any exercise, but I change my sleeping mats to mattress Palembang (I’m sure you know what I’m talking about) and my back pain weren’t coming back, so I’m good.

When I go back to Jakarta, getting married and pregnant, I was still using mattress Palembang. Untill I had my baby, I decided to change my sleeping mat to springbed, for my baby’s comfortness. I had some easy backpain that I could overcome. I do swimming sometimes, so basically, I’m still doing good. Untill my bones are screaming for help.

Then I was looking for another way to cure my pain. I did change my sleeping mats again, using mattress palembang. I seldom do swimming due to my business and my son’s condition, if he’s not healthy enough to play with water then we skip swimming. So I decided to do yoga.

I googled about yoga. Looking for yoga classes that I can afford. I have to look for clas that is held on weekends because I have no time doing it on weekdays. I have my job and don’t want to spend the rest of the day without my son.

Then I found this Yoga Gembira community. It was stated that this Yoga Gembira is held every Sunday morning in Taman Suropati at 7 a.m., for free. Yeay! It’s a perfect deal for me. I can attend yoga and my son can play around park happily with his daddy. And it’s free, which woman doesn’t love free stuff? 😀

So I search for a yoga mat, read many reviews, buy one, and this morning, I attend a class. For my first time doing yoga, I enjoyed it much. The fact that it is held on an opened air and view in morning park helps much to make me relax doing it. Plus, my son, in some occasion, can reach me easily and follow me doing some poses. I’m happy that I take this new thing I never thought I would do.

IMG_20180701_114258_867IMG_20180701_114258_885IMG_20180701_113009_274

I think I will regularly attend this class, so when you’re interested to join us, please come! It costs you none but your time and your efforts, but I’m sure that it’s gonna be worth to try! 😀

Love,

Ast. ❤

P.S. if you wanna know about yoga gembira, you can reach them through ig: yoga_gembira or visit http://www.yogagembira.com

Modisco

Ada yang tau maksud judul tulisan ini? ga tau? sama, awalnya juga saya ga tau.

Awalnya, di toko depan jalan rumah yang jual macam2 makanan dari timur tengah dan oleh2 umroh, saya iseng2 liat2 dan berbelanja. Beli kurma, kismis, dan buah tin. Buah tin ini nanti rencananya saya bikin postingan tersendiri. Nah, sambil makan buah tin, sambil googling manfaatnya yang ternyata banyak, salah satunya adalah menambah berat badan.

Sebagai orang dengan tipe tubuh ectomorph yang susah gemuk, tentu iming-iming menambah berat badan jadi bikin buah tin lebih berkilau2 gitu di mata saya.

Ini referensi bentuk tubuh yang sesuai ya, bentuk tubuh intinya sih, yang ecto susah gemuk, yg meso itu ideal, dan endo susah kurus.

Sempet pula akhirnya kepancing googling lanjutan, di situ resepnya makan pisang 2 buah di pagi hari dilanjut dengan susu yang ditambah mentega. Err…susu campur mentega bakal jadi se eneg apa yak… Tapi gooling lanjutan tentang susu+ mentega ini membawa saya mengenal lebih lanjut modisco ini.

Modisco (modified dried skimmed milk and coconut oil) adalah nutrisi untuk mengobati gangguan gizi atau kekurangan energi protein. Formulanya adalah susu, gula dan minyak (mentega) dan berhasil mengatasi masalah anak dengan gizi buruk di Afrika (atau Indonesia di NTT?). Konon, merk susu formula tertentu milik kita semua juga berasal dari singkatan susu, gula, dan minyak/ mentega ini… tau kan merk apa? :wink

Nah, pemberian nutrisi tinggi kalori ini diperuntukkan untuk orang/ anak dengan gizi buruk, gizi kurang, kurang BB, atau anak sehat dengan tubuh kurus. Tapi tidak diperbolehkan untuk anak di bawah usia 6 bulan, anak gemuk, dan anak dengan gangguan kerja ginjal.

Jadi, saya boleh dong mengkonsumsi ini ya, nanti kalo perut ga masalah dicobain deh ke anak.

Selanjutnya, suatu hari saya mulai bereksperimen. Mencampur susu cair segelas (UHT plain) dengan sesendok gula pasir dan sesendok mentega (di beberapa referensi mentega ini diganti margarin atau bahkan minyak sayur biasa). Dipanaskan di panci sampai menteganya cair, terus diminum anget2. Eh, kok enak. Kok ga eneg. Tapi tunggu dulu 12 jam siapa tau perut bermasalah karna intoleransi lactose.

Ditunggu ga ada masalah, mulai deh cobain ke anak. Si anak doyan. Trus dirutinin malah jadinya sebelum bobo mimik modisco ini. Kalo ibunya, sebelum minum ngemil buah tin dulu sebuah-dua buah. Trus lanjut dengan modisco ini.

Dan, jreng jreng….. naik 2 kilo dalam 5 hari, aku sungguh bahagia ^__^ (*nyengir sampai kuping)

Anak gimana? kayanya masih segitu2 aja, mungkin karna sedang lasak2nya, jadi kalori yang masuk segede apapun langsung dibakar sama tubuhnya. Yasudah.

oiya, kalo belum tahu bedanya mentega sama margarin, belajar dulu beda mentega dan margarin

Kalau saya kemaren pakai yang merk ini:

8196178_73deecfd-7400-410f-a5be-a9164e41d9e0
source: tokopedia

pemberian modisco bisa dihentikan bertahap kalau berat badan sudah mencapai batas yang diinginkan.

Oh, satu lagi sih, sebetulnya beberapa orang dekat yang udah lama ga ketemu juga mulai komen kalo pipi saya mulai agak berisi dibanding sebelumnya, mungkin karena sekarang udah kumpul dan ga LDM lagi ya, mana udah sekantor bareng berangkat pulang bareng, jadi intinya sih saya lebih hepi aja jadi keliatan gemukan, hehehe 😀

Tapi ga ada salahnya dicoba, it works! 😉

baca juga:

JSR adalah …

Resep Overnight Oats Simple