Membaca dengan Let’s Read

Hola!

Memasuki usia 6 tahun, saya mulai lebih peduli dengan mengembangkan kemampuan Dd di bidang bahasa. Kenapa? Karena dia sudah bisa membaca sendiri dalam bahasa Indonesia. Udah punya pondasi yang kuat untuk memperkenalkan bahasa lain, menurut saya. Kenapa ga dua bahasa dari kecil? Padahal banyak anak lain juga udah bisa casciscus lancar dalam bahasa Inggris, bahkan teman sekolah dan kursus Dd pun. Hmm, kenapa ya? Mungkin karena saya cukup santai dan percaya bahwa Dd ga akan mengalami kesulitan berarti, karena bahasa adalah masalah pembiasaan. Jadi ya sudah, sayanya ga ngoyo banget juga.

Kalau selama ini saya cari buku2 cerita dalam bahasa Indonesia, saya mulai cari buku cerita dalam bahasa Inggris. Cuma, ya, kendalanya cuma cari di online shop, ga yakin kalo ga megang fisiknya. Sementara mau ke Gramed*** juga mikir2 karena kan sebisa mungkin #dirumahsaja. Akhirnya malah cuma beli buku latihan dan aktivitas aja, belum kesampean buku ceritanya.

Sampai akhirnya saya nemu postingan tentang Let’s Read ini di IG https://www.instagram.com/letsread.indonesia/

Let’s Read

Karena udah lama ga beli buku cerita, ya pikir saya cobalah buat download dan memperkaya bahan bacaan Dd aja. Gratis pula, kan. Paling kuota internet doang, bukan harga ide cerita, ilustrasi, dllnya. Mikirnya masih bahasa Indonesia aja. Tapi pas liat tutorialnya di youtube, eh, ada berbagai bahasa juga? Hmmm.. cinta banget ga sih…

Setelah instal, saya cobain ke Dd. Terakhir kali, bacaan Dd sebelum tidur variasinya masih di Lima Sekawan Enid Blyton sama cerita nabi, yang serial Cican dan hewan2 udah jarang dibaca sama Dd. Jadi, secara “bobot”, sebenernya emang agak terlalu berat ya buat anak 6 tahun. Nah, begitu baca cerita2 di Let’s Read ini, tiba2 kerasa banget refreshingnya cerita anak2 yang beneran anak2.

Ceritanya sederhana. Sederhana bangeeet, tapi kaya akan kosa kata. Emosinya juga kerasa banget nuansa anak2 yang polos dan ceria. Dd saya bacain jadi sering banget ketawa2 lepas, hanya karena hal kecil seperti gambar ibu naik tangga buat marahin helikopter karna berisik takut bayinya bangun. Dia juga teliti sekali pada hal kecil, seperti tadinya ada 3 anak tikus pergi ke karnaval, tau2 tinggal 2 yang kecil ilang. Ceritanya banyak yang membangun dan akhirnya menegaskan “we are happy“. Dan akhirnya memang sangat menghangatkan hati banget lho, baca cerita anak2 begini.

Saya yang bacain aja jadi kerasa lelah dan kencengnya ilang, apalagi dapat bonus Dd ketawa2 dan nempel sama saya karna pengen liat gambarnya. Beneran udah ga loncat2 lagi dia dibacain cerita. Secara kuantitas juga, bacain cerita sederhana gini cepet selesainya. 1 bab bacain Lima Sekawan bisa buat baca 5 cerita di sini. Dd juga ga mau berhenti2 dibacainnya. Akhirnya, syarat dari saya, dia harus baca sendiri. Jadi sambil dia latian mengeja bahasa Inggrisnya, saya sambil koreksi pelafalannya dan mendorong dia untuk menebak arti katanya terus menyesuaikan dalam kalimat. Kalau saya ga ngerti juga arti katanya, ya kita sama2 buka kamus untuk cari tau apa artinya.

Reading to you kid make the connection stronger, indeed.

Udah nemplok gini, berat tapi seneng, alhamdulillah

Selamat membaca!

Survey SD di Jaktim-Jakpus (Bag. 1)

Tolong maafkan judulnya yang clickbait banget.

Pagi ini, sebuah pesan masuk di WA saya.

“Astika.. kamu sudah menuangkan hasil survey SD ke blogmu kah? Temenku ada yang nanya, aku taunya XXX doang..”

Saya bilang enggak, pas survey SD ga sempet foto2 soalnya ga ada niat untuk bikin postingan di blog, wkwkwk. Tapi lalu senior saya ini bilang ga perlu foto2 gapapa, tapi opini saya ttg plus minus sekolah tersebut apa aja. Hmm… baiklah, siapa tau bisa bermanfaat buat buibu yang mau cari referensi sekolah buat anaknya, cuss lah.

Eh.. preambule lagi. Jadi, sejak awal november saya mendapati info tentang pendaftaran SD dan MI seliweran di media sosial saya. Kok bisa? Iya, saya udah cari dan follow akun2 sosmed SD inceran, walau ternyata ada juga yang salah akun. Gimana caranya cari SD inceran? Yang pertama buat saya sih lokasinya. Ini yang saya kunci duluan. Jadi saya cari dengan kata kunci SD Islam terdekat. Ada ketemu nama2nya di peta? Barulah dibuka ulasannya di mesin pencari. Bagi beberapa orang mungkin cara saya sangat ribet dan ah entahlah, saya tidak peduli. You do you. Saya punya prioritas dan pertimbangan sendiri, demikian pula orang lain.

Cara kedua, cari tahu akreditasinya. Karena saya mau memasukkan anak saya sekolah di SD Swasta, akreditasi menjadi penting buat saya. Lagi, ini bisa jadi tidak penting buat orang lain, silakan saja. Jadi saya berselancar di dunia maya, mencari akreditasi dari masing-masing sekolah yang sudah terkunci lokasinya.

Ke mana mencari akreditasi? ke http://bansm.kemdikbud.go.id/akreditasi ya. Masukkan lokasi, jenjang pendidikan, nilai akreditasi apa yang dimau. Bisa keluar daftarnya, mempersempit pilihan.

tampilan situs banpt

Sudah dapat akreditasinya? Sambil menyelam minum air, saya juga mencari review sekolah2 tersebut, di forum2, di blog orang, dari cerita senior, dst, dst. Perjalanan mencari SD ini sudah saya mulai sejak saya mencari TK untuk DD, jadi sejak 2018an lah. Beberapa sudah saya kontak tentang biaya2nya sejak Dd masuk TK A, sekedar untuk mencari bayangan kira2 pas tahun Dd masuk sekolah, saya harus persiapkan berapa. Beberapa sudah saya kunjungi juga secara langsung sejak tahun lalu, supaya PR saya mencari sekolah tidak bertumpuk di tahun pendaftaran persis.

So, here we go.

  1. SD Islam Al Mubarok (Rawasari, Jakarta Pusat)

SD Al Mubarok menjadi SD pertama yang kami kunjungi, sekitar tahun lalu. Karena lokasinya di peta terbilang dekat rumah, dan secara harga, dia termasuk lebih terjangkau. Situsnya bisa dilihat di https://sditalmubarak.sch.id/

Pas saya kunjungi, mereka sedang mempersiapkan penilaian akreditasi (masih B) tetapi di tahun ini sudah A.

oh, biar gampang pakai format aja kali ya hasil surveynya.

Pros:

Cons:

  • jalan masuknya sempit, ga masuk mobil tp cuma gang. Kebayang kalo antar jemput anak bakal desek2an dengan arus pelajar yang banyak, meskipun cuma pakai motor.
  • ada info kalau ga dari TKnya, bakal susah masuk.

Tentang SDIT Al Mubarak ini ga saya lanjutin cari tahu lagi di tahun ini, karena agak ga sreg dengan akses ke sekolahnya. Tapi ya ini sekedar info aja sih, buat tambahan referensi.

2. SD KIS (Kaffah Islamic School, Senen, Jakpus)

Saya juga cek lokasi SD ini tahun 2019an mungkin. Ini sekolah baru, padahal. Tapi saya minat aja lihatnya. Too bad, kayanya penerimaan untuk tahun ini sudah berakhir tgl 27 November kemarin. Tapi coba dikontak aja sih, siapa tahu ada kuota tambahan.

Pros:

  • bangunan dan fasilitas terlihat OK
  • kurikulum dan visi misi OK
  • biaya terjangkau (di tahun 2019 SPP sekitar 500k, uang pangkal <10jt an)
  • ekskul OK (ada panahan juga)

Cons:

  • belum akreditasi karena belum ada lulusan. Hiks, ini sedih sekali. Tapi kalau anda percaya pada kualitas pengajar dan sarprasnya ya silakan, karena memang untuk sekolah baru, kendala mendapat akreditasi adalah dibutuhkannya lulusan. Tahun kemarin sudah sampai angkatan ke-4 kalau tidak salah, jadi misal diurus, tahun depan sudah bisa dapat akreditasi.
  • akses ke sekolah agak susah. Meskipun diklaim dekat dari jalan Pramuka, jujur saya dan suami sampai berkali2 nyasar, pas nyari sendiri. Setelah kontak via wa dengan admin sekolahnya, dikasih ancer2 masuk dari gang murtadho, baru deh ketemu. Itupun nanya sama warga sekitar, dan mereka ga tau kalau nyebut Kaffah Islamic School, taunya “KIS” udah.

Di tahun ini juga saya ga mencari tahu tentang sekolah ini, karena ya tentang akreditasi dan akses ini.

3. SD Perguruan Cikini/ SD Percik (Menteng, Jakarta Pusat)

SD legendaris ini ya, konon banyak musisi dan selebritis bersekolah di sini dulunya. Bukan SD Islam, tapi terus terang saya tergiur dengan ekskulnya, huhuhu.. Informasi saya dapat sebatas dari lewat sekolahnya saja pas pulang kantor, lihat gedungnya dari luar, dan lihat2 situsnya. Dulu sih ada info biayanya juga di situsnya.

Situsnya: http://percik-school.com/, https://www.facebook.com/sd.percik, https://www.instagram.com/sdpercikjakarta/

Pros:

  • ekskul OK banget
  • biaya relatif terjangkau (uang pangkal <15jt, uang kegiatan tahunan <5jt, spp <1,5jt)
  • fasilitas OK (ruangan, lab, kantin, antar jemput, lihat di situsnya aja sih ini, wkwk)

Cons:

  • kurikulum nasional, bukan religius. Ini preferensi saya, misal buibu ada yang milih kurikulum nasional maka ini jadi pro, bukan con.
  • ga searah kantor untuk antar jemput.

kalau dilihat, kontranya personal sekali sifatnya ya. Ini jadi semakin meyakinkan bahwa preferensi, prioritas, dan pertimbangan orang bisa sangat beda, dan itu tidak apa2.

4. SD Muhammadiyah 1/ SD Mutu Jakarta (Kemayoran, Jakarta Pusat)

Ini SD saya baru tahu November kemaren, huhu. Pas udah mulai desperate, eh nemu info SD ini.

situs: https://www.instagram.com/sdmutujakarta/,

https://www.facebook.com/SD-Muhammadiyah-1-Jakarta-1528429060796478/, https://www.youtube.com/c/sdmuhammadiyah1jakarta

Pros:

  • akreditasi A
  • biaya terjangkau (uang pangkal 8jt, spp 600an, uang tahunan 2jtan)
  • fasilitas lumayan (antar jemput, katering)

Cons:

  • lokasi dan akses. Dia di dekat rel dan stasiun kemayoran, lingkungan dan lalu lintas padat, musti puter balik agak jauh, dan memang jauh dari rumah (7++ km, kasian Dd capek di jalan)
  • sarpras. Kalau kelas dan kursi meja sih di instagramnya keliatan modern, tapi untuk bangunan dan halaman agak “berumur”. Yah ini masih bisa direnov sih, kapan2.
  • ekskul. Ekskul yang ditawarkan cenderung serius dan kurang unsur “fun” nya buat saya.

5. MI Istiqlal Jakarta

Situs: https://www.web.mij.sch.id/, https://www.youtube.com/channel/UCtqBe-ZogLpr7LobVwTCwMA

Setiap hari berangkat kerja ngelewatin ini, ya gimana ga kepengen Dd sekolah di sini? Meskipun keinginan terpendam itu ya dipendem aja sih, ga berani soalnya denger2 uang sekolahnya mihil sikili, huhuhu menangis. Tapi, karna lihat postingan di instagram the urban mama https://www.instagram.com/the_urbanmama/ (cek di highlite Jakpus) di situ ada info biaya uang pangkal yang rasa2nya masih bisa diusahakan, kami jadi coba deh daftar.

Jadi udah daftar PPDBnya (bisa dicek di situsnya), ikut grup WAnya, sempat ikut openhousenya walau ga sampe selesai, tinggal tunggu seleksinya nanti tanggal 21 Desember.

Pros:

  • MI Istiqlal. Masjid terbesar se-Asia Tenggara. hhh udahlah apalagi yang kau ragukan
  • searah dengan kantor, mudah antar jemput

Cons:

  • klasik. Biaya. Bisa sih, diusahakan, tapi sejauh info yg saya terima, masih ada komponen biaya yang saya belum tau besarannya (uang komite madrasah), dan itu agak bikin kuatir kira2 sebesar apa dan sebisa apa kami menambahkan komponen itu ke anggaran tahunan kami.
  • meskipun searah, sebenernya ya lumayan jauh buat Dd. 7,6 km, tapi ya bisa diusahakan lagi nanti.

Jadi meskipun ada kontranya, masih bisa kami kompromikan sih. Makanya berani coba daftar. Sebetulnya Dd juga udah daftar di SD Islam lain sih, udah tes masuk, udah dinyatakan diterima malah di minggu ini. Tinggal daftar ulang, hehe. Tapi masih ada penasaran ke MI istiqlal ini, tapi ya entahlah. Maafkan kalau tidak membantu dan malah nambahin galau, wkwkwk.

Setelah dilihat lagi, meskipun judulnya Jaktim-Jakpus tapi sepertinya bagian 1 ini saya khususkan untuk yang Jakpus dulu ya. Untuk Jaktimnya (sekitaran matraman-rawamangun-pulomas) menyusul di postingan berikutnya.

Semoga bermanfaat!

Tentang Memilih Homeschooling (2)

Halo!

Pas liat kalender udah 31 aja dan ternyata saya ga ada nulis apapun di blog ini selama Agustus. Padahal mah udah pernah nulis sampe 900++ kata tapi pas mau dipost ilang trus ga mood lagi, yaudah deh.

Jadi, udah sebulan lebih nih ceritanya si Dd menjalani HS, gimana kesan2nya? Sesuai janji saya di postingan Tentang Memilih Homeschooling (1) saya mau nulis kan gimana2nya setelah menjalani.

Cerita aja deh ya.

Jadi, secara umum ya ga jauh beda sama SFH kemaren setelah pandemi. Sekolah memberi tugas, orangtua membimbing, anak yang menjalankan. Kegiatan belajar di rumah murni ga ada di sekolah sama sekali. Pertemuan online dengan aplikasi. Perbedaan yang menonjol ya karakteristik masing2 lembaga pendidikan itu beda. Udah, itu aja. Karena perbedaan karakteristik lembaganya, maka beda arah dan kurikulumnya, sesuai visi misi masing2. Teknis, sama aja. Detail, beda tergantung teknisnya.

Slide1

Slide2

Slide3

Slide4

Muahahaha, maapin kalo tabelnya acak adut ya. Saya coba semampu dan sesempet saya biar semua poin bisa masuk di satu postingan.

Jadi, tuntas ya janji saya buat bikin postingan tentang HS ini? Kalo mau tanya2 boleh japri saya, ada kontak lewat email.

Yah, sekarang tentang TK selama pandemi udah ada solusi, trus nanti gimana pas SD? mau lanjut di PKBM ini atau memberanikan diri daftar ke sekolah biasa?

Belum tau. Biar Allah yang tunjukkan.

Salam,

Ast ❤

Tentang Memilih Homeschooling (1)

Akhirnya saya beranikan juga nulis ini.

Niatnya sih, nanti2, sebulan dua bulan, gitu setelah udah beneran menjalani. Tapi pikir saya, yaudahlah, udah beneran nyemplung juga. Masalah realitasnya seperti apa setelah benar-benar menjalani, ya nanti pasti masih bisa kok ditulis. Yang sekarang juga hasil kegalauan sekian lama, soalnya. Yok, mulai.

Berawal dari … pandemi.

Oh, enggak. Pandemi mungkin trigger utama, tapi sebetulnya keinginan untuk bisa homeschooling sendiri mungkin muncul di usia Dd baru 6-7 bulan, mungkin. Waktu itu saya masih aktif di FB dan memfollow salah seorang praktisi homeschooling yang lumayan populer, yaitu Kiki Barkiah dan Abah Ihsan (?). Melihat kisah2 mereka dan nilai2 yang ditanamkan pada anak2nya, sedikit tercetus keinginan di dalam hati untuk bisa begitu juga ke Dd. Meskipun ya masih sadar diri sih, melihat kenyataan bahwa saya adalah ibu bekerja yang berada di luar rumah sejak jam 7.30-17.30, kalau normal. Kalau tidak normal ya lebih dari itu. How come bisa2nya pengen homeschooling anak. Sama siapa? Resign juga berat, yah gitu deh, pikirannya macam2. Jadi keinginan homeschooling (selanjutnya saya singkat jadi HS) masih cuma sebatas keinginan.

Terus, di usia 3 th 8 bulan, Dd mulai saya masukkan kelas playgrup di dekat rumah. Masuk 3 kali seminggu, 2,5 jam per pertemuan. Cerita lengkapnya di Tentang Sekolah ya. Berlanjut sampai anaknya naik ke kelas kinder A alias TK A. Lalu di tengah semester 2, bulan Maret, terjadilah pandemi ini di seluruh dunia. Kebijakan pendidikan saat itu (dan sampai sekarang masih), yaitu anak belajar di rumah. Didampingi orangtua. Guru bertugas menyusun materi dan memantau serta memberikan penilaian atas kecukupan hasil belajar anak.

Bulan pertama, masih masa adaptasi untuk saya, DD, dan ayahnya. Kantor kami masih menerapkan kebijakan WFH (work from home) dan WFO (work from office) secara bergiliran. Sebisa mungkin saya mengatur jadwal agar wfh saya tidak berbarengan dengan suami, hanya supaya setiap harinya ada yang bisa mendampingi Dd mengerjakan tugas sekolahnya. Karena, wfh kan bukan libur, tetap ada tanggung jawab (dan deadline) pekerjaan yang harus dipenuhi. Tugas sekolah juga sama. Terus terang, di bulan2 awal, saya justru merasa wfh + sfh + cfh (course from home) ini sangat melelahkan. Jam kerja menjadi tidak beraturan, karena sekian pekerjaan harus diselesaikan dengan deadline berkejaran. Tapi yasudahlah, the job must be done.

Tugas sekolah, apa kabar? Ya sami mawon… Tapi intinya, setelah pembelajaran lebih lagi, akhirnya, ya bisa juga beradaptasi. Dan saya juga jadi lebih mengenali Dd, dari mengajarkan dia materi2 tugas itu. Misal, saya jadi tahu bahwa mengajarkan menghafal ayat, 1-2 ayat per hari itu sudah bagus, bukannya menghafal setengah surat. Saya jadi tahu bahwa Dd tidak terlalu suka menggambar, karena memegang alat tulis/ warna itu melelahkan (ini saya banget, sampai kelas 1 SD masih tidak suka menulis sendiri karna capek). Saya jadi tahu bahwa Dd lebih memilih melihat saya bersedih dibanding marah padanya. Kenapa?

“Kalau Bubu marah, Dd takut. Tapi kalau Bubu sedih, Dd bisa hibur Bubu.”

Oke, hero. Sekarang lanjut hafalan suratnya.

Wkwkwk, candaa… ya saya jadi nyesel marah dan tambah pe-er untuk mengatur emosi dan meningkatkan kesabaran terhadap Dd.

Hasil dari wfh + sfh + cfh 3 bulan ini, ya saya jadi lebih dekat dengan Dd. Sampai pada masanya memasuki new normal, ehem, dan kantor kami memberlakukan full wfo 100% lagi. Saya dan ayahnya mulai ngantor lagi, setiap hari, pagi-sore lagi. Ayahnya mulai dinas luar lagi dan menginap lagi. Mudah2an saya ga dapet nginep2 lagi deh. Dan Dd dari yang awalnya mengulang2 kalimat,

“Bubu Babah di rumah aja, ga boleh kerja di kantor. Kerjanya dari rumah aja, pake zoom.” –> wow pinter berargumen kamu ya, good job, kid. #masyaAllah

menjadi

“Bubu di rumah aja, Babah aja yang kerja.” –> oshiaap, dadah Babah, baik2 kerja yaaa, sehat2 yaaa, Bubu di rumah yaaa…

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, pensiun aja.” –> iya Nak, pengen banget, huhuhu

menjadi

“Bubu ga boleh kerja, cuti aja cutiiiiii…” –> belum boleh cuti, sayang, belum keluar aturannya yang ngebolehin cuti

menjadi

“Bubu Babah ga boleh keluar, ada virus corona!” –> seketika keinget video parodi CLOY yang marak beredar di awal pandemi.

cloy
udah new normal sekarang, hey

hmmm yasudahlah begitulah terus.

Oke, balik lagi. Sementara saya dan suami berusaha merelakan diri wfo, kami masih belum rela dong kalau Dd yang masih 5 th itu balik ke sekolah. Mulailah kegalauan tentang bersekolahnya ini datang, dan pas baca2 twitter, ada cuitan seorang yang intinya sih, kalau anak2nya disuruh sekolah lagi, mending dia pilih homeschooling anak2nya aja.

I was like, what? Iya uga, kenapa ga kepikiran…

Tapi tapi tapi … hmmm… sebentar, diingat2 lagi, Dd sudah sangat bisa diajak bekerja sama lho, mengerjakan tugas. Jadi, karna kami wfo, baru bisa pulang sore sebelum maghrib kan, setelah pulang juga bersih2 dsb lalu mulai mengerjakan tugas Dd setelah maghrib. Sekitar 2-2,5 jam mengerjakan 4-5 jenis tugas (membaca/ menulis, membaca hijaiyah, hafalan surat, hadits, atau doa pendek, lalu aktivitas seni/science), masih diselingi masak untuk makan malam dan makan malamnya, lalu latihan untuk kursus musiknya, dan rutinitas sebelum tidur (sikat gigi, pipis, baca buku). Bisa. Dd bisa diajak kerja sama. Dd kooperatif dan mengerti, alhamdulillah.

Jadi, pemikiran tentang HS menguat.

Tapi masih menunggu kebijakan pemerintah, sih. Aturan SFH ini bagaimana? Sampai kapan? Sepanjang tahun ajarankah, atau bagaimana? Virusnya aja katanya masih sampai 2022 loh. Terus, akhirnya ada edaran sementara bahwa sfh ini kemungkinan sampai Desember. Terus, misal setelah Desember sudah disuruh masuk, apa iya saya betulan berani melepas Dd?

Jawabannya, ternyata tidak. Meskipun saya sempat goyah untuk Dd tetap meneruskan sekolahnya di tempat yang sekarang, karena dia nangis pas dibilang mau pindah. Iya, saya goyah, karena saya juga anak pindahan jaman SD dan SMP. Tahu banget lah rasanya pindah dari sekolah yang disenangi ke antah berantah yang ga tau kaya apa keadaannya. Dd sudah sayang teman dan guru2nya, saya juga sebetulnya merasa baik2 saja dengan itu, bahkan sudah bayar pendaftaran untuk tahun ajaran berikutnya, di jenjang kinder B, tapi ….

saat saya melihat berita bahwa tingkat kenaikan kasus positif di Korea Selatan meningkat setelah sekolah dibuka, saya tidak bisa tenang lagi. Saya tidak goyah lagi, dan memang membulatkan tekad bahwa teman dan lainnya datang dan pergi, tapi nyawa itu ya cuma satu dan tidak terganti.

Maka saya persuasi lagi Dd, semakin sering dan intensif. Ditambah lagi, rencana kami pindah rumah akhirnya tereksekusi juga pas di tahun ajaran baru. Lokasi rumah jadi menjauh dari sekolah lama. Pas kebetulan juga, sekolah memberikan edaran tentang tatacara sekolah di era new normal ini, yang ada tambahan2 poin yang akan sulit kami penuhi sebagai orangtua bekerja yang tidak bisa selalu menemani Dd mengikuti kelas online di hari tertentu. Maka, ya akhirnya kami membulatkan tekad untuk mengakhiri pendidikan formal Dd di sekolah dan memilih homeschooling.

Pas terima raport, Dd berpamitan dengan miss2nya. Sedih, huhuhu, karena saya yakin Dd disayangi dan Dd juga sayang sama miss2nya.

miss2
dengan wali kelas Dd

miss2lain
dengan miss2 lain di sekolah

miss bunga
dengan kepala sekolah Dd

Miss2nya cantik2 yah, buat para ikhwan single yang mau serius mohon hubungi saya secara pribadi dulu. Yang kepseknya udah taken yaa..

Ya gitu deh, ini masih preambule yang kepanjangan untuk postingan ttg HSnya gimana2, next lah ya, kalau udah sempet. Sekarang saya masih belajar2 juga. Atau kalau mau tau banget, bisa japri saya lho. Udah ada 1 orang yang kecantol dan ngikut HS juga sih sama saya. Tenang, bukan MLM. Sama sekali bukan.

Intinya sih, saya masih berterima kasih sekali untuk sekolah yang sudah membantu saya mengajari Dd selama ini, dan juga mengajari saya sebagai orangtua, sampai saya bisa merasa PD untuk mewujudkan cita2 terpendam saya pas Dd masih kecil, yaitu mengajari Dd sendiri. Kalau ditanya alasan pindah, yang utama saya jawab, karena pandemi. Iya, pandemi ini mengubah banyak hal di sekeliling kita, membuat apa yang tampak tidak mungkin di awalnya, tiba2 terasa mungkin.

Tapi yang utama sih, mungkin memang HS untuk Dd sudah ditakdirkan, dan ia akhirnya mencari dan menemukan jalannya sendiri.

Quran Surat Al-An’am Ayat 59

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Arti: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Referensi: https://tafsirweb.com/2183-quran-surat-al-anam-ayat-59.html.

Demikian.

Tentang HS nya, insya Allah next post.

Update: sudah dipost ya, tentang HSnya di Tentang Memilih Homeschooling (2)

❤ Ast

milik kita

Berawal dari keimpulsifan saat melihat instastory seorang di IG, yang kayanya saya follow karena dia punya kucing…

…tapi tiba2 ngiklanin jual buku bekas. Dalam kondisi (saat itu masih) WFH dan tugas negara sudah mulai menurun intensitas dan frekuensinya, dan Dd sudah mulai bisa diajak koordinasi dan kooperatif dalam mengerjakan tugas2 dari sekolahnya. Maka melihat buku2 yang di jaman masa kecil/ remaja saya ini sering saya lahap di perpus/ penyewaan buku dijual murah, segera saya kontak penjualnya. Skip skip skip sampai beberapa hari kemudian paketnya sampai di rumah.

lima sekawan
Tada… ini yang diiklanin mas nya

Apa langsung saya baca? Enggak pemirsa, saya anggurin dulu, itung2 ngendapin potensi virus padahal mah emang males aja. Oiya, btw saya ga anti ya beli buku bekas. Buku cuci gudang pun saya beli kok. Pengalaman paling seru adalah beli buku Senopati Pamungkas 2 karya Arswendo Atmowiloto seharga 50ribu saja. Antara sedih dan happy sih dapat buku bagus (dan baru) harga segitu. Yang anti adalah beli buku nikah orang, karena buat apaa…zzz…

Oke lanjut. Jadi saya beli buku2 di atas itu, buat saya. Mengatasnamakan adanya potensi waktu luang (yang ternyata setelah mengenal mager dan main hp itu jauh lebih menggoda dibanding baca buku, asli) dan nostalgia semata. Buat Dd, saya masih pilih2in bukunya, masih yang boardbook 20 halaman macam Halo Balita, serial nabi, Cican Fun Series, dsj lah. Atau majalah Bobo, atau seri pengetahuan umum/ populer aja. Buku novel macam itu pikir saya ya nanti ajalah dikasih pas dianya udah bisa baca sendiri, lancar, dan emang tertarik sama buku bukan karena gambarnya.

