Belajar Bahasa dengan Duolingo

 

duo

Berawal dari postingan mbak Jihan Davincka yang ini:

duolingo

mulailah saya iseng-iseng install aplikasinya di hp pas lagi liburan akhir tahun kemaren. Lumayan banget mengisi waktu di sela kemacetan perjalanan waktu itu, saya sibuk sendiri belajar bahasa Perancis, Spanyol, Korea, dan Belanda. Eh, borongan dan ambisius banget yak? Enggaak… itu karena saya orangnya excited di awal doang dan memang penasaran aja sama berbagai jenis bahasa itu. Kebetulan udah lama banget pula saya ga berinteraksi sama bahasa asing, selain bahasa Inggris pastinya.

Jadi saya mulai kenalan sama bahasa asing melalui aplikasi Duolingo ini. Sejak mulai instal di hp akhir bulan Desember tahun lalu sampai sekarang (sekitar 3 bulan), progress saya masih di kisaran level di bawah 10 😀

Yang lewat dari angka sepuluh cuma bahasa Perancis, lainnya tiarap 😀

Tapi saya ga kecil hati sih, karena ini bukan proyek ambisius, ini proyek santai.. seperti orang-orang dengan hobinya masing-masing, ada yang masak, fotografi, menjahit, musik, maka saat ini saya sedang kembali menyelami main-main dengan bahasa lewat games edukasi ini. Kenapa masih games nyebutnya? Karena kalau mau serius, usahanya ya lebih serius. Misal kursus, minimal banget ya baca dan translate artikel dari bahasa yang dipelajari, latihan conversation dengan dengar native speaker dalam proses komunikasi, misal nonton serial, denger lagu, nonton film atau berita dengan bahasa tersebut. Itu usaha yang lebih niat dari sekedar main game ini.

Tapi, game ini sungguh membuka wawasan baru tentang bahasa loh. Misal, saya jadi tahu bahwa ternyata akar bahasa itu selain mirip-mirip juga berkelompok-kelompok. Misal, Perancis-Spanyol-Italia itu satu rumpun, banyak kata-katanya yang lebih mirip dibanding dengan English-Belanda-Jerman yang banyak lebih miripnya. Terus bahwa belajar bahasa asing yang tulisannya juga asing (kaya Korea, Jepang, dan China) itu dobel susahnya karena musti ngapalin hurufnya juga. Makanya saya gampang nyerahnya udah kalo sama huruf-huruf itu. Terus, bahwa bahasa Turki itu menggunakan pola kalimat yang beda, ga SPOK kaya bahasa Indonesia atau bahasa Anglo Saxon umumnya, tapi S-O-P (kata kerjanya di belakang kalimat). Yang susah juga mengenal gender pada kata kerja sih. Perancis Spanyol tuh yang modelnya gitu2.

Seperti segala hobi di usia segini yang ga terlalu diseriusin, begitu pula Duolingo ini. Ga setiap hari dibuka dan latihan, ada kalanya seminggu-dua minggu ga disentuh sama sekali, ada kalanya saking rajinnya bisa jadi week firstleaderboard di club yang saya ikuti. Suka-suka ajalah.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: