random, story, thought

Surprised (not) surprised

Oke, tulisan kali ini akan menjadi semi curhat, jadi kalo gasuka ya anda boleh meninggalkan laman ini dengan segera.

You’ve been warned.

Umm,,jadi bingung darimana mulainya.

Jadi gini,,,

Saya kan orangnya bisa niat kalo kepo yah. Keponya kalau udah di level tertarik sih, kalo ga tertarik ya udahlah bodo amat. Jadi, saya suka baca tulisan orang. Suatu hari, saya baca tulisan2 dari platform blogging, waktu itu ada kompetisi menulis gitu dan ada satu tulisan yang menurut saya out of the box banget. Keren tapi serem tapi keren yagitulah. Trus saya kepoin penulisnya, sampai ke blog pribadinya. Dari blog pribadinya saya dapet banyak sekali kesan personal dan tambahan wawasan, karena dia berada di bidang yang terus terang saya memang tidak pernah bersinggungan sama sekali di semua lini.

Cerita berlanjut, diingat-ingat, saya sudah mengikuti blognya sejak.. 3 tahun, mungkin…ga terlalu yakin juga sih. Dan selama mengikuti blognya, dengan cerita-ceritanya, saya sempat menduga bahwa orang ini punya … gimana nyebutnya,, mental issues (?) tapi saya juga ga gimana-gimana sih. Paling ya agak terusik karena ada tulisannya yang bikin membatin, “kok gini sih..” atau sekedar *rolling eyes* dan udah ga saya baca lagi, tapi besok2 kapan lagi magabut ya kepoin lagi wkwkwk

Terus, baru-baru ini, si blogger menulis secara gamblang bahwa dia ‘memang’ punya mental issues, sudah ke psikiater dan mengkonsumsi obat tertentu. Dia juga menuliskan reaksi teman-teman, keluarga, dan lingkungan dia saat dia ‘come out’ as a person with mental issues. Kebanyakan, orang-orang terdekatnya memang sudah menduga bahwa dia memang punya masalah namun cukup berhati-hati sebelum menyarankan untuk pergi konsultasi ke ahlinya, karna, jaga perasaan. Hmm, kalau saya, dari karakter tulisan dia yang memang ‘luar biasa’. Dan karena sebagai pembaca saja ya sudah ga ngapa2in ke penulisnya toh.

Terus, saya jadi teringat bahwa dia menulis bahwa saat dia mendengar dan menerima arah diagnosisnya, dia merasa terkejut, karena tidak merasa (bahwa dia punya mental issues). Sementara, orang-orang yang mengenal dia, baik secara langsung maupun tidak langsung (misal saya, lewat tulisan) bisa merasa dan menduga bahwa, ada sesuatu yang salah padanya.

I wasn’t that surprised knowing that news. A lil bit surprised, maybe, but it wasn’t because surprisingly she actually has the issues, but because surprisingly, I was right.

Terkadang, kita manusia sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan individu lain, merasakan ketidaknyamanan, benturan, gesekan, konflik, dan adakalanya, saat konflik itu membesar membuat kita gamang akan diri kita. Meragukan penilaian (judgement) kita, nilai (value) yang kita anut. Apakah kita memang benar dilihat dari segala sisi secara objektif, atau benar dari sudut pandang tertentu saja, benar secara subjektif. Kalau konfliknya satu lawan satu saja pasti ada berbagai persepsi, apalagi kalau satu lawan banyak (korban bully pasti bisa paham hal ini).

Makanya, introspeksi itu bukan hal mudah. Menilai diri dan melihat ke dalam, mengevaluasi mana yang salah dan mana yang benar, standar apa yang dipakai, apalagi di jaman kaya gini yang nilai-nilai umumnya saja mengalami pergeseran jauh, jadi hal yang lebih menantang. Gimana untuk bisa menjadi lebih bijak, ga melulu mementingkan ‘benar’ tapi juga ‘baik’ dan ga cuma ‘baik’ tapi juga ‘benar’. Puyeng ya.

Kembali lagi ke masalah atas, misal nih, ada konflik dengan seseorang yang membuat kita bertanya2, ini orang berasal dari planet mana kok bisa ajaib banget sikap dan pemikirannya, lalu banyak orang mengatakan, “sing waras ngalah”, saran saya: iya saudara-saudara, in the end itu betul sekali. Awalnya saya mau bilang, ga bisa, cobalah sekali2 lawan dan stand up untuk apa yang kamu rasa benar. Tapi hey, ternyata orang yang bermasalah jarang sekali mengenali bahwa mereka itu bermasalah loh, orang lain lah yang mengenali bahwa mereka bermasalah. Maka daripada bikin lelah menghabiskan energi dan akhirnya juga sama, bahwa “you are right, he/she/they were wrong”, sudah, simpan saja energi dan tenaga kita untuk hal yang lebih bermanfaat.

Rasulullah memuji orang yang meninggalkan perdebatan, bukan?

Maka tinggalkan saja. You’ll be happier, trust me.

Yang menyebalkan dari orang yang menyebalkan adalah: dia tidak tahu bahwa dia menyebalkan.

Itu sungguh benar adanya.

So, semangat dan tetap percaya diri ya. Kalau kamu sedang mengalami masa-masa sulit karena orang lain, tetap yakin sama nilai2 yang kamu anut. Be strong, be confident. Life will not promised to be easy for you, but you’re promised that with the hardship, there is relief.

alinsyirah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s