Tapi emang anak2 itu, kayanya gabisa banget kan ya, liat emaknya fokus sama sesuatu yang bukan dirinya sebagai pusat dunia. Zzz, anak 5 tahun yang masih kemratu2 kalo istilah Jawanya. Jadi ini bukan pertama kalinya ya, Dd liat saya lagi baca serius (novel NH Dini, misal, atau bukunya Emha Ainun Najib, yang jelas bukan buat konsumsi piyik itu) terus minta dibacakan. Padahal mah saya juga udah beliin dia buku baru, yang buat anak2, hurufnya besar, gambar dan visualnya menarik dan saya udah nyanding di sebelah dia. Maunya sih, saya baca, dia juga latihan baca sendiri. Enggak mau dong, maunya dibacain buku saya. Yaudahlah, akhirnya entah mulai kapan, bedtime storiesnya berganti dari boardbook menjadi novel lima sekawan ini.

Dan sampe sekarang sudah selesai buku keempat dan mau lanjut buku kelima.

Agak ga nyangka sih saya, bahwa Dd ternyata bisa mengikuti dan menangkap cerita dari novel ini. Meskipun setelah saya jadi orangtua yang membacakan buku ini, saya jadi menyadari bahwa buku ini ga akan lolos 100% memenuhi buku untuk anak. Ya iya, di dalamnya ternyata sering saya dapati kata2 makian seperti: t*l*l, k*ny*l, s**l*n, dll. Juga sarat stereotyping dan hal2 yang dulu pas saya baca rasanya seru, kini kok seperti ga sopan, kurang kerjaan, kurang ajar, dan cari masalah. Yah, mungkin karena ditulis untuk mengikat hati ABG/ remaja yang egonya sedang bertumbuh dan mencari tempat, jadi hal2 seperti itu baik2 saja. Sedangkan untuk cakrawala saya yang umur 30++ ini, kadang bikin kening agak berkernyit, dikit.

Salah satu cara ngakalinnya adalah, kalau pas dapat kata2 kasar itu, maka bacanya akan saya ganti menjadi “piiiiiip” atau “tiiiiiiit” yang akan bikin Dd ketawa awalnya, lalu tanya, “itu apa?” dan saya jawab, “sensor”. Berikutnya lagi kalau saya bunyi gitu lagi dia tetep ketawa dan lalu bilang “sensoooor”. Iya, nak, bagus. Nanti aja kalo udah bisa dan mau baca sendiri, kamu akan tahu kata2 kotor apa itu. Wkkk..

Tapi, kembali lagi ke reaksi Dd. Meskipun dia belum bisa benar2 diam tenang dan anteng pas dengerin saya baca buku, dan sering sambil lompat2 di kasur pas saya baca, dia tetap terikat dengan cerita dari buku2 ini. Satu buku rata2 dibagi menjadi 17-22 bab, saya bacakan rata2 2 bab per malam, bisa fleksibel. Kalo kami lagi sama2 capek, bisa skip satu malam tanpa baca. Kalo lagi capek tapi masih ada tenaganya dikit, 1 bab okelah. Kalo ceritanya lagi seru dan besok libur/ weekend, bisa sampai 4 bab. Iya, suara saya sampai serak, tentu. Tapi, Dd senang, dan terikat.

Terikat tidak hanya secara rasa penasaran saja akan kelanjutan ceritanya. Tapi dia juga bisa berempati pada masalah yang dihadapi si tokoh. Pernah dia tiba2 murung, suram, dan memeluk babahnya saat saya sedang menceritakan si George yang sedih dan menangis tersedu2 karena ibunya masuk rumah sakit. Sampai ikut sesedih itu dia. Pernah juga dia merasa gemas dan sebal dan kesal saat tokoh antagonisnya mengganggu lima sekawan. Geli banget saya lihatnya kesal dan mengepal2kan tangan 😀 #maasyaAllah #masihtakutain

Dan, secara topik dan kualitas obrolan kami juga meningkat. Kami jadi seperti punya obrolan yang sama, membahas tokoh2 di buku itu. Kemarin tiba2 saja pas saya sedang ngomong sesuatu tentang tulang, Dd nyambung bahwa kalau tidak ada tulang maka meleleh badannya. Referensinya adalah tokoh Manusia Tak Bertulang yang ada di buku Sirkus Misterius. Well, sebelumnya, pembicaraan kami juga bisa menyangkut banyak hal yang sedang menjadi minatnya. Tetapi pembicaraan 1 tema selama beberapa hari sesuai bab di buku, itu hal yang lumayan baru. Karena biasanya kan satu buku kelar, sudah ganti buku yang lain, dalam 1 malam bisa baca 2-3 buku berbeda (buku anak2 boardbook 20an halaman).

Berlanjut juga untuk kemampuan membacanya. Sebelum saya bacakan, biasanya Dd saya minta membaca sendiri judul babnya yang dia minta akan dibacakan. Biasanya dia baca 2 judul bab. Kadang dirapel 5 judul bab. Kadang juga lewat aja. Yah, intinya sih, buat saya dan Dd, ini adalah kegiatan baru yang menyenangkan.

Apalagi saat melihat ini:

9802dea5e2d8cd4d6281252c34b95e78

Saya menyadari bahwa kami sedang membuat kenangan indah itu bersama2. Meskipun saya tumbuh menjadi pecinta buku bukan karena dibacain buku (saya didongengin lisan tanpa baca buku oleh ibu- lalu jadi sering membaca buku di perpustakaan sekolah karna menunggu ibu selesai mengajar). Tapi, ya siapa tahu, nantinya yang akan Dd ingat saat melihat 5 sekawan bukanlah cerita dari masing2 bukunya, melainkan suasana dan momen saat saya bersama dia, malam2 membaca buku sebelum tidur.

Well, kenangan itu bukan hanya milik dia saat tumbuh dan mendewasa nantinya toh, tapi juga milik saya saat nantinya saya menua.

5-quote-beloved-books
Saya dan Dd tentu tidak seromantis ini. Saya baca, dia lompat2, itulah yang lebih sering terjadi…

Jadi melow kaaaaaaan…

Yaudah, gitu aja.

Let’s make lovable memories with our loveliest!

Ast ❤

Ide Bermain Anak 1-3 tahun

Semalam, saya melihat WA status teman kantor yang duduknya di sebelah meja. Video anaknya yang usianya 1+ sedang bermain puzzle kenop hewan. Saya lihat, anaknya anteng duduk dan mencocokkan puzzle, dan bisa! Yeaay, saya ikut senang menontonnya. Lebih senang lagi, soalnya saya yang merekomendasikan puzzle itu ke ibunya, hohoho..

Jadi, beberapa waktu sebelumnya, si ibu bertanya pada saya, mainan apa ya yang bagus buat anaknya. Saya memutar otak, mengingat2 jaman DD usia segitu saya belikan apa ya. Karena jujur, sejak DD masuk sekolah, utamanya sejak di jenjang TK A yang masuk Senin-Jum’at ini, saya udah jarang banget mikirin mainan dan aktivitas edukatif buat dia. Rasanya saya hanya meneruskan aktivitas yang rutin aja, kaya bacain buku sebelum tidur, hafalan surat2 pendek juga boleh dibilang saya ga mengajarkan surat baru, hanya membantu DD menghafalkan yang dia dapat dari sekolah. Saya benar2 terbantu dengan aktivitas dari sekolahnya yang saya yakin sudah membantu memaksimalkan potensi tumbuh kembangnya, alhamdulillah.

