People & Things

tumblr_n2jjc7vvst1r4jsw7o1_1280
Source: perpetualwords.tumblr.com

Ada yang ingat gambar di atas?

Yaudah kalo ga ingat sini saya kasih tau, itu adalah salah satu adegan di film (500) Days of Summer (2009), saat Summer muda diceritakan hanya mencintai 2 hal, yaitu rambut panjang gelapnya, dan saat ia memotongnya tanpa merasakan apa-apa.

Itu langsung nancep ke hati sih.

Karena … saya juga seperti itu. (Deeu ngaku2).

Jadi gini, …

Saya dibesarkan oleh seorang Ibu yang mengajarkan cinta kasih pada semuanya, termasuk barang. Misal, Ibu dulu mengendarai motor bebek tua berwarna merah ke kantor sekaligus membonceng saya dan kakak. Setua apapun, sesering mogok (ya, ga sering juga sih) apapun, selambat apapun motor melaju, bagi Ibu, karena jasanya telah menemani dan mengantarkan kami pulang pergi sekian tahun, maka saat akhirnya kami harus melepas dan mengganti motor dengan yang lebih baru, lebih cepat, lebih nyaman, tetap ada perasaan sayang terhadap motor bebek tua merah itu. Sentimental. Iya, itu Ibu saya. Yang ternyata, dalam hal welas asih terhadap barang ini tidak menurun pada saya.

Saya tidak terlalu ingat bagaimana  memperlakukan barang saat masih kecil. Yang barusan saya ingat, saya membongkar satu hadiah dari ex-crush yang paling saya taksir untuk bahan prakarya mata pelajaran seni.

Yang saya lebih ingat, saat sudah bekerja dan merantau ke pulau seberang lalu harus balik lagi ke Jawa. Semua barang di kosan, saya jual. Motor pertama yang saya beli cash dan baru dari dealer dengan gaji sendiri (dan sempat dikira dibelikan orangtua, padahal mah saya nabung wey), juga ringan saya jual saja, di saat yang sama orang lain memilih mengirimkan ke Jawa. Pikiran saya praktis: jual lalu beli lagi, yang bekas juga ga apa, selisihnya nambah duit tabungan.

Buat saya, barang ya barang. Ia berharga karna fungsinya. Barang bisa dibeli, maka ia juga bisa dijual (lagi). Seperti rambut panjang gelap Summer, ia bisa tumbuh sampai panjang, maka ia bisa dipotong sampai pendek. Sorry not sorry.

Jika saya menghargai barang karena fungsinya, maka bagaimanakah dengan orang? Karena ada satu kalimat yang dulunya saya jadikan pegangan banget:

Use things, love people.

Makanya saya menilai tinggi sekali ketulusan dalam berhubungan sesama manusia. Dan sensi kalau ada yang berpaham sebaliknya: use people, love things.

Yang sayangnya, sering saya dapati seiring usia makin bertambah.

Sedih? Hmm..

Marah? Hm.

Kecewa? Kayanya ini sih perasaan paling mewakili.

Tapi, makin bertambah pengalaman, terbuka wawasan, makin bisa membentengi hati biar ga gampang kecewa amat. Setidaknya terhadap orang kebanyakan. Orang luar circle yang ada tidaknya ya ga ngaruh amat di hidup. Kalo dulu jaman remaja idealis ya sensi sih liat orang model gitu napas aja. Sekarang mah udah kaleman. Napas ya biar aja. Udara Allah yang punya. Muncul di tl ya unfollow. Kalau pas kepo ya stalking. Asal ga nyenggol aja yakan. Kalo nyenggol ya ntar dipikir lagi.

Tapi terkait orang, ada satu hal yang juga saya sadari. Agak mirip dengan barang. Yaitu, saya bukan orang yang pandai dalam memelihara hubungan. Buat saya, orang-orang datang dan pergi dalam hidup adalah sebuah keniscayaan. Maka saya cenderung kurang usaha dalam memelihara orang-orang dalam sebuah hubungan tertentu. Teman yang lintas waktu ada, beberapa, tidak banyak. Dan seringnya itu karena memang merekanya yang telaten memelihara saya dalam circlenya. Jadi, pujian buat mereka, bukan saya.

Kalau buat saya pribadi di jaman muda agak mempermudah sih. Jadi lebih gampang move on. Ya ga gampang banget juga, tapi ga lama banget juga kaya kiara ke arka* sampe 10 tahun ga move on hadeh…

Lagi, bisa relate ke Summer Finn kan?

Somehow, punya attachment ke barang dan orang yang rendah begini saya jadi lumayan bersyukur. Sudah cukup melankolis saya attached ke kenangan, ga usah lah ya ditambahi dengan attached ke barang; nanti kebanyakan tumpukan ga berguna, atau orang; yang selalu berubah dari waktu ke waktu.

Saya teringat pertanyaan teman baik saya, tentang betapa mudahnya saya menghapus blog di media sosial. Saya bilang, “kalau blognya isinya peristiwa, itu jadi masa lalu dan kenangannya aku punya. Kalau isinya ide atau tentang masa depan, kalau memang pernah terpikir ya nantinya juga bakal balik lagi. Karena ide ga pernah pergi.”

Terima kasih. Saya sadar saya keliatan keren, tapi sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. ❤

* webtoon matahari 1/2 lingkar

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: