Membaca dengan Let’s Read

Hola!

Memasuki usia 6 tahun, saya mulai lebih peduli dengan mengembangkan kemampuan Dd di bidang bahasa. Kenapa? Karena dia sudah bisa membaca sendiri dalam bahasa Indonesia. Udah punya pondasi yang kuat untuk memperkenalkan bahasa lain, menurut saya. Kenapa ga dua bahasa dari kecil? Padahal banyak anak lain juga udah bisa casciscus lancar dalam bahasa Inggris, bahkan teman sekolah dan kursus Dd pun. Hmm, kenapa ya? Mungkin karena saya cukup santai dan percaya bahwa Dd ga akan mengalami kesulitan berarti, karena bahasa adalah masalah pembiasaan. Jadi ya sudah, sayanya ga ngoyo banget juga.

Kalau selama ini saya cari buku2 cerita dalam bahasa Indonesia, saya mulai cari buku cerita dalam bahasa Inggris. Cuma, ya, kendalanya cuma cari di online shop, ga yakin kalo ga megang fisiknya. Sementara mau ke Gramed*** juga mikir2 karena kan sebisa mungkin #dirumahsaja. Akhirnya malah cuma beli buku latihan dan aktivitas aja, belum kesampean buku ceritanya.

Sampai akhirnya saya nemu postingan tentang Let’s Read ini di IG https://www.instagram.com/letsread.indonesia/

Let’s Read

Karena udah lama ga beli buku cerita, ya pikir saya cobalah buat download dan memperkaya bahan bacaan Dd aja. Gratis pula, kan. Paling kuota internet doang, bukan harga ide cerita, ilustrasi, dllnya. Mikirnya masih bahasa Indonesia aja. Tapi pas liat tutorialnya di youtube, eh, ada berbagai bahasa juga? Hmmm.. cinta banget ga sih…

Setelah instal, saya cobain ke Dd. Terakhir kali, bacaan Dd sebelum tidur variasinya masih di Lima Sekawan Enid Blyton sama cerita nabi, yang serial Cican dan hewan2 udah jarang dibaca sama Dd. Jadi, secara “bobot”, sebenernya emang agak terlalu berat ya buat anak 6 tahun. Nah, begitu baca cerita2 di Let’s Read ini, tiba2 kerasa banget refreshingnya cerita anak2 yang beneran anak2.

Ceritanya sederhana. Sederhana bangeeet, tapi kaya akan kosa kata. Emosinya juga kerasa banget nuansa anak2 yang polos dan ceria. Dd saya bacain jadi sering banget ketawa2 lepas, hanya karena hal kecil seperti gambar ibu naik tangga buat marahin helikopter karna berisik takut bayinya bangun. Dia juga teliti sekali pada hal kecil, seperti tadinya ada 3 anak tikus pergi ke karnaval, tau2 tinggal 2 yang kecil ilang. Ceritanya banyak yang membangun dan akhirnya menegaskan “we are happy“. Dan akhirnya memang sangat menghangatkan hati banget lho, baca cerita anak2 begini.

Saya yang bacain aja jadi kerasa lelah dan kencengnya ilang, apalagi dapat bonus Dd ketawa2 dan nempel sama saya karna pengen liat gambarnya. Beneran udah ga loncat2 lagi dia dibacain cerita. Secara kuantitas juga, bacain cerita sederhana gini cepet selesainya. 1 bab bacain Lima Sekawan bisa buat baca 5 cerita di sini. Dd juga ga mau berhenti2 dibacainnya. Akhirnya, syarat dari saya, dia harus baca sendiri. Jadi sambil dia latian mengeja bahasa Inggrisnya, saya sambil koreksi pelafalannya dan mendorong dia untuk menebak arti katanya terus menyesuaikan dalam kalimat. Kalau saya ga ngerti juga arti katanya, ya kita sama2 buka kamus untuk cari tau apa artinya.

Reading to you kid make the connection stronger, indeed.

Udah nemplok gini, berat tapi seneng, alhamdulillah

Selamat membaca!

Mengenal Saham Syariah

Mengapa saya mengangkat tema ini?

Karena bukan cuma satu dua orang yang berpikir bahwa jual beli saham = riba, padahal sekarang kan gencar ya, gerakan #noRIBA atau #ngeRIBAnget yang intinya menghindari ribanya itu. Kok ini malah seperti bebas dari mulut harimau masuk mulut buaya, gitu loh..

Jadi saya kembalikan saja ke asalnya.

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” [Al-Baqarah: 275]

Juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” [An-Nisaa’: 29)]

Nah, jadi prinsip dasarnya jual beli kan, barang yang diperjual belikan adalah saham. Darimana ribanya? (1)

Terus tentang barang yang diperjual belikan, yaitu saham. Dari sini bisa dilihat bahwa jenis saham ada 3, yaitu saham biasa (common stock), saham istimewa (prefered stock), dan saham kosong. Dari ketiga jenis saham itu, yang saya perjual belikan adalah saham biasa, yang memang diperbolehkan ulama dan tidak ada keraguan di dalamnya tentang sifatnya yang bukan merupakan utang atau adanya kewajiban pembayaran berdasarkan persentase tertentu yang dijanjikan di awal.

Prinsip transaksi sudah clear, jual beli bukan utang piutang dengan bunga. Tidak mengandung riba √

Barang yang ditransaksikan sudah clear, yaitu surat berharga yang menyatakan kepemilikan modal, bukan utang dan tidak ada imbal hasil berupa bunga. Imbal hasilnya berupa dividen, fyi, dan itu ditentukan oleh RUPS (rapat umum pemegang saham) dan nilainya fixed per lembar saham. Tidak mengandung riba √

Nah, seperti kambing banyak macamnya, saham juga macamnya sudah dijelaskan, adalagi sifat yang saya tambahkan untuk filter dalam pembelian saham, yaitu:

  1. perusahaannya bukan perbankan, keuangan, asuransi, dan sejenisnya;
  2. tidak memproduksi barang-barang haram, misal minuman keras/ beralkohol, syubhat, misal rokok.

Itu dari sisi syariahnya. Kalau dari sisi teknis ya pilih yang menguntungkan ya. Ini mah bisa belajar tentang analisis fundamental dan analisis teknikal sahamnya. Bisa dilihat dari laporan keuangan dan membaca chart/ tren dari saham tersebut selama beberapa waktu.

Kalau tidak menilik dari laporan keuangan, chart, dan prinsip syar’i nya, kadang ada orang yang membeli saham karena nilai yang dianut dari perusahaan itu loh. Misal, mereka yang memboikot S*r* R*t* pas aksi 212 kemarin, harga sahamnya anjlok padahal secara fundamental baik-baik saja. Yang menolak penjajahan Palestina, mereka ga beli produk yang menyumbangkan dana ke Isra*l. Yang vegan tidak akan membeli produk yang menggunakan hewan di uji cobanya. Ya seperti membeli produk di pasaran saja. Apa yang sesuai value kamu, bisa dicari.

Dan yang paling membantu saya adalah, saya (alhamdulillah) memilih aplikasi yang menyediakan fitur syariah untuk pelayanan transaksinya. Kalau transaksi saya terindikasi riba, akan ditolak untuk diproses lebih lanjut, loh. Isn’t it cool?

saham syariah
hanya contoh

Dari sistem sudah membentengi customer dari riba. Awalnya gimana kok bisa dapat yang begitu? Ya dari awal pilih yang syariah, ada pilihannya kok.

Tuh. Nantinya kalau kita sudah menjadi member, maka kita akan masuk di bursa syari’ah, jadi saham yang terdaftar di situ ya yang sudah terdaftar di bursa syariah.

