Keterampilan Dasar Hidup

Setelah melalui masa-masa hectic dan alhamdulillah masih diberi kesehatan oleh Allah, tibalah saya pada masa senggang untuk menulis. Awalnya senggang untuk berpikir, bertanya-tanya, mencari jawaban, lalu sampailah pada kesimpulan bahwa ini harus saya tulis, setidaknya untuk diri saya sendiri dan dibaca kalau2 someday anak saya udah bisa ngepoin socmed emaknya. Emak nulis ini buat kamu juga ya, nak.. :*

Here we go.

Sebagai ibu, saya sadar peran saya salah satunya adalah untuk mempersiapkan anak saya terjun ke masyarakat. Dalam keadaan sehat, kuat, mandiri, berdikari, bermanfaat bagi sesama. Setidaknya ini peran saya mendapat amanah dari Tuhan untuk dikasihi, disayangi, ditumbuhkembangkan potensinya menjadi daya yang berguna. Supaya tercapai tujuan penciptaan manusia: menjadi khilafah di bumi Allah.

Maka saya yang awalnya berpikir pendek dan sejujurnya tidak bervisi kemanusiaan sama sekali, hanya berpikir tentang diri, mulai mengubah mindset saya. Awalnya sih karna ada pertanyaan di Quora, tentang apa sih keistimewaan pernikahan. Ada yang menjawab seks yang legal. Naluri saya terusik, masa iya sih pernikahan dinilai sebatas melegalkan hubungan badan? Yah pikiran saya ke mana-mana mencari jawaban yang sreg dan tentu lebih bernilai dari sekedar hubungan badan. Merenung dan berpikir, saya dapati bahwa pernikahan bisa bernilai lebih, bahkan mendapat predikat sebagai setengah agama dilihat dari konteks ibadah. Bisa dilihat di link berikut:

apa keistimewaan menikah

Oke lanjut kegalauannya. Lalu saya menilik diri sendiri. Awalnya, saya mempersiapkan anak saya tentang keterampilan yang saya rasa sebenarnya cukup duniawi ya. Kalau menurut hadis nabi, ajarkanlah anakmu 3 hal: yaitu berenang, memanah, dan berkuda. Penerapannya, in progress ya. Belum bisa dicapai semua, tapi insya Allah akan saya coba fasilitasi lah ya.

Pembicaraan dan diskusi dengan pasangan maupun teman sepantaran emak2 pun juga udah sering ya. Biasanya sih bahasnya jatohnya ke ekskul apa yang bakal diikutin sama anak. Seperti sering saya tulis juga di blog ini (walo nulisnya jarang), ekskul buat saya itu pengaya atas kemampuan akademik yang didapat dari sekolah. Makanya, kalo saya sih kayanya agak anti ya kalo les atau ekskul yang modelnya pelajaran. Mudah2an ga sampe deh kursusin anak untuk pelajaran. Kasian 😦

Dari jawaban salah satu pengguna quora juga, setidaknya seseorang perlu mempelajari 3 hal dalam hidup, yaitu:

  1. keterampilan yang mendukung pekerjaan, ini untuk menjadikan dia ekspert di bidang yang dia geluti.
  2. keterampilan untuk bertahan hidup, semacam memasak, menjahit, bertahan di alam. Hmm ini perlu, iya, dan bisa dilatih sejak sekarang.
  3. keterampilan untuk mengisi hidup di luar pekerjaan, alias hobi. Ini penting untuk menjaga kewarasan dan keseimbangan hidup. Nah ini yang sedang saya tumbuhkan dulu kecintaan pada sesuatu. Meskipun, kalo lagi bener, saya mikirnya sebenernya cukup ditumbuhkan kecintaan sama Al-Qur’an aja sih. Karena saya percaya Al Qur’an adalah obat dari segala yang bisa menjadi penyakit, lebih lagi penyakit hati 😦

Tetapi, saya juga masih ingin belajar menyeimbangkan akhirat dan duniawi. Bukankan kita harus bekerja seolah kita akan hidup di dunia 1000 tahun lagi, tapi juga mengingat dan mempersiapkan kematian seolah besok maut akan menjemput?

Maka saya juga mencari-cari ilmu lain.

kbiasa-kan-web-576x1024
sumber: schoolofparenting.id

Nah, ternyata itu life skill yang dibutuhkan untuk diajarkan kepada anak kita. Banyak ya? PR ya? Siaaap..

Bismillah, bismillah.

Semua dengan nama Allah. Semua dengan niat ibadah.

Dari semua keterampilan itu, saya jadi menarik satu kesimpulan pribadi, bahwa ternyata yang mendasar untuk saya latih di umur anak masih balita sekarang ini adalah, mentalnya. Mental yang kuat dan tangguh; tidak mudah menyerah, tidak mudah putus asa, juga tidak mudah berpuas diri. Juga kepercayaan diri, yang membuat dia tidak mudah disetir oleh lingkungan yang tidak mendukung ke arah kebaikan alias toksik. Yang membuatnya tetap berdiri tegar meskipun sendiri, karena tahu apa yang ia yakini adalah benar, apa yang ia lakukan adalah benar.

Seperti yang dibilang oleh mereka yang lebih pakar: pintar itu ada waktunya. Tetapi memenuhi hak jiwa dan perasaan untuk membentuk jiwa yang utuh, itu yang jadi tanggung jawab orang tua sekarang.

Semoga Allah selalu membimbing saya, kamu, kita semua, untuk tetap berada di jalanNya yang lurus.

A001Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang

 

A002Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam

A003Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang

A004Yang Menguasai hari Pembalasan

A005Hanya padaMu kami menyembah dan hanya padaMu kami meminta pertolongan

 

A006Tunjukilah kami jalan yang lurus.

A007Yaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s