milik kita

Berawal dari keimpulsifan saat melihat instastory seorang di IG, yang kayanya saya follow karena dia punya kucing…

…tapi tiba2 ngiklanin jual buku bekas. Dalam kondisi (saat itu masih) WFH dan tugas negara sudah mulai menurun intensitas dan frekuensinya, dan Dd sudah mulai bisa diajak koordinasi dan kooperatif dalam mengerjakan tugas2 dari sekolahnya. Maka melihat buku2 yang di jaman masa kecil/ remaja saya ini sering saya lahap di perpus/ penyewaan buku dijual murah, segera saya kontak penjualnya. Skip skip skip sampai beberapa hari kemudian paketnya sampai di rumah.

lima sekawan
Tada… ini yang diiklanin mas nya

Apa langsung saya baca? Enggak pemirsa, saya anggurin dulu, itung2 ngendapin potensi virus padahal mah emang males aja. Oiya, btw saya ga anti ya beli buku bekas. Buku cuci gudang pun saya beli kok. Pengalaman paling seru adalah beli buku Senopati Pamungkas 2 karya Arswendo Atmowiloto seharga 50ribu saja. Antara sedih dan happy sih dapat buku bagus (dan baru) harga segitu. Yang anti adalah beli buku nikah orang, karena buat apaa…zzz…

Oke lanjut. Jadi saya beli buku2 di atas itu, buat saya. Mengatasnamakan adanya potensi waktu luang (yang ternyata setelah mengenal mager dan main hp itu jauh lebih menggoda dibanding baca buku, asli) dan nostalgia semata. Buat Dd, saya masih pilih2in bukunya, masih yang boardbook 20 halaman macam Halo Balita, serial nabi, Cican Fun Series, dsj lah. Atau majalah Bobo, atau seri pengetahuan umum/ populer aja. Buku novel macam itu pikir saya ya nanti ajalah dikasih pas dianya udah bisa baca sendiri, lancar, dan emang tertarik sama buku bukan karena gambarnya.

Tapi emang anak2 itu, kayanya gabisa banget kan ya, liat emaknya fokus sama sesuatu yang bukan dirinya sebagai pusat dunia. Zzz, anak 5 tahun yang masih kemratu2 kalo istilah Jawanya. Jadi ini bukan pertama kalinya ya, Dd liat saya lagi baca serius (novel NH Dini, misal, atau bukunya Emha Ainun Najib, yang jelas bukan buat konsumsi piyik itu) terus minta dibacakan. Padahal mah saya juga udah beliin dia buku baru, yang buat anak2, hurufnya besar, gambar dan visualnya menarik dan saya udah nyanding di sebelah dia. Maunya sih, saya baca, dia juga latihan baca sendiri. Enggak mau dong, maunya dibacain buku saya. Yaudahlah, akhirnya entah mulai kapan, bedtime storiesnya berganti dari boardbook menjadi novel lima sekawan ini.

Dan sampe sekarang sudah selesai buku keempat dan mau lanjut buku kelima.

Agak ga nyangka sih saya, bahwa Dd ternyata bisa mengikuti dan menangkap cerita dari novel ini. Meskipun setelah saya jadi orangtua yang membacakan buku ini, saya jadi menyadari bahwa buku ini ga akan lolos 100% memenuhi buku untuk anak. Ya iya, di dalamnya ternyata sering saya dapati kata2 makian seperti: t*l*l, k*ny*l, s**l*n, dll. Juga sarat stereotyping dan hal2 yang dulu pas saya baca rasanya seru, kini kok seperti ga sopan, kurang kerjaan, kurang ajar, dan cari masalah. Yah, mungkin karena ditulis untuk mengikat hati ABG/ remaja yang egonya sedang bertumbuh dan mencari tempat, jadi hal2 seperti itu baik2 saja. Sedangkan untuk cakrawala saya yang umur 30++ ini, kadang bikin kening agak berkernyit, dikit.

