Mengurangi Toksik

Jarang nulis, sekalinya nulis tentang toksik, hadeh..

toksik
gambar dari https://lektur.id/arti-toksik/

Tanpa bermaksud menyebar racun kegalauan, kekesalan, uneg2, dan semua sampah yang mungkin udah menggunung, saya bertekad menulis tentang ini. Kenapa? Ya karena I’m struggling with this matter right now.

Mungkin kalau anda-anda yang membaca ini termasuk dari orang-orang yang sedang apes karena kontaknya tersimpan di hp saya dan tidak saya umpetin status2 WA saya dari anda  maka anda bisa membaca status2 saya yang secara frekuensi meningkat dan secara isi, bikin: meh, kenapa lagi ini orang.

I won’t blame you. I deserve that meh. I feel meh to myself too.

Sekedar cerita, dulu ada seorang teman kos yang cerita bahwa dia di jaman remaja suka menyakiti diri sendiri, nyoret2 lengan pake gunting gitu deh. Saat itu, salahkan otak saya yang suka ga ngerti harus bereaksi apa, ya I felt nothing. Saya ga ngejudge dia gimana-gimana, karena saya ga ngerti. Pikiran saya ga nyampe kenapa ada orang bisa nyakitin diri sendiri pake gunting dan saya gatau harus gimana saat dia cerita itu ke saya. Tolong banget deh ini Astika jaman dulu emang blank banget. Saking blanknya saya juga bersyukur saya ga kepikir untuk bersikap seperti netijen jaman sekarang yang menganggap itu adalah tindakan caper atau patut dibully. Yah, pada dasarnya mungkin tingkat kepedulian saya sama orang lain saat itu sekosong itu. Kosong banget, ga ngerti harus berempati atau setidaknya jadi berkeinginan untuk menghina atau nyinyir atau julid seandainya saya punya potensi untuk itu.

Balik ke masa sekarang. Ya ga sekarang banget, mungkin setahun 2 tahun ke belakang? Ga tau sejak kapan pastinya, tapi yang jelas saya semakin ke sini sudah bisa ngomong pedes dan pahit dengan tujuan sengaja menyakiti (dulu ceplas ceplos ga sadar lingkungan aja, no purpose of attacking). Yah, sedikit banyak lingkungan membentuk. Dalam rangka survival things, your defense mechanisme is built. In my case, I’m not only be able to stand still, but to strike, too.

Nah, tetapi kan ada masanya saya yg juga masih belajar survive ini, dalam posisi ga berdaya. Jangankan untuk menyerang balik, untuk bisa berdiri tegar aja rasanya susah beud. Ga berdaya karena apa? Banyak hal. Bisa orang yang toksik dan menyakiti itu adalah orang yang saya pedulikan, yang berkuasa atas saya dalam hal tertentu (pekerjaan misal), atau ya murni karena saya memang sejatinya sedang berada dalam titik lemah saja.

Lalu apa yang saya lakukan?

Kamu tau posisi kucing yang siap menyerang? Menggeram, punggung melengkung, ekor tegak, siap melompat, menyerang.

Tapi saya bukan kucing. Dan saya sedang tidak dalam keadaan bisa menyerang.

Saat disakiti, saat menahan diri untuk tidak menampakkan emosi, menahan diri untuk meredam amarah, menahan diri dari menyerang balik dan menggunakan cara-cara yang mungkin di masa depan akan saya sesali, maka saya akan: menggigit bibir sendiri. Menggigit bibir bawah dengan gigitan yang lantas saat terasa sakitnya akan menyadarkan saya kembali dari rasa marah atau sakit hati yang tadinya menguasai. Saya tidak jadi marah ke objek (orang atau keadaan) lain dan kembali berpusat pada diri saya sendiri. Merasakan rasa sakit dari bibir yang digigit.

Selama beberapa waktu, dan masih sampai sekarang jika saya lupa diri, kebiasaan ini terus berlanjut. Sampai saya teringat cerita teman saya yang dulu suka menyayat lengannya sendiri dengan gunting. Saya membandingkan luka sayatan gunting di lengan teman saya dengan bibir yang saya gigit sendiri. Oh, ternyata sama. Bibir saya tidak berdarah, tidak berbekas juga saya gigitnya, tetapi apa yang saya lakukan sama persis dengan apa yang teman saya lakukan.

Kami sama-sama menyakiti diri sendiri di saat kami merasa tidak berdaya. Kami mengalihkan rasa sakit hati kami kepada rasa sakit fisik dan bukannya mengarahkan rasa sakit itu kepada penyebab rasa sakitnya, kami malah melukai diri sendiri. Ha. Bukti bahwa self love itu sungguh bukan hal mudah untuk dilakukan.

Di saat yang sama, saya menumpahkan uneg2 dan ketidakmampuan saya lewat kata2. Kata2 yang saya anggap hanya luapan kekesalan dan sampah yang jika dipendam bikin penyakit, akhirnya saya keluarkan. Banyak waktu saya menceritakan kekesalan pada pasangan, tetapi di sisi lain saya merasa jika terlalu banyak sampah yang saya luapkan kepada dia, maka itu akan berimbas tidak baik juga padanya. Negativity itu menular. Saya yang tidak mampu menghandle masalah saya, di saat pasangan saya juga punya masalahnya sendiri, akan semakin membebaninya. Lalu saya mulai menarik diri dari pasangan, jika sudah lelah maka saya akan berada dalam dunia saya sendiri, meredakan emosi saya sendiri. Saya meluapkan kekesalan saya lewat status wa yang pendek dan sehari hilang. Pengecut. Saya merasa puas meluapkan emosi di dunia maya, tetapi saya menjadi semakin berjarak dengan keluarga saya di dunia nyata.

Ini sangat tidak sehat, bukan?

Maka saya ingin mengurangi hal yang tidak sehat ini. Dimulai dari mengurangi menggigit bibir dengan sadar. Menahan jempol membuat status yang ngegas melulu. Memberi jeda pada diri untuk memproses emosi secara sehat. Mengurangi interaksi dengan orang toksik sebanyak mungkin, sehingga mereka hadir di hidup saya sesedikit mungkin. Menghindari keadaan toksik sebisa mungkin, membuat perencanaan yang lebih baik dan antisipasi dan alternatif solusi sebanyak mungkin. Menahan diri dari membesar-besarkan hal kecil. Berhenti mengipas-ngipasi emosi negatif agar ia mereda. Hal yang saya sadari baru-baru ini adalah, jika kamu menolak untuk ngomongin kejelekan orang lain, maka hidupmu jauh lebih damai. Sungguh. Ngomongin kejelekan orang lain itu artinya memberi suntikan penguat kepada energi negatif (mereka yang toksik itu) untuk membesar.

Abaikan. Abaikan.

Mereka tidak penting. Mereka tidak layak untuk kamu ingat2 kejelekannya, apalagi kamu bicarakan dengan orang lain. Mereka bahkan tidak layak memasuki pikiranmu, kecemasanmu, dan hidupmu. Obrolkan kelucuan anakmu pada pasanganmu, pada teman2 sekantormu yang punya masalah pekerjaan yang sama. Hal itu lebih membantu. Hidupmu dipenuhi energi positif dan kasih sayang. Obrolkan kelucuan dan keanehan kucingmu. Obrolkan diskon dan harbolnas dan barang-barang lucu itu. Tonton drama korea atau film yang komedi romantis itu. Baca review skincare. Baca webtoon.

My (Daily) Webtoons

Astaga, saya mengerti sekarang kenapa mereka, ibu2 muda itu hobi sekali membicarakan anak mereka, Ya biar ga nyinyirin tetangga lah. Saya jadi tau kenapa mereka membicarakan keromantisan suami mereka. Ya biar ga ngomongin kejelekan atasan lah. Saya jadi tau kenapa saya suka nonton video kucing dan anjing, ya daripada baca berita artis selingkuh atau artikel cebong kampret?

Akhirnya, saya hanya bisa menuliskan ini untuk mengingatkan diri saya lagi. Kalau-kalau nanti-nanti saya lupa diri. Manusia tempatnya salah dan lupa, sis. Tolong ingatkan kalau saya lalai. Atau maklumi saja saat misal saya nanti ngegas lagi. Berarti remnya blong. Berarti saya sedang terlalu lelah, terlalu lemah, terlalu meh.

Akhir kata, maafkan saya untuk semua status marah-marah saya. Anda yang baca pasti bukan objek yang saya tuju. Mereka saya umpetin biar ga baca soalnya. Iyain aja udah. Saya memang menghindari konflik di dunia nyata. Kalau di dunia nyata, kamu adalah orang yang saya ga suka, percayalah, noleh dan liat kamu pun saya enggak mau.

Semoga selalu sehat dan kuat untuk menghadapi kerasnya hidup.

Semangat.

❤ Ast

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s