ibu, kid, parenting, pendidikan, thought

Tentang Berbagi

Beberapa hari terakhir, DD sering secara spontan berkata “pelit sih” kepada saya apabila keinginannya tidak saya penuhi. Dan kadang omongannya tidak nyambung dengan situasinya. Misal, saya menarik barang lalu mainan DD yang ada di sekitar barang ikut tertarik lalu jatuh dan dia akan membereskan mainannya sambil bilang, “pelit sih”. Nak, itu ga nyambung, serius.

Tapi hal itu memberi saya pencerahan bahwa anak ini belum ngerti maksud kalimat “pelit sih” itu. Mungkin dengarnya baru-baru ini saja, jarang, lalu dia mencoba. Yah saya tentu bisa menebak kira-kira darimana dia mendapat kosakata baru itu, dan saya cukup gusar sebenarnya, makanya saya berusaha menanamkan konsep diri ke DD yang lebih kuat supaya dia bisa membentengi diri dari kalimat itu.

Dear parents,

Saya paham bahwa kita orangtua tentu ingin memiliki anak yang baik hati dan welas asih kepada sesama. Tapi di sisi lain, tahu bagaimana cara menjadi kuat dan tidak gampang dilemahkan. Baik hati dan welas asih itu bisa dilihat dengan kemauannya untuk berbagi. Tetapi, berbagi seperti apa yang kita harapkan anak kita bisa lakukan?

Teman kantor saya bercerita bahwa anaknya yang berusia 6 tahun menyerahkan sekantong belanjaannya di ind*mar*t kepada satpam secara cuma-cuma, hanya karena beberapa hari sebelumnya, dia mengajak anaknya membagi parcel lebaran ke satpam itu. Ibunya kelabakan karena berbagi parcel tentu baik, tapi memberi sekantong belanjaan kepada orang lain tentu lain hal lagi, kan?

Dari contoh satu di atas kita bisa tahu bahwa cara mengajari anak berbagi adalah dengan mencontohkannya. Jadi, kalau anak lagi makan enak terus anda bilang “minta doong” atau “bagi doong”, anda sedang mengajarkan anak untuk meminta-minta, bukan berbagi.

Kembali ke contoh tadi, jika sang ibu merasa gemas karena anaknya belum tahu konsep berbagi yang benar, apakah itu artinya si ibu pelit? Kalau si ibu anda sebut pelit, saat dia bagi parcel saat lebaran anda sebut apa? Jika anak yang sedang makan enak lalu ada orang dewasa bilang “minta dong” tapi tidak diberi, lalu berarti anak itu pelit? Padahal, anak itu mau menyuapi ibu/ ayahnya dengan kasih sayang tanpa diminta. Apa yang orang dewasa ajarkan dengan bilang ke si anak “pelit” saat permintaannya tidak dipenuhi?

1. Bahwa meminta itu boleh

2. Bahwa ngatain orang “pelit” karena tidak memenuhi permintaannya itu boleh.

Saya terus terang gemas sampai pengen ngacungin jari tengah berucap istighfar.

images

Tapi seringnya ya saya bilang kalo DD tidak pelit, hanya belum tahu (kalo saya pas lihat kejadiannya). Tapi yang sering saya usahakan ya membangun konsep diri DD tentang apa itu berbagi dan apa itu pelit.

Yang dari awal saya tanamkan adalah tentang konsep kepemilikan. Dari artikel yang saya baca, anak usia 3-6 tahun memang harus diperkenalkan dengan konsep milik terlebih dahulu, baru berbagi. Maka saya kenalkan mana barang-barang milik DD, mana milik ayahnya, mana milik ibunya. Mana yang dia harus minta izin untuk memakai, mana yang tidak perlu. Di tempat main umum, dia tidak boleh mendominasi mainan. Harus mau bergantian, tidak boleh dibawa pulang karena itu bukan milik DD.

Tentang pelit, saya bertanya kepada DD, darimana dia mendengar kata itu. Dari teman atau dari orang dewasa? Karena tentu beda cara menyikapinya. Tapi DD belum cukup mengerti atau fokus untuk bilang ke saya dari siapa kata itu ia dapat. Saya sampaikan bahwa DD tidak pelit, DD anak baik. Jika ada teman ingin meminjam mainan DD yang belum rela DD berikan, tidak apa-apa. Itu wajar kalau DD belum mau berbagi. Tapi kalau itu bukan mainan DD maka harus mau main bergantian.

Dan tentang menyebut seseorang pelit hanya karena tidak memenuhi permintaannya, maka itu adalah hal yang tidak baik. Tidak ditemani oleh teman yang tidak baik itu tidak apa-apa. Cari teman yang baik, yang tidak mudah ngata2in orang lain.

Kalau itu adalah orang dewasa maka ini sungguh pe-er buat saya. Orang dewasa macam apa yang bisa melabeli anak dengan kalimat seperti itu, bercanda apalagi serius? Saya agak susah jadi pemaaf dalam hal seperti ini sih, karena buat saya, kalimat buruk itu racun bagi fitrah anak. Jadi hayuklah perang ama emaknya sini kalo situ berani ngatain anak saya.

Yah, kita yang udah berumur sih udah tau ya, bahwa:

1. Kita ga bisa nyenengin semua orang

2. Kita berhak memilih siapa yang layak dapat pengorbanan dari kita.

3. Yang ga penting yaudah sih tau diri, mundur aja gausah sok nuntut elah siapa L.

Anak kecil kan belum ngerti. Dan mereka itu beneran polos murni, duh tega banget kalo orang dewasa bicara hal2 ga baik ke anak mah..

Saya ingin sekali melindungi DD dari hal2 buruk ini, tapi di sini saya sadar bahwa segala daya saya berbatas. Maka saya berdoa supaya Allah selalu melindungi DD di manapun ia berada.

Karena saat saya lemah, Ia Maha Kuat.

Saat saya tak bisa melihat, Ia Maha Melihat.

Saat saya tak bisa menjaga, Ia Maha Melindungi.

Semoga DD selalu dalam perlindungan Allah. ❤

Iklan

4 tanggapan untuk “Tentang Berbagi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s