Salah satu cara ngakalinnya adalah, kalau pas dapat kata2 kasar itu, maka bacanya akan saya ganti menjadi “piiiiiip” atau “tiiiiiiit” yang akan bikin Dd ketawa awalnya, lalu tanya, “itu apa?” dan saya jawab, “sensor”. Berikutnya lagi kalau saya bunyi gitu lagi dia tetep ketawa dan lalu bilang “sensoooor”. Iya, nak, bagus. Nanti aja kalo udah bisa dan mau baca sendiri, kamu akan tahu kata2 kotor apa itu. Wkkk..

Tapi, kembali lagi ke reaksi Dd. Meskipun dia belum bisa benar2 diam tenang dan anteng pas dengerin saya baca buku, dan sering sambil lompat2 di kasur pas saya baca, dia tetap terikat dengan cerita dari buku2 ini. Satu buku rata2 dibagi menjadi 17-22 bab, saya bacakan rata2 2 bab per malam, bisa fleksibel. Kalo kami lagi sama2 capek, bisa skip satu malam tanpa baca. Kalo lagi capek tapi masih ada tenaganya dikit, 1 bab okelah. Kalo ceritanya lagi seru dan besok libur/ weekend, bisa sampai 4 bab. Iya, suara saya sampai serak, tentu. Tapi, Dd senang, dan terikat.

Terikat tidak hanya secara rasa penasaran saja akan kelanjutan ceritanya. Tapi dia juga bisa berempati pada masalah yang dihadapi si tokoh. Pernah dia tiba2 murung, suram, dan memeluk babahnya saat saya sedang menceritakan si George yang sedih dan menangis tersedu2 karena ibunya masuk rumah sakit. Sampai ikut sesedih itu dia. Pernah juga dia merasa gemas dan sebal dan kesal saat tokoh antagonisnya mengganggu lima sekawan. Geli banget saya lihatnya kesal dan mengepal2kan tangan 😀 #maasyaAllah #masihtakutain

Dan, secara topik dan kualitas obrolan kami juga meningkat. Kami jadi seperti punya obrolan yang sama, membahas tokoh2 di buku itu. Kemarin tiba2 saja pas saya sedang ngomong sesuatu tentang tulang, Dd nyambung bahwa kalau tidak ada tulang maka meleleh badannya. Referensinya adalah tokoh Manusia Tak Bertulang yang ada di buku Sirkus Misterius. Well, sebelumnya, pembicaraan kami juga bisa menyangkut banyak hal yang sedang menjadi minatnya. Tetapi pembicaraan 1 tema selama beberapa hari sesuai bab di buku, itu hal yang lumayan baru. Karena biasanya kan satu buku kelar, sudah ganti buku yang lain, dalam 1 malam bisa baca 2-3 buku berbeda (buku anak2 boardbook 20an halaman).

Berlanjut juga untuk kemampuan membacanya. Sebelum saya bacakan, biasanya Dd saya minta membaca sendiri judul babnya yang dia minta akan dibacakan. Biasanya dia baca 2 judul bab. Kadang dirapel 5 judul bab. Kadang juga lewat aja. Yah, intinya sih, buat saya dan Dd, ini adalah kegiatan baru yang menyenangkan.

Apalagi saat melihat ini:

9802dea5e2d8cd4d6281252c34b95e78

Saya menyadari bahwa kami sedang membuat kenangan indah itu bersama2. Meskipun saya tumbuh menjadi pecinta buku bukan karena dibacain buku (saya didongengin lisan tanpa baca buku oleh ibu- lalu jadi sering membaca buku di perpustakaan sekolah karna menunggu ibu selesai mengajar). Tapi, ya siapa tahu, nantinya yang akan Dd ingat saat melihat 5 sekawan bukanlah cerita dari masing2 bukunya, melainkan suasana dan momen saat saya bersama dia, malam2 membaca buku sebelum tidur.

Well, kenangan itu bukan hanya milik dia saat tumbuh dan mendewasa nantinya toh, tapi juga milik saya saat nantinya saya menua.

5-quote-beloved-books
Saya dan Dd tentu tidak seromantis ini. Saya baca, dia lompat2, itulah yang lebih sering terjadi…

Jadi melow kaaaaaaan…

Yaudah, gitu aja.

Let’s make lovable memories with our loveliest!

Ast ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s