Balik lagi ke ide bermain buat anak, ya. Yang saya ingat, saya dulu membelikan puzzle kenop dengan berbagai tema. Kenapa puzzle kenop? Karena dia bentuknya 1 puzzle satu objek, jadi bukannya menyusun kepingan2 puzzle membentuk satu objek. Buat saya, ya menyesuaikan usia anaknya saja. Semakin besar tentu tingkat kerumitannya bertambah jadi bisa diarahkan untuk puzzle yang beneran. Tapi, puzzle kenop memang saya sarankan untuk memperkenalkan anak dengan konsep puzzling ini.

Jadi kepikiran deh, kalau saya bisa merasa senang kalau saran saya bisa bermanfaat buat teman saya itu, kenapa ga saya bagikan saja di blog biar manfaatnya bisa ditemukan orang2 yang memang lagi nyari, wkwkk… jadi..yuk here we go!

  1. puzzle kenop

Itu contohnya ya. Satu objek, satu puzzle. Bisa buat memperkenalkan nama benda (bentuknya apa aja loh, ada bentuk geometri, alfabet, angka, hewan hutan, hewan laut, alat transportasi, sayuran, buah, dsb) juga melatih koordinasi mata, tangan dan melatih penalaran. Harganya juga terjangkau, mungkin sekitar 20-30rb an, di online shop banyak.

2. pasir sintetis

Mainan pasir sintetis ini anak juga suka, tapi biasanya ibu atau pengasuhnya yang ribet beresin setelahnya, wkwk.. Ini juga bagus untuk melatih motorik halus anak, juga sensorinya, jadi anaknya ga gelian. Bisa bikin cetakan2 bentuk pasir sambil coba bercerita, melatih imajinasi dan kemampuan verbalnya.

mainan_pasir__playsand__cetskan_1457136312_d8d04784maxresdefault

3. menuang

Apa yang dituang? Biji2an (beras, kacang hijau, makaroni, dsb), dan cairan (air, susu, sirup warna, minyak, dsb). Alatnya ya cuma teko, cangkir, corong. Atau dibikin main pas mandi sambil tuang2 air juga bisa. Kalau sehari2 kerja jadi hectic, ya pas weekend. Melatih apa? Koordinasi mata dan tangan, kepekaan anak terhadap ukuran, juga sensorinya. Sarannya sih, untuk anak yang usianya lebih kecil, pakai material yang ukurannya lebih besar. Misal, makaroni, kacang merah, terus beranjak ke yang lebih kecil kaya kacang kedelai, jagung, kacang hijau, dan beras.

manfaat-kegiatan-menuang-biji-bijian-dalam-montessori-1-1-1024x557-1
sumber: https://parentalk.id/manfaat-kegiatan-menuang-biji-bijian/

4. menjepit dan memindahkan benda

Alatnya cukup pakai penjepit plastik yang bisa beli online atau di toko barang2 plastik. Semakin kecil anak, semakin besar benda dan penjepitnya ya. Soalnya kan melatihnya bertahap. Benda yang dipindahkan apa aja? Kalau DD waktu itu saya kasih legonya sih. Soalnya biar enteng dan ga gampang pecah atau berantakan. Bentuknya juga ga kecil2 banget.

scalloptongs_w

nah anak dikasih jepitan itu, disuruh memindahkan benda2 kecil ditaroh ke mangkok. Lebih bagus lagi kalau benda dan mangkoknya warnanya disamakan, Nanti setelah anaknya lebih besar, bisa jepitannya diganti ke pinset plastik dan legonya diganti pompom.

2108934_0320dbd0-bfa2-47c9-b6f6-99a346611815_1560_1560

Menjepit, menuang, menggunting, dan aneka kegiatan lain yang melatih motorik halus anak ini bagus buat persiapan dia menulis nanti loh. Jadi, otot2 tangan anak sudah terlatih lewat kegiatan yang kelihatannya main2 ini. Ga langsung nanti disuruh megang pensil dan tracing pola huruf. Lebih rentan pegel dan bikin stres anak kalau tidak dipersiapkan sedini mungkin.

5. membentuk dan membangun

Untuk membentuk, bisa dikasih plastisin. Diajarin menggiling, bikin hewan, bikin buah, bikin bentuk geometri (segitiga, kerucut, lingkaran, bola, persegi, kubus, tabung, balok). Bikin alat transportasi, alat dapur, dsb banyak deh idenya. Ini melatih motorik halus juga, menguatkan otot tangan juga.

lucunya-27-kreasi-lilin-mainan-ini-bikin-nggak-percaya-160308c

Terus untuk membangun, bisa pakai lego. Legonya untuk anak yang masih kecil ukurannya lebih besar, nanti semakin besar akan semakin mengecil. Lego ini bagus loh untuk melatih imajinasi, memperkenalkan bangun ruang dan tekstur juga. DD sudah ngeh main lego itu seru sejak umur 1,5-2 mungkin ya, sebelumnya ya dia ga ngerti itu lego musti diapain, wkwkwk..

mainan_anak_lego_isi_156_pcs_incl_box

Seringnya sih, untuk mainan anak, saya googling pake keyword “mainan edukasi anak usia … th”. Nah, nanti kan keluar tuh artikel2 tentang rekomendasi mainan apa aja untuk anak. Nah saya sesuaikan deh mainan yang kira2 cocok dengan usia anak, trus apa yang mau saya kuatkan di sisi tumbuh kembang anak.

Misal, mau menguatkan motorik kasar? Main lempar tangkap bola plastik. Sudah mahir dengan bola plastik yang besar? Beralih ke bola yang lebih kecil, misal bola basket kecil trus bola tenis. Mau menguatkan motorik halus? Latihan menjumput benda, menggunakan pinset atau tweezer. Menempel stiker. Bermain warna dengan cat air, dengan kuas atau tangan atau bonggol sayuran. Memindahkan air dengan spons (meremas spons trus dikucurin di atas wadah). Bahkan memasukkan sedotan ke botol plastik aja bisa jadi seru loh.

Semangat main sama anak! ❤

 

 

Menu Bekal Sekolah Anak : Spagetti Aglio Olio

DD sudah masuk sekolah dari tahun lalu, jadi kenapa baru bikin postingan resep bekalnya sekarang, buu….

Ya karena baru sempet 😀

Baik itu sempet masaknya yang macem2 maupun sempet potonya buat konten blog 😀

Awal masuk sekolah, ada ketentuan dari sekolahnya untuk bawa bekal, dan bekalnya ga boleh frozen food, ga boleh snack yang banyak msg nya (gampangnya: ciki2an), dan apalagi ya kok saya lupa.. Selama playgrup kemaren yang masuknya cuma 3 kali seminggu saya masih agak nyantai ya. Ya ga senyantai itu juga sih karna nyiapinnya tiap pagi, bukan dari malam sebelumnya.

Nah kemarin mumpung lagi merasa bekelnya lucu, saya foto deh. Yuk cuss aja resepnya, gampang banget ini soalnya.

Bahan:

  1. spagetti : 1 genggam kecil
  2. minyak : 2 sendok makan
  3. sosis/ daging cincang/ daging asap/ tuna: 2-3 sendok makan
  4. bawang putih: 2 siung ukuran sedang
  5. cabai merah: 1/2 buah
  6. garam: 1/2 sendok teh
  7. merica: 1/4 sendok teh
  8. air untuk merebus spageti, sekitar 300-400ml
  9. minyak untuk merebus spageti, 1-2 sendok makan

Cara membuat:

  1. rebus spageti sampai al dente , campurkan minyak dalam rebusan air agar spageti tidak lengket, tiriskan
  2. potong2 sosis atau siapkan daging cincang/daging asap/ tuna, sisihkan.
  3. iris2 bawang putih dan cabai merah
  4. nyalakan kompor, tuangkan minyak untuk menumis ke dalam wajan, masukkan irisan bawang putih dan cabai merah sampai harum, masukkan potongan sosis, aduk sampai matang.
  5. bumbui dengan garam dan merica
  6. masukkan spageti, aduk2 hingga tercampur
  7. matikan kompor, tata dalam tempat bekal.

spagetti aglio olio

Yang jadi masalah adalah DD susah makannya (kaya emaknya). Pulang2 itu spageti boleh dibilang masih utuh 😥

Pas ditanya kenapa ga dimakan, katanya buru-buru mau main ke playground, tangannya capek kalau makan T_T

Bubunya sedih, akhirnya sore disuapin, dan habis dong. Kan sedih ya 😐

Tapi bubunya ga patah semangat (lagi semangat aja sih) buat nyari makanan lain buat bekalnya DD.

Perpustakaan Nasional, checked!

Holaa.. Long time no posting ya..

Langsung aja deh ga usah kepanjangan basa-basinya. Weekend ini saya merencanakan main ke Perpusnas sama DD. Impulsif sih. Soalnya pas Jumat pagi kena macet pengalihan jalan karena ada sidang MK, kami lewat perpusnas yang di deket monas. Bukan yang di Salemba ya, ada juga soalnya perpus (kayanya nasional juga) tapi kami selama ini cuma lewat aja, belum tertarik masuk. Sementara perpusnas yang di monas ini dulu suami pernah masuk, pas sekolahnya DD ngadain acara terkait hari buku nasional. Yang pas ada lomba story telling dan kebetulan DD jadi juara itu hohoho #shameless #proudmom #masyaAllah #tabarakallah #takut’ain #bodoamat

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.10
halaman depan perpusnas

Udah sok braggingnya ala momambisius yang ngeselin tapi jadi idola emak2 kece semua?

Yaudah, pas Sabtunya, setelah mengalahkan kemageran yang luar biasa efek habis libur panjang lebaran (oiya, met lebaran semuaa…, salim satu2 sini!), berangkatlah kami ke perpusnas. Jam berapa sodara2? Jam 1 an dari rumah, alias habis dhuhur. Pas nyampe parkiran dari satpam sampe penjaga parkir udah ngingetin aja kalo hari Sabtu perpus tutup jam 4. Sampe sensi sayanya, nanya ke suami, emang ini udah jam berapa sih? masih jam setengah 2 juga, kenapa deh pada ribet.

Trus kami mulai deh keliling2. Buat DD dan bapaknya, itu kali kedua mereka. Buat saya, ini kali pertama. Iya, iya, udah berapa tahun di Jakarta baru pertama kali ke perpusnas, dan ngakunya hobi baca? Huh apaan, yaudah bodo amatlah… Udah bertahun2 saya toh ga beli buku buat saya sendiri, belinya buku buat DD aja wkwkwk. Jadi hobi baca sekarang sudah berganti menjadi kewajiban membacakan buku sebelum tidur, no?

Setelah keliling2 (dan foto2) di halaman perpus, masuk semacam museum gitu di gedung yang keliatan masih bangunan Belanda asli, baru deh kami mulai menuju lantai 7 buat khusus anak. Nah di sini ternyata peringatan bapak Satpam dan penjaga parkir mulai menunjukkan fungsinya. Maap2 ya Bapak2 udah ngata2in (dalam hati) ribet dsb. Soalnya ternyata ngantri liftnya lama pemirsaaa…. Lama bgt ampe kzl. Karena cuma ada 5 lift untuk 24 lantai dan pemakaiannya ga diorganisir. Mikir juga sih ya, gimana ngorganizenya. Tapi setidaknya di kantor pusat saya, dibedain gitu lantai ganjil genap, dan cuma ada 4 lift untuk 12 lantai, yang operasional pegawai 2 sedang yang 2 lagi buat pejabat. Ini ada 5 untuk 24 lantai, jadi walau agak susah kayanya bisa sih ya, saran aja sih, hehe..

Dan karena saya paling sebel nunggu ga jelas, suami juga ngerti mood istrinya gampang anjlok kalo gini, akhirnya kami naik eskalator dulu sampe lantai 4. Iya, mentok soalnya udah ga ada lagi dan musti lanjut naik pake lift.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08 (1)
maket perpusnas

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08 (2)
semacam galeri

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.08
ruang entah

Di sini saya merasa saya dodol. Manis banget. Enggak ding, manisnya iya, bodoamat tapi bukan itu maksudnya. Hmm, karena mau ke lt 7 males banget lanjut pake tangga darurat, akhirnya kami malah ngikut lift yang turun dulu sampe lantai dasar baru naik lagi ke lt 7. Eh tapi liftnya cepet banget ya ternyata, pantes kelewat mulu lantainya kalo ga beneran naik dari ujung pangkalnya.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.11
loker penitipan barang

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.04 (1)
ini buku asli semua loh

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.03
petunjuk tiap lantai

Trus sampailah kami ke lantai 7. Langsung disambut dooong sama mbak petugas, ternyata disuruh lepas sepatu dan simpen di rak. Raknya keren macam yang di Ikea gitu, bisa dibuka tutup waaaaooow (norak ih, bodoamat lagi). Yaudah akhirnya DD bisa membaca dengan aktif ditemani bapaknya dan sayanya poto2, baca buku, liat2 koleksinya, sambil mikir kira2 mana yang akan saya belikan buat DD ke depannya nanti.

Jadi begitulah, DD betah baca paling cuma setengah jam. Habis itu dia mlipir ke bagian yang ada mainan dan main lego di sana. Sekitar 30-40 menitan deh, habis itu kami sholat ashar dan siap2 pulang. Antri lift lagi? Iya. Kali ini kami memutuskan untuk turun tangga darurat sampai lantai 4 trus baru lanjut lagi pakai eskalator.

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (1)
Bapaknya bacain buku DD

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (2)
multimedia

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05
dinding pun bercerita

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.06 (1)
suasana di lt 7

WhatsApp Image 2019-06-17 at 11.37.05 (3)
ada ruang ibu laktasi juga loh, nyaman!

Yang mau lihat2 situsnya perpusnas bisa klik di sini

Alamat: Jl. Medan Merdeka Selatan No.11
Jakarta 10110

Jadwal buka:

Senin – Kamis 08.30 – 18.00 WIB
Jumat 09.00 – 18.00 WIB
Sabtu – Minggu 09.00 – 16.00 WIB

Ada biaya ga? Masuk gratis, keluar bayar parkir, atau gratis kalau naik angkutan umum. Tentang keanggotaan sih saya ga tanya2 ya, silakan tanya ke petugasnya aja. Atau coba lihat2 dulu situsnya biar ga zonk nantinya.

Oke, sudah ya.. Terima kasih sudah membaca sampai sini.

Sampai jumpa di postingan berikutnya, semoga semakin berfaedah.

Ast ❤

baca juga lainnya:

When we’re not going to the mall

Berenang di mana?

Taman Situ Lembang

Yoga Gembira @ Taman Suropati

[Review] Open House TK Tunas Wiratama

Halo, long time no posting.

Awal tahun adalah sama saja dengan akhir tahun dari sisi kesibukan kerjaan, jadi saya sempat-sempatin nulis ini demi berbagi informasi kepada emak-emak yang sedang mencari di jagat internet ini.

Oke, enough basa basinya.

Sabtu, 9 Februari 2019 lalu kami menyempatkan diri mengikuti program open house yang diadakan oleh TK Tunas Wiratama atau nantinya disebut tama saja. Informasinya didapat pas scrolling timeline ig, kebetulan memang saya follow dari tahun lalu. Setahun lalu pas saya sedang cari-cari daycare untuk DD, saya sebetulnya sangat tertarik dengan Tama ini, sudah pernah survey langsung juga, cuma reviewnya ga saya tulis di sini aja. Hal yang mengurungkan niat kami menitipkan DD di sini adalah lokasi Tama yang melenceng dari arah rumah-kantor, sehingga kami harus memutar dan menempuh jarak lebih jauh. Juga jam masuk dan pulangnya yang tidak akan bisa sesuai dengan jadwal kami. Jadi, Tama cuma jadi keinginan terpendam aja.

Tapi tetap penasaran, makanya kemaren kami bela2in ke sana deh. Dan DD pun senang sekali main2 selama open house itu. Seperti review tk tunas wiratama di mana2, ya memang begitulah dia. Bangunannya adem, luas, nyaman, keren.. visinya juga keren menurut saya, tidak menjanjikan anak cerdas cas cis cus in english tapi bisa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dengan baik dan benar. Tidak menjanjikan anak cerdas matematika, bahasa atau apa tapi menjadi anak yang bahagia. Cocok banget dengan apa yang para psikolog itu bilang bahwa di usia pra sekolah itu yang berkembang memang otak yang mengatur kecerdasan emosi kan?

Anyhow, kalau mau info lebih jelas di websitenya juga udah ada kok, jelas sampai biaya juga.

Oh, dan untuk tahun ini program daycare ditutup karna kurang peminat, jadi tama itu pure preschool aja.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Website tk tunas wiratama

Silakan ya diliat2.

Maafkan saya gabisa nulis banyak2, beneran lagi ga sempet-sempet. Sementara itu dulu, nanti kapan2 dilanjut lagi.

Ciao.

 

[Review] I, Tonya (2017)

Hola, postingan pertama di 2019. Baru bisa sempetin nulis karena emang baru sempet aja. Ngerant sedikit: akhir tahun liburan batal karena sakit, cuti dipake buat istirahat pemulihan dan awal tahun udah langsung berhadapan dengan tugas yang sampe2 sabtu-minggu pun ngantor hohoho.. ga lagi2 deh mudah2an. Review film ini sebenernya udah pengen segera ditulis begitu selesai nonton (pas lagi sakit gegoleran ya nonton film lah buat refreshing) tapi ya gitu, ada prioritas lain yang harus ditunaikan.

I, Tonya 2017 full movie watch online
source: http://www.pip2pips.com

Ada yang sudah nonton filmnya?

Saya ga ngerti apa yang awalnya menggerakkan suami buat ngajakin nonton film ini. Ini film lama, btw, sekitar tahun 2017 (ga lama2 banget sih) dan kami nonton streaming. Awalnya saya juga biasa aja ga yang excited gimana. Tapi begitu lihat sosok yang menurut saya nyentrik banget penampilannya dan kayanya karakternya kuat, ya lanjut lah.

i-tonya-36
ini yang menurut saya nyentrik

Dan semakin nonton, semakin terhanyut sama ceritanya. Sampe ikut kasian, kesel2, dan tambah lagi ngenes rasanya pas tahu bahwa film ini berdasarkan kisah nyata! Beneran ada seseorang bernama Tonya, yang atlet ice skating kelas dunia, mengalami hidup seperti itu dan dikelilingi orang-orang seperti itu… 😥

Kalau mau baca tentang Tonya Harding dari wikipedia: Tonya Harding

Oke, kalo mau sedikit sinopsis versi saya (semua PoV adalah dari Tonya Hardings).

Tonya Hardings kecil yang berbakat diasuh oleh ibu (tiri)nya yang memiliki karakter keras dan kasar. Ibunya bekerja sebagai seorang pelayan restoran dan sangat bertekad supaya Tonya bisa mengikuti latihan ice skating sebagai atlet. Dengan kekuatan ibunya dan bakat alami Tonya, akhirnya Tonya bisa dilirik oleh pelatih dan menjadi atlet termuda yang dilatih olehnya. Tonya berbakat, namun nasibnya malang karena memiliki ibu yang kasar. Tonya disumpahi, dicaci maki, dan hal itu membuat karakter Tonya menjadi sama kasarnya seperti ibunya. Ditambah, ayahnya juga tak peduli (saya ikut nangis pas Tonya mohon2 sama ayahnya supaya ga ditinggal pergi).

Tonya akhirnya beranjak remaja dan mulai mengenal lawan jenis. Pasangannya, sayangnya, akhirnya sering melakukan kekerasan padanya. Konflik dan pertengkaran yang tidak hanya verbal tapi juga fisik sering mereka alami. Pada akhirnya Tonya menikah tetapi akhirnya bercerai juga dengan lelaki pertamanya ini.

Karir Tonya sebagai atlet juga sering terhambat, bukan karena bakat atau tekniknya melainkan lebih karena perilakunya yang kasar, temperamen, dan juga image nya yang dianggap tidak sesuai untuk image olahraga iceskating. Tonya sering merasa “dibuat kalah” oleh juri dengan tidak adil, dan saat dia mengkonfrontasi juri, memang demikianlah kenyataannya. 😥 syedih..

Pada akhirnya, Tonya belajar untuk memperbaiki diri dan citranya. Dia berusaha keras untuk bisa lolos ke olimpiade. Dia sempat berhasil, lalu kesuksesan mengubah dirinya. Dan akhirnya dia terpuruk lagi. Selanjutnya Tonya juga sempat tersandung kasus kekerasan terhadap rivalnya (yang menurut saya, asal muasalnya ga banget dan bikin gemesssss) dan akhirnya kasus itu menghentikan karirnya seumur hidup. Tonya dilarang bermain ice skating sama sekali.

Sedih ga? Bangettt….

Tapi pelajaran moral yang didapat dari film ini banyak banget sih menurut saya. Dari yang cara kita mencintai dan mendidik anak, memilih pasangan, memilih teman, dan berusaha keras demi sesuatu yang berharga buat hidup kita.

Parents, love your child properly.

Awalnya dari orangtua dulu. Kalau dari orangtuanya udah bener, harga diri anak jadi terbangun dan terbentuk dengan benar. Jadi anak nantinya bisa memilih mana yang baik bagi dirinya, bersikap tegas untuk apa yang tidak baik untuknya, memilih pasangan dan teman yang baik, dan menyelesaikan konflik dengan baik juga.

maxresdefault
Tonya kecil

Sebagai orangtua, pasti ingin memberi yang terbaik untuk anak2nya kan ya?

Jadi, boleh loh ditonton film ini. Berdasar kisah nyata yang tokoh-tokohnya pun dimunculin pas kredit di akhir film. Recommended!