Bisa dilihat daftar efek syariah yang terdaftar di bursa, menurut OJK: daftar efek syariah

Kalau mau baca2 fatwa MUI tentang saham syariah dan sebangsanya juga ada di sana. Main2 lah ke website OJK, wkwkwk…

Jadi, kenalanlah dulu, pelajari ilmunya, pelajari fatwa ulamanya, lalu akhirnya putuskan betul tidaknya setelah belajar. Biar ga pake sebatas sangkaan atau praduga. Toh, ilmu juga terus berkembang. Ulama mempelajari hal-hal kontemporer juga. Dan kita negara muslim terbesar di dunia loh. Nilai2 Islam sedikit banyak juga jadi pertimbangan karena kita adalah potensi pasar yang besar. Begitu?

Oiya, karena IG masih menjadi media pembelajaran yang populer, silakan loh kalau mau main ke @sahamsyariah

@pasarmodalsyariah

(bukan endorse).

Terima kasih sudah membaca! Semoga berfaedah ❤

Catatan kaki:

  1. https://pengusahamuslim.com/1814-saham-dalam-timbangan-islam.html

 

 

 

 

 

Belajar Bahasa dengan Duolingo

 

duo

Berawal dari postingan mbak Jihan Davincka yang ini:

duolingo

mulailah saya iseng-iseng install aplikasinya di hp pas lagi liburan akhir tahun kemaren. Lumayan banget mengisi waktu di sela kemacetan perjalanan waktu itu, saya sibuk sendiri belajar bahasa Perancis, Spanyol, Korea, dan Belanda. Eh, borongan dan ambisius banget yak? Enggaak… itu karena saya orangnya excited di awal doang dan memang penasaran aja sama berbagai jenis bahasa itu. Kebetulan udah lama banget pula saya ga berinteraksi sama bahasa asing, selain bahasa Inggris pastinya.

Jadi saya mulai kenalan sama bahasa asing melalui aplikasi Duolingo ini. Sejak mulai instal di hp akhir bulan Desember tahun lalu sampai sekarang (sekitar 3 bulan), progress saya masih di kisaran level di bawah 10 😀

Yang lewat dari angka sepuluh cuma bahasa Perancis, lainnya tiarap 😀

Tapi saya ga kecil hati sih, karena ini bukan proyek ambisius, ini proyek santai.. seperti orang-orang dengan hobinya masing-masing, ada yang masak, fotografi, menjahit, musik, maka saat ini saya sedang kembali menyelami main-main dengan bahasa lewat games edukasi ini. Kenapa masih games nyebutnya? Karena kalau mau serius, usahanya ya lebih serius. Misal kursus, minimal banget ya baca dan translate artikel dari bahasa yang dipelajari, latihan conversation dengan dengar native speaker dalam proses komunikasi, misal nonton serial, denger lagu, nonton film atau berita dengan bahasa tersebut. Itu usaha yang lebih niat dari sekedar main game ini.

Tapi, game ini sungguh membuka wawasan baru tentang bahasa loh. Misal, saya jadi tahu bahwa ternyata akar bahasa itu selain mirip-mirip juga berkelompok-kelompok. Misal, Perancis-Spanyol-Italia itu satu rumpun, banyak kata-katanya yang lebih mirip dibanding dengan English-Belanda-Jerman yang banyak lebih miripnya. Terus bahwa belajar bahasa asing yang tulisannya juga asing (kaya Korea, Jepang, dan China) itu dobel susahnya karena musti ngapalin hurufnya juga. Makanya saya gampang nyerahnya udah kalo sama huruf-huruf itu. Terus, bahwa bahasa Turki itu menggunakan pola kalimat yang beda, ga SPOK kaya bahasa Indonesia atau bahasa Anglo Saxon umumnya, tapi S-O-P (kata kerjanya di belakang kalimat). Yang susah juga mengenal gender pada kata kerja sih. Perancis Spanyol tuh yang modelnya gitu2.

Seperti segala hobi di usia segini yang ga terlalu diseriusin, begitu pula Duolingo ini. Ga setiap hari dibuka dan latihan, ada kalanya seminggu-dua minggu ga disentuh sama sekali, ada kalanya saking rajinnya bisa jadi week firstleaderboard di club yang saya ikuti. Suka-suka ajalah.