Demi …

Malam ketiga dari empat malam yang dijadwalkan di sini. Seharusnya. Karena buatku ya ini jadi satu malam saja.

Kali ini aku membulatkan tekad (dan semangat) untuk memesan martabak manis yang entah kenapa selalu lebih menggoda kalau aku lagi di kota orang. Kenapa ya? Padahal kalau di rumah ya aku biasa2 saja.

Dua malam lalu aku sebetulnya juga kepengen beli martabak, tetapi ada banyak bapak2 di lantai bawah dan aku malu. Udah ibu2 beranak satu masih mentingin malu? Ya masih lah, enak aje. Di antara sekian sifatku yang ga jelas, seenggaknya karena aku “masih” pemalu dan cupu ini makanya aku sering disangka masih gadis. Uhmm…

Jadi ya begitu. Malam ini setelah membahas kertas kerja bahan laporan dengan bu dalnis dan ketua tim (akhirnya jadi anggota tim lagi, sesuai peran, yeay, betapa enaknya ga mikir laporan!), aku duduk di kasur sambil mengunyah. Tadinya enak, lama2 seret. Seret karna mikir duuhh ini makanan manis amat gula semua, apakabar resolusi hidup sehat ngurangin gula.

IMG_20200312_204245

Tapi hey, kata orang di twitter, makanlah apa yang ingin kamu makan. Karena itu artinya tubuh memberi sinyal kekurangan zat yang terkandung dalam makanan itu. Dan kalau dari 2 malam aku di sini gejalanya selalu sama, craving for sweetness, must be because I really need those sweeties.

Di luar masih ada sisa2 hujan dan gerimis. Plastik martabak juga agak basah. Abang ojek tadi kehujanan ga ya? Udah reda perasaan. Yaudahlah. Terus ini leher juga kenceng dan pegel. Pasti bukan karena kolesterol, tapi masuk angin. Dan nunduk liat laptop. Dan aku menua, sudahlah.

Sambil mengingat2 hujan, mengingat juga tadi subuh udah ngojek kehujanan. Berulang mengucap istighfar memohon kemudahan. Gimana caranya entah keajaiban apa, dari pramuka sampai kartika chandra bisa ditempuh sepuluh menit saja. Yajelas gamungkin lah, dodol. Yaiya, makanya istighfar terus kan. Mudah2an ga ketinggalan travel. Sambil menatap tiap menit di peta ojek. Jam tiba yang terus bertambah seiring tambah jauh ojeknya nyasar.

Kenapa aku yang buta arah dan gabisa baca peta, dapat supir ojek yang juga sama buta arahnya? Subuh2 hujan pula. Untung pake jaket tebel ala winter2 di korea. Minus bulu di kudung jaket yang entah di mana buat mainan si kucing Luna. Btw kucingku namanya Luna bukan ngikutin nama artis yah tolong. Ngikutin kucingnya usagi alias sailormoon lah jelas, ya ampun.

Anyhow balik lagi ke tragedi ojek pagi buta tadi. Sampai hotel ada travel mau berangkat. Kupikir karna masih 5.39 itu adalah travel jurusan serang yang harusnya jalan 5.30 tapi telat. Kemaren sore pun jadwalku ke Jakarta telat 15 menit, masa subuh2 malah ontime. Penuh harap aku menyetopnya, masih memakai jas hujan warna pink muda. Supir berhenti dan menyalakan lampu tengah. Aku disuruh masuk oleh petugas tiket. Trus di loket, dibilanglah bahwa travel jurusan serang sudah berangkat 5 menit lalu, selanjutnya baru ada 2 jam lagi. Monanges.

Menyalahkan diri sendiri yang gabisa apal jalan, gabisa baca peta pula. Menyalahkan supir ojek juga. Yang gatau jalan tapi ambil penumpang. Menyalahkan supir sebelumnya yang udah ambil dan bikin ku menunggu 10 menit tapi lalu cancel karna gerimis dan gabawa jas hujan, huhuhu.

Terus suami memberi solusi. Gimana kalau ke grogol naik elf 20rebu saja. Dari semanggi ke grogol busway 3500 saja. Liat di peta, 11 kilo. Yasudah ngojek lagi lah, pegel naik turun halte busway dan ga yakin bisa nemu bis yang tepat tanpa salah jalur. Waktu adalah tujuanku. Terus menunggu ojek di luar hotel. Dengan matahari pagi yang mulai muncul.

IMG_20200312_055233supir ojek datang sambil senyum, menyapa, “baru sampai bu?” Untunglah ga disangka baru pulang dugem. Pasti karena ga ada anak dugem secupu aku. Pas kubilang ketinggalan travel ke serang pun dia langsung percaya. Jadi aku atau dia yang lugu? Yaudahlah. Pokoknya aku akhirnya bisa sampai di kantor ini tadi pagi malah lebih dulu dari timku yang menginap, hore..

Jadi ingat chat dengan teman lamaku. Pas tau aku mau pergi dan pulang lagi dan pergi lagi. “Perjuangan ibu2 ya,” katanya.

“Demi….” kataku.

Demi apa, sesungguhnya? Demi dia yang paling dicinta, lah. Sungguh kamu benar2 gatau apa yang bisa dilakukan oleh orang yang mencinta. Baik itu oleh pria kepada wanitanya, atau ibu kepada anaknya. Semua demi.

Dan tulisan acak adut tidak berurut tidak berstruktur tidak tau alur ini pun kubuat tidak demi siapa2. Demi aku sendiri. Mwahaha.

Besok pulang. Ketemu yang tersayang